13. Belenggu Rantai

1229 Words
Tatapan Zakia dan Brian saling beradu, lelaki itu lurus memandang tawanannya. Sementara Zakia menarik kedua sudut bibir, membentuk senyuman penuh arti. Bukan tanpa alasan gadis itu memberi gesture nakal. Ia telah mempunyai senjata ampuh untuk mengusir Brian. Sementara Brian masih menunggu dengan sisa kesabaran. Apa-apaan ini? Seorang gadis ingusan membuat sang cassanova menanti jawaban yang tidak jelas. Lima menit berlalu, tetapi Zakia masih membisu. Mungkin gadis itu mengumpulkan keberaniannya. "Cepat katakan! Jangan membuang waktuku!" sentak Brian tak sabar. Lelaki itu merasa Zakia mempermainkan dirinya. Brian paling tidak suka bertele-tele, menunggu sesuatu yang tidak jelas dan omong kosong. Sama saja dengan mengisi wadah bocor dengan air. Sia-sia dan tak berbobot! Hanya membuat waktu dan tenaganya yang berharga. "Be-begini, aku akan memakai semua itu sesuai dengan perintah, tetapi kau harus pergi dari sini." Zakia akhirnya mengatakan syarat yang harus Brian penuhi dengan bibir bergetar. Sang cassanova hanya bergumam. "Hmm." Perasaan Brian semakin dongkol, gadis itu bahkan hanya mengatakan hal tidak penting dan membuatnya menunggu cukup lama. Ingin rasanya ia segera menerkam "Macan Kecil" yang tak tahu aturan itu. Namun, lagi-lagi kembali pada prinsip Brian, ia tidak akan b******a dengan paksaan. Brian tak tahu harus menjawab apalagi, awalnya ia berpikir bahwa gadis cerdas itu akan memberi syarat yang rumit. Nyatanya hanya permintaan konyol. Padahal, pikiran nakalnya berharap ia bisa tetap di sana, melihat gadis itu melucuti satu per satu kain yang menempel pada tubuhnya. "Bagaimana? Jika tidak mau keluar, aku juga tidak akan memakai barang-barang pemberianmu," cicit Zakia seenak jidatnya. Sang cassanova mengernyitkan alis. "Begitu?" Dalam keadaan setengah kesal, Brian masih meladeni gadis itu. Entah mengapa, ia tidak bisa terlalu lama bersikap dingin pada Zakia. Meski, terkadang sikapnya masih tampak kasar. Ia berusaha sebisa mungkin untuk berkomunikasi dengan gadis pembangkang ini. "Ya," jawab Zakia asal, padahal ia sendiri tak tahu apa maksud pertanyaan Brian barusan. Zakia berkacak pinggang, ia merasa syaratnya kali ini luar biasa. Padahal itu hanya salah satu cara agar gadis itu tidak melihat Brian lebih lama. Namun, ada satu hal yang tidak disadari Zakia, sesuatu yang menarik perhatian sang cassanova. Membangkitkan libido dan keinginan untuk memangsa gadis bersurai panjang tersebut. "Baiklah, aku akan pergi. Namun ...." Brian menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Lelaki itu menatap p******a Zakia yang kini tercetak jelas dari balik kaos kebesaran yang gadis itu pakai. Posisi tubuhnya yang tegak karena berkacak pinggang, menarik garis jelas bukit kembar itu. Apalagi kaos yang ia kenakan berbahan tipis dan agak tembus cahaya. Sungguh pemandangan yang indah sampai membuat darah Brian berdesir dan membangkitkan si junior. Sayang, permintaan junior masih beluk bisa ia tunaikan. "Apa lagi?" tanya Zakia yang masih belum tersadar. Heran dengan kelakuan lelaki yang ada di hadapannya Zakia mengerutkan kening. Mengapa iblis berwujud manusia itu tampak merasa senang? Dia terlihat bengis, tetapi sorot netra kebiruan itu tak mampu ditepis. Bagaikan sepasang medan magnet di sana, memaksa Zakia untuk membalas tatapannya. Brian mendekat dan menurunkan pandangan tepat di bagian bawah leher Zakia. "Bagian yang menonjol itu membuatku tertantang." "Ba-bagian apa?" tanya Zakia gugup. Sang cassanova menunjuk tepat di tengah bagian, hampir saja jemari telunjuk lelaki itu mengenai benda kenyal yang tampak menggoda iman. Beruntung respon Zakia cepat, gadis itu berkelit. "Kau!" Zakia tersentak dan bergerak mundur, wajahnya seketika merah padam. Pipi yang putih mulus itu merona, bak memakai blush on berwarna peach. Ia dengan cepat menyilangkan kedua tangan untuk menutupi area terlarang. Mengupayakan sebisa mungkin agar Brian tidak dapat lagi melihat aset berharganya. "Dasar iblis m***m!" seru Zakia dengan mata berkilat. "Keluar!" jerit Zakia kesal. Namun, Brian masih berdiri di hadapannya. Lelaki itu bahkan bergerak perlahan, mendekat ke arah Zakia yang mulai gelisah. Deru napas sang cassanova terdengar berat, kali ini lelaki itu benar-benar berperang melawan hawa nafsunya sendiri. Sebagai lelaki dewasa yang normal. Tentu ini hal wajar, bukan? Apalagi di ruangan itu hanya ada mereka berdua. Dapat dipastikan yang ketiga adalah setan. Ya, setan dalam diri Brian berusaha bermain-main sedikit dengan tawanannya. Manik mata Zakia membulat sempurna, baru kali ini seorang lelaki membuatnya merasa sangat malu. Astaga, apa isi dalam otak Brian hanya tubuh wanita saja? Mengapa orang ini penuh dengan pikiran kotor? Pantas saja, jika ia belum membangun rumah tangga. Zakia yakin tidak akan ada yang mau, karena perangainya itu. "Cepat keluar! Keluar!" Zakia meraih bantal sofa yang berada di dekatnya. Putri Pak Sandy tersebut melemparkan benda empuk berbentuk daun waru itu ke arah Brian. Bidikannya tepat mengenai wajah sang cassanova. Brian menyeringai, dan semakin mendekati Zakia. Tanpa belas kasih, lelaki itu menginjak bantal malang yang menjadi pemicu emosinya. "Macan Kecil, tampaknya kau harus diajarkan sopan santun, hah. Aku bisa saja melahapmu sekarang, jika mau," ancam Brian dengan penuh gairah, lelaki itu mencengkeram rahang Zakia. "Sekarang katakan, apa kau mau melawanku lagi?" tanya Brian sambari mendekatkan wajah. Jarak di antara mereka sangat pendek, mungkin hanya sekitar lima sentimeter. Zakia bahkan dapat mendengar detak jantung Brian. Atau mungkij itu degub organ vitalnya sendiri? Astaga, apakah jantungnya akan melompat keluar? Nyali Zakia menciut saat itu juga, ia meremas jemarinya. "Ti-tidak. A-aku minta ma-maaf. To-long keluar sekarang. A-aku akan segera berganti pakaian." Akhirnya Zakia mengalah, entah sihir apa yang diberikan Brian padanya. Lidah gadis itu menjadi kelu dan sangat sulit untuk digerakkan. Tubuh Putri Pak Sandy tersebut gemrtaran, hanya dengan beradu pandang membuat Zakia semakin takut. Sorot netra sebening lautan itu seakan ingin menenggelamkan bayangan beserta raganya. "Bagus, jika kau mengatakannya sejak awal dengan baik. Aku tidak akan menghabiskan waktu dan tenagaku." Brian membalikkan badan dan berlalu pergi. Jantung Zakia masih berdetak sangat kencang. Sepeninggalnya lelaki itu, ia terduduk lemas di tepi ranjang. Ia menyandarkan bahu di kepala ranjang dan menarik napas dalam-dalam. Rasanya oksigen dalam paru-paru berkurang, ketika Brian mengentuj sedikit bagian wajah ayunya. Hampir saja mahasiswi itu salah mengambil langkah. Sang cassanova benar-benar tangguh dan tidak bisa dilawan. "Aku harus bagaimana? Lama-lama aku bisa gila, jika berada di sini." Zakia mengacak surainya dan tertunduk. Pantulan dirinya tergambar pada keramik putih, tempatnya berpijak tadi. Tampak jelas kantung matanya menghitam, entah semalam ia tidur pukul berapa. Semenjak berada di hunian itu semuanya menjadi kacau. Tak hanya jam tidurnya yang kacau, hati, jantung dan pikiran ikut menjadi rancu. Organ-organ tersebut seperti tidak bisa bekerja dengan wajar, saat Brian menghampirinya. Zakia merasa otaknya akan bermasalah, jika lebih lama lagi di rumah itu. Menghadapi iblis rupawan yang selalu menggodanya. Oh, astaga mengapa semuanya begitu sulit untuk dilalui. Sekilas bayangan wajah sang ayah melintas. Senyum lelaki yang selalu memberinya dukungan. "Papa ... Zakia takut, Pa. Dia lelaki yang kejam," keluh Zakia sambari meremas sprei. Bulir bening menerobos sudut netranya, Zakia kembali meratapi nasib. Ia terlihat tegar di luar, tetapi sangat rapuh di dalam. Entah, berapa lama lagi raga dan pikiran gadis itu dapat menerima semua tekanan ini. Banyak hal yang baru ia temui, bahkan hampir merenggut kewarasannya. "Zakia akan melakukan apapun untuk membebaskanmu, Pa. Bersabarlah sebentar ... kita akan kembali bersama," ucap Zakia seraya menengadah, memohon perlindungan Sang Khaliq. Gadis itu kembali mengumpulkan tekad. Tiada gunanya lagi Zakia menyesal. Nasi teah menjadi bubur, inilah takdir yang harus ia hadapi. Akan tetapi, jika waktu dapat kembali berputar. Ia ingin dilahirkan dari keluarga yang biasa saja. Tanpa materi berlimpah, hidup sederhana dan apa adanya. Jika itu terjadi, mungkin dirinya tidak akan berakhir di penjara emas ini. Ya, seperti pepatah roda pasti berputar. Begitu pula dengan kehidupan Zakia. Gadis muda yang biasanya bebas melakukan apapun, kini terbelenggu rantai sang cassanova.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD