True Love?

2935 Words
Rilla benar-benar terkejut dengan apa yang dilakukan Theo. Bukan hanya karena Theo sudah memecahkan kaca pintu dengan satu tinjunya, bukan hanya karena Theo sudah menyebut nama panjangnya, tapi lebih karena tindakan Theo yang menciumnya dengan kasar walaupun hanya diawal. Karena kini, Theo menciumnya dengan lembut dan lama. Seakan-akan melepas semua emosi yang selama ini ditahannya. Bahkan Ana yang melihat semuanya benar-benar tidak percaya kalau pria yang sedang mencium Rilla dengan penuh nafsu dihadapannya sekarang adalah Matheo Venatici yang dikenalnya sejak kecil. Karena Theo yang dikenal Ana adalah orang yang paling pandai menyembunyikan emosinya, apapun yang terjadi, bahkan saat kerajaan bisnis Venatici akan bangkrut lima tahun yang lalu tidak ada seorangpun atau apapun yang dapat mempengaruhi Theo hingga dia bisa mengeluarkan emosinya seperti ini. “Kamu benar-benar membuat jantungku berhenti saat mulai memanjat pagar itu! Aku mencintaimu dari dulu sampai sekarang! Sejak kamu selalu mengikuti kemanapun aku, Rissa dan Cecil pergi sampai sekarang saat kamu ingin bunuh diri hanya untuk membuatku berjanji! Aku selalu mencintaimu, Carilla. Jadi aku mohon jangan berbuat apapun yang dapat melukaimu apalagi yang dapat membuatmu kehilangan nyawa!”ucap Theo benar-benar jujur mengungkapkan perasaannya. PERFECT!! Dalam jangka waktu 10 menit, Rilla sudah dua kali dibuat kaget oleh Theo. Jauh lebih mengagetkan daripada petir yang menyambar tepat diatas kepala Rilla. Theo merasa kalau Rilla shock dengan apapun yang baru saja dilakukannya karena tiba-tiba tubuh gadis itu menegang dalam pelukannya, dengan tenang laki-laki itu berkata, ”Lupakan saja apa yang baru saja terjadi dan aku ucapkan. Aku terlalu lelah. Jadi aku sama sekali tidak memikirkan apa yang aku lakukan dan aku ucapkan. Lebih baik aku ke kamar untuk istirahat. ”ujar Theo pelan lalu berbalik hingga menghadap pada semua orang yang ada di ruangan tengah,”Dan apa kalian semua tidak butuh istirahat?”tanya Theo dingin. Ini baru Theo yang kukenal. Tapi kenapa aku lebih menyukai sikapnya yang tadi ya??bathin Ana sedih sambil berbalik ke arah pintu dan segera keluar dari apartement Theo diikuti oleh Stefan dan Matt. *** Rilla sudah memutuskan untuk tidak menghadiri acara pernikahan Cello dan Miranda yang diselenggarakan besar-besaran di sebuah hotel mewah di Manhattan. Bahkan pemberitaan mengatakan kalau pernikahan ini adalah pesta paling mewah di tahun ini. Rilla hanya memandangi pemandangan malam dari kamarnya di apartemen Theo. Mereka belum pindah kembali ke rumah Theo walaupun perjalanan bisnis Theo sudah selesai, karena menurut Ana, minggu ini adalah minggu paling penting untuk kerajaan bisnis Venatici, jadi Theo harus selalu berada di Silver Peak selama seminggu ini. “Apa tinggal disini membuatmu merasa dipenjara?”tanya sebuah suara yang sangat dikenal Rilla. Theo sudah masuk ke dalam kamarnya dan sekarang sedang berdiri di balik meja belajar Rilla. “Kamu memang tidak membuang waktu luangmu dengan sia-sia.”lanjut Theo sambil membuka-buka buku kumpulan soal untuk ujian akhir yang baru di beli Rilla untuk ketiga kalinya dalam satu bulan. “Apa maksudmu?” “Silver Peak dibangun bukan hanya untuk digunakan sebagai kantor saja, tapi bangunan ini juga digunakan untuk menjauhkan para pejabat tinggi perusahaan dari pengaruh pesaing lain. Dan aku juga menggunakan Silver Peak untuk menjauhkan semua hal yang berharga bagiku dari orang lain, termasuk kamu, Carilla…” “Kamu melakukan ini semua? Untuk apa?”tanya Rilla masih bingung dengan penjelasan Theo. “Sederhana. Walaupun kemarin aku meminta kamu untuk melupakan apa yang sudah aku lakukan dan aku ucapkan, pada kenyataannya aku sendiri sama sekali tidak bisa melupakannya. Jadi aku harap kamu masih ingat apa yang aku sampaikan malam itu. Selain itu, aku kesini karena aku tidak akan membiarkan kamu tidak menghadiri pernikahan Cello dan Miranda. Kamu harus hadir denganku. Dan aku minta sekarang kamu mulai bersiap-siap. Itu ada gaun yang bisa kamu kenakan.” “Aku tidak akan datang. Tidak akan pernah.”ucap Rilla tegas. “Tidak menghadiri acara yang mereka selenggarakan sama saja dengan mendeklarasikan pernyataan bahwa kamu kalah dengan mereka. Apa kamu mau? Ingat satu hal Carilla, Miranda Daiva Volans bukan wanita lugu. Dia jauh lebih licik dari wanita b******k manapun.” “Aku sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiranmu. Kau bilang kalau kau tidak ingin melihatku terluka. Melihat mereka bersanding di pelaminan menyakitiku, Theo.” “Kamu kira apa yang sekarang Miranda lakukan? Dia berhasil mengambil kembali apa yang pernah menjadi miliknya. Aku sudah menyelidiki Miranda. Dia melakukan banyak operasi jantung. Jantungnya terlalu lemah sejak kecil dan puncaknya saat umurnya 19 tahun, Miranda harus berhenti kuliah dan menyewa pengajar harian agar dia tidak ketinggalan dengan semua pelajaran di kampus. Dia tidak memberitahukan penyakitnya pada siapapun. Termasuk kekasihnya saat itu, Cello. Saat itu Cello benar-benar tidak tahu kemana Miranda menghilang. Sepengetahuanku Cello sudah menyatakan niatnya untuk bertunangan dengan Miranda begitu mereka selesai kuliah. Tapi Miranda menghilang begitu saja. Dan saat dia mencari Miranda ke Manhattan_kota yang dulu sering mereka datangi berdua_Cello bertemu denganmu. Setelah itu kamu tahu sendiri apa yang terjadi. Hanya saja, selama itu pula Miranda memulihkan kondisi tubuhnya setelah melakukan operasi Batista. Mungkin wanita itu hanya butuh beberapa bulan untuk memulihkan kondisi tubuhnya, tapi dia tetap butuh bertahun-tahun untuk mengembalikan kondisi keuangan perusahaannya. Setelah semuanya kembali normal, Miranda muncul kembali. Dia ingin mengambil apa yang pernah menjadi miliknya.” Penjelasan Theo sanggup membuat Rilla terdiam dan benar-benar shock. Baginya semua yang dikatakan Theo malah seperti sebuah skenario yang benar-benar sudah tersusun. ”Apa untungnya bagi Miranda merebut Cello dariku? Toh dia tidak mengenalku.” Theo berjalan mendekati Rilla dan menarik Rilla hingga ke depan cermin di lemari pakaian, ”Sadarkah kalau kamu terlalu menarik bagi pria manapun? Sekali melihat photomu dapat membuat insting bertahan bagi wanita manapun untuk mempertahankan semua miliknya, termasuk para pria yang sudah mereka miliki. Mungkin kalau wanita lain yang berada disisi Cello_asal itu bukan kamu_aku yakin Miranda akan tenang-tenang saja sampai Cello sendiri yang kembali mencarinya. Miranda merasa kalah denganmu, Carilla. Wajah ini, tubuh ini, dan semua kepandaian yang ada di dalam sini.”ucap Thep pelan sambil menunjuk wajah, tubuh, dan kepala Rilla, ”Kamu gadis yang terlalu sempurna seandainya kamu juga punya perasaan mempertahankan apa yang pernah menjadi milikmu. Bagi sebagian pria, kamu terlalu dingin.” “Apa untungnya bagiku kalau aku datang ke pesta mereka?”tanya Rilla mengabaikan beberapa pernyataan Theo. Theo menjauh dari Rilla dan berjalan ke pintu, ”Mungkin hanya untuk melihat Miranda sakit hati karena ternyata Cello masih menginginkanmu. Dan bagiku, suatu kebanggaan tersendiri dapat hadir di sebuah pesta bersama seseorang yang kucintai.”ujar Theo sebelum keluar dari kamar Rilla. Theo berjalan menuju kamarnya sendiri. Dia terkejut dengan apa yang baru saja dilakukannya. Dia benar-benar tidak percaya kalau dia berani mengatakan semua yang dipikirkannya pada Rilla. “Apa yang sudah kulakukan?”tanya Theo pada dirinya sendiri. Dan beberapa menit kemudian, Theo sudah berdiri di bawah shower untuk menenangkan diri. Theo kembali bimbang antara ingin pergi ke pesta itu atau tidak. Dia sudah memaksa Rilla dan hatinya sakit karena itu. *** “Theo, aku sud…” Rilla tidak meneruskan ucapannya saat dia melihat Theo baru keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk putih yang terlilit di pinggang. Rilla sudah pernah melihat Theo hanya mengenakan celana dalam saat di Roma dan saat itu Rilla mengakui kalau tubuh Theo sangat indah. Namun Rilla tidak pernah menyangka kalau pria itu bisa terlihat sangat seksi dengan mengenakan handuk dan tetesan air yang mengalir di dadanya. Dengan wajah merona merah Rilla menundukkan kepalanya. “Maaf!!”ucap Rilla cepat berniat segera keluar dari kamar Theo tapi sebuah tangan menariknya hingga ia tidak bisa melangkah. “Kamu terlihat cantik…”ucap Theo sambil mengamati Rilla dari ujung kaki hingga ujung kepala. ”Tunggu sebentar. Aku akan selesai dalam beberapa menit.”ucap Theo lembut sambil mengecup dahi Rilla dan kemudian menghilang di balik ruang pakaian. Rilla terduduk di tempat tidur Theo sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan,”Ya Tuhan! Theo benar-benar laki-laki dewasa. Kenapa selama ini aku tidak pernah melihat dia sebagai laki-laki? Kenapa selama ini aku hanya menganggap dia tidak lebih dari seorang saudara? Kenapa dia punya tubuh sebagus itu?”gumam Rilla benar-benar shock dengan pemandangan yang baru saja dilihatnya. Lima belas menit kemudian Theo sudah selesai berpakaian. Dia mengenakan stelan abu-abu mewah dengan kemeja putih. Sedangkan Rilla mengenakan gaun abu-abu lembut panjang dengan lipatan satin di bawah p******a yang membentuk simpul kimono. Rilla juga mengenakan strappy sandal dari Rene Caovilla dan tidak lupa sepasang anting pemberian Theo. Anting berlian berbentuk tears drop 18 karat itu dilapisi platina dan membuatnya berpendar setiap kali tertimpa cahaya. “Kamu benar-benar seperti putri.”ucap Theo sambil tersenyum sambil menggandeng tangan Rilla dan mereka berjalan menuju lift. Lift terus turun hingga ke basement parkiran. Rilla benar-benar tidak percaya dengan apa yang sudah menunggu mereka begitu keluar dari lift. Sebuah limosin terparkir di depan lift dengan seorang supir berdiri di sampingnya. “Selamat malam, Tuan dan Nona. Silakan…”ujar supir itu sambil membuka pintu limosin. Theo membiarkan Rilla masuk lebih dulu sebelum akhirnya dia juga masuk ke dalam mobil mewah itu. Mobil melaju stabil di jalanan hingga mereka tiba di Reagent Golden Hotel. Cello masih tidak percaya dengan semua yang terjadi hari ini. Dan yang paling membuatnya shock adalah kenyataan bahwa yang berdiri di sisinya dengan status Mrs. Seirios adalah Miranda. Bukan Rilla. Dimana Rilla? Sejak acara resepsi pernikahan dimulai, Cello sama sekali tidak berkonsentrasi pada siapapun yang datang memberikan selamat padanya. Matanya terus menerus mencari sosok Rilla hingga saat ini. Tapi akhirnya pencarian Cello membuahkan hasil. Tepat di pintu masuk ruangan resepsi, hati Cello serasa dipilin saat melihat Rilla menggandeng tangan Theo dengan mesra. Cantik sekali dia… Dan Theo, mereka benar-benar terlihat serasi… Apa Rilla bahagia bersama Theo?bathin Cello pedih saat melihat Rilla tersenyum manis kepada Theo. “Mr. Venatici!”panggil sebuah suara di tengah keramaian acara. Seorang pria yang menurut Rilla seumuran dengan ayahnya berjalan menghampiri mereka.”Saya tidak menyangka bisa bertemu Anda secepat ini. Dan siapa yang bersama Anda ini?” “Carilla, ini Mr. Blake, rekan bisnisku, pemilik jaringan Reagent Golden Hotel ini. Dan Mr. Blake, ini Ms. Houston.”ujar Theo sopan. “Ms. Houston? Bukannya Ms. Houston sudah mengundurkan diri dari dunia bisnis dan memilih untuk berkeliling dunia?”tanya Mr. Blake sedikit bingung. Theo tersenyum, ”Ini Carilla Houston, adik dari Carissa Houston. Saya maklum kalau banyak orang mengira kalau Carissa adalah anak tunggal karena Carilla memang sengaja dijauhkan dari dunia penuh intrik ini.” Laki-laki di hadapan Theo itu tertawa, ”Anda memang pandai bercanda. Dan maafkan saya Ms. Houston karena tidak mengenal Anda. Kalau begitu saya tidak akan membuang-buang waktu kalian lagi. Saya permisi, Mr. Venatici.”ucap pria itu lalu segera berjalan menjauh. “Dia tanpa sengaja sudah membuat aku berjanji untuk memperpanjang kerja sama kami dengan tidak mengenalmu.”bisik Theo lembut pada Rilla sambil menggandeng gadis itu menuju tempat Ana dan Stefan berdiri. “Apa maksudnya?”tanya Rilla bingung karena Rilla sama sekali tidak mendengar adanya kata bisnis dalam sapaan singkat tadi. “Orang-orang yang ingin mencari perhatianku akan berupaya dengan segala cara untuk menyelidiki siapa saja wanita yang sedang bersamaku belakangan ini. Orang-orang seperti itu bisa dipastikan akan mencoba menawarkan bayaran tinggi pada wanita itu agar mau membujukku untuk menandatangi kontrak kerja sama. Dan bagi mereka yang tidak mengenal siapa wanita yang belakangan ini bersamaku membuktikan bahwa mereka tidak berniat menggunakan cara-cara licik seperti itu. Dan Mr. Blake adalah salah satu rekan bisnis yang paling kusuka.”jelas Theo. “Memangnya kau pernah melakukannya karena wanita?”tanya Rilla penasaran. Theo menggeleng pelan dan membungkukkan tubuhnya untuk berbisik di telinga Rilla. “Tidak ada, Sayang. Hanya kau yang bisa membuatku melakukannya.”bisik Theo lembut. Tanpa sadar Rilla mengangguk setuju, ”Dan apa maksudnya dengan keluargaku sengaja menjauhkanku dari dunia bisnis?” “James dan Caroline hanya ingin kamu serius dengan apa yang dulu sudah kamu cita-citakan. Dari dulu kamu sama sekali tidak menunjukkan sedikitpun minta pada dunia ini. Jadi menurutmu apa yang sebaiknya mereka lakukan kalau anak mereka tidak menunjukkan minat pada dunia kerja yang dulu mereka salami??”tanya Theo pelan. Rilla terdiam, Ya… Dunia bisnis hanya dunia dimana orang akan menggunakan cara apapun untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tidak peduli tipu daya seperti apa yang mereka pergunakan. “RILLA!” Secara otomatis Rilla langsung menoleh ke sumber suara yang meneriakkan namanya. Dan ditengah keramaian, Rilla dapat melihat Cecil dan Dennis berjalan kearah mereka. Theo dan Dennis saling menyapa dengan sopan, ”Ada yang ingin kubicarakan. Apa kita bisa bicara berdua?”tanya Dennis pelan, nyaris berbisik. Theo menoleh sebentar ke arah Rilla sebelum berjalan mendekati Cecil dan berbisik padanya, ”Ada yang harus kami bicarakan sebentar. Aku minta kau jangan meninggalkan Carilla sedetik pun sejak aku pergi meninggalkannya. Oke?”tanya Theo, ”Ah… Bukan meminta, tapi aku mohon.” Cecil berusaha mencari apapun pada wajah Theo yang menunjukkan kalau laki-laki itu hanya ingin mengerjainya. Tapi Cecil tidak menemukan apapun selain keseriusan di wajah Theo. ”Baiklah. Aku akan melakukannya, tapi bukan karena dirimu, hanya untuk Rilla.” “Terserah.”ucap Theo datar sambil berjalan menjauh meninggalkan Cecil dan Rilla yang langsung sibuk mengobrol. Theo mendatangi Dennis yang sudah menunggunya di sudut ballroom, ”Apa yang ingin kau bicarakan?”tanya Theo cepat. “Apa yang akan kau lakukan setelah semua yang terjadi ini?”tanya Dennis serius sambil melirik ke arah Cello dan Miranda yang masih sibuk beramah tamah dengan beberapa tamu yang mengajak mereka mengobrol. Theo berbalik ke arah pengantin hari itu, ”Menurutmu apa yang sebaiknya aku lakukan?”tanya Theo balik. “Kalau yang mereka sakiti adalah Cecil, aku bersumpah demi apapun yang aku muliakan, aku akan membalasnya berkali-kali lipat dengan sakit yang pernah Cecil rasakan.” Theo tersenyum sambil menyesap sampanye yang sempat diambilnya tadi, ”Aku tidak akan melakukan apa-apa pada mereka. Carilla berhasil membuatku berjanji padanya untuk tidak berbuat apapun pada kedua orang itu. Dan aku tidak pernah melanggar janjiku pada Carilla.” “Dan kau hanya diam melihat ini semua?” “Apa menurutmu aku akan diam?”tanya Theo dengan kilat dingin di mata coklatnya yang langsung membuat Dennis diam. Dennis menggeleng pelan. Dia tidak mengerti dengan jalan pikiran rekannya yang satu ini. Padahal selama ini Dennis selalu berhasil menebak apapun yang orang lain pikirkan. “Aku berjanji pada Carilla kalau aku tidak akan melakukan apapun pada kedua orang itu untuk membalas semua sakit yang dialami Carilla. Tapi bukankah dia tidak memintaku berjanji untuk memaafkan mereka? Semua orang yang tidak kumaafkan akan berakhir dengan kehancuran. Hanya itu yang tidak diketahui Carilla dari diriku. Kita lihat saja apa yang akan terjadi nanti.” Dennis hanya bisa menatap pria dihadapannya. Mereka sama tinggi, juga sama-sama tampan, hanya saja jauh di lubuk hati Dennis, dia menakuti orang yang sedang berdiri di hadapannya saat ini. Menjadi teman di pihak Theo merupakan langkah bijak daripada menjadi musuh pria dingin dan kejam ini. “Sebagai rekan kau memang sangat menguntungkan dalam segala hal, tapi sebagai musuh, kau jauh lebih mengerikan dari malaikat kematian itu sendiri.”gumam Dennis yang disusul dengan gelak tawa Theo. “Aku tidak akan memusuhimu kalau kau tidak menyakiti orang-orang yang kusayangi. Dalam hal ini bukan hanya Carilla, tapi Cecillia juga. Jaga dia untukku. Oke, Sobat?” Kali ini Dennis benar-benar tersenyum tulus, ”Tanpa kau mintapun aku akan menjaga Cecil. Aku mencintainya. Sangat mencintainya. Tidak akan kubiarkan siapapun melukainya.” “Baguslah. Aku memegang ucapanmu. Dan sekarang, apa kita bisa kembali ke tempat para wanita kita yang sedang menunggu sebelum para serigala lain menghampiri mereka?”tanya Theo. Theo dan Dennis berjalan kembali ke tempat mereka meninggalkan para wanita yang sangat mereka sayangi. Tapi tiba-tiba Theo berhenti, seluruh otot di tubuhnya menegang saat melihat Cello berjalan ke arah Rilla dan Cecil. “Aku senang sekali kamu mau menghadiri acara ini setelah semua yang aku lakukan padamu.”ujar Cello lembut saat dia benar-benar sudah berdiri di belakang Rilla. Rilla menoleh pada suara yang sangat dikenalnya, dan entah dapat kekuatan dari mana, gadis itu tersenyum. Senyum yang dapat membuat Cello yang dulu akan langsung menyerbu Rilla untuk menciumnya. ”Selamat atas pernikahannya. Maaf kalau kamu yang harus mendatangiku seperti ini. Padahal ini tidak perlu kamu lakukan, karena aku dan Theo juga sebentar lagi akan ke tempatmu.” “Tapi kamu baru saja datang, kenapa harus secepat itu pergi?”tanya Cello kaget karena dia benar-benar mengharapkan kehadiran Rilla selama mungkin. “Kau…” Rilla merentangkan tangannya menahan Cecil yang ingin memotong pembicaraan mereka, ”Aku datang kesini hanya karena Theo yang memintaku. Kalau bukan karena Theo, malam ini seharusnya aku sedang belajar untuk persiapan ujian. Dan kali ini aku ingin mengatakan sebuah kejujuran padamu. Aku baru tahu kalau ternyata Theo sangat mencintaiku hingga sanggup melakukan apapun yang tidak pernah bisa kamu lakukan saat kamu berada di sisiku. Aku akan mencoba segalanya lagi dari awal bersama Theo. Karena itu aku mohon bahagiakan Miranda. Dia sudah terlalu banyak berkorban untuk dapat bersamamu seperti ini. Jangan sia-siakan dia. Kalau aku tahu kamu sama sekali tidak memberi perhatian pada Miranda, maka maaf kalau aku meminta Theo turun tangan langsung. Aku yakin Theo akan bersedia melakukannya untukku.” “Tentu saja, My Princess. Aku akan melakukan apapun yang kamu minta.”ujar Theo tiba-tiba yang entah sejak kapan sudah berada di belakang Rilla dan langsung mengecup puncak kepalanya, ”Dan Cello… Selamat atas pernikahanmu. Aku akan mengirimkan hadiahnya besok, saat kalian bulan madu di Caracas. Aku jamin kalau kalian pasti akan menyukai hadiah dariku dan Carilla. Kalau begitu kami permisi dulu, aku tidak ingin membuat Carilla langsung tertidur begitu sampai di rumah tanpa belajar sedikitpun untuk pretest besok.”pamit Theo sopan lalu menggandeng tangan Rilla dan menariknya untuk segera meninggalkan ballroom itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD