Accident

2049 Words
Selama seminggu berikutnya, Rilla sibuk menghadapi ujian akhir. Sedangkan Theo yang sudah diizinkan untuk kembali melakukan perjalanan bisnis sedang berada di London dalam rangka negosiasi saham. Karena itulah, mau tidak mau, Rilla harus bersedia tinggal di apartement Theo dan pergi kemanapun diantar oleh supir Theo. Sampai pada suatu sore, saat Rilla sedang berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan untuk refreshing seusai ujian, Rilla ditabrak oleh sebuah motor besar. Mirip dengan motor Cello. Karena itulah Rilla harus dibawa ke rumah sakit sesegera mungkin. “Tidak ada yang parah. Hanya saja kamu tetap harus menjalani rawat inap dua hari untuk memastikan komplikasi selanjutnya.”jelas seorang dokter muda yang mungkin seumuran dengan Cello, dan yang parahnya, dokter muda inilah yang tadi menabrak Rilla. Rilla terdiam, ”Apa saya tidak bisa dirawat di rumah saja, Dok?”tanya Rilla sambil melirik badge name yang tersemat di jas dokter muda itu. Aricalos Howland,bathin Rilla setelah berhasil mengintip nama dokter muda itu. “Tidak bisa. Kami harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan apakah ada kerusakan lain yang anda alami. Setidaknya dua hari ini saja.”sahut dokter Howland. “Tapi, Dok…”sela Rilla benar-benar keberatan untuk menginap di rumah sakit. Apalagi hanya terbaring tak berdaya di atas ranjang seperti saat ini. “Kenapa? Apa ada yang ingin anda hubungi untuk memberitahukan keadaan anda?”tanya dokter Howland cepat. Rilla menatap dokter di yang duduk di hadapannya saat ini, dan Rilla merasa apapun yang dia lakukan, dokter Howland pasti akan memastikan kalau Rilla akan menginap di rumah sakit sampai semua pemeriksaan selesai. ”Oke baiklah. Saya akan tinggal di rumah sakit sampai semua pemeriksaan yang sebenarnya tidak perlu ini selesai. Tapi sebelum itu, saya minta anda menelpon seseorang untuk saya. Karena kalau saya yang menelponnya, dia bisa menghancurkan kehidupan orang yang sama sekali tidak bersalah, dalam hal ini adalah supir saya.” “Baiklah. Siapa yang anda ingin saya hubungi?”tanya dokter Howland sambil meraih ponselnya. “Ini kartu namanya, dan nomor telponnya yang ada di belakang.”ujar Rilla sambil menyerahkan kartu nama Theo yang dibelakangnya sudah dituliskan Theo nomor telpon pribadinya yang hanya bisa dihubungi oleh ibunya dan Rilla. *** Alex benar-benar terkejut. Dia sudah merasa kalau dia mengenal gadis itu. Tapi ada banyak hal yang membuatnya menyangkal kalau dia mengenal gadis itu. Tapi sekarang, setelah semua yang terjadi dan bukti kuat dari sehelai kartu nama dihadapannya, dia yakin, gadis yang ada dihadapannya ini bukan sembarang Carilla Marlock. Tetapi Carilla yang pernah menjadi musuh Miranda. Alex sangat ingin mencabut kembali ucapannya yang menyatakan kalau dia bersedia menghubungi seseorang untuk Rilla. Tapi dia tidak mungkin melakukannya, dengan terpaksa Alex menekan tombol-tombol di ponselnya sesuai dengan nomor ponsel yang tertera di kartu nama Theo. Gadis itu tidak bisa menelpon dengan ponselnya sendiri mengingat ponselnya rusak saat terjadi tabrakan tadi. “Hallo?”sahut suara diseberang yang benar-benar milik Theo. “Selamat malam… Saya dokter Howland dari rumah sakit pusat Manhattan. Benarkah ini Mr. Venatici?” “Ya? Ada apa?”tanya berusaha tenang. “Saat ini dihadapan saya, seorang gadis bernama Carilla ingin saya memberitahukan pada anda kalau dia harus menginap selama dua hari di rumah sakit karena baru saja mengalami kecelakaan.” Theo terdiam cukup lama, sampai-sampai Alex harus menegurnya dengan pelan, ”Baiklah saya mengerti. Lakukan apa saja untuk memastikan dia tidak mengalami apapun. Saya akan membayar berapa saja untuk semua tindakan penyelamatan yang diberikan padanya. Lakukan yang terbaik.”ucap Theo posesif. Tidak ada jalan untuk mundur, Miranda… Memusuhi Carilla mungkin tidak seberapa, tapi memusuhi Theo adalah hal yang paling tidak pernah diinginkan manusia yang masih ingin hidup…bathin Alex sebelum memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. *** Di sebuah kamar hotel, Theo juga baru saja memutuskan sambungan telpon dari ponselnya. Wajah yang biasanya tenang dan cerah itu kini pucat pasi dan lebih menyeramkan dari malaikan kematian. Dengan tergesa-gesa Theo keluar dari kamar hotelnya hanya dengan membawa tas berisi laptop dan berkas-berkas penting. “Carikan aku penerbangan pertama ke Manhattan sekarang juga!”ucap Theo saat menelpon Mark. Dan dalam beberapa menit, Mark sudah mengabari Theo kalau dia sudah mendapatkan penerbangan pertama ke Manhattan untuk Theo. Entah koneksi siapa yang digunakan Mark, tapi yang jelas ada satu orang yang harus diusir dari penerbangan kali ini hanya untuk Theo. Beberapa jam kemudian Theo sudah berdiri di samping tempat tidur Rilla di kamar VIP kelas 1 di rumah sakit pusat Manhattan. Dipandanginya gadis yang kini tertidur pulas di hadapannya itu. Baru dua hari Theo meninggalkannya, Rilla sudah memotong rambutnya yang panjang hingga kini hanya beberapa centimeter di atas bahunya. Tapi walaupun begitu, Theo tetap mencintai gadis itu. Dengan kelelahan yang tiba-tiba menerpa tubuhnya, Theo langsung meletakkan tas-nya ke atas meja dan dia sendiripun tertidur di tempat tidur kosong yang disediakan untuk pengunjung. Dan Theo benar-benar tidak sadar saat Rilla terbangun keesokan paginya. Ya Tuhan! Dia benar-benar datang! Bahkan Cello belum pernah langsung datang seperti ini saat mendengarku kecelakaan dulu. Apa selama ini aku memang salah mencintai orang? Apa memang Theo-lah orang yang kucari selama ini? Tapi kenapa aku tidak pernah sadar dengan semua kebaikan yang selalu dilakukannya untukku?bathin Rilla sambil memandangi wajah Theo saat tidur. Wajah yang benar-benar milik Theo, bukan topeng yang selalu dikenakannya saat berhadapan dengan siapapun. Dia terlihat sangat tampan saat tidur. Wajahnya damai.pikir Rilla kagum. Theo baru bangun saat seorang suster tanpa sengaja menumpahkan air yang seharusnya untuk minum Rilla ke atas dadanya. Suster yang sebenarnya sudah salah tingkah dengan melihat wajah Theo tidur kini jauh lebih kikuk lagi saat Theo menatapnya. “Ma… Ma… Maaf… Saya tidak sengaja.”ujar suster itu tergagap. Dengan cepat Theo memasang senyum bisnisnya, ”Tidak apa-apa. Bukan masalah. Saya juga salah.”ucap Theo ramah setelah memastikan dengan sudut matanya kalau Rilla ada di tempat tidurnya. “Ada apa?”tanya sebuah suara yang ternyata milik Alex. Theo langsung menoleh ke sumber suara dan dengan cepat mengantisipasi suasana, ”Bukan masalah besar, Dok. Saya hanya ingin bangun dan tanpa sengaja saya menabrak suster yang cantik ini.” Alex menatap bawahannya sebelum kembali menatap Theo, Dia memang benar-benar laki-laki playboy. Dari penampilannya saja sudah terbukti, tapi kenapa tidak ada seorangpun yang bisa membuktikan hal itu??bathin Alex malas sambil berjalan ke tempat tidur Rilla untuk melakukan pemeriksaan. Alex baru saja selesai memeriksa Rilla saat pintu kamar Rilla terbuka dan Miranda muncul dari balik pintu. “Alex aku bar…”Miranda tidak menyelesaikan ucapanya, dia benar-benar terkejut saat mendapati Alex berada di kamar pasien yang isinya adalah Rilla dan Theo. Padahal Miranda sudah memastikan kalau nama yang terpasang di depan pintu bukan orang yang dikenalnya. ”Kenapa kalian ada disini?”tanya Miranda yang tetap belum menyadari apa kesalahan yang sudah dilakukannya. Theo berdiri dengan cepat dan menempatkan diri diantara tempat tidur Rilla dan Miranda,”Tidakkah kau melihat nama yang terpasang di depan??”tanya Theo dingin. Ini dia… Ini dia sosok yang membuatnya sangat ditakuti di dunia bisnis…bathin Alex. Miranda mengangkat dagunya dengan angkuh, ”Marlock… Aku tidak pernah mendengar nama keluarga seperti itu. Apa itu nama zaman dahulu?”sindir Miranda. “Ya itu memang nama sejak zaman dahulu, sejak pendiri keluarga itu ada. Dan kalau kau memang belum pernah mendengar nama Marlock, aku berani bertaruh kalau kau mengenal nama ganda ini, Marlock-Houston. Bagaimana? Atau kau juga belum mengingatnya?”tanya Theo sambil maju satu langkah mendekati Miranda. Dengan cepat Alex melangkah dan menghalangi pandangan Theo pada Miranda, ”Maafkan dia. Saya akan membawanya keluar.”ujar Alex cepat lalu menarik tangan Miranda untuk segera keluar dari kamar Rilla. Miranda sama sekali tidak berusaha memberontak hingga sampai di ruangan Alex, ”Apa-apa’an yang kau lakukan? Sadarkah kau kalau dengan sikapmu yang menantang Theo itu akan menyebabkan banyak masalah yang terjadi padamu. Kau masih beruntung karena Theo masih mau bermain kata-kata karena sebentar lagi, Theo pasti akan melakukannya dengan perbuatan!”tegur Alex yang sudah semakin tidak tahan dengan kelakuan wanita yang dicintainya ini. “Bukan salahku kalau aku tidak tahu nama siapa itu. Nama Marlock sudah lama tidak muncul di masyarakat. Lagipula mana aku tahu kalau yang ada disana itu adalah orang yang paling menyebalkan sedunia.” Alex terduduk di kursinya lalu menyisir rambutnya dengan malas, ”Tahukah kau kalau aku-lah penyebab Rilla masuk rumah sakit? Aku menabraknya. Dan aku mohon jangan lakukan apa lagi. Theo sudah hampir menghancurkan rumah sakit ini saat dia baru sampai, dan kedatanganmu malah memicu emosi Theo. Bisakah kau melakukan segala sesuatu dengan tenang? Dan jangan pernah berhubungan dengan Theo. Aku berani bersumpah kalau dia akan melakukan sesuatu padamu. Aku… Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Kalau tidak, sampai saat ini aku tidak akan percaya. Theo hampir menghancurkan rumah sakit ini saat dia tiba dan mengetahui kalau Rilla berada di kamar perawatan yang biasa. Dia mengamuk ke seluruh bagian rumah sakit dan bersumpah akan menuntut rumah sakit ini kalau terjadi sesuatu pada Rilla karena tidak dirawat di kamar terbaik. Hanya masalah sepele. Aku tidak berani memikirkan apa yang akan dilakukannya padamu setelah semua yang kau lakukan pada Rilla.” Miranda sama sekali tidak memperdulikan ucapan Alex, dengan santai dia berdiri, ”Aku kesini bukan untuk bertengkar. Aku kesini hanya ingin memberitahumu kalau setelah hasil pemeriksaan tadi, kemungkinan anak yang kukandung ini laki-laki. Menurutku, sebagai ayahnya, kau berhak mengetahuinya.”ujar Miranda yang langsung berjalan menuju pintu ruangan Alex. “Tunggu!”cegah Alex sambil menahan pergelangan tangan Miranda, ”Kau mau kemana? Apa kau ada janji dengan Cello?”tanya Alex cepat. Miranda menggeleng sedih, ”Cello langsung pergi ke Dallas begitu bulan madu kami selesai, bahkan dia tidak sempat menginjakkan kaki di rumah baru kami.”ujar Miranda pelan. “Tunggu aku! Ada beberapa pasien yang harus aku periksa, dan kita bisa pergi makan siang. Aku tidak ingin melihatmu makan siang sendirian.”ujar Alex cepat, ”Atau, kau harus ke kantor?” “Tidak. Aku baru akan ke kantor nanti sore. Itupun hanya melihat laporan saja.” “Bagus. Kalau begitu kau benar-benar harus menungguku.”ujar Alex lalu tersenyum. Di kamar Rilla, Theo sedang duduk dengan pasrah. Sejak Alex dan Miranda keluar dari kamarnnya, Rilla langsung marah pada Theo. “Theo… Untuk apa kamu selalu bersikap bermusuhan dengan Miranda? Ini tidak seperti Theo yang aku kenal. Theo yang aku kenal akan selalu bersikap tenang, tidak suka mencari masalah duluan, dan selalu bisa menyelesaikan masalah apapun yang ada di hadapannya dengan kepala dingin.” Theo menatap Rilla dengan tidak percaya. Semua yang disebut Rilla tadi itu bukan sikap yang selama ini Theo tunjukkan di hadapan Rilla. Itu sikap yang selalu muncul begitu saja saat Theo bekerja.”Apa kamu tahu? Aku tidak pernah bisa berpikir jernih saat bersamamu.” “Itu bukan alasan, Theo…” Theo berdiri,”Jadi, apa alasan yang bisa kamu terima kalau begitu?” “Aku tidak menerima alasan apapun untuk semua sikapmu yang menyebalkan.” “Aku baru akan bersikap menyebalkan pada orang lain kalau itu menyangkut dirimu. Kamu tahu apa alasannya, dan bagiku, kamu terima atau tidak, aku akan terus bersikap menyebalkan pada orang-orang yang tidak mengerti betapa berartinya segala sesuatu yang ada padamu bagiku.”ucap Theo pelan sambil terus mendekati tempat tidur Rilla dan kemudian menunduk di atas tubuh Rilla, ”Aku akan terus mengejarmu. Jadi berhati-hatilah.”ucap Theo yang langsung mencium bibir Rilla posesif. Rilla sama sekali tidak terkejut dengan apa yang Theo lakukan. Dia sudah memperkirakan hal ini akan terjadi, tapi entah kenapa Rilla sama sekali tidak berniat menghindar. Rilla malah membalas ciuman Theo dengan antusias. “Eghem eghem…” Theo merasakan kalau ada orang ketiga di ruangan itu, tapi dia sama sekali tidak berniat berhenti mencium Rilla, dengan cepat Theo menarik kepala Rilla hingga setengah duduk dan meneruskan ciumannya. Tapi ternyata bukan hanya Theo yang menyadari adanya kehadiran orang ketiga di ruangan itu, Rilla juga menyadarinya. Dengan segenap kesadaran yang langsung terkumpul, Rilla mendorong Theo menjauh darinya “Theo…” “Sstt… Sabar sayang…”ucap Theo serak lalu meneruskan mencium Rilla. Tangannya sudah menangkup wajah Rilla agar gadis itu tidak menjauh darinya. Rilla semakin mendorong Theo menjauh walau tahu kalau usahanya itu sia-sia,”Theo, berhenti…” “Jangan sekarang… Aku sudah tidak bisa berhenti.”geram Theo. “Theo berhenti! Ada orang di pintu!”tegas Rilla keras.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD