Keberangkatan pesawat dari Amerika menuju Bandara Udara Internasional Soekarno-Hatta akhirnya landing dengan sempurna. Saat itu keluar seorang pemuda tampan berkacamata hitam diimbangi dengan setelan jaz hitam yang sangat elegan. Gagah, tajir melintir, fashionable, dan memiliki segalanya. Itulah kiranya yang tergambar saat menatap sosok Brian Fathir Agler.
Lelaki itu melirik arloji di tangannya, dalam hatinya Brian telah bersumpah akan memecat Hafif jika pekerjanya itu tidak menjemputnya tepat waktu.
"Pak Brian," sapa Hafif tersenyum ramah.
Meskipun Brian selalu dingin dan ketus dalam berbicara. Namun Hafif begitu betag bekerja dengan lelaki perfectionist seperti Brian. Tentu saja karena Brian tidak pernah telat membayar upah sekaligus memberikan para karyawannya tunjangan terbaik.
"Kita langsung ke kantor polisi atau pulang dulu, Pak?" tanya Hafif yang sudah menunggu dari tadi di bandara.
Brian melepas kaca mata yang bertengger di hidung bak Gurun Sahara.
"Langsung saja ke kantor polisi, semalaman aku tidak bisa tidur karena masalah ini," jawab Brian ketus.
Brian menggeram kesal, malam selasanya harus hancur karena kasus yang membelit salah satu karyawannya. Lihat saja nanti, Brian akan memberikan Sandy pelajaran atas perbuatannya.
"Baik Pak."
"Mana kunci mobilnya, biar aku yang menyetir," ucap Brian.
Hafif menatap bosnya itu sekilas, dia sudah tahu kebiasaan atasannya itu setiap kali merasa kesal.
Hafif mengeluarkan kunci mobil dari saku kemejanya. Meraka berjalan menuju parkiran mobil dengan koper berukuran 20 inch berada dalam genggaman tangan Hafif. Brian menekan tombol remote mobil, seketika itu juga mobil sedang paling mewah bermerek BMW i8 membunyikan alarmnya.
Setahu Hafif yang sudah lama menjadi asisten pribadinya Brian, tidaklah bosnya itu mengambil alih kemudi kecuali dalam keadaan sangat genting atau dalam kondisi marah. Brian saat itu menginjak pedal gas sangat dalam, kecepatan yang tidak normal itu membuat Hafif memejamkan mata, dia pasrah dan memang tidak ada yang bisa dilakukannya kalau bosnya sedang marah seperti ini.
Hanya butuh sepuluh menit bagi Brian untuk sampai di kantor polis tempat di mana Sandy mendekam. Brian berjalan masuk diikuti oleh Hanif. Setelah mengikuti beberapa aturan besuk mereka berdua akhirnya bisa bertemu dengan Sandy.
Kini mata Brian menatap lekat sosok pembuat ulah di depannya. Amarahnya mulai menggila, andai saja dia tidak sedang di kantor polisi mungkin Brian akan melayangkan pelajaran berharga atas perbuatan Sandy. Ini bukan perkara uang, ini perkara kepercayaan yang sudah keluarga Agler berikan kepada Sandy sejak dulu.
"Ma-maaf Pak saya menyesal, tolong ampuni saya, Pak," ujar Sandy memelas.
Sandy juga tidak tahu jika semua ini akan terjadi.
"Berani sekali kamu mengkhianati kepercayaan keluargaku. Masih untung kemaren aku ada di Amerika, daripada memenjarakanmu seperti ini aku lebih suka kalau nyawamu melayang," sarkas Brian dengan kasar.
Sandy, dia kadung terperangkap tipu daya rekannya yang mengatakan ingin membangun usaha mebel.
"Mohon maafkan kesalahan saya, saat itu saya benar-benar khilaf," ucap Sandy penuh penyesalan.
Rekannya kini melarikan diri, sudah lima hari Sandy mencoba mencarinya.
"Fif coba katakan apa saja asset orang sampah ini yang bisa kita sita guna menutup kerugian!" hentak Brian.
"Ada rumah, mobil, dan uang sebesar seratus dua puluh juta, Pak," jawab Hafif usai mengecek segala aset milik Sandy tadi malam.
Sandy menggeleng, Brian tidak boleh menyita rumahnya karena Zakia ada di sana. Ke mana putrinya yang malang itu akan tinggal jika rumahnya disita oleh Brian?
"Pak Brian, mohon jangan sita rumah saya, Pak. Saya punya anak gadis semata wayang, dia mau tinggal di mana kalau rumah saya disita, Pak? Tolong setidaknya kasihani anak saya, Pak," pinta Sandy memohon belas kasihan.
Brian tertawa mengejek. "Bahkan semua itu belum cukup untuk mengganti kerugian yang disebabkan oleh koruptor sepertimu! Saya bahkan berniat akan menghabisi anakmu itu, kita lihat saja nanti!" ancam Brian.
"Jangan Pak ... saya mohon jangan, ampuni saya, Pak." Sandy menangis, menangkupkan tangannya ke depan bibirnya meminta pengampunan dari seorang Brian Fathir Agler.
Selain menjadi billionaire muda, semua rekan bisnisnya tahu benar bagaimana tabiat Brian ketika lelaki itu marah atas sesuatu hal. Sekalinya Brian memutuskan hukuman sebagai penebusan dosa karyawannya, maka itu adalah titah seorang atasan yang tidak bisa untuk diingkari ataupun terbantahkan.
"Ayo pergi!"
Lelaki berparas bak Dewa Yunani itu bangkit dari tempat duduknya. Senyum devilnya menyeringai sangat menakutkan dalam penglihatan Sandy. Berbagai pikiran butuk tentang masa depan Zakia semakin merunyamkan hati dan perasaan ayah satu anak tersebut.
Sandy masih berteriak memanggil nama Brian, seluruh kepalanya memikirkan tentang keselamatan Zakia. Sandy tidak bisa membiarkan Brian jika melakukan hal buruk terhadap Zakia. Anaknya itu tidak bersalah, semua hukuman biarlah dia saja yang menanggung akibat dari perbuatannya.
"Harta sudah membutakan Papa, Zakia. Dan kini kamu harus menderita karena ulah Papa," sesal Sandy menggeram frustasi.
Janjinya kepada sang istri harus pupus, niatnya bekerja giat demi kebahagiaan putrinya malah membawa kesialan dalam kehidupan Zakia. Anaknya yang tidak tahu menahu tentang masalah ini, harus menerima akibat atas perbuatannya.
Bagaimana jika nanti Brian akan mengusir Zakia dan membiarkan putrinya yang malang menjadi gelandangan atas kesalahannya? Ini semua adalah hasil dari keteledoran Sandy yang terlalu gampang percaya kepada orang lain.
"Biarkan saja lelaki itu menderita, biar dia tahu bagaimana rasanya berurusan dengan keluarga Agler!" desis Brian tanpa merasa bersalah sama sekali.
Di dalam mobil, Brian hanya terkekeh, menikmati raut wajah ketakutan Sandy atas ancamannya. Jangankan menyita seluruh aset lelaki itu, melenyapkan keluarga Sandy saja Brian akan sampai hati jika kesabarannya tengah diuji. Brian sudah bersumpah, akan memberikan Sandy pelajaran sampai membuat semua karyawan di perusahaannya berpikir beribu kali lipat ketika berniat menggelapkan dana perusahaan.
"Kamu sudah mengecek di mana rumah Sandy?" tanya Brian.
"Saya belum melihat langsung rumahnya, Pak. Tapi alamatnya sudah saya kantongi," jawab Hafif.
Brian mengangguk. "Bagus, kamu memang layak menjadi orang kepercayaanku."
Lelaki itu tersenyum penuh kemenangan, sebentar lagi niatnya akan berjalan dengan lancar. Pelajaran berharga yang akan Sandy dapatkan, sekaligus hiburan bagi Brian. Matanya menatap ke sekeliling padatnya Ibu Kota Jakarta. Sepertinya dia akan menjadi pahlawan bagi negara jika menghabisi semua anggota keluarga Sandy, mengurangi beban negara, dan mengurangi jumlah kepadatan penduduk di Indonesia.
Sedangkan Hafif diam-diam mencuri pandang ke bangku belakang. Orang kepercayaan Brian itu berharap kalau bosnya tidak akan melakukan hal buruk di luar batas. Bagaimanapun juga, kesalahan itu dilakukan oleh Sandy. Tidak adil rasanya jika seluruh keluarganya harus menanggung beban dosa dari Sandy.