15. Kecemasan Pak Andi

1244 Words
Zakia mengernyitkan alis, begitu panjang ia menjelaskan keinginan hanya dijawab dengan deheman saja. Ingin rasanya ia melempar sisa panekuk ke arah Brian. Agar lelaki itu sadar telah membuatnya kesal. "Boleh, tapi ...." Brian kembali meneguk sisa minumannya. Seakan-akan tingkah Brian itu memang disengaja, tujuannya tentu agar Zakia menunggu dan semakin dongkol. Hitung-hitung ini sebagai balasan karena gadis itu membuatnya kelaparan, karena harus menunggu ia selesai berdandan. "Bagaimana? Cepat katakan!" desis Zakia dengan mulut penuh. Darah Putri Pak Sandy itu telah mencapai ubun-ubun. Jika dirinya tidak menahan emosi, mungkin cairan merah tersebut akan menyembur keluar seperti pancuran air mancur di atas kepalanya. Perasaan tertekan dan jenuh membuat emosi gadis itu tidak terkendali. "Kenapa kau galak sekali, Macan Kecilku," goda Brian. Bukannya segera melanjutkan perkataannya yang terputus, atau lebih tepatnya sengaja diputus. Brian malah asik mengusap bibir seksi yang telah mengecup ratusan wanita itu dengan tissu makan. "Aku tidak punya banyak waktu. Jangan memancing emosiku, Iblis!" Zakia memicingkan netra. Brian tersenyum simpul. "Lantas, kau ingin aku memancing yang lain? Apa kau ingin membuktikan ucapanku tempo hari?" Seketika Zakia menelan salivanya sendiri. Entah mengapa, setiap kali ia mendengar kata-kata yang menjurus pada hubungan di atas ranjang bulu romanya meremang. Nyali yang besar seketika menciut dan terhempas jauh. Apalagi Brian mengucapkan hal itu dengan penekanan. "Ti-tidak, aku hanya ingin pergi kuliah. I-itu saja cukup." Lelaki bernetra kebiruan tersebut tersenyum penuh kemenangan. "Bagus, kau boleh pergi ke kampus hari ini, tapi dengan satu syarat mutlak." Syarat mutlak? Artinya syarat itu tidak dapat diganggu gugat dan Zakia mau tak mau harus memenuhinya. Ini gila, tetapi hanya dengan menuruti iblis berwujud manusia itu dirinya akan bisa menghirup udara segar di kampus. "Baik. Apa ketentuannya?" tanya Zakia datar sambari menghabiskan sisa panekuk. "Kau harus pergi bersama sopir yang telah kupilih. Tidak boleh kemana pun kecuali kampus. Dia akan kembali menjemputmu, ketika mata kuliahmu selesai hari ini," jawab Brian tegas. "Rieka, tolong panggil Pak Andi kemari!" titah Brian kepada asisten yang Zakia kenal. Pelayan yang tampak masih canggung itu bergegas mendekat ke arah Brian, kemudian ia menunduk sambari meremas apronnya. Sangat kentara sekali, Rieka merasa takut ketika sang cassanova memanggil namanya. "Baik, Tuan." Rieka mengangguk dan berlalu pergi. Selang lima menit, asisten berperawakan kecil itu datang bersama seorang lelaki berusia kisaran empat puluh tahun. Kumis tebal yang melingkar di bawah hidungnya tampak seperti tokoh pendongeng ternama. "Pak Andi, kemarilah," Brian melambaikna tangan. Tanpa menunggu perintah kedua, lelaki itu menghampiri Brian dan menunduk hormat. "Baik, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" "Ya, mulai hari ini kau bertugas untuk mengantarkan dia ke kampus," ucap Brian seraya menunjuk wajah Zakia. Pak Andi tersenyum dan meangguk setuju. "Baik, Tuan, dengan senang hati akan saya lakukan." "Jangan lupa awasi juga dia, jika gadis ini kabur tidak hanya Sandy yang akan berada dalam bahaya. Namun, dirimu juga akan mengucapkan selamat tinggal pada profesi saat ini!" ancam Brian dengan nada satu oktaf lebih tinggi. "Ba-baik, Tuan. Sa-saya akan mengawasi Nona ini dengan baik. Bahkan saya tidak akan pergi dari lokasi kampus sampai beliau pulang." Pak Andi menjawab mandat dari Brian dengan gugup. Keringat dingin tampak bercucuran membasahi peluhnya. Wajah yang mulai tampak keriput itu mendadak pias. Bagaimana tidak? Akan jadi seperti apa nanti kehidupan keluarga Pak Andi, jika ia dipecat. Bagaimana nasib anak dan istri yang menunggu di rumah, sedangkan pekerjaan ini adalah satu-satunya mata pencaharian mereka. "Itu tidak adil!" sanggah Zakia lantang. Brian menoleh dan memiringkan kepala. "Apanya yang tidak adil? Pak Andi yang bekerja denganku saja setuju, lantas apa hakmu menyanggahnya?" "Aku ...." Zakia terdiam manik matanya berkaca-kaca. Gadis tersebut tidak menyangka Brian akan seniat itu menahan dirinya di rumah mewah miliknya. Hunian megah bagaikan istana yang memiliki nuansa penjara! Mengapa harus mengorbankan orang lain juga? Siasat yang benar-benar licik. "Pak, saya sudah selesai. Ayo kita pergi dari neraka ini!" seru Zakia kesal. Sebagai salah satu mahasiswi yang kritis, ia tidak bisa menerima pernyataan Brian barusan. Ini adalah masalah sang papa, dirinya dan iblis itu. Lantas kenapa menumbalkan orang lain yang bahkan tidak ada sangkut pautnya. Hati Zakia memberontak, tetapi ia tidak dapat berbuat banyak. Hidupnya pun sekarang berada di tangan lelaki itu. "Mari, saya antar, Non," ucap Pak Andi santun. "Ya, Pak Andi. Terima kasih." Lelaki itu berjalan terlebih dahulu, dengan Zakia yang mengekor di belakangnya. Sementara Brian terkekeh melihat tingkah anak gadis Pak Sandy yang kian menggemaskan. Sedetik ia tampak sangat lemah, detik berikutnya ia tampak kuat. Aneh, apa semua gadis sulit untuk dimengerti? "Cih, gadis itu bahkan tidak berpamitan denganku." "Dasar Macan Kecil yang nakal," gumam Brian sambari melirik piring saji Zakia. Lelaki itu menggeleng pelan dan melambaikan tangan sebagai kode memanggil salah satu asisten rumah tangganya. "Rieka, ambil jatah sarapan itu dan makanlah. Kuperhatikan sejak kemarin kau belum memakan apapun." Manik mata asisten itu membulat sempurna, apa benar ini majikan yang ia ikuti selama sebulan ini? Tampangnya tampak seperti naga dari gunung es. Namun, ternyata beliau memiliki sisi kemanusiaan juga. Baru hari ini ia melihat dari dekat dengan wajah terangkat, biasanya ia hanya berani tertunduk. "Te-terima kasih, Tuan," ujar Rieka sambari meraih sepiring telur orak-arik sosis yang terbengkalai. "Ya, lekas bawa ke belakang. Aku tidak suka melihat ada sisa makanan di meja." Brian membalikkan badan dan berlalu pergi. Sedangkan di dalam mobil Zakia terus menggerutu, ia merutuk Brian dengaj berbagai u*****n. Mungkin hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini untuk melampiaskan emosinya. Terus terang kali ini sikap lelaki itu keterlaluan. "Andai saja tidak ada hukum, aku pasti akan membunuhnya perlahan!" rutuk Zakia untuk kesekian kalinya. Pak Andi melirik gadis itu dari spion dalam, lelaki berusia kepala empat tersebut tersenyum simpul. Sikap majikan barunya ini begitu labil, sesuai dengan usianya yang masih belia. Begitu bersemangat dan masih memiliki jiwa pemberontak yang kuat. "Pak, apakah Anda tidak merasa kesal dengan ucapan iblis itu?" tanya Zakia memulai obrolan. Ya, julukan iblis untuk Brian tampaknya sudah mendarah daging. Di mana pun lelaki itu berada selalu ada yang mengumpatnya seperti itu. Walaupun, mereka tidak berani mengucapkannya secara terus terang seperti Zakia. Tentu karena mereka masih sayang dengan nyawa mereka. Sang sopir menoleh ke belakang dan tersenyum. "Tuan Muda Brian sebenarnya orang yang baik, Non." "Baik?" Zakia mengerutkan kening. Gadis itu memutar bola matanya malas dan memandang ke luar jendela. Pantulan dirinya di kaca tampak begitu kusam. Ah, berbagai kejadian yang ia alami sangat mempengaruhi kondisi fisiknya juga. Ternyata memang benar, psikis berdampak buruk pada fisik. "Betul, Non, beliau orang yang baik. Anda akan tahu sendiri nanti, apa yang saya maksud," sambung sopir itu lagi. Anak gadis Pak Sandy itu mengerling. Ya, mungkin suatu saat nanti ia akan menemukan sisi baik Brian. Entah kapan itu terjadi, mungkin berapa abad lagi lamanya, yang jelas saat ini dirinya hanya cukup mempercayai perkataan Pak Andi. Toh, membahagiakan hati orang lain akan mendapat ganjaran pahala, bukan? Tampaknya sopir itu bukan tipe pembual dan bisa dipercaya. "Non, maaf saya lancang. Sebagai saran saja, lebih baik Anda tidak macam-macam dengan Tuan. Beliau memiliki banyak mata-mata di luar, saya takut sesuatu terjadi nantinya." Pak Andi seakan membaca pikiran Zakia. Tentu saja di lubuk hati Pak Sandy merasa cemas, jika gadis itu sampai memilih kabur. Apa yang akan terjadi dengan keberlangsungan hidupnya? Di sisi lain, lelaki itu juga membutuhkan banyak biaya. Ia harus bisa meyakinkan Zakia, karena ini mempertaruhkan kesejahteraan keluarga kecilnya. Ya, keluarga yang selalu menunggu sesuap nasi hasil dari jerih payah Pak Andi. "Tenang saja, Pak. Saya tidak akan menyulitkan Anda." Zakia menatap spion dalam dan tersenyum. ----- HAPPY NEW YEAR 2021 SEMUA :*
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD