Theo mengumpat pelan sebelum memalingkan wajahnya ke pintu dan melihat siapa yang berani mengganggu kesenangannya. Dengan tangan terlipat di d**a, Dee tersenyum penuh arti pada Theo dan Rilla. ”Maaf kalau aku mengganggu acara kalian. Tapi aku harus bicara dengan Rilla. Apa kamu tidak keberatan, Theo?”tanya Dee geli melihat seorang pria bisa begitu mencintai gadis yang jauh lebih muda darinya selama bertahun-tahun.
“Kau tahu kalau aku sebenarnya sangat keberatan. Tapi aku rasa, Carilla akan membenciku kalau sampai aku menghalangi kalian. Jadi silakan. Aku akan keluar.”ujar Theo berusaha menekan kekesalan dalam dirinya, ”Carilla… Aku harus ke kantor sekarang”.
Theo berjalan dengan enggan keluar dari kamar perawatan Rilla. Dia benar-benar tidak ingin meninggalkan Rilla. Saat itulah Theo melihat seseorang yang paling enggan ditemuinya di meja resepsionis. “Theo!”panggil orang itu cepat saat Theo baru saja akan membalik badannya. “Dimana Rilla? Bagaimana keadaannya? Aku dengar kalau dia kecelakaan. Apa yang terjadi sebenarnya?”tanya Cello cepat.
“Bukankah saat ini kau seharusnya berada di Dallas? Lalu kenapa kau bisa berada disini?”tanya Theo malas.
Cello menggeleng pelan, ”Aku langsung membatalkan penerbangan ke Dallas saat mengetahui kalau Rilla kau tinggal disini sendirian. Apalagi dia sampai kecelakaan seperti ini.”
“Jangan pernah bersikap sok perhatian di hadapanku. Aku cukup mengenalmu untuk mengetahui kalau kau tidak pernah datang secepat ini saat Carilla sakit dulu. Kau selalu menunda untuk menjenguknya, disaat dia membutuhkanmu. Lalu kenapa sekarang kau bisa langsung datang begitu saja dan meninggalkan pekerjaanmu saat mendengar Carilla masuk rumah sakit?”
“Jangan membahas masalah ini sekarang. Aku hanya ingin tahu bagaimana keadaan Rilla. Apa itu tidak boleh?”
Theo langsung memakai raut wajah yang selalu dia gunakan kalau ingin memenangkan negosiasi, dingin dan kejam. ”Carilla baik-baik saja, dan aku minta kau segera pergi dari sini karena aku tidak mau kalau Carilla melihatmu. Kau hanya ingin mengetahui keadaannya saja kan?”
Brengsek! Kenapa dia bisa jadi menyebalkan seperti ini!? Padahal dulu dia selalu memberiku jalan untuk bersama Rilla. Ternyata apa yang orang-orang bilang tentang Theo benar. Jangan pernah mengkhianatinya…bathin Cello kesal tapi dia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi mau tidak mau, dengan langkah gontai, Cello pergi meninggalkan rumah sakit.
“Yang benar saja? Tidak mungkin dr. Howland yang menyebabkan gadis itu masuk rumah sakit. Kalau memang iya, bagaimana kejadiannya?”
Theo benar-benar terkejut saat mendengar permbicaraan para perawat di bagian administrasi. Mendengar berita kalau dokter yang merawat Rilla adalah orang yang membuat Rilla masuk rumah sakit sama saja dengan meledakkan kepala Theo dengan bom nuklir. Dengan langkah besar dan pasti Theo langsung berjalan kembali ke kamar Rilla. Dia sama sekali tidak peduli siapa dan apa yang sedang mereka bicarakan. Bagi Theo yang penting saat ini adalah mengeluarkan Rilla dari rumah sakit ini dan pindah ke rumah sakit yang lain.
BRAK!!
Dee dan Rilla benar-benar terkejut saat melihat Theo berdiri di ambang pintu dengan raut wajah seakan ingin membunuh orang. “Maaf mengganggu pembicaraan kalian. Dee, tolong bantu aku membereskan semua barang-barang Carilla. Kita akan pindah rumah sakit.”ucap Theo tanpa memberi Rilla ataupun Dee untuk bertanya sesuatu.
“Kenapa harus pindah?”tanya Rilla bingung sekaligus cemas melihat sikap Theo.
Theo sama sekali tidak memperdulikan pertanyaan Rilla, setelah memastikan kalau Dee sudah selesai mengemas semua barang-barang Rilla, dengan sigap Theo langsung menggendong Rilla dan keluar dari kamar.
“THEO! Apa-apa’an ini? Kenapa kita benar-benar harus sampai pindah rumah sakit? Nanti sore aku juga sudah boleh keluar. Kenapa harus terburu-buru seperti ini?”desak Rilla yang sebenarnya sangat tidak nyaman harus digendong Theo sementara dia bisa jalan sendiri.
Alex baru saja keluar dari kantornya dan mendapati pasiennya berada dalam gendongan Theo, ”Maaf. Ada apa ini?”tanya Alex cepat sambil menghadang jalan Theo.
Theo menatap dokter di depannya dengan tatapan yang sanggup melelehkan gunung es sekalipun, ”Sederhana… Aku tidak ingin Carilla di rawat oleh orang yang sudah menyebabkan dia masuk rumah sakit Jadi, bisakah anda menyingkir dari hadapan saya? Saya tidak yakin bisa menahan emosi saya lebih lama lagi”
“Kau bukan orang yang akan meluapkan emosimu yang buruk itu di hadapan Rilla, Theo.”ujar sebuah suara berat yang sangat dikenal Theo, ”Tidak ada yang boleh keluar dari rumah sakit ini. Rilla akan tetap disini sampai nanti sore. Dan kau, Theo, bukankah seharusnya sekarang kau berada di London? Lalu kenapa kau bisa ada disini?”tanya orang itu lagi.
Theo menatap pendatang baru itu dengan kesal. “Aku tidak bisa membiarkan Carilla dirawat oleh orang yang mencelakainya, Dad!”tegas Theo,”Dan alasan kenapa aku ada disini, aku yakin kau tahu.”
Rilla terdiam. Walaupun dia sangat dekat dengan Theo, tapi dia baru sekali ini melihat secara langsung siapa pemimpin tertinggi di keluarga Venatici. Pria yang ada di hadapan Rilla ini memiliki mata yang sama dengan Theo. Mata tajam yang sanggup membuat lawan bicara mereka terdiam hanya dengan tatapan. Kerutan di beberapa tempat di wajahnya semakin menegaskan bahwa pria ini bukan lawan bisnis yang mudah. Pria itu mantan suami Caren, ayah kandung Theo.
Dengan satu gerakan ringan, Venatici senior mengangkat Rilla keluar dari gendongan Theo, ”Lihat! Dia sudah bisa jalan sendiri. Apa masih harus dimasukkan ke rumah sakit? Kalau kau ingin mengeluarkannya dan membawanya pulang, aku tidak akan mempermasalahkannya. Tapi kau berniat memasukkannya ke rumah sakit lain. Ini tidak bisa dibiarkan. Tidak selamanya berlama-lama di rumah sakit akan menyembuhkanmu.”
“Aku tidak mungkin membiarkan dia pulang ke rumah saat semua pemeriksaan belum selesai. Dan semua pemeriksaan itu tidak akan mungkin dilakukan oleh dia! Aku tidak akan mengizinkannya!”ujar Theo sambil menuding Alex.
Venatici senior menatap Alex, ”Apa gadis ini sudah menjalani pemeriksaan?”
“Sebenarnya sudah. Dan tidak ada masalah, tapi Mr. Venatici ingin kami melakukan pemeriksaan yang lainnya.”jelas Alex tenang.
Venatici senior kembali menatap Rilla, ”Apa kamu merasa baikan? Atau memang masih ada yang sakit?”
“Tidak ada. Tidak ada masalah.”sahut Rilla cepat.
“Carilla… Kamu tetap harus menjalani pemeriksaan. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku kalau nanti terjadi sesuatu padamu.”bujuk Theo lembut.
“Kalau nanti terjadi sesuatu padanya, itu sudah takdir, Matheo. Dan sekarang aku ingin kau mengambil keputusan. Mengeluarkan Rilla dari rumah sakit atau membiarkannya melakukan pemeriksaan lanjutan disini? Mana yang kau pilih?”
Theo memandang Alex dingin, ”Aku akan memotong kepalaku sendiri kalau aku masih membiarkan Carilla dirawat oleh orang yang sudah mencelakainya. Carilla akan aku bawa pulang.”
“Theo itu semua kecelakaan. Bukan salah dokter Howland.”ujar Rilla berusaha membela Alex.
“Karena aku tahu itu semua kecelakaan makanya aku masih membiarkannya disini berdiri dengan kakinya sendiri. Kalau aku mendapatkan bukti kalau itu semua disengaja, dia sudah tidak akan bisa berdiri dengan kakinya lagi.”ujar Theo dingin.
“Baiklah. Keputusan sudah bulat. Ayo kita pulang.”ujar Venatici senior.
“Tunggu, Dad. Kita pulang kemana?”tanya Theo cepat sebelum Rilla sempat bertanya.
“Tentu saja ke rumah ayah. Masa kamu ingin ayah tinggal di gedung yang seperti penjara itu.”
Rilla menarik tangan Theo, “Rumah paman?”tanya gadis itu bingung.
Theo mengangguk pelan, ”Ayah sama sekali tidak tahu kalau aku punya sebuah rumah. Kalau dia tahu, aku pasti akan di gantungnya hidup-hidup. Dia selalu menginginkan aku untuk menempati rumahnya.”jelas Theo pelan sambil mengikuti kemana ayahnya berjalan.
***
Theo belum pulang dari kantor saat Venatici senior sedang berjalan menuju kamar Rilla. Pria paruh baya itu mengetuk pintu kamar Rilla hingga Rilla membukanya. “Bisa kita bicara sebentar?”tanya ayah Theo.
“Baiklah paman.”sahut Rilla menyanggupi lalu mengikuti ayah Theo hingga ke ruang kerjanya.
“Silakan duduk.”ujar ayah Theo sambil menunjuk sofa mewah yang ada di ruangannya. “Sebenarnya aku sama sekali tidak berniat membicarakan hal ini padamu. Tapi setelah semua yang aku lihat sendiri. Aku harus mengatakannya.”
“Maksud paman apa?”tanya Rilla bingung.
“Apa kamu mencintai Theo?”tanya Venatici senior langsung.
“Maksud paman?”
“Dengar, Rilla… Usia kamu dan Theo berbeda sangat jauh. Kamu mungkin masih 18 tahunan. Sedangkan Theo hampir 30 tahun. Aku mengerti kalau kalian kenal sudah lama, apalagi sejak Theo berteman dengan Rissa. Aku sama sekali tidak ada masalah kalau Theo bersama Rissa. Usia mereka sepadan. Bukan berarti aku tidak menyukaimu. Tapi ini demi kebaikan kalian. Kamu masih terlalu muda untuk Theo. Dan kulihat, kamu sendiri masih belum paham dengan perasaanmu.
Kalau ini terus dilanjutkan. Sama sekali tidak bermanfaat apa-apa untuk kalian. Theo akan sering meninggalkan pekerjaannya hanya karena khawatir dengan keadaanmu. Dan kamu entah sampai kapan baru akan sadar kalau Theo bukan untukmu. Jadi lebih baik akhiri saja semuanya sampai disini sebelum terlambat. Kamu bisa meninggalkan Theo kapan saja. Asal itu keputusanmu, Theo pasti akan menerimanya. Dan mengenai hubunganmu dengan pewaris Seirios. Aku turut prihatin. Aku tahu kalau kalian sudah menjalin hubungan cukup lama. Itu juga salah satu alasan kenapa aku berani mengatakan ini. Mungkin kamu hanya menganggap Theo sebagai pengganti sosok Marcello.”
Rilla sama sekali tidak berkata apa-apa setelahnya, bahkan sampai gadis itu kembali ke kamarnya. Banyak sekali ucapan ayah Theo yang benar, dan Rilla sama sekali tidak bisa menyangkalnya.
“Kamu bisa kembali mengikuti orang tuamu.”
Itu yang terakhir di ucapkan Venatici senior pada Rilla. Dan Rilla juga merasa itu benar. Untuk apa dia lama-lama bertahan kalau pendidikannya sudah selesai? Rilla baru saja menutup tirai jendelanya saat terdengar ketukan pelan di pintu. Tanpa membukanya pun Rilla tahu kalau yang ada di balik pintu adalah Theo.
“Kamu belum tidur?”tanya Theo saat melihat Rilla membukakan pintu.
Rilla menggeleng pelan,”Ada apa? Kamu baru pulang kerja kan?”tanya Rilla setelah memperhatikan kalau Theo masih mengenakan jas kerjanya.
Theo tersenyum lembut hingga Rilla sempat berpikir kalau Theo sungguh sangat tampan, dan kenapa selama ini dia tidak menyadarinya. “Ya. Tapi itu bukan masalah. Aku ingin memberikan ini.”ujar Theo sambil menyerahkan sebuah kotak beludru hitam ke tangan Rilla.
“Apa ini?”tanya Rilla bingung sambil membuka kotak mungil itu.
Sebuah gelang tangan platinum dengan bandul-bandul permata coklat dan miniatur galaksi yang terbuat dari kristal melingkari gelang itu. “Cantik sekali…”gumam Rilla kagum. “Ini untukmu. Sesuai dengan warna matamu. Dan ini menandakan kalau kamu adalah duniaku. Aku tidak butuh apa-apa asal kamu tetap bersamaku.”ujar Theo sambil menunjuk miniature galaksi itu. “Selamat malam, dan selamat tidur.”pamit Theo yang kemudian mencium kepala Rilla sebelum pergi dari kamar Rilla.
Ponsel Rilla berbunyi saat gadis itu baru saja naik ke atas tempat tidurnya. “Ada apa, Dee?”
“Aku ingin mengatakan sambungan masalah tadi siang. Dan ini sangat penting…”
“Apa gak bisa dibicarakan besok?”tanya Rilla lelah dengan semua kejadian hari ini.
“Tidak bisa, Carilla… Aku mohon dengarkan aku. Ini tidak akan lama. Dan aku yakin kau akan menyesal kalau menolak mendengarnya.”
“Baiklah… Sekarang coba jelaskan.”
“Kau ingat dulu sekali aku pernah bilang kalau sepupuku Andreas pacaran dengan seorang dokter yang jauh lebih tua usianya?”
“Ya aku ingat. Lalu apa hubungannya?”
“Mereka sudah menikah tujuh bulan yang lalu, dan istrinya itu sekarang bekerja di rumah sakit tempat kau tadi di rawat. Dan yang paling tidak bisa kupercaya adalah kenyataan kalau dia adalah dokter kandungan Miranda.”
“Lalu apa hubungannya itu dengan semua ini?”tanya Rilla benar-benar sudah mulai mengantuk.
“Ada yang aneh. Susan bilang kalau ayah anak yang dikandung Miranda adalah Aricalos Howland, sesuai yang didaftarkan Miranda. Dan dia adalah dokter yang merawatmu kemarin. Di data pasien, bukan nama Marcello.”
“Apa maksudnya? Aku tidak mengerti, Dee.”
“Bagaimana kalau anak yang dikandung Miranda bukan anak Cello? Bagaimana kalau itu anak orang lain?”
“Dee… Ini gak mungkin.”
“Mungkin, teman. Bagaimana kalau Miranda adalah tipe perempuan yang akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan?”
“Tapi dia tetap tidak mungkin membohongi orang yang dia cintai!”
“Gak ada yang gak mungkin, Rilla. Sadarlah. Hanya kau yang terlalu baik. Terlalu pasrah saat sesuatu yang harusnya menjadi milikmu direbut orang lain.”
“Sudahlah Dee… Hari ini aku benar-benar lelah. Bukan hanya ini yang harus aku pikirkan. Masih banyak hal lainnya yang membuatku benar-benar lelah. Jadi tolong, kita sudahi saja pembicaraan ini, oke?”
“Baiklah. Maaf kalau mengganggu. Selamat malam.”ucap Dee pelan lalu memutuskan sambungan.
Kenapa aku tidak terlalu terkejut mendengar berita ini? Apa aku udah gak mencintai Cello lagi? Apa selama ini perasaan itu bukan yang sebenarnya? Dan kenapa aku lebih shock saat disuruh menjauhi Theo?bathin Rilla.
“Aku mencintai Theo… Dari dulu sampai sekarang. Dari pertama kali aku bertemu dengannya. Selama ini aku selalu merasa kalau itu bukan cinta karena Theo akan selalu ada untukku kapanpun aku butuhkan. Tapi ssekarang berbeda. Theo akan pergi dariku. Bukan! Aku yang akan meninggalkan Theo…”gumam Rilla lirih lalu setitik air mata jatuh dari matanya.