Malam yang pekat dan dingin itu menggugah biologis birahi lelaki berwajah blasteran Indonesia-Amerika. Brian Fathir Agler, lelaki dengan manik mata biru keabu-abuan, seorang pengusaha sukses yang tajir melintir tujuh turunan. Hari ini, hari selasa menjadi malam-malam yang akan membantunya melepaskan kebutuhan sebagai lelaki dewasa. Wanita malam yang sudah dia pilih, membantu Brian melepaskan jasnya dengan lembut. Saat ini, Brian sedang menenggak minuman berwarna merah pada gelas sloki menghadirkan rasa hangat pada tenggorokannya. Netra bagaikan gelombang air pasang itu menghadap pada jendela kaca hotel yang menerawang seluruh kota dengan lampu-lampu khas aktivitas di malam hari.
"Ayo Honey, kita nikmati malam ini," bisik wanita yang pakaiannya kini tak lagi menempel sempurna di tubuhnya.
Wanita itu sudah tidak tahan untuk segera disentuh oleh lelaki pujaan para wanita seperti dirinya. Malam ini, dia merasa beruntung mendapatkan kesempatan merasakan kehangatan dekap hangat sang casanova one night stand. Sudah lama sekali, Brian selalu berada dalam mimpi indahnya dalam membayangkan pergulatan tubuh secara luar biasa.
"Yah tentu, memang itulah yang aku harapkan darimu."
Itulah gunanya Brian memilihnya, untuk menghangatkan dirinya sebagai seorang lelaki single di usianya yang selalu membutuhkan pelepasan diri seperti lelaki normal pada umumnya. Meski dia tidak memiliki kekurangan apapun dalam hidupnya, Brian enggan sekali untuk segera menikah.
Brian membuka dasinya yang terasa mencekik lehernya, lalu dilanjutkan dengan membuka helai demi helai pakaian branded yang dia kenakan. Teman kencannya itu memang lihai membuat jantung lelaki berdebar begitu kencangnya. Pada setiap fantasi Brian yang liar ada pemenuhan hasrat yang diberikan wanita itu dengan jasa terbaik.
Suara musik dari handphone kiranya saat itu dinyalakan dengan volume maksimal agar menyamarkan suara pelepasan dari keduanya. Wanita itu mengapit seprai beriring bersama napas kelegaan yang dia keluarkan. Manik mata Brian yang bagai gelombang itu terlihat lebih tajam dari sebelumnya. Ritme mereka semakin cepat, sedangkan teman wanita yang sudah dia sewa itu mengerjapkan mata berkali-kali dan sangat menikmati permainan Brian.
Tidak salah semua informasi yang telah menyebar. Brian benar-benar ahli dalam menakhlukkan wanita dalam kungkungannya. Setiap kelembutan, Brian memberikan sensasi dalam diri lawan jenisnya. Lelaki itu menyentuh titik-titik gejolak dalam tubuh dirinya.
Malam itu ranjang yang disewa mahal oleh Brian di hotel bintang lima sudah tidak karuan lagi bentuknya. Bantal-bantal berjatuhan dan selimut tebal itu teronggok jatuh ke lantai hingga baju-baju mereka terlempar ke berbagai arah kamar yang luas dan megah. Meskipun suhu kamar sudah berada di paling minus pendingin ruangan, tapi tubuh dua manusia yang tengah bergulat di atas ranjang itu sama panasnya layaknya microwave pemanggang roti.
Tidak heran jika Brian begitu gemar melakukan perbuatan terkutuk itu dengan berbagai wanita berbeda yang disewanya. Setidaknya kehidupan yang glamour punya andil besar apalagi pekerjaan yang begitu menyita waktu membuatnya mengalami penat fisik dan pikiran yang tak bisa dijelaskan. Brian menuntaskan kelelahannya di malam selasa yang syahdu itu.
Dret ... dret ... dret .... Suara notifikasi panggilan masuk terdengar dari handphone Brian, sehingga membuatnya harus menyudahi gerakannya yang semakin menggila.
"Ada apa? Kenapa kau menggangguku malam ini?!" bentak Brian kesal.
"Ma-maaf, Pak, ada masalah yang perlu saya sampaikan kepada Anda," ujar Hafif.
"Are you stupid? Apa kau tidak tahu kalau ini malam selasa, tidak ada yang boleh menggangguku apalagi hanya karena masalah pekerjaan!" pekik Brian dengan nada keras.
"Maaf Pak saya benar-benar lupa karena terlalu panik. Salah satu manager di anak perusahaan AG-Group kedapatan menggelapkan segelondong uang perusahaan, bahkan mencapai dua miliar rupiah," balas Hafif terbata-bata.
Manik mata Brian menggelap. "Apa? Siapa orang yang berani mengkhianati kepercayaanku? Mau main-main denganku orang itu!"
"Namanya Sandy, Pak. Manager dari AG-Food," jelas Hafif.
"Kalau saja aku bertemu dengannya, akan aku patahkan tangan orang itu. Segera ringkus dia dan jebloskan ke jeruji besi. Besok pagi aku ingin semua sudah beres!"
Brian memijat keningnya yang kini berdenyut hebat. Beraninya seorang manager perusahaan menggelapkan dana. Kurang apa dia sebagai owner yang selalu memberikan gaji sesuai pekerjaan dan bonus tunjangan.
"Siap Pak, malam ini juga pihak kepolisian akan menindak lanjuti kasus korupsi ini."
Brian meletakkan handphonenya di atas meja kemudian duduk di kasur sambil mengurut keningnya yang mendadak pening. Kejadian mengejutkan ini setidaknya telah membuat mood Brian rusak. Brian bukan hanya memikirkan uang dua miliar yang raip, lebih dari pada itu, dia sangat marah karena kepercayaannya dikhianati. Brian masih tidak dapat percaya kalau ada penghianat di bisnisnya yang sedang pesat-pesatnya.
Tanpa busana wanita itu kembali menggoda Brian, bahkan mengelus pipinya dengan lembut lalu berusaha membuat Brian kembali merebahkan badan di atas tubuhnya yang mulus dan sintal itu.
Wanita yang masih ingin dipuaskan itu tidak tahu kalau Brian memiliki sifat temperamental sehingga membuatnya tidak segan berbuat kasar kalau mood-nya sedang tidak bagus. Brian menepis tangan halus yang mengusap pipinya itu, kemudian mengucapkan kata yang tidak pantas.
"Pergilah dari sini, tugasmu sudah selesai." Brian telah kehilangan geloranya malam ini.
"Apa kau sudah tidak kuat? Kita kan baru bermain satu ronde, ayo kita melanjutkannya lagi sampai aku tidak tahan," bisiknya dengan lembut yang sudah seperti bisa cobra yang paling beracun.
"Aku sudah tidak tertarik lagi, kalaupun aku masih ingin melakukannya tentu aku akan menyewa wanita yang lain. Kau sudah gagal, cepat pergilah."
"Aku memang wanita hina. Justru kepuasan mudah didapatkan oleh lelaki hidung belang seperti Anda karena ada wanita hina seperti kami kan? Ayolah satu ronde lagi saja, aku belum mencapai kepuasanku."
"Enyahlah kau wanita setan! Atau aku akan memaksamu keluar tanpa sehelai pun benang yang menutupi tubuhmu yang membosankan itu!" bentak Brian tidak sabar.
"Ba-baiklah aku pergi." Wanita itu takut dan murung. Dia membersihkan tubuhnya di kamar mandi dan memakai kembali pakaiannya, setelah itu dia lekas pergi.
Tidak lama setelah wanita itu pergi Brian langsung membanting vas bunga yang merupakan properti hotel. Dia tidak segan melakukan itu mengingat dirinya sebagai salah satu pemilik saham terbesar di hotel itu.
"Ah dasar tidak tahu terimakasih ... rasanya aku ingin menghajar lelaki itu dengan tanganku sendiri. Tunggu saja pembalasanku, penderitaanmu tidak cukup hanya mendekam di jeruji besi, aku akan menghancurkan hidupmu, bahkan keluargamu pun akan aku beri pelajaran."
Brian memantik korek api, menyulutnya pada rokok yang sudah dia apit di bibirnya yang penuh dengan u*****n kasar itu.
Bagi pengusaha kaya seperti Brian tidak masalah kalau membunuh satu atau dua orang, dia bahkan punya banyak kenalan orang-orang penting di Indonesia. Saat itu dia sedang menatap langit malam sambari membayangkan keluarga Sandy yang akan dia hancurkan satu per satu.
-
JANGAN LUPA TEKAN LOVE YA SAMBIL NUNGGU CERITA INI UPDATE??