Di kediaman rumah keluarga donal, mereka sedang menunggu putrinya pulang sekolah untuk membicarakan ini, karna mengingat tadi malam mereka tidak sempat membicarakan tentang perjodohan ini dengan putrinya.
Setengah jam waktu berlalu, akhirnya yang di tunggu pun pulang juga.
"Aku pula yah Bun," Desi menyapa karna kebetulan dia melihat ayah dan bundanya sedang duduk di ruang tamu, sebenarnya mereka sengaja menunggu Desi pulang sejak tadi, dan setelah mendengar suara mobil Desi di luar rumah mereka sudah tau itu Desi pulang.
Ya Desi menyetir mobil sendiri untuk berangkat sekolah, awalnya dia menginginkan motor tapi ayah dan bundanya melarangnya sekolah pake motor karna itu sangat berbahaya buatnya, karna menurut mereka memakai motor tidak terlalu aman bagi putrinya. Berbeda dengan Julian,
Dia paling tidak suka pakai mobil katanya terlalu ribet, karna gak bebas masuk mana mana termasuk gang gang sempit yang sering dia lewati kalo lagi santai di saat bolos bersama teman temannya. dan parahnya lagi dia gak mau bubarin gang motor yang dia sudah rancang dari
Semenjak dia masih SMP.
"DESI sayang kesini sebentar ayah dan bunda mau ngomong," Sinta memanggil putrinya untuk membicarakan sesuatu yaitu soal perjodohannya.
"Ya ada apa yah Bun?," Sinta pun menyambut panggilan bundanya dengan wajah tersenyum.
" Yah langsung saja," Sinta mengingatkan suaminya untuk memulai pembicaraannya.
" Jadi begini sayang,"
"Ayah sama bunda mu sudah mendiskusikan dengan baik, awalnya kamu mau membicarakannya sama kamu tadi malam sayang, tapi mengingat kamu seperti ya lagi sibuk belajar jadi ayah dan bunda memutuskan membicarakannya sekarang," Donal memulai pembicaraannya, dan menatap wajah penasaran putrinya.
"Ayah dan bunda sudah merencanakan perjodohan kamu dengan putra sahabat ayah dan bunda, ayah juga sudah melihat putranya sangat tampan dan cerdas," kata Donal mulai membicarakan tentang perjodohan putrinya dengan putra sahabat baiknya.
Mendengar ucapan ayahnya dia pun terkejut
Lalu memandang ke arah bundanya, dan melihat bundanya hanya tersenyum ke arahnya menandakan bundanya juga menginginkannya untuk setuju dengan rencana mereka.
Tapi ayah aku masih muda, apakah terlalu cepat untuk menikah sedangkan aku masih kelas 11 dan umurku masih 17 tahun ayah," Desi pun dengan wajah terkejutnya menjelaskan semuanya kepada kedua orang tuanya, dan kedua orang
Tuanya pun, mengangguk mengerti.
" Ayah sama bunda sudah memikirkannya, kamu gak usah takut mengingat keluarga dari calon suami kamu adalah orang baik baik, dan juga mereka adalah sahabat ayah dan bunda dari waktu SMA, kamu berencana menikahkan kamu
Agar kamu bisa menyatukan keluarga kita dengan keluarganya,"
" Kamu pasti terkejut kan kenapa kamu menjodohkan dan mau menikahkan kamu terlalu muda, nah alasannya adalah karna ayah dan bunda takut karna kalo terlambat nanti kamu keduluan punya kekasih dan calon suamimu juga.
Kamu gak mau liat putra putri kamu, setelah sama sama mempunyai kekasih terus kami menjodohkannya, dan memisahkan kamu dengan kekasihmu," Donal menjelaskan dengan panjang lebar maksud dan tujuan dia menjodohkannya. Dengan umur yang begitu muda.
Desi masih terbengong dan sibuk dengan fikirannya yang sekarang, dia berfikir apakah dia harus menerima perjodohan ini.
" Apakah kamu ragu dengan pilihan ayah dan bunda?"
" Sayang kami mengenal keluarganya dan dia orang baik baik" Donal terus menyakinkan Desi agar keraguan dalam hati putrinya itu hilang.
" Baik lah ayah asalkan ayah dan bunda menjamin kebaikan ku kedepannya. Aku menerimanya," Desi akhirnya pasrah dan menerima tawaran kedua orang tuanya dia sangat takut membuat mereka bersedih karna salah mengambil keputusan, karna sejak dulu sampai sekarang dia tidak pernah membantah kedua orang tuanya.
Mendengar jawaban dari putrinya itu dia pun Sinta pun langsung memeluk putrinya itu lalu berkata" ayah dan bunda yakin kalo pilihan ayah dan bunda tidak salah," ucapnya dan terus tersenyum.
"Apakah kakak akan menikah, Bun?," Terdengar suara anak kecil berumur sekitar 7 tahun berada tidak jauh dari arah pintu ruangan, dia tidak sengaja mendengar suara ayah dan bundanya menyebut pernikahan, dia yang sedang asik bermain dengan mainannya pun langsung melaju kesana.
"Ya sayang kakak kamu akan menikah Gino, karna dia sudah harus menikah demi kebaikannya kedepannya," ucap Sinta lalu berjalan ke arah putranya dan menggendongnya.
" Hore kakak akan menikah, apakah aku akan punya kakak baru, kalo iya semoga tidak setampan aku ya" ucap Gino, walaupun dia masih berumur sekitar 7 tahun tapi dia begitu pintar berbicara dan cepat menanggapi semua yang di dengarnya.
"Tidak Gino, yang akan menjadi kakak mu nanti
Akan jauh lebih tampan dari kamu," Donal akhirnya membuka suara karna mendengar, suara putranya yang begitu pintar berbicara.
"Ya... jadi aku punya saingan dong,"
"Kakak kenapa harus cari yang lebih tampan dari aku sih, kakak sengaja ya biar aku ada saingan,"
Mendengar ucapan lucu adeknya itu Desi pun akhirnya tertawa dan hilang dari kesedihan karna keterkejutannya tadi karna ternyata masa mudanya yang sendirian akan begitu singkat, padahal dia sangat menikmati hidupnya yang seperti ini, dia membayangkan gimana nanti kalo sudah mempunyai suami dia tidak akan sebebas ini karna ada yang di urus. "Hemmm" gumamnya dalam hati.
Dan berbalik di kediaman keluarga AN.
" Pi?, Apa tidak terlalu muda aku untuk menikah"
"Aku begitu belum siap," Julian berbicara kepada kedua orang tuanya di ruang makan, sebenarnya dari tadi di sekolah Julian selalu memikirkan tentang ini sampai dia pun tidak fokus di sekolah.
" Tenang saja, Jul kamu cukup mendengar kata papi dan mami, lambat lain kamu akan terbiasa," akhirnya AN pun membuka suaranya karna dia mendengar suara putranya. Membahas tentang perjodohannya.
"Untuk waktu pernikahan mu kami akan membahasnya nanti malam, dan kamu juga harus ikut untuk melihat siapa calon istrimu, dan untuk apartemen di dekat pantai itu akan kalian tempati nanti setelah menikah, papa sudah mengaturnya karna menurut papa itu juga gak terlalu jauh dari arah sekolah mu," jelas AN untuk menghilangkan keraguan putranya.
****
Restoran Jepang.
Malam hari pun tiba di restoran Jepang sudah duduk keluarga dari Donal untuk menunggu kedatangan keluarga AN Karan seperti janji mereka, untuk mempertemukan putra putri mereka sambil membicarakan tanggal yang tepat untuk pernikahan mereka.
Terlihat dari raut wajahnya Desi sangat gugup karna dia mengetahui kalo dia juga akan bertemu dengan orang yang akan menjadi suaminya nanti.
"Aku sangat gugup sekali apakah aku sanggup untuk semua ini astaga gak menyangka aku akan secepat ini mau menikah," gumamnya dalam hati sambil memandang lekat kedua orang tuanya."hemmm" dia pun bernapas panjang untuk menghilangkan kegugupannya " ini demi orang tuaku," gumamnya lagi.
Melihat putrinya yang begitu gugup sintapun langsung memegang tangan suaminya,"jangan gugup lagi sayang yang kamu rasakan sudah wajar karna bunda dulu pas menikah dengan ayah juga mungkin se gugup kamu,"ucap Sinta menghibur putrinya.
"Ayah bunda kita ngapain disini, kan ini restoran kapan kita makan, aku laper tau," tiba tiba suara gino menghilangkan keheningan, bocah umur 7 tahun itu merasa aneh melihat orang tuanya karna mengajaknya ke restoran tapi tidak makan padahal dia lapar sekali, apa mereka mengajaknya hanya duduk duduk saja kenapa gak di rumah aja kalo gini kan Gino bisa main" gumamnya.
Sekitar 5 menit kemudian terdengar suara mobil dari luar, mereka mengetahui kalo itu keluarga dari AN yang datang oleh sebab itu seperti rencana mereka," Desi ayo tutup mata kamu biar menjadi kejutan bagi kalian," Donal menyuruh putrinya memejamkan matanya seperti perjanjian mereka.
Keluarga AN pun langsung memasuki restoran tersebut." Pi kenapa harus tutup mata segala sih," ungkap Julian sebal karna dari dalam mobil dia di suruh menutup matanya dari sana sampai sekarang." Sudah kamu nurut saja sebentar lagi kamu buka," ucap AN langsung menuju ke arah keluarga Donal berada.
"Sori bro kami terlambat, ni gara gara menunggu putra saya selesai mandi, dia mandinya lama sekali seperti cewek katanya biar terlihat tampan di depan calon istrinya," kata AN mencandai putranya.
" Pi mana ada aku begitu, mungkin papi tadi yang lama mandinya sampai mami marah," Julian langsung membuka suara dia tidak mau kalah dari olokan papinya. Mereka pun langsung tertawa lepas kecuali Julian dan Desi yang sama sama gugup dan bergulat dengan fikirannya.
"hh.. ayo kalian duduk," kata Donal sambil berdiri dan mendudukkan Julian dan Desi berhadapan, melihat tingkah Donal yang begitu berlebihan pun ketiga orang tua dari keluarga Julian dan Desi itu pun tertawa.
"Kalian mulai buka mata kalian," ucap, Donal merasa sudah waktunya.
Julian dan desi pun bersamaan membuka matanya, setelah menetralkan penglihatan mereka Karna terlalu lama terpejam, setelah merasa normal mereka pun langsung saling pandang dan"el lo" ucap mereka bersamaan sambil saling Tunjung dengan jari masing masing, setelah itu mereka pun langsung saling cuekin mengengoh ke arah lain.
"Apa sebelumnya kalian saling kenal," melihat tingkah putranya yang sepertinya tidak asing dengan gadis di depannya, jujur saja AN dan Luna juga takjub dengan kecantikan Desi, tapi melihat putranya yang saling tunjuk mereka merasa putranya tidak asing dengan gadis di depannya.
Begitupun dengan orang tua Desi yang juga merasakan hal yang sama.
" Ya aku mengenalnya," jawab Desi dan Julian bersamaan.
"Kalian kenal dari mana?," Tanya mereka lagi.
" Kami sekolah di tempat yang sama dan dia
Murid paling bandel di sekolah," Desi pun langsung menjawabnya sambil malas menengok ke arah julian. mendengar suara Desi mengatainya bandel diapun langsung menjawabnya" Lo yang bandel ," Julian tidak mau kalah.
Mendengar mereka kalo mereka saling kenal . Donal, AN, Luna dan Sinta, akhirnya saling pandang kenapa mereka tidak memikirkan dan bertanya kalo putra mereka sekolah di tempat yang mana, karna sadar mereka bodoh lalu sama sama tertawa lepas dan bahagia.
Gino memandang wajah Julian dengan sangat lengkap," ayah bunda?, apa dia yang akan jadi kakak baru ku?" Ucap bocah kecil itu.
"Ya sayang ayo sapa kakak barumu namanya kakak Julian, gimana tampan gak," jawab Sinta mendengar suara anak laki lakinya bertanya,
" Bunda kalo dia sih bukan tampan lagi, dia malah jauh lebih tampan dari aku, aku jadi malu mengatai diriku kalo aku tampan, karna kakak Julian sangat tampan sangat sekali tampan," ucap anak kecil itu dia tetap menatap wajah Julian dari tadi sambil berbicara," mendengar ucapan ucapan anak kecil itu mereka tertawa bersama, tapi tidak dengan Julian dan Desi tetap saling cuekin dan sekali kali saling lirik.