17. Macan Kecil

1248 Words
Di sisi lain Brian telah bersiap untuk datang ke rumah tahanan, kendaraan besi yang ia tumpangi melaju dengan kecepatan penuh. Membelah jalanan beraspal yang mulai padat. Lelaki itu tampak membolak-balik dokumen yang ia bawa. Membaca tiap lembar untuk memastikan bahwa tidak ada satu hal pun yang merugikan dirinya. "Pak, kita sudah sampai," ucap Hafif sambari menoleh ke belakang. Brian melirik asisten setianya tersebut dan mengangguk. Kemudian lelaki itu menutup kembali berkas yang tadi dibacanya. "Ya, ayo kita turun, Fif." Asisten yang juga merupakan kaki tangan Brian itu mengangguk. Ia mengekor di belakang sang tuan bagaikan seorang bodyguard. Mereka memasuki koridor, atmosfir berbeda mulai menyergap tubuh. Di ruangan yang penuh dengan lorong-lorong tersebut Hafif bergidik ngeri. Suasananya terasa sunyi padahal ada ribuan manusia tertawan di sana. Meratapi nasib di balik jeruji besi yang dingin, kesepian mungkin idirasakan oleh sebagian orang. Akan tetapi, di sanalah mereka ditempa untuk lahir kembali, menjadi pribadi yang lebih baik. "Permisi, Pak. Kami dari pihak penggugat ingin menemui Bapak Sandy. Tuan kami, Brian telah mencabut berkas tuntutan. Sehingga kami membutuhkan tanda tangan beliau untuk melakukan kesepakatan lain." Hafif menjelaskan maksud kedatangannya pada kepala sipir. Sipir tahanan itu mengangguk, karena kemarin ia telah mendapatkan surat pemberitahuan resmi dari pengadilan perihal tersebut. "Baik, Pak. Saya telah menerima laporannya kemarin. Sebentar, akan saya panggilkan tahanan." Derap langkah sang sipir tahanan menggema dalam ruangan. Jajaran sel berpenghuni manusia ia lewati. Lelaki itu berhenti di salah satu jeruji besi, kemudian memilah kunci dan membukanya. Derit jeruji yang terdengar berat menyita perhatian penduduk lapas. Mereka melongok, umtuk mengintip siapa yang beruntung mendapatkan kunjungan hari itu. "Sandy, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu di luar," ucap sipir itu tanpa basa basi lagi. "Ba-baik, Pak." Sandy bangkit dari posisi duduknya, ia menyendiri di sudut ruangan. Selang lima menit menunggu di ruangan yang telah disediakan. Brian dan Sandy akhirnya dipertemukan kembali. Ayah Zakia itu tampak lebih kurus, padahal baru berapa hari saja ia berada di sel tahanan. Pakaian parlente yang biasa ia kenakan beralih menjadi seragam lembaga pemasyarakatan berwarna navy tua. Tak ada lagi wibawanya sebagai seorang manager. Sandy kini telah sejajar dengan para kriminal-kriminal lain. Ia seorang tikus yang menggerogoti kekayaan Brian. Lelaki itu tampak tertunduk, apakah ia takut dengan sang cassanova. "Terima kasih, Pak," ucap Hafif ketika sipir tahanan membawa Sandy ke hadapannya. Ayah Zakia tersebut mengambil posisi duduk tepat di hadapan Brian. Masih dengan petugas keamanan yang berjaga agak jauh darinya. Tentu untuk memastikan agar tahanan itu tidak melarikan diri sebelum semua berkas tuntutannya dicabut lengkap. "Siang, Pak Sandy. Apakah Anda menikmati tour di hotel prodeo ini?" tanya Brian memulai pembicaraan. Nada bicara lelaki yang dipanggil iblis oleh Zakia itu penuh dengan ejekan. Namun, Pak Sandy tak dapat memberontak, ia hanya terdiam sambari meremas jemari. Mengangkat wajahnya saja ia tak punya nyali, apalagi untuk menjawab pertanyaan sang cassanova. "Jawab! Mengapa diam saja? Atau mungkin kau terlalu terbuai oleh fasilitas di sini dan masih betah untuk tinggal," ujar Brian dengan menekankan kata. Tersirat dari ucapan lelaki itu ia masih memendam amarh yang begitu besar. Ia tak menyangka, pengkhianat sepertinya harus dilepas. Jika ini bukan karena perjanjian dengan Zakia, mungkin ia akan membiarkan lelaki itu membusuk di penjara. "Sa-saya ti-tidak ingin di sini le-lebih lama, Tuan. Sa-saya ingin kem-kembali melihat dunia luar," jawab Pak Sandy tergagap. Tenggorokannya bagaikan tercekat oleh sesuatu. Lelaki itu tak mampu lagi menjawab dengan kalimat lain. Takut jika nanti ucapan yang ia lontarkan keliru dan malah mengakibatkan perubahan sikap Brian. "Bagus, sekarang tandatangani ini." Brian menyodorkan sebuah map berwarna merah. Ya, itu adalah berkas yang harus Sandy tanda tangani yang berisi bahwa Sandy menyerahkan Zakia kepada Brian sebagai penjamin sebelum lelaki itu mampu melunasi utangnya. Seketika manik mata lelaki yang dipanggil papa itu terbelalak, ketika ia membaca kalimat penjamin. Ya, Zakia putri tercintanya mau tak mau harus ia serahkan. "Bagaimana? Sudah kau baca dengan seksama, bukan. Sekarang cepat tanda tangani itu sebelum aku berubah pikiran!" sentak Brian yang mulai merasa muak. Melihat wajah Sandy saja membuat isi dalam perutnya bergejolak. Bagaimana bisa Brian dahulu mempekerjakan seekor pengerat yang berwujud manusia ini. Tampaknya ia harus lebih selektif dalam meimih karyawan, agar kejadian serupa tidak terulang kembali. "Ba-baik, Pak." Sandy bergegas membubuhkan tapak astanya di sana. Dokumen berisi lembaran putih tiga halaman itu telah ia tanda tangani sesuai dengan materai yang tertera. Meski, berat hati Sandy tidak akan melewatkan kesempatan baik itu, dia berpikir bahwa Zakia akan hidup enak bersama dengan Brian. "Su-sudah saya tandatangani semua, Pak." Brian mengecek satu per satu surat perjanjian itu. Ia melirik Sandy dan merasa semakin jijik. Bagaimana mungkin seorang ayah bisa menukar anaknya dengan kebebasan. "Cih, benar-benar tidak beradab!" desis Brian lirih. Hafif yang mendengar u*****n sang cassanova hanya mampu menelan saliva. Benar juga apa yang dikatakan majikannya. Sandy yang tampak beretika itu tidak lebih dari seonggok sampah masyarakat! Sekarang ia malah menjaminkan darah dagingnya demi ego. Di mana figur seorang ayah idaman? Semua telah rusak. Patah oleh sikap Sandy yang lebih mementingkan kepentingan pribadinya. Apa ia pikir Zakia adalah barang yang pantas untuk digadaikan? Sungguh ayah yang kejam! "Ya, nanti sore kau akan dibebaskan sesuai dengan prosedur yang berlaku. Namun, ingat jangan pernah berpikir untuk membawa kembali putrimu, jika semua kerugian yang kau akibatkan belum lunas!" Brian menaikan suaranya satu oktaf. Batin lelaki itu bergelora, ia kemudian menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Menghadapai manusia yang tak memiliki hati memang harus tenang. Brian mengatur kembali strategi agar ia tak terjatuh pada kelicikan Sandy lagi. "Apa kau paham?" sambung Brian sambari menatap lekat Sandy. Lelaki itu mengangguk cepat, tanpa berpikir dua kali. "Ya, saya tahu. Saya telah mengikhlaskan Zakia untuk tinggal bersama Anda." "Kau memang ayah yang buruk, Sandy. Aku akan membuat Zakia membuka mata akan hal ini!" hardik Brian penuh penekanan. "Ta-tapi saya-" Sandy masih berusaha untuk membela diri, tetapi sipir tahanan telah menepuk bahunya. Pertanda jam besuk telah usai, ia harus kembali ke tahanan bersama yang lain sebelum surat pembebasannya turun. Sandy tak sabar menantikan hal itu, ia bahkan tidak memikirkan bagaimana perasaan Zakia. Anak gadisnya yang telah ia tukar dengan kebebasan. Kesenangan untuk dirinya sendiri tanpa memberikan kesempatan sang putri untuk memilih lagi. "Bawa dia pergi dari hadapanku, Pak. Aku muak melihatnya!" titah Brian pada kepala sipir bertubuh tambun tersebut. Bersamaan dengan perginya Sandy, Brian beranjak berdiri dan mengibaskan setelan jas yang ia kenakan. Entah apa tujuannya? Bukankah ia tidak menyentuh apapun yang menyebabkan pakaian resmi itu kotor? Lantas mengapa ia berperilaku aneh, sehingga Hafif mengernyitkan alis. "Kau lihat apa, Fif? Heran mengapa aku membersihkan jas?" tanya Brian seakan bisa membaca pikiran kaki tangannya yang terbengong. "Ah, bu-bukan, Pak saya hanya-" Brian dengan cepat memotong kalimat Hafif. "Aku hanya membersihkan aura negatuf yang terpancar dari Sandy. Mungkin saja ada yang masih menempel di tubuhku." Hafif terkekeh dan menggeleng ringan, ternyata hal itu yang mengakibatkan sang cassanova bertingkah aneh. Pantas saja jika semua orang mengatakan Brian adalah sang perfeksionis. Brian kemudian merogoh ponsel di saku tuxedonya. Ia menghubungi Pak Andi untuk menanyakan posisi Zakia saat ini. Pak Andi mengatakan bahwa Macan Kecilnya tersebut sudah sampai di kampus dan sopir itu menunggu di parkiran. "Bagus, Pak Andi. Terus awasi Macan Kecilku, jangan sampai lengah! Karena ia memiliki beribu cara di dalam otaknya," ucap Brian seraya menutup panggilan sepihak. "Fif, ayo kita kembali ke rumah. Aku merasa sesak berada di ruangan lembab ini!" ajak Brian pada Hafif yang sedari tadi mematung dan menunggu perintah. Asisten setia itu mengangguk patuh. "Baik, Pak. Silakan Anda berjalan terlebih dahulu. Biar berkas itu saya bawa."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD