Lampu-lampu jalanan berpendar mengiringi perjalanan kendaraan besi milik Brian yang membelah aspal. Hafif sesekali melirik tuannya yang masih gelisah. Seakan bisa membaca pikiran sang cassanova, Hafif melontarkan kalimat yang membuat Brian tertohok. "Pak, mengapa Anda begitu mencemaskan Nona Zakia?" Brian menoleh dan terbatuk, ia tiba-tiba merasa tenggorokannya sangat gatal. Agaknya pertanyaan Hafif menggelitik rongga leher. Menyisakan gatal dan serak yang sedikit berlebihan. "Siapa yang cemas? Untuk apa aku memikirkan gadis liar seperti dirinya?" Sang cassanova masih berusaha mengelak. Tentu ia tidak ingin kehilangan wibawanya kala itu. Ya, meski anak taman kanak-kanak pun mungkin juga tahu jika dirinya khawatir terhadap Zakia. Bahkan sampai seperti kebakaran jenggot. Satu orang yang

