19. Mencari

1229 Words
Semburat jingga telah terlukis di cakrawala, sang surya pun mulai menenggelamkan dirinya perlahan. Mengiringi kumandang adzan magrib, seruan bagi kaum muslimim untuk segera menunaikan kewajiban. Waktu beranjak begitu cepat, tetapi tidak ada kabar tentang Zakia. Hawa dingin menyusup di antara kemeja lengan pendek yang dikenakan Pak Andi. Menambah suasana petang itu begitu mencekam. Gelisah dan cemas masih menghiasi wajah Pak Andi, lelaki itu tak henti-hentinya berdoa dalam hati kepada Sang Khaliq agar Zakia segera ditemukan. Jika gadis itu tak kunjung terlihat batang hidung atau paling tidak kabar tentang keberadaannya, maka sopir itu harus rela untuk meninggalkan profesi yang telah lama ia geluti. Di sisi lain, Brian tak berhenti mengoceh. Beberapa kali ia terdengar mengumpat dan berjalan mondar-mandir bagaikan setrika uap. Ini merupaka pemandangan yang cukup aneh bagi para asisten. Baru kali ini mereka melihat sang cassanova sangat gegana. "Cih, ke mana perginya Macan Kecil itu! Hingga petang masih belum ada informasi apapun," desis Brian dengan manik berkilat. Untung saja lelaki itu masih terhitung muda, andai ia telah berkepala empat mungkin tekanan darahnya akan langsung naik. Bisa jadi terkena serangan stroke langsung. Berulang kali ia mencoba untuk menghubungi Zakia melalui telepon rumah, tetapi tetap tak ada jawaban. "Rieka! Tolong ambilkan ponsel pribadiku di nakas. Cepat!" titah Brian pada asistennya itu. Gadis berperawakan kecil itu berjalan terpongoh-pongoh menuju sang majikan. Ia membenahi apron agar terlihat rapi. Karena Rieka tahu Brian paling tidak suka dengan penampilan yang lusuh dan berantakan. "Mo-mohon maaf, Tuan. Di-di mana saya harus mengambil ponsel Anda?" tanya Rieka dengan polos. Manik mata Brian membulat, lelaki itu tak menyangka asisten baru itu tidak memperhatikan dan menyimak perintahnya dengan baik. Hal ini semakin menyulut emosi sang cassanova yang telah memuncak. Kini kepala lelaki itu bagaikan sebuah gunung berapi aktif yang siap meledak sewaktu-waktu. "Kalau aku bilang di nakas, itu artinya di kamar tidur! Kau ini pernah belajar interior ruangan atau tidak, hah? Bagaimana bisa pelayan senior memilihmu untuk bekerja denganku!" Sentakan Brian membuat Rieka tertunduk lesu. Ini semua juga murni kesalahannya, jelas-jelas sang majikan telah memerintahkan untuk mengambil di nakas. Mengapa ia bertanya lagi? Mana ada nakas di kamar mandi. Hah! Rieka, kau menggali lubangmu sendiri. Apalagi situasi dan kondisi sedang tidak kondusif. "Cepat! Tunggu apa lagi? Bengong saja!" Otot-otot leher Brian menegang, ia tampak kesal dengan pelayan yang terbilang baru tersebut. "Ba-baik, Tuan." Rieka berlari dan bergegas mengambil ponsel milik sang cassanova. Benda canggih berwarna hitam metalik itu tergeletak manis sesuai dengan tempat yang dikatakan Brian. Tanpa menunda waktu lagi, asisten itu segera menyambarnya dan kembali ke ruang tamu. "I-ini, Tuan." Rieka menyodorkan ponsel milik Brian dengan napas terengah-engah. Brian segera menyambar benda pipih itu tanpa menghiraukan ekspresi memelas Rieka. "Ya, pergilah. Aku sudah tidak membutuhkanmu." Jemari kekar yang tampak berbulu halus itu menggulir layar dengan cepat. Sesekali ia mengetikkan sesuatu. Seperti sedang menelusuri dokumen yang sangat penting. Wajah rupawan Brian tampak sangat mengerikan ketika murka. Tidak ada segores senyuman pun terbingkai di sana. "Nah, ini yang aku cari!" Manik mata kebiruan itu berbinar ketika ia menatap sebuah nomor ponsel. Ya, itu adalah satu-satunya jalan terakhir bagi Brian, ia memutuskan untuk menghubungi dosen pembimbing Zakia. Dari mana sang cassanova memperoleh nomor ponsel maha guru tersebut? Tentu saja dari Hafif yang menjadi kaki tangannya dalam segala urusan. Entah bagaimana cara Hafif memperoleh informasi secara detail, kinerja lelaki tersebut memang sudah tidak diragukan lagi. Maka dari itu Brian menaruh kepercayaan penuh padanya. Tak heran jika itu menimbulkan kecemburuan sosial bagi beberapa karyawan lain. Mereka merasa sikap Brian pada Hafif berbeda dan lebih halus ketimbang dengan yang lain. Istilah bekennya anak emas yang selalu menempel pada Brian. "Hallo, selamat malam. Saya saudara dari Zakia Edelweiss. Boleh saya meminta waktu Anda sebentar?" tanya Brian tanpa basa-basi lagi. "Selamat malam, Pak. Oh iya, tentu. Apakah ada kendala mengenai Zakia?" Dosen pembimbing yang baru saja selesai membersihkan diri itu mengernyitkan alis. Tumben sekali keluarga Zakia menghubungi dirinya, apakah mahasiswi teladan itu berulah? Ini aneh, dari mana pula keluarga Zakia memperoleh nomor ponsel miliknya. "Sebelumnya terima kasih atas waktunya. Saya hanya ingin menanyakan. Apakah hari ini Zakia absen atau izin tidak masuk kelas?" Maha guru itu mengerutkan kening, ia berusaha mengingat daftar absensi. Tampaknya Zakia hari ini hadir karena memang gadis itu tidak pernah membolos. Daftar kehadirannya selalu penuh dengan tanda tangan. Bahkan ia selalu mendapatkan predikat terbaik. "Tidak, Pak. Zakia mengikuti bimbingan saya hari ini. Bahkan ia selesai lebih cepat. Ada apa ya, Pak?" tanya sang dosen yang mulai penasaran. Brian menghela napas dalam untuk menenangkan diri. "Maaf, kapan terakhir Anda bertemu Zakia? Dia menghilang sekitar empat jam yang lalu." "Hah! Zakia Hilang, Pak? Mohon maaf, saya tidak mengetahui ke mana Zakia pergi. Setahu saya tadi Zakia pulang juga tepat waktu." Brian menepuk keningnya dengan keras. "Ya, dia hilang dan tidak memberi kabar apapun pada kami." "Apa Bapak sudah mencoba untuk menghubungi Zakia?" sambung sang dosen yang mulai khawatir. Sang cassanova merasa obrolan ringannya dengan sang dosen membuang waktu dan tenaga saja. Ia bahkan tidak menemukan secuil informasi yang bisa dijadikan petunjuk. "Sudah, tetapi tidak ada jawaban. Baiklah, saya sangat berterima kasih atas waktu Anda. Mohon maaf menggangu." Brian mengakhiri panggilan kemudian memijat keningnya yang terasa pusing. Pak Andi yang masih berdiri di samping Brian, hanya mampu bergeming. Ia tak berani mengeluarkan sepatah kata pun. Semua ini tidak akan tejadi jika dirinya tidak tertidur. Astaga, situasi semakin memanas. Dalam kondisi terpojok seperi sekarang, ia hanya sanggup berdoa dan meminta pertolongan Tuhan. Tiba-tiba, derap langkah kaki terdengar memasuki ruang tamu. Hafif datang menghadap sang majikan dengan wajah sumringah. Secercah cahaya terpancar dari wajah khasnya yang manis. Ia bergegas menghampiri Brian yang hampir gila. "Ada apa, Fif?" tanya Brian seraya menatap tajam kaki tangannya itu. Hafif menarik kedua sudut bibirnya. "Saya membawa kabar baik, Pak." Seketika Brian bersemangat kembali, amarahmya sedikit surut. Hafif memang yang paling mengerti akan dirinya. Lelaki itu memicingkan netra, menatap lurus orang kepercayaannya itu. "Berita apa? Cepat katakan. Jangan membuatku menunggu!" desak Brian tak sabar. Hafif merogoh saki celana dan mengeluarkan ponsel miliknya. Benda buatan pabrik dua tahun yang lalu itu masih tampak mengkilap, meski ada beberapa bagian layarnya yang tergores. "Saya menemukan ini, Pak." Hafif menyodorkan ponselnya. Di saat bersamaan manik mata Brian terbelalak. Dalam layar itu jelas terpampang potret diri Zakia yang tengah asik berpose bersama teman-temannya di salah satu arena permainan. Lokasi wahana itu tidaklah jauh dari kampus tempat Zakia menimba ilmu. "Dari mana kau menemukan ini?" selidik Brian. "Tadi saya tidak sengaja menemukan foto Nona Zakia bersama teman-temannya itu di dinding laman sosial media. Coba Anda lihat, menurut tangkapan layar yang sempat saya abadikan. Foto itu diambil lima belas menit yang lalu. Artinya, Nona Zakia masih berada di tempat itu saat ini." Brian segera meminta Hafif mengantarkannya ke mall. Tempat di mana arena permainan itu berada, entah mengapa lelaki itu merasa sangat gelisah. Padahal di antara mereka tidak ada ikatan khusus kecuali tawanan dan majikan. "Kalau begitu, cepat antarkan aku kesana!" titah Brian mengagetkan Hafif. Asisten itu terlonjak dan berkata, "Sekarang, Pak?" Brian melotot dan berkacak pinggang, mendengar pertanyaam Hafif. Tidak biasanya lelaki itu berpikir lambat. Bahkan melontarkan pertanyaan yang tidak penting sama sekali. Apa ini karena efek kebingungan atau kelelahan? "Tahun depan! Tentu saja sekarang!" Tanpa menunggu perintah kedua, Hafif bergegas membalikkan tubuh. Ia segera memanaskan kendaraan besi sang cassanova. Sementara Pak Andi dan beberapa asisten lainnya menunggu dengan harap-harap cemas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD