14. Dengan Setan

1251 Words
Zakia memandang pantulan dirinya di cermin yang berada di ruangan itu. Ia sudah berpakaian rapi, skinny jeans hitam dan blouse sabrina on top melekat sempurna di tubuh sintalnya. Pakaian-pakaian yang ia kenakan itu tampak sangat cocok, apalagi merupakan merek ternama. Seakan ada sinar yang mengelilingi tubuh Putri Pak Sandy tersebut. "Aku heran, dari mana dia tahu merek yang sering kugunakan?" gumam Zakia sambari memilah-milah pakaian lain yang masih berjajar di rak. Masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat, Zakia kembali mengecek. Pakaian-pakaian mewah tersebut masih tampak baru. Dirinya yakin, Brian pasti yang memilih semua itu. Karena mustahil hal itu dilakukan oleh para pelayannya. Kecuali jika Brian adalah seorang desainer. "Benar, semuanya merek yang biasa kugunakan. Bahkan modelnya juga up to date! Apa dia juga seorang penguntit?" Berbagai pertanyaan memenuhi pikiran Zakia. Gadis itu terus berpikir dan mengingat apakah ada seseorang yang menguntitnya, ketika ia bepergian atau pun berada di kampus. Sekeras apapun Zakia berusaha membongkar memori, tak ada bayangan siapa pun melintas. Tentu saja, mana mungkin seorang spionase akan kentara. Aneh-aneh saja gadis berparas elok ini, terkadang daya khayalnya terlampau tinggi. Brian sengaja membeli fashion sesuai mode yang sedang trend saat ini. Tentu ia bukan lelaki kudet yang akan memaksa Zakia untuk memakai daster. Meski, tampak kejam sang cassanova masih memikirkan penampilan tawanan manisnya. Hmm, tanpa sadar mereka memiliki julukan lucu. "Astaga, apa ini?" Zakia menenteng sepotong kain berbentuk segitiga dengan aksen renda. "Hah! Ini kan underwear ...." Manik mata gadis itu terbelalak lebih lebar. "Gila! Dari mana lagi ia tahu ukuran dalamanku!" Pikiran aneh mulai bergelayut di benak Zakia, bisa jadi iblis berwujud manusia itu memasang kamera pengintai di dalam kamarnya. Jangan-jangan selama ini, gerak-geriknya selalu di awasi! Zakia berlari ke kamar mandi dan melihat sekeliling, memastikan bahwa tidak ada CCTV yang terpasang, ketika ia mandi. "Untunglah tidak ada, hampir saja jantungku lepas! Aku semakin tidak nyaman berada di sini," keluh Zakia lirih. Gadis itu kembali melihat satu per satu underwear yang terlipat manis di laci bagian bawah rak. Memastikan lagi bahwa ukurannya benar-benar sama dengan apa yang ia kenakan. Ya, Zakia hari ini bahkan belum mengganti dalaman. Herr, mungkin karena ia tak tahu bahwa di bagian bawah rak terdapat benda pusaka itu. "Hmm, apa kupakai saja, ya? Lagi pula aku juga merasa gerah dengan yang ini." Zakia menarik sedikit blouse untuk mengintip bagian dalam pakaiannya. Tanpa menunda waktu lagi, Putri Pak Sandy itu bergegas menuju kamar mandi. Ia mengganti pakaian dalamnya dengan sepasang underwear berwarna merah maroon. Benar saja, ukuran cupnya sangat pas. Padahal Zakia tidak pernah mengatakan hal itu pada siapa pun. "Aku yakin pasti Iblis itu seorang maniak dan p*******a! Sampai ia bisa memprediksi berapa ukuran d**a dan lingkar pinggulku,' umpat Zakia kesal sambari mengenakan kembali blousenya. Puas merutuk Brian dengan berbagai kata ajaib, anak gadis kebanggan Pak Sandy tersebut menguncir satu surainya. Pony tail itu tampak sangat cocok dengan bentuk oval wajah Zakia yang rupawan. Hair style tersebut mengekspos hampir seluruh wajahnya, tanpa tertutup oleh juntaian rambut. Sewaktu asik merias diri. Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu berulang kali. Zakia bergegas membukanya, tampak seorang asisten rumah tangga lain berdiri di sana. Jika dilihat dari perawakan yang tambun, mungkin pelayan kali ini sudah berumah tanggah atau malah sudah menjadi seorang ibu. "Ada apa?" tanya Zakia tanpa basa-basi lagi. Pelayan itu tertunduk dan meremas apron yang masih ia kenakan. "Mohon maaf, Nona. Tuan Brian meminta Anda turun untuk sarapan dengan beliau." Zakia memutar bola matanya malas. "Baik, aku akan turun sebentar lagi." Tanpa mengangkat wajah, asisten itu mengangguk patuh. Apa dia takut dengan Zakia? Atau memang wataknya begitu santun dan menghormati tamu sang majikan. Tunggu dulu, tamu? Zakia bahkan tidak pernah merasa mendapat undangan untuk bertamu di rumah itu. Kenyataan yang terjadi adalah lelaki yang diagungkan mereka telah membawa paksa dirinya! "Permisi, Non. Saya pamit undur diri," ucap wanita bertubuh tambun itu lirih. "Ya, terima kasih." Wanita yang mungkin telah lama bekerja dengan keluarga Brian itu membalikkan badan. Ia bergerak perlahan, sehingga derap langkahnya tidak menimbulkan suara berisik. Aneh memang, tetapi justru terlihat sangat profesional. Namun, Zakia teringat sesuatu dan sedikit menaikan oktaf suara agar pelayan itu mendengarnya. "Oh, iya. Katakan padanya aku akan turun sepuluh menit lagi," titah Zakia lantang. Asisten itu menoleh ke belakang dan mengangguk tanda ia mengerti. Kemudian kembali melanjutkan langkah. Sementara Zakia menutup pintu perlahan. Gadis itu mengambil pososi duduk di depan meja rias. Ia memandang siluet dirinya di sana, lalu menepuk pipi dengan keras. "Baiklah, Zakia. Hari ini kau harus menunjukkan keceriaan di depan sahabat-sahabatmu!" Gadis itu berusaha mensusgesti pikirannya sendiri. Setelah yakin ia mampu menghadapi hari ini, Zakia bergegas turun. Satu per satu anak tangga ia lewati, suara ketukan sepatunya terdengar jelas. Menggema di rumah mewah yang bagi Zakia adalah penjara manusia. Pada anak tangga terakhir, tampak seorang pelayan berdiri menanti kedatangannya. Ya, itu Rieka! Pelayan yang sempat ia ajak berbicara. Asisten rumah tangga itu tersenyum manis. "Mari saya antar ke ruang makan, Nona." Zakia membalas senyuman itu dan berkata, "Ya, terima kasih. Berjalanlah terlebih dahulu, aku akan mengikutimu." Rieka bergegas mempercepat langkahnya. Ia berjalan menuju satu ruangan yang berada di sebelah ruang utama. Kemudian berhenti tepat di ambang pintu. "Silakan, Nona." Asisten rumah tangga tersebut mengarahkan Zakia untuk memasuki ruangan. Layaknya seorang putri, Zakia memasuki ruang makan yang berdimensi luas tersebut. Manik netranya tertuju pada jajaran asisten rumah tangga yang berdiri tepat di belakang Brian. Setengah merasa heran, gadis itu menarik satu kursi. Namun, seketika tangannya dicekal oleh Rieka. "Biar saya bantu, Nona." Gadis itu menarik perlahan kursi yang mungkin berbahan kayu jati itu dengan perlahan. Sebenarnya Zakia merasa sedikit jengah, apa mereka pikir gadis itu tidak punya tenaga untuk menarik kursi makan? Hah, terlalu banyak peraturan di rumah ini. Benar-benar sangkar emas! "Terima kasih," ucap Zakia datar. Seorang pelayan lain menghampiri dirinya dan Brian, ketika iblis itu menjentikkan jemarinya. Dengan cekatan meletakkan piring berserta hidangan yang masih mengepulkan asap. Menu sarapan Brian pun tampak sangat menggoda. Lelaki itu mulai menyuap sesendok makanannya. Berbeda dengan Zakia yang hanya terpaku. "Cepat makan! Apa yang kau lihat?" tanya Brian dengan watadosnya. Zakia tersentak dan mendengkus. "Aku hanya berpikir, ternyata makanmu banyak juga." Ya, menu sarapan mereka adalah sepiring telur orak-arik dengan tambahan sosis. Sepiring panekuk dengan siraman sirup maple dan secangkir cokelat panas. Tampaknya menu makanan Brian sepetti American breakfast yang penuh dengan protein. Jika itu Zakia, menu tersebut bisa dibagi menjadi menu sarapan dan makan siang. "Apa kau bilang?" Mata Brian melotot dan tiba-tiba ia terbatuk karena tersedak. Zakia tersenyum puas, ia mencomot sepotong panekuk dan memakannya. "Pelan-pelan saja, Tuan. Kasihan tenggorokanmu." Nada bicara Zakia yang mengejek membuat wajah Brian memerah. Lelaki itu segera meneguk segelas air putih yang berada di samping kirinya. Manik mata kebiruan itu tajam menatap Putri Pak Sandy. Seakan dia adalah seekor elang pemangsa. "Hari ini aku akan pergi ke kampus," ucap Zakia di sela-sela sarapan. Brian melirik gadis itu dan melanjutkan makan, ia bahkan tidak menajwab sepatah kata pun. Hal ini membuat Zakia merasa kesal karena terabaikan. Padahal ia sudah menurunkan gengsi untuk berbicara dengan iblis tampan tersebut. "Hallo, apakah kau mendengar ucapanku?" tanya Zakia lantang. "Kau bicara dengan siapa?" Brian malah balik bertanya. Seketika netra Zakia berkilat, kali ini tingkah Brian membuatnya sangat kesal. Padahal di meja makan itu hanya ada dirinya dan lelaki itu. Pertanyaan konyol macam apa yang ia lontarkan? Benar-benar menguji kesabaran saja. "Dengan setan! Tentu saja dengamu," jawab Zakia ketus. Sang cassanova meletakkan garpu dan pisau yang ia pegang. Kemudian ia menegak sedikit cokelat panas. "Hmm."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD