18. Panggilan Tak Terjawab

1301 Words
Waktu terus bergulir, detik demi detik pun berganti. Langit yang pekat dengan taburan bintang, kini penuh dengan goresan kuning keemasan. Pesona sang mentari mulai menyebar ke seluruh dunia, memberikan kehangatan bagi setiap makhluk hidup. Cahay yang indah itu sayangnya tak seindah kehidupan Zakia. Tak terasa, satu minggu pun berlalu. Zakia hidup berdampingan bersama iblis berwujud manusia itu. Sementara Pak Sandy hidup terpisah dengan putrinya. Sesuai kesepakatan yang berlaku, ia harus berjuang sendiri untuk melunasi utang piutangnya pada Brian. Namun, benarkah demikian? "Terima kasih, Pak. Pak Andi boleh pergi seperti biasa nanti akan saya hubungi," ucap Zakia yang telah turun dari mobil. Hari ini Pak Andi melaksanakan tugasnya seperti biasa. Ia mengantar Zakia untuk pergi berkuliah. Meski, kantuk menyerang ia masih tetap melakukan kewajiban tepat waktu. Namun, ketika tawanan sang cassanova itu terlihat memasuki area kampus. Ia memilih untuk menunggu di parkiran dan merebahkan diri sebentar di mobil. "Sepuluh menit lagi Non Zakia akan keluar dari kelasnya, aku harus bersiap dahulu." Pak Andi bergegas merapikan surainya yang acak-acakan karena baru saja terbangun. Lelaki itu meregangkan tubuh, dan menutup mulutmya yang menguap. Sebenarnya rasa kantuk masih tersisa, tetapi ini semua demi kehidupan keluarganya. Ia harus mampu mengendalikan diri. Paling tidak ia telah memberi kesempatan netranya untuk beristirahat sejenak. Ya, sejak sepekan yang lalu lelaki itu bertugas untuk mengawasi gadis rupawan itu kemana pun ia pergi. Bahkan Brian memintanya khsus untuk melayani Zakia saja. Mengawasi setiap pergerakan tawanan manisnya. Sepuluh menit berlalu, para mahasiswa dan mahasiswi berlalu lalang. Pak Andi dapat melihat dengan jelas mereka melintas di depannya melalui kaca depan mobil. Akan tetapi, ia tak melihat batang hidung Zakia. Di manakah gadis itu? "Lho, kok Non Zakia belum kelihatan, ya. Apa mungkin ada tugas tambahan? Baiklah, aku akan menunggu di sini lima menut lagi." Sopir pribadi Zakia tersebut mulai gelisah, ia keluar dari mobil dan berlari menuju aula kampus. Di sana ia bertanya kepada beberapa mahasiswa yang masih berkeliaran. Namun, tidak ada yang mengetahui ke mana Zakia pergi. "Astaga, Non. Ke mana lagi ini aku harus mencari?" Pak Andi berlari ke segala penjuru kampus untuk mencari siluet Zakia. Nihil, itu hasil yang ia peroleh setelah berlari-larian. Bagaikan scene dalam adegan bollywood, Pak Andi menyusuri setiap jengkal area kampus. Bahkan ia sampai mengecek satu per satu toilet. Berharap majikan barunya itu berada di sana. "Mampus aku! Tuan Brian pasti marah besar ini," gumam Pak Andi sambari kembali ke parkiran. Wajah lelaki yang telah dipanggil ayah itu mendadak pias, jamtungnya seakan berhenti memompa darah. Pikirannya tengah kalut, tak tahu apa yang harus ia lakukan lagi kecuali melapor pada sang majikan. "A-aku terpaksa harus menelepon Tuan Brian, tapi bagaimana aku mengatakannya? Duh, Non, kenapa mempersulitku?" keluh Pak Andi. Lelaki berusia matang itu menghela naaps dalam berkali-kali. Berusaha menenangkan dirinya yang mulai panik. Sekujur tubuhnya terasa dingin oleh keringat dingin yang mengucur dari pori-pori. Mengapa ia sampai teledor dan lengah begini? Dengan sisa keberanian dan tekad yang bulat, Pak Andi merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan sebuah ponsel berwarna hitam. Modelnya sedikit kuno dan beberapa huruf keyboard tampak memudar. Maklum itu ponsel lama yang harus ia kenakan karena ponsel yang lebih canggih ia jual untuk menambah biaya pengobatan. Jemari yang mulai tampak keriput itu bergetar, Pak Andi menekan tombol hijau dan menelan salivanya sendiri. Nada sambung Brian terdengar, jantung Pak Andi berdegub kian kencang. Bukan kepalang ia merasa mati dan hidupnya berada di ujung tanduk saat ini. Namun, apapun risikonya ia tetap harus melapor pada sang majikan. "Ha-hallo, Tuan Brian." Pak Andi menarik napas dalam-dalam. Sementara itu Brian yang tengah berada di kantor, menatap layar ponsel yang sengaja ia loud speaker volumenya itu dengan heran. Alisnya mengernyit ketika mendengar suara Pak Andi yang gugup. "Ya, hallo. Ada apa Pak Andi jam segini menelepon?" "Be-begini, Tuan. Sa-saya mo-mohon maaf, Non Zakia tidak kunjung kembali ke parkiran. Sa-saya sudah mencarinya ke seluruh kampus, tetapi tidak menemukannya," ucap Pak Andi masih dengan tergagap. Berapa kali pun ia mencoba untuk menenangkan diri tidak berhasil. Rasa takut akan kemarahan Brian lebih besar dari nyalinya. Kini, Pak Andi hanya mampu pasrah dan menerima apapun yang akan terjadi. "Pak Andi yakin sudah mencari ke seluruh area kampus? Cari lagi! Aku tidak mahu tahu, gadis itu harus kembali hari ini juga!" sentak Brian seketika. Mendengar laporan dari Pak Andi membuat darah Brian berdesir hingga ke ubun-ubun. Bagaimana bisa hal itu terjadi? Sementara ia telah mengirimkan orang kepercayaannya di sana. "Sa-saya su-sudah berkeliling, Tuan. Bah-bahkan saya juga menanyakan perihal Non Zakia pada mahasiswa lain. Namun, mereka tidak melihatnya," bela Pak Andi penuh khawatir. "Aku tidak mau mendengar alasan apapun! Sudah kubilang awasi gadis itu, jangan sampai lengah! Apa saja yang kau lakukan sehingga Macan Kecilku melarikan diri, hah? Dasar teledor!" Brian meremas sebuah buku catatan kecil yang berada di hadapnya. Ia merasa sangat kesal karena Pak Andi tidak bisa menjaga Zakia dengan baik. Apa gunanya ia mempekerjakan lelaki itu jika hasilnya seperti ini? "Ma-maaf, Tuan. Sa-saya akan kembali mencari Non Zakia lagi," jawab Pak Andi pasrah. "Harus, cari sampai ketemu! Jika tidak, maka aku tidak akan segan memecatmu!" bentak Brian lagi. Ancaman Brian kali ini bagaikan sebuah cambukan untuk Pak Andi. Lelaki itu mengakui kesalahannya, bisa saja Zakia pergi ketika ia tertidur tadi. Dirinya terlalu menyepelekan gadis itu, ini semua karena rasa kantuknya yang menyerang. Semalam ia tak tidur menjaga putranya yang merintih kesakitan. "Ba-baik, Tuan. Sa-" Panggilan telepon diputuskan sepihak oleh Brian. Tampaknya lelaki itu benar-benar murka. Entah bagaimana caranya, Pak Andi harus menemukan Zakia. Lelaki itu mencoba bertanya pada petugas keamanan yang berdiri di pintu gerbang. Berharap mendapat sedikit informasi tentang kepergian Zakia. Sedangkan di sisi lain, Brian mengobrak abrik meja kerja. Ia melempar apapun yang berada di hadapannya dengan kasar. Beberapa dokumen penting berserakan di lantai. Namun, lelaki itu tak peduli. "Hah! Berani sekali Macan Kecil itu bermain-main denganku. Lihat saja nanti, aku akan membuatmu bertekuk lutut!" rutuk Brian dengan mata berkilat. Lelaki itu kemudian menghubungi Hafif melalui telepon kantor. Tak berapa lama kaki tangannya hadir di depan Brian. Hafif sempat kaget melihat ruangan Brian yang berantakan. Bahkan ia harus berjingkat untuk menghindari lembaran kertas yang berceceran. "Ma-maaf, Pak. Ada apa ini?" tanya Hafif sambari menggaruk tengkuknya. "Kau tahu, Macan Kecilku melarikan diri! Aku mau kau mencari keberadaanya, sekarang juga!" seru Brian yang tak mampu membendung emosi. Hafif menelan salivanya sendiri, kemarahan sang majikan memang momok yang paling menakutkan. Seluruh karyawan di kantor bahkan akan terkena dampaknya jika gunung es itu melelehkan lava dingin. "Baik, Pak. Saya akan mencoba untuk menghubungi Nona Zakia." Hafif tertunduk dan mengangguk. Asisten kepercayaan Brian tersebut tidak berani mengangkat kepala. Ia hanya tertunduk agar tatapan mereka tak bertemu. Netra kebiruan milik sang cassanova bagaikan lautan lepas yang siap menelan siapa saja. "Apa lagi yang kau tunggu, hah? Cepat lakukan!" Dengan cepat Hafifi menghubungi Zakia, tetapi tidak ada jawaban. Akhirnya ia memberanikan diri untuk menatap sang cassanova. "Ma-maaf, Pak. Dia tidak menjawab panggilan saya." "Apa? Tidak becus! Biar aku saja yang meneleponnya, coba kita lihat seberani apa dia menentangku!" Brian menyambar ponsel dan mencari nomor ponsel Zakia. Lelaki itu mencoba menghubungi Zakia, satu kali tidak ada jawaban. Dua kali, tetap diabaikan dan ketiga kalinya Brian menelepon, tetapi gadis itu tidak kunjung menjawab. "s**t! Aku yakin ini pasti ada hubungannya dengan Sandy," gerutu Brian dengan tangan mencengkeram ponselnya erat. Manik mata lelaki itu berkilat merah, otot-otot lehernya terlihat dengan jelas. Brian berasumsi jika Sandy membawa Zakia pergi untuk melarikan diri. Siapa lagi yang mampu melakukan hal itu? Lagipula bagaimana bisa Pak Andi kecolongan. "Hah! Semuanya sama saja tidak becus!" umpat Brian mulai kalang kabut mendengar macan kecilnya menghilang tanpa kabar sedikitpun. Awas saja nanti kalau sampai Brian menemukan Zakia. Dia akan memberikan wanita itu pelajaran karena sudah menyebabkan kekhawatiran. "Cari dia sekarang juga atau nyawa kalian jadi taruhannya!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD