"Bianca! Gimana kalau kita bikin kuisioner aja untuk disebar ke anak-anak?" usul Jerry sembari menatap Bianca yang tengah membuka laptopnya.
Bianca terdiam sebentar dan mengangguk semangat setelahnya. Dia menyukai saran yang Jerry berikan. "Boleh. Kita sebar aja nanti," ujar Bianca dengan senang.
Saran Jerry akan membuat pekerjaan mereka lebih mudah. Mereka tidak perlu bertanya secara langsung pada teman kelas mereka.
"Tapi gimana teknisnya? Maksud gue mereka belum tahu sejauh apa rumah mereka ke sekolah!" tanya Ayunda sembari mengetuk-ngetuk pulpen ke meja. Dia tampak berpikir keras dengan saran yang Jerry berikan.
Jerry menanggapi dengan santai pertanyaan Ayunda.
"Gampang, kita bisa pakai peta digital, kan? Di sana kita bisa mengetahui jarak tempuh juga. Mereka tinggal tentuin titik rumah mereka ke sekolah dan lihat jaraknya. Setelah itu mereka kasih bukti berupa tangkapan layar," jelas Jerry dengan detail, tetapi ringkas.
Menurutnya jika menggunakan internet, maka tak ada yang susah. Hampir semuanya mudah dan sudah pasti saat dia menyarankan hal ini, Jerry pun memperhitungkan resikonya.
"Masa gitu aja lo enggak tahu, sih!" sergah Karin membuat Ayunda mendelik. Ayunda ingin membuka mulutnya, tetapi Jerry lebih dulu mengambil bagian.
"Berisik! Yang dibutuhin di sini itu otak dan tenaga," geram Jerry melihat dua orang gadis ribut di depannya.
Di sini menang tidak ada Siska, tetapi dia justru mendapatkan Ayunda dan Karin. Dua orang yang bahkan lebih berisik dari Karin. Jerry semakin pusing dibuatnya.
Jika bukan karena Bianca, Jerry malas berada di sini. Namun, dia berusaha mengesampingkan hal itu.
"Gue tahu!" ketus Ayunda sambil membuang wajah. Dia beralih mendekati Bianca yang tengah membuka laptopnya.
"Nanti kita buat kayak gini?" tanya Ayunda sembari menunjuk layar.
Bianca mengangguk tanpa menengok terlebih dahulu. Tak puas dengan sebuah anggukan, Ayunda pun kembali mengeluarkan suaranya.
"Gue enggak paham," ujar Ayunda sedikit bingung. Yang terdapat di layar sangatlah rumit dan banyak menggunakan angka. Ayunda tidak terlalu menyukai berhitung.
Bianca tersenyum kecil dan lekas menjelaskannya secara detail.
Ayunda mendengarkan dengan baik, begitu juga dengan Jerry dan Karin yang turut penasaran. Mereka mendekati Bianca dan memperhatikannya dengan baik.
Setelah Bianca selesai menjelaskan, Karin dan Ayunda berdecak kagum. Mereka takjub dengan wawasan Bianca yang sangat luas.
Bianca mampu memahami persoalan yang sulit dan belum mereka pelajari dengan dalam. Alasannya tentu saja karena sulit hingga mereka malas mempelajarinya.
"Gila! Detail banget penjelasannya. Gue baru paham sekarang setelah satu abad diajarin guru!" ucap Karin penuh semangat. Dia merasa otaknya kembali segar setelah mendapat penjelasan Bianca.
Setelah terpuruk karena nilai yang buruk, Karin pun memiliki secercah harapan baru. Ya, setidaknya dia bisa mengerjakan soal lebih mudah dari sebelumnya.
"Sama! Pusing gue hilang setelah denger penjelasan Bianca!" timpal Ayunda membenarkan. Dia pun merasakan hal yang sama dengan Karin.
Melihat teman-temannya antusias, Jerry pun berdecak malas. Penjelasan Bianca terasa sangat biasa bagi dirinya. Tak mengubah apa pun di dalam diri Jerry. Jerry justru merasa penjelasan Bianca terlalu rumit.
Dalam kata lain, Bianca selalu mengikuti aturan yang ada. Hal itu berbanding terbalik dengan Jerry yang suka sekali mencari jalan cepat. Namun, hasil yang Jerry dapatkan selalu akurat.
"Rumit banget," komentar Jerry sembari memakan cemilan yang Karin beli.
Ketiga gadis itu pun kompak menengok ke arah Jerry.
Mereka menatap tak percaya ke arah Jerry yang bisa dengan mudah mengatakan hal itu. Apalagi dengan Bianca yang kini sedikit terperangah mendengarnya.
Tak lama kemudian, Bianca tersenyum misterius. Cara itu merupakan cara termudah yang Bianca tahu. Kalau Jerry mengatakan rumit, berarti kualitas otak Jerry berada di bawahnya.
"Kenapa? Lo belum paham?" tanya Bianca pura-pura bersimpati.
Karin dan Ayunda langsung fokus pada keduanya. Mereka penasaran kenapa Jerry mengatakan rumit. Padahal menurut mereka, cara Bianca sangat layak direkomendasikan.
"Gue paham, bahkan gue punya cara yang jauh lebih mudah dari cara yang lo pakai. Cara lo ini ngabisin waktu!" jawab Jerry dengan sombong.
Ayunda yang mendengar hal itu pun refleks membalas, "Jangan sombong lo! Coba buktiin!" ketus Ayunda pada Jerry yang menaikkan sebelah alisnya.
Ayunda merasa Jerry terlalu melebih-lebihkan keahliannya. Dia juga merendahkan Bianca secara tidak langsung. Orang seperti inilah yang tidak Ayunda suka.
Mendengar hal itu, Jerry pun merasa sedikit tertantang. Jika orang ingin berbuat sombong, maka harus menunjukkan keahliannya terlebih dahulu, kan?
"Okey, gue buktiin!" putus Jerry mengambil selembar kertas.
Dia kemudian mulai menjelaskan dengan detail, tetapi sangat singkat. Saking singkatnya, kertas yang Jerry ambil bahkan tidak sepenuhnya terisi.
Tak butuh waktu yang lama, Jerry pun selesai dengan penjelasannya.
Dia menatap angkuh pada ketiga gadis di depannya. Apalagi Bianca yang kini membuka sedikit mulutnya. Sepertinya gadis itu merasa takjub dengan kecerdasan otaknya.
"Udah?" tanya Karin memastikan.
Jerry tentu saja mengangguk mantap. Memangnya apalagi yang ingin dijelaskan? Dia sudah menjabarkan semuanya sehingga Jerry tak memiliki apa pun untuk dijelaskan lagi.
"Lebih ajib dari yang sebelumnya!" celetuk Karin tak sadar sembari melamun. Dia merasa otaknya mendapat asupan baru sehingga otaknya yang nyaris mati itu pun kembali hidup.
Tanpa Karin sadari, tangan Bianca yang berada di bawah meja pun mengeras. Dia menerima jika cara Jerry lebih cepat, tetapi dia tidak terima direndahkan.
Secara tidak langsung, Karin mengatakan cara yang dia berikan berada jauh di bawah Jerry.
Mata Bianca kemudian menghunus ke arah Jerry. Dia berusaha memberi peringatan pada lelaki di depannya. Namun, Jerry justru menanggapi hal itu dengan santai.
"Gue, sih, enggak berniat sombong, ya. Cuma mau bagi-bagi aja," ucap Jerry merendah. Dia berusaha membuat dirinya sendiri naik dengan merendah.
Hal tersebut rupanya ditanggapi dengan polos oleh Ayunda dan Karin. Mereka percaya ucapan Jerry melebihi kenyataan yang ia lihat.
"Gue rasa udah cukup waktu belajarnya, kan? Sekarang kita mulai kerja lagi," ujar Bianca dengan senyum yang lebar.
Dia berusaha mengalihkan perhatian teman-temannya agar tidak tersita lagi oleh Jerry.
"Ah, iya! Kita, kan, ada tugas. Hampir aja gue lupa kalau lo enggak ngingetin, Bianca!" ujar Ayunda menepuk jidatnya.
Berkumpul dengan orang-orang pintar ternyata bisa membuatnya lupa waktu. Dan ke depannya, Ayunda berharap dia bisa melupakan kebodohannya.
Jerry yang melihat hal itu pun berdecak malas. Dia sedang menikmati sanjungan itu padahal. Namun, Bianca merusaknya dengan menjadikan kerja mereka sebagai dalihnya.
"Loh, ini, kan, bermanfaat. Kalau mereka belum paham sama sistem yang akan kita kerjakan, percuma. Maka dari itu, kita harusnya belajar dulu," ucap Jerry mengeluarkan pendapatnya.
Ayunda dan Karin tampak berpikir dan mengangguk bersamanya setelahnya.
"Eh, bener! Kita nanti, kan, bakal bagi-bagi tugas untuk nyusun laporannya! Kalau sekarang aja kita enggak bisa ngerjainnya, gimana nanti?" timpal Ayunda dengan cepat.
Dia tidak ingin membebankan tugas pada Jerry dan Bianca yang notabennya memiliki otak yang cerdas. Ini kerja kelompok dan berarti harus dikerjakan secara bersamaan, bukan?
Bianca lekas menanggapinya. Dia berusaha membuat semuanya menjadi mudah.
"Tenang aja, ada gue, kok! Gue, kan, ketuanya. Gue yang punya tanggung jawab atas kalian," ujar Bianca menenangkan. Dia berharap Ayunda dan Karin bisa menurutinya. Namun, semua itu hanyalah khayalannya semata.
Nyatanya, mereka lebih setuju dengan Jerry yang sudah jelas-jelas ingin membuatnya kalah. Lihat saja sekarang, Jerry duduk dengan santai dan membuatkan Ayunda serta Karin yang membelanya.
Benar-benar kurang ajar!
"Kayaknya kita belajar dulu aja, deh. Sekalian nunggu kuisioner udah dijawab semua!" saran Karin diangguki semangat oleh Jerry dan Ayunda.