Malam itu Zakia tengah mengerjakan bab tiga skripsinya ditemani dengan segelas Good Day rasa coklat yang panas. Sambil menghidupkan musik favoritnya dari boy band BTS jari-jari lentiknya mengetik dengan cepat. Zakia terlihat hampir seperti mesin. Dia membaca referensi dengan teliti lalu mengetiknya dengan tuntas tanpa typo dan tanpa ada kesalahan pemakain tanda sedikit pun.
Tok ... tok ... tok ...
Suara ketukan pintu membuyarkan konsentrasi Zakia yang sudah diusahakannya sebagian rupa sejenak lalu. Kini dia beranjak dari meja kerjanya yang ada di dalam kamar lalu mendekati sumber suara. Pintu dibuka dengan perlahan, dan di waktu yang bersamaan pula Zakia melihat dua orang berseragam polisi berdiri di teras rumahnya.
Kening Zakia menyerngit heran. "Ada apa, Pak?" tanya Zakia heran.
"Apa saudara Sandy ada di dalam? Kami menjalankan tugas untuk menangkap pak Sandy atas tuduhan penggelapan dana perusahaan. Bisa kami masuk ke dalam?" ujar salah satu polisi berbadan besar itu sambil menunjukkan surat perintah dari atasannya.
"Papa saya enggak mungkin korupsi, Pak. Dan lagi pula Papa sedang tidak ada di rumah sekarang," jawab Zakia panik.
Saat polisi itu memaksa masuk tiba-tiba saja mobil sedan masuk ke dalam halaman rumah. Dengan cepat sandi keluar dari mobil lalu mencoba mencari tahu akar masalahnya.
"Ada apa ini ribut-ribut di rumah saya?" tanya Sandy.
"Apakah Anda yang bernama Sandy?"
Sandy mengangguk, dia belum mengerti apa yang sedang terjadi sekarang.
"Silahkan ikut kami ke kantor sekarang." Lantas tangan Sandy diborgol dan dipaksa masuk ke dalam mobil polisi.
Sandy memberontak. "Ada apa ini, Pak? Salah saya apa? Enggak bisa main tangkap-tangkap gini aja dong, paling tidak ya biarkan saya menghubungi pengacara saya dulu," ujar Sandy.
"Nanti saja Bapak jelaskan di kantor polisi," jawab pak polisi dengan tegas.
Zakia benar-benar tersentak, dia bahkan tak ingin percaya dengan penangkapan papa tercintanya itu. Seakan kebanggaannya terhadap sosok seorang ayah yang sempurna telah direnggut darinya, apalagi ini masalah korupsi. Zakia sangat membenci para pelaku korupsi lebih dari apapun, bahkan dia merasa jijik. Tidak pernah terkira sebelumnya bahwa papanya juga melakukan korupsi.
Pembelaan kiranya tak tampak baik itu dari bahasa tubuh ataupun terlisankan oleh Zakia, dia hanya terdiam seribu bahasa. Zakia menutup pintu dengan perasaan yang seperti diaduk-aduk. Bahkan kini Zakia tak sanggup berdiri, dia terduduk bersandar pada daun pintu, dia menangis sambil menutupi mulutnya dengan kedua tangan.
'Kenapa Papa korupsi? Apa sebenarnya yang masih belum papa miliki. Aku bahkan berniat untuk tidak melanjutkan studi ke S2 untuk membahagiakan Papa,' batin Zakia.
"Zakia, kunci rumah. Papa akan baik-baik saja, jangan menangis," teriak Sandy sebelum pintu rumah mereka tertutup.
Malam yang muram itu kiranya telah membungkus tiga situasi yang saling berkaitan, antara marah yang dirasakan Brian lalu sedih yang dirasakan Zakia dan yang terakhir rasa sesal yang dirasakan oleh Sandy.
Zakia mencoba bangkit dari tempatnya tertunduk pasrah. Tapi dengan guncangan yang begitu besar itu untuk berdiri saja kakinya gemetar. Dengan terseok-seok dan tungkai Zakia berusaha berjalan ke kamarnya. Pikirannya yang berkelana itu memudarkan pandangannya.
Sesampainya dia di dalam kamar, Zakia sempat menyimpan ketikannya sejenak yang lalu sebelum merebahkan tubuh di atas kasur. Kini air matanya lebih deras mengalir diiringin dengan isakkan yang sangat menyayat hati. Belum pernah Zakia menangis lebih dari ini usai tangisannya yang begitu hebat sewaktu mamanya meninggal beberapa tahun yang lalu.
Zakia sebenarnya bingung sekaligus takut. Dia tidak punya siapa-siapa lagi sebagai tempat berlindung dan mengadu. Meskipun Sandy hanya dipenjara dan bukannya mati, tapi kesalahan papanya bukanlah sesuatu yang bisa dia terima, atau mungkin Zakian tidak akan pernah mampu menerimanya. Dia terlihat ragu akan hal itu, tapi kebenciannya terhadap korupsi benar-benar telah membekukan pikirannya, bahkan jika itu papanya sekalipun.
Malam itu Zakia tidak bisa tidur dengan nyenyak bahkan di kamarnya yang begitu nyaman. Berselang satu jam sekali di terbangun dari tidurnya, dia bahkan sesekali mengigau terisak. Zakia tidak tahu lagi kemalangan apa yang akan menimpanya di hari esok. Mempunyai papa yang seorang koruptor tentu akan mempengaruhi kepercayaan dirinya, pergaulannya, bahkan teman-teman yang dahulu akrab mungkin akan merenggang. Rasa malu benar-benar telah menghantam mukanya dengan begitu kencang.
Hingga hari menjelang pagi, kondisi kesehatan Zakia malah semakin menurun. Kurangnya jam tidur dan tekanan stress membuatnya terkena demam. Zakia tak mampu lagi untuk sekadar menautkan jemarinya di atas papan keyboard, dia hanya berbaring di ranjang dengan suhu tubuhnya menggigil.
Nova dan Mifta yang tidak mendapati Zakia di kampus, bahkan di ruang BEM juga tidak ada, setidaknya hal aneh ini membuat mereka langsung mencari tahu motifnya. Sangat jarang aktivis kampus popular itu sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya di kampus. Saat ini berkali-kali Nova menelepon namun tidak ada tanda-tanda panggilannya akan tersambung. Mereka berdua akhirnya sepakat untuk mendatangi rumah Zakia.
Sesampainya Nova dan Miftah di rumah gedongan itu, mereka akhirnya tahu kalau sahabatnya sedang demam. Dengan cekatan Mifta mengambil air dingun lalu mengompres kening Zakia yang suhu tubuhnya telah meninggi. Tapi mendadak air mata Zakia kembali mengalir deras.
"Kamu kenapa nangis, Za?" tanya Nova kebingungan.
Kedatangan mereka berdua juga tidak menemukan Sandy, ayah Zakia berada di rumah ketika Zakia tengah demam seperti itu. Tidak biasanya, begitulah pemikiran Nova dan Mifta.
"Ah apa iya aku nangis? Ini ... anu mungkin karena ya aku lagi demam aja." Zakia berusaha menutupi kejadian yang sebenarnya.
Teman-temannya pasti akan menganggap ayahnya seorang penjahat berkerah putih jika mengetahui kalau ayahnya tengah terbelit kasus penggelapan dana perusahaan. Tidak, seberat apapun dan sesakit apapun perasaan Zakia dia harus tetap bertahan. Dia hanya sendiri, bersama ayahnya saja.
Zakia yakin kalau semua yang terjadi hanyalah kesalahpahaman semata. Ayahnya tidak mungkin melakukan hal sekeji itu demi meraup kepuasaan duniawi.
"Kamu kalau ada masalah cerita dong sama kita berdua, aku sedih deh ngeliat kamu kayak gini," sesal Mifta.
Nova mengangguki ucapan Mifta, sebahagai sahabat sudah sewajarnya mereka saling berbagi satu sama lainnya.
"Iya pasti cerita kok, tapi ini memang aku enggak enak badan aja, enggak ada masalah suer deh. Eh aku boleh minta tolong?"
"Minta tolong apa, Za?" tanya Nova.
"Ambilin obat sama air putih dong, kotak obatnya ada di ruang tengah, cari aja di display TV, laci kedua dari atas," ujar Zakia
Setelah membawakan kotak obat dan air putih sesuai arahan yang diberikan oleh Zakia, teman-temannya itu duduk di kasur menemani sambil menatap dengan tatapan yang lebih dalam. Haru dan sedih kiranya terpancar dari binar mata mereka yang saat itu merasa kasihan.
"Aku baik-baik aja kok. Kalian pasti sibuk kan, jadi kalian pulang aja ya, soalnya aku mau tidur."
Zakia mencoba mencari alasan agar temannya segera enyah dari kediamannya. Zakia merasa tidak nyaman, dan juga takut jika pertahanannya akan runtuh kemudian menumpahkan tangisannya kepada kedua sahabatnya.
"Iya Za kami pulang, tapi kalau ada apa-apa cepet hubungi kita, ya."
Zakia mengangguk mengiyakan, sekarang dia tinggal sendiri di rumah berlantai dua miliknya bersama sepi yang kini membelenggu jiwanya.
---------
JANGAN LUPA TAP LOVE UNTUK SIMPAN CERITA INI DI LIBRARY KALIAN, YA :* TINGGALKAN JEJAK KOMENTAR KALIAN GENGSSS ;)