3. Papa Idaman

1106 Words
Zakia tidak bisa menahan senyum saking senangnya. Dia berjalan menuruni gedung lebih santai dari sebelumnya, sambari meraup oksigen dalam-dalam. Napas kelegaan dirasa lebih mudah dihembuskan ketimbang sejenak yang lalu. Menuruni anak tangga tidak seperti mendakinya, akselerasi Zakia tentu lebih cepat dengan langkah yang tak lagi berat. Setelah keluar gedung Zakia langsung menemui teman-teman nongkrongnya. Di sana ada Nova, dan Miftah, dua teman sejoli para pejuang skripsi. Merekalah yang selalu menyemangati Zakia setelah sang papa—Sandy. Kebersamaan tiga serangkai itu tidak lagi pemandangan aneh bagi siapapun yang mengenal ketiganya. "Beb, gua ada kabar gembira nih. Lo berdua pasti penasaran kan ... iya kan?" ujar Zakia sambil menaik-naikkan alisnya. Sontak kedua gadis cantik itu menoleh. Kening mereka saling mengkerut, menatap temannya dengan penuh tanda tanya. "Kabar gembira apaan, Za, kok lo heboh gitu?" tanya Nova. "Gua acc bab dua nih. Wuah rasa gimana gitu. Seneng banget gua!" pekik Zakia heboh. "Kya! Selamat ya, Beb!" ujar Nova sambil bertepuk tangan. "Eh, kan cuma acc bab dua, Za. Masih ada dua bab lagi lo. Saran gua mending kerjain lebih serius deh jangan seneng dulu, biar rencana kita wisuda bareng kesampaian gitu," tukas Miftah tidak kalah antusias. "Aih ... mood gua jadi buruk nih lo ingetin gitu, Mif. Padahal baru aja gua seneng." Zakia mencebik kesal. "Gua yakin kok kita semua tahun ini pasti wisudah. Daripada mood lo jelek, gimana kalau kita nge-mall aja deh?" saran Nova tersenyum. Bener juga ide si Nova! Lagipula setelah berkeluh kesah beberapa hari tidak ada salahnya Zakia menyegarkan otaknya. "Nah ide bagus tuh," jawab Zakia bersemangat. "Eh tapi maaf ya Za gua tadi ngomong kayak gitu. Gua enggak ada maksud bikin mood lo jelek, beneran deh sumpah. Gua cuma takut lo ketinggalan sama kita, kalau kita mah tinggal bab terakhir aja. Sekali lagi maaf ya Za." Mifta membentuk tanda peace dengan kedua tangannya. Bukan karena Zakia tipe mahasiswa malas, hanya saja dosen pembimbing Zakia sulit untuk gadis itu temui. Bahkan tidak sekali, dua kali, Zakia selalu saja di-php oleh dosen pembimbingnya setiap kali hendak bimbingan. "Gapapa kok, Mif. Gua tau maksud lo baik, yaudah kita cabut yuk," balas Zakia Mereka bertiga akhirnya berangkat ke salah satu mall yang berada di tengah pusat ibu kota. Sesampainya di mall mereka langsung mendatangi gerai KFC dan lekas makan. Kebetulan dari tadi pagi Zakia belum sempat sarapan di rumah, ataupun melahap bakso pesanannya. Oleh karena itu Zakia yang paling ngotot ngajak makan sebulum cuci mata. Sambil makan mereka kembali melanjutkan obrolan dengan masalah yang lebih serius. "Kalau aja lo enggak sibuk sama organisasi mungkin lo itu udah selesai duluan daripada kita-kita, Za," ujar Nova. "Gua enggak bisa cuma kuliah-kuliah aja, Nov. Organisasi itu gua hobby, bahkan SMA saja gua ketua osis. Suka aja gua tuh, penuh tantangan. Daripada enggak ada kegiatan jadi bucin," jawab Zakia sambil mengunyah ayam crispy spicy kesukaannya. "Yah mendingan lo udahan aja deh sama kegiatan lo itu, fokus aja skripsi dulu. Tinggal dikit lagi Za tanggung banget. Mungkin gara-gara lo aktif ngusut-ngusut kayak gitu jadi skripsi lo dibuat lama gitu," balas Miftah. Zakia menghendikkan bahunya, meskipun semester akhir tak lagi diwajibkan untuk mengikuti organisasi. Tapi Zakia sudah kecanduan, dia mahasiswa aktif di kampusnya. "Gak tau juga, Mif. Tapi gua ngerasanya kayak dipersulit aja gitu. Kalau pun gua dipersulit emang salah gua apa? Lagian kami kalau demo itu ya ngusut hak-hak kita sebagai mahasiswa aja kok, dan gua paling benci sama orang korupsi." "Itu perasaan lo aja kali Za. Eh abis ini kita ke mana nih?" Nova mengubah topik pembicaraan. "Gimana kalau kita lanjut karaoke aja?" balas Zakia antusias. "Aku kayaknya enggak bisa lama-lama deh, ini juga udah sore nanti pulangnya kemalaman kalau kita karaoke," uar Miftah. Pergi tanpa tujuan lalu meributkan tempat selanjutnya mau ke mana, seperti itulah persahabatan mereka bertiga bahkan sejak pertama kali kenal di semester satu. Zakia sebetulnya tidak memiliki banyak waktu kalau di kampus, dia lebih sering menyibukkan diri dengan kegiatan organisasi atau mengikuti seminar. Dibandingkan Nova dan Miftah yang seperti mahasiswi pada umumnya, Zakia terlihat sangat berambisi lebih berambisi dan punya cita-cita yang tinggi. Sebelum pulang ke rumah masing-masing mereka sempat berkeliling, belanja dan yang tak boleh terlewatkan adalah berselfie ria. Ada banyak sekali angel sok imut yang terpotret oleh kamera depan handphone Zakia. Tapi kalau untuk masalah foto selfie terlihat sekali kalau Miftah tidak terlalu antusias, bergaya dengan seadanya, karena pribadinya yang introvert. Miftah lebih suka berfoto candid ketimbang harus berfoto dengan gaya memonyongkan bibir atau mengeluarkan lidah, Miftah lebih suka dengan gaya yang natural. Setelah lama bercengkerama hingga matahari merendahkan singgasanya hampir tenggelam, meraka akhirnya pulang. Sama seperti burung-burung yang kembali kesarangnya setelah seharian mencari makan dan terbang kesana kemari. Bercak-bercak kuning keemasan di langit pun menggiring kepulangan Zakia dengan keindahan yang alami. Sesampainya di rumah Zakia langsung mencari papanya. Saat itu Sandy sedang berada di ruang tengah sedang menonton Tv. Diam-diam Zakia memeluk papa-nya itu dari belakang. "Pa bimbingan aku di acc nih, aku seneng banget deh." Wajah Zakia menunjukkan ekspresi berbinar bahagia. "Oiya! Selamat ya, Sayang. Papa doakan semoga cepat kelar skripsinya," sahut Sandy tersenyum tak kalah bahagia. "Coba Mama masih ada ya Pa pasti Mama juga bakal seneng banget, habisnya aku bentar lagi mau wisuda," kata Zakia membuat suasana mendadak hening. Sandy mengelus puncak kepala putrinya dengan lembut. Dia telah merangkap sebagai ayah dan ibu demi anak sematawayangnya. "Kamu enggak boleh gitu, mama kamu juga pasti bahagia kok, dan Mama sudah senang di alamnya sana," balas Sandy dengan nada yang lebih lembut. Sandy memeluk anaknya yang sedih oleh haru dan rindu itu. Memeluknya dengan lembut sambil mengusap-usap kepalanya. "Ngomong-ngomong kamu mau lanjut S2 enggak?" tanya Sandy. "Kayaknya enggak dulu deh, Pa. aku mau langsung kerja aja supaya bisa membahagiakan Papa. Baru deh nanti Zakia lanjut," jawab Zakia. Zakia sangat menyayangi papanya itu. Bagi Zakia papanya adalah sosok yang sangat dia kagumi. Sandy bukan hanya sangat menyayangi Zakia, lebih dari itu, dia benar-benar menunjukkan bagaimana sosok seorang ayah yang melindungi dan melengkapi kebutuhan anaknya. Terlebih lagi statusnya sebagai orangtua tunggal, setidaknya Sandi ingin yang terbaik untuk Zakia putri tercintanya. "Papa bangga sekali punya anak seperti Kia. Papa janji akan melakukan segala yang terbaik untukmu, putriku," ucap Sandy mengelus pipi lembut putrinya. Menjadi orang tua tunggal untuk Zakia bukanlah hal yang mudah. Terlebih Sandy begitu handal dalam membagi waktunya untuk anak dan pekerjaannya. Suatu hari nanti, Zakia berharap akan mendapatkan lelaki yang sama tanggung jawabnya dengan sang ayah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD