"Jadi, bagaimana?" Pria tua itu menatap orang kepercayaannya dengan seksama. Memupuk harapan yang berkali-kali kandas karena tertelan kecewa. Meski begitu, ia enggan untuk menyatakan kepasrahan yang bertahun-tahun coba ditepis dengan paksa. Meski bermodal keyakinan yang hanya segenggam tangan, pria tua itu terus berusaha menjaga asa yang selalu nyaris padam, saat pencarian yang dilakukannya belum juga menemukan titik terang.
Pria berwajah kaku dengan pakaian serba hitam itu menyodorkan sebuah amplop coklat ke atas meja. "Sudah sekitar satu bulan saya mengawasinya lebih dekat, Tuan. Tapi, untuk benar-benar memastikan, masih membutuhkan hal lain agar menjadi penguat, jika benar, dia cucu anda. Dan saya rasa, itu bisa dilakukan dengan tes DNA. Karena kesamaan fisik, bisa saja hanya kebetulan. Terlebih, Nona menghilang sedari bayi."
Meraih amplop tersebut, Cakra membuka untuk mencari tau isinya. Dan, tubuh tuanya gemetar, saat mendapati foto-foto seorang gadis dengan berbagai ekspresi serta aktivitas. Semua foto tersebut diambil secara diam-diam, tapi cukup jelas. "Astaga ," kedua netranya memburam, dengan rasa panas yang menyelimuti kelopak mata yang sudah dijejali cairan yang siap tumpah membasahi kedua pipi tirusnya. "Aku ingin bertemu langsung dengannya." Ucapnya tiba-tiba dengan nada penuh tekat.
"Tuan, maaf sebelumnya, tapi saya masih harus mengumpulkan bukti untuk meyakinkannya lagi."
"Aku yakin, dia cucuku." Mengusap wajah gadis yang berada di dalam foto dengan ibu jarinya yang gemetar, Cakra menatap orang kepercayaannya, "hanya melihatnya saja, aku sudah yakin. Dia benar-benar mewarisi wajah khansa."
Tak lagi mendebat, pria itu akhirnya menganggukkan kepala. "Baik Tuan, akan saya siapkan terlebih dahulu."
"Aku ingin secepatnya. Tolong urus, agar aku bisa bertemu dengannya."
"Baik, tapi mungkin agak sulit, karena Nona, dijaga protektif oleh orang-orang di sekitarnya."
"Aku ingin bertemu dengan cucuku sendiri, bukan menjadi seorang penculik."
Meringis canggung, pria itu mengangguk sembari menggumamkan permintaan maaf. Bersamaan dengan suara ketukan pintu yang tertangkap pendengaran.
Cakra segera membereskan foto-foto yang sebelumnya tercecer di atas meja kerjanya. Memasukannya ke dalam amplop coklat yang kemudian ia simpan dalam laci terkunci, sebelum akhirnya mempersilakan masuk seseorang yang menunggu di balik pintu ruang kerjanya.
Seorang wanita paruh baya dengan pakaian pelayan rumahnya menunduk hormat dan memberitahukan jika makan malam sudah siap.
Mengangguk, Cakra menyilakan agar kembali karena ia akan segera bergabung ke meja makan setelah urusannya selesai. Sepeninggal pelayannya, Cakra meletakan atensi pada orang kepercayaannya yang masih duduk diam. "Cukup untuk hari ini. Dan ingat, apa yang aku minta tadi."
"Baik, Tuan, akan segera saya laksanakan."
"Kamu boleh pergi."
Mengangguk patuh, pria itu akhirnya undur diri. Meninggalkan Cakra yang mengela napas panjang sembari menatap langit-langit ruang kerjanya yang cukup luas. Sebelum akhirnya bangkit dan berjalan menuju ruang makan. Di mana, sudah ada tiga orang yang duduk manis menunggu kedatangannya.
"Ayah," Elin bangkit dari duduknya, menyambut kelewat ramah kedatangan Cakra yang hanya tersenyum tipis padanya. "Sudah aku bilang, Ayah jangan terlalu lelah. Apa tidak cukup mengurusi pekerjaan di kantor? Kenapa membawa pekerjaan ke rumah juga? Kapan Ayah punya waktu untuk beristirahat dengan tenang?" Ucapnya dengan bibir mencebik.
"Aku hanya mengurusi sedikit pekerjaan," usai mendudukkan diri, Cakra membiarkan Elin mengisi piringnya, "sudah, cukup, jangan terlalu banyak."
"Ayah harus makan banyak, biar semakin sehat."
"Itu hanya membuat perutku tidak nyaman."
Tak ingin mendebat, Elin akhirnya tak lagi menambahkan lauk di piring, dan segera menyajikannya ke hadapan Cakra.
Sejenak, semua orang mulai sibuk menyantap makanan di piring masing-masing. Sebelum tiba-tiba, dehaman Elin membuat semua orang terinterupsi sejenak. "Yah, ada hal yang ingin aku bicarakan."
"Tentang?" Meneguk gelas berisi air putih di sampingnya, Cakra menyeka pelan bibirnya dengan tisu. Menatap Elin yang tampak tersenyum sumringah, sembari melirik kearah gadis muda yang juga tengah tersenyum malu-malu.
"Chintya, Sayang, coba kasih tau Opa."
Mengangguk patuh, Chintya menyelipkan anak rambut ke belakang telinga, sebelum kemudian angkat bicara, "Opa, aku sama Elang sudah menjalin hubungan cukup lama, dan aku rasa, sebaiknya kami ke jenjang yang lebih serius."
"Kamu tau, dari awal Opa sudah bilang, jika kamu tidak bisa bersama Elang." Cakra bahkan tak membiarkan sang cucu menyelesaikan ucapannya lebih lama. Membuat senyuman di wajah gadis itu meluruh.
"Ayah," Elin yang tak senang atas perlakuan Cakra mulai ikut menimpali. "Apa Ayah masih keras kepala dengan perjanjian tak masuk akal itu?" Tanyanya dengan kedua tangan yang mengerat pada sendok serta garpu yang tengah digenggam. Sebagai pengalihan untuk menyalurkan rasa kesalnya yang harus susah payah ditahan.
"Perjanjian tak masuk akal?" Ulang Cakra dengan raut tak suka.
Memejamkan mata sejenak, menghitung mundur dalam hati, dan berusaha mengais ketenangan, Elin mencoba agar tak tersulut emosi, meski tentu saja, itu sangat sulit. Karena sikap menyebalkan Cakra membabat habis kesabarannya. "Maaf, bukan seperti itu maksudku. Tapi, Ayah, Chintya dan Elang sudah dewasa, mereka bahkan menjalin hubungan cukup lama. Sayangnya, hubungan mereka seperti jalan di tempat karena Ayah dan Pak Zafran yang menolak memberi restu."
"Sebelum restu dariku dan Zafran, coba kamu tanya sama anakmu, apa dia sudah mengantongi restu dari Dela?"
Elin melirik putrinya yang tampak gelagapan, sebelum kemudian, Chintya berdeham dan mencoba memasang wajah meyakinkan. "Tentu saja, Opa. Aku sama Mamanya Elang sudah sangat akrab. Opa tau? Aku bahkan datang ke rumahnya untuk masak bersama."
Tertawa hambar, Elin berusaha terlihat antusias, "dengar sendiri kan, Yah? Chintya itu sangat mudah disukai. Jadi Ayah jangan terlalu khawatir seperti itu."
Mengela napas panjang, Cakra menatap dengan raut tak enak hati. "Untuk sekarang, keputusanku belum berubah. Maaf Cinthya, sejak awal, Elang bukan diperuntukkan buat kamu."
"Yah!" Elin meledak, tak lagi bisa menambal kesabaran yang sudah compang-camping setiap kali berdebat dengan Cakra.
Terlebih, setiap kali mereka membahas mengenai topik pembicaraan yang sama dan sayangnya selalu mendapat jalan buntu. Sang suami yang sejak tadi hanya diam, menggenggam tangannya, berusaha menyalurkan secuil ketenangan. "Tolong jangan bersikap egois. Apa susahnya memberi restu untuk Chintya sama Elang?" Tanya Elin yang lelah dengan kekeras kepalaan Cakra.
"Sejak awal, aku sudah memperingatkan bukan?" Suara derit kursi terdengar di tengah ketegangan yang kini melingkupi meja makan. Cakra bangkit dari duduknya dan menatap Elin yang berwajah masam, "maaf, tapi aku dan Zafran sudah sepakat, jika akan menikahkan cucu pertama kami nanti."
"Tapi cucu pertama Ayah sudah mati."
Cakra yang nyaris melangkah pergi tiba-tiba mematung di tempatnya berdiri. Menatap nyalang pada Farid, menantunya yang segera mengigit bibir, saat tau jika sudah kelepasan mengatakan hal terlarang.
"Maksudku, bukan seperti itu, Yah."
"Jaga mulutmu jika masih ingin hidup nyaman dengan uangku." Tekan Cakra mendesis berbahaya, sebelum kemudian berlalu pergi, meninggalkan tiga orang yang tengah terbakar rasa marah.
Prang!
Cinthya melepas kasar sendok serta garpunya hingga menimbulkan suara dentingan saat beradu dengan piring.
"Ma!" Rengeknya dengan kesal, "ini gimana? Si tua itu masih aja nyebelin!"
Mengipasi wajah dengan tangan, Elin menatap sang putri. "Sudah, jangan pusingin Opa kamu yang kepalanya sekeras batu itu. Yang penting, kamu bujuk terus Elang supaya mau meresmikan hubungan kalian kejenjang yang lebih serius."
Mengempaskan punggung pada sandaran kursi di belakangnya, Chintya bersedekap tangan dengan wajah tertekuk. "Elang mah gampang, tapi Mamanya yang ribet."
"Ck! Jadi benar, kamu masih belum bisa taklukkan hatinya Dela?"
"Nggak segampang itu, Ma. Susah! Udah cerewet, banyak maunya, suka ngatur ini-itu, ish! Mamanya Elang tuh nggak banget. Males deh, punya mertua model begitu. Tapi masalahnya, Elang ngutamain banget Mamanya."
"Ya makanya, Mama bilang juga apa? Pepet terus sampai Dela suka sama kamu. Kalau Dela ada di pihak kamu, kesempatan akan jauh lebih besar. Mama yakin, dua kakek tua dengan ide konyol mereka, nggak akan lagi bisa memaksa buat menikahkan cucu pertama. Lagian, cucu pertama Opa kamu sudah menghilang bertahun-tahun yang lalu. Masih aja diharapkan, dasar aneh! Sama aja berharap menggenggam angin."
Meski enggan, Chintya akhirnya menganggukkan kepala, "iya deh, aku usahain deketin Mamanya Elang lagi."
"Harus, pokoknya kamu deketin sampai Dela kasih restu kamu sama Elang."
Bergumam sebagai jawaban, Chintya bangkit dari duduknya dan pamit pergi untuk berkumpul bersama teman-temannya.
"Kamu jangan keluyuran terus dong, Sayang. Nanti Opa makin rese."
"Ck! Masa mendekam di rumah aja sih Ma? Aku tuh suntuk. Mana Elang juga sibuk terus akhir-akhir ini, butuh hiburan biar nggak kliengan ini kepala."
Mengela napas panjang, Elin akhirnya mengangguk, "yasudah sana, tapi ingat, jangan bikin masalah."
"Ish, Mama apaan sih? Kapan aku bikin masalah?"
"Lupa, empat hari lalu mobil baru kamu nabrak pembatas jalan, karena kamu paksa bawa sendiri padahal lagi setengah sadar akibat kebanyakan minum?"
Terkekeh, Chintya mengedikkan bahu tak acuh, "cuma mobil Ma. Kalau rusak tinggal beli lagi, uang Opa kan masih banyak."
"Ck! Kamu ini." Elin hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya.
"Sayang," panggilan dari sang suami membuat Elin mengalihkan pandangan yang sebelumnya tertuju pada Chintya, kini beralih pada Farid, suaminya.
"Kenapa?"
"Ayah nggak akan tendang aku dari perusahaan kan? Gara-gara tadi lidah aku nggak sengaja bikin dia marah."
"Ck! Kamu harus hati-hati, si tua itu makin sensitif akhir-akhir ini."
"Aku nggak sengaja tadi."
"Udah, nggak usah dipikirkan, dia nggak akan bisa tendang kamu gitu aja." Ucap Elin berusaha meyakinkan sang suami, meski ia sendiri tampak ragu. Cakra bisa melakukan apa pun yang dia mau, tanpa pandang bulu. Dan hal itu membuat Elin sangat berhati-hati agar tak sampai membuat pria tua itu murka, meski kadang ia tak bisa menahan diri jika Cakra sudah bersikap sangat menyebalkan.
Sementara itu, di dalam kamar, Cakra tengah duduk di pinggir kasur. Menatap sebuah bingkai yang memperlihatkan potret keluarga yang tampak berbahagia, dengan sosok bayi cantik yang masih kemerahan.
"Kamu pasti Opa temukan, Sayang." Ucapnya penuh keyakinan, dengan tangan tuanya yang mengelus lembut bingkai tersebut.