Alexa mengerang kesal. Merasa terusik karena tidur lelapnya diganggu. Meski begitu, kedua netra coklatnya secara perlahan akhirnya terbuka. Meregangkan otot-otot tubuh yang terasa kaku. Untuk sejenak, Alexa mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan linglung. Mengingat, kesadaran belum ia dapatkan sepenuhnya. "Maaf harus mengganggu tidurmu, Nak. Tapi kita sudah sampai." Cakra tersenyum hangat. Pria sepuh itu menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Alexa. Mengerjap-ngerjapkan mata, Alexa terdiam menatap Cakra. Kenapa dia bisa bersamanya? Lalu, sebuah ingatan menghantam kepalanya. Saat dia pamit pada Sakti, untuk pergi dengan Cakra yang entah akan membawanya kemana? Jika tak ingat perjanjian dan semua demi ketiga ayahnya yang masih ditahan di penjara. Alexa tentu saja tak mau i

