"Pulang jam berapa lo kemarin?" tanya Siska setengah berisik. Sesekali dia melirik ke depan, di mana guru mereka tengah menjelaskan sesuatu.
Bianca yang mendengar hal itu pun memberi peringatan pada Siska. Guru mereka saat ini sangatlah tertib dan memiliki telinga serta mata yang tajam. Berbisik sedikit saja, mereka bisa ketahuan.
"Aduh, kenapa gue ditusuk pakai pulpen, sih?" kesal Siska menahan suaranya. Dia menatap ke arah Bianca yang kini memelototinya tanpa rasa bersalah, padahal baru saja dia ditusuk dengan pulpen milik sahabatnya itu.
Otak Siska yang memang lama dalam mencerna sesuatu rupanya tidak bisa mengenal situasi.
Lihat saja dengan Siska yang terus menatap dan berusaha mengajak Bianca berbicara. Dia seolah lupa jika di depan mereka saat ini ada guru yang mengawasi.
Lama-lama, sikap Siska itu pun disadari oleh guru mereka. Membuat Bianca yang sejak tadi menatap ke depan mulai memberi kode pada Siska untuk menghentikan aksinya.
"Jangan kode-kodean, ngomong aja kenapa, sih? Gue enggak paham!" ujar Siska dengan suara yang cukup besar.
Langsung saja guru tersebut menghampiri Siska yang memang sejak tadi tidak memperhatikannya.
"Siska, kamu ngapain?" tanya guru tersebut dengan suara yang ditekan.
Siska terdiam sebentar dan lekas menengok. Tubuhnya terperanjat saat mendapati gurunya ada di depannya saat ini. Langsung saja Siska mengingat-ingat kesalahannya dan merutuk dalam hati setelahnya.
"Kamu tidak memperhatikan saya?" tanya guru itu lagi. Dia menatap Siska tajam hingga Siska sendiri tidak dapat mengalihkan pandangannya.
Dengan spontan, Siska menggeleng dan mengangguk setelahnya. "Eh!" ucap Siska kelepasan saat menyadari jawabannya.
Setelah itu, Siska pun memilih untuk menunduk. Bodoh! Dia tidak punya kekuatan untuk melawan guru di depannya.
"Kamu berdiri di depan sampai jam pelajaran selesai!" titahnya sembari berlalu pergi.
Siska memejamkan matanya pasrah dan berdiri dengan terpaksa. Langkah kakinya yang gontai rupanya disambut dengan gembira teman sekelasnya.
Siska berhenti sejenak ingin memberi peringatan, tetapi gurunya justru memarahinya. Mau tidak mau, Siska pun mengunci mulutnya serapat mungkin.
Jam pelajaran akhirnya berakhir.
Siska berjalan cepat ke bangkunya dan duduk dengan kasar. "Capek banget!" keluhnya dengan suara yang parau.
Bianca yang berada di sebelah Siska pun hanya menatapnya jengah. Dia bingung harus memberitahu Siska bagaimana lagi.
"Lo salah, sih! Udah tahu pelajaran guru killer, lo malah sibuk sendiri!" sembur Fenia kesal. Dia menatap Siska yang kini langsung menegakkan duduknya.
"Heh, gue itu lagi ngajak ngobrol Bianca! Gue penasaran dia pulang jam berapa kemarin, tapi dia itu sama sekali enggak ngejawab gue. Dia malah ngasih kode ke gue. Ya gimana gue paham, coba?" geram Siska tak masuk akal.
Dia menatap sengit ke arah Bianca yang sejak tadi tak mengatakan apa pun pada dirinya. Padahal dia bersikap seperti ini, kan, karena merasa khawatir.
Mendengar hal itu, Tania pun ikut angkat bicara.
"Bagaimana pun, lo yang salah di sini. Lo tahu Bianca itu susah diajak ngobrol kalau lagi belajar, tapi lo masih aja ngajakin dia ngobrol!" putus Tania membuat Siska tidak terima. Dia ingin membalasnya, tetapi rasa malas lebih dulu menghinggapinya.
Melihat Siska yang lesu, Bianca pun sedikit kasihan. Dia mengajak Siska untuk pergi ke kantin mencari minum.
"Ayo ke kantin cari minum," ajak Bianca dan langsung menarik Siska. Dia turut mengajak si kembar yang berjalan di belakangnya.
Setelah sampai di kantin, Bianca meminta teman-temannya duduk dan dia memesan minuman. Saat baru saja memesan dan tengah menunggu pesanannya jadi, Bianca dihampiri oleh Ayunda.
"Kapan kita mau bagiin kuisionernya?" tanya Ayunda langsung tanpa basa-basi. Dia berdiri di sebelah Bianca sembari berbisik pelan.
Bianca bingung menjawabnya karena yang akan membuat dan mengumpulkan kuisioner adalah Jerry. Jadi, Bianca sendiri tidak tahu sejauh apa Jerry telah mempersiapkannya.
"Gue bingung jawabnya karena kuisioner ini, kan, bagian Jerry. Gue takut salah informasi," jawab Bianca membuat Ayunda mengangguk pelan.
Ayunda pun pamit ingin pergi, tetapi dia kembali lagi pada Bianca. Dia teringat sesuatu.
"Kayaknya kita jangan di sekolah lagi, deh, ngerjain tugasnya. Kalau di kafe aja mau enggak? Di sini gerakan kita itu terbatas," saran Ayunda karena merasa tugas mereka bisa saja diikuti atau diduplikat kelompok lain.
Walau kelompok lain mungkin tidak berada di kelas, tetapi bisa saja mereka ada di bagian sekolah yang lain, bukan?
Ayunda yakin hasil yang mereka dapatkan akan sangat luar biasa. Maka dari itu, Ayunda tak ingin hal itu bocor kepada siapa pun sebelum waktunya.
"Kalau menurut gue, bagus. Tapi kita tanya yang lain dulu, mereka setuju apa enggak. Karena kalau di sekolah, kan, seenggaknya bisa hemat ongkos. Cuma waktunya aja yang terbatas!" terang Bianca setuju.
Dia merasa tugas mereka akan jauh lebih cepat selesai di luar sekolah. Sekolah hanya buka sampai jam lima sore, sedangkan mereka pulang jam empat atau terkadang tiga sore. Sangat kurang untuk menyelesaikan tugas dalam waktu yang singkat.
"Ya udah, apa kita tanyain aja di kelas nanti?" tanya Ayunda bertindak cepat. Mereka tidak bisa mengulur waktu dan harus menyelesaikannya secepat mungkin.
Bianca berpikir sebentar dan mengangguk penuh senyum setelahnya. Dia akan mengikuti saran Ayunda yang sangat bagus ini.
"Nanti kita tanyain Karin sama Jerry, ya!" ujar Bianca pada Ayunda.
Ayunda membalas dengan memberikan jempolnya dan langsung berlalu pergi. Setidaknya jika sudah menyampaikan saran ini, dia bisa tenang. Ayunda benar-benar tidak rela jika ada kelompok lain yang mencuri ide kelompoknya. Banyak anak-anak malas yang hobi mencuri jawaban di sekolah ini.
Setelah itu, Bianca pun tanpa sengaja bertemu dengan Jerry. Lelaki itu tengah membeli nasi goreng di kedai sebelahnya. Langsung saja Bianca menariknya untuk menjauhi kerumunan.
"Apa, sih?" tanya Jerry sedikit kesal karena ditarik tanpa aba-aba. Dia menjadi terkejut dan nyaris saja menjatuhkan piring nasi gorengnya.
Bianca menatap malas pada Jerry dan berakhir meminta maaf. "Ya, maaf! Tapi ini ada hal penting yang mau gue bicarain!" ujar Bianca membuat Jerry menatap ke arahnya dengan bingung.
Hal penting apa? Bukankah jika mereka ingin diskusi, mereka akan menunggu orang-orang untuk pulang terlebih dahulu?
"Apaan? Lo kalau mau ngomongin tugas, jangan di sini. Kan, lo sendiri yang bilang sama Ayunda!" tanya Jerry malas. Dia kemudian menyuap nasi gorengnya karena benar-benar kelaparan.
Sudah sejak tadi dia mengantri, tetapi baru mendapatkannya sekarang. Kelas lain istirahat lebih dulu sehingga dia mendapat antrian yang panjang.
Melihat Jerry makan sambil berdiri, Bianca pun merasa kesal. Jerry tampak tak tahu adab sama sekali.
"Jangan makan sambil berdiri! Jelek banget kalau ada orang makan kayak gitu!" tegur Bianca saat Jerry ingin menyuapkan nasinya lagi.
Mendengar hal itu, Jerry pun membalas dengan santai. "Gue laper," ucapnya santai tak mempedulikan kemarahan Bianca.
"Lo kalau mau ngomong, ngomong aja. Jangan ngurusin gue yang lagi kelaparan," ujar Jerry sambil terus memakan nasi gorengnya. Dia menyuapkannya dalam porsi besar dan memakannya dengan cepat.
Karena tak tahan dengan pemandangan yang dia lihat, Bianca pun lekas mengatakan tujuannya.
"Kuisioner udah sampai mana? Udah siap disebar atau belum?" tanya Bianca pada Jerry.
Jerry berpikir sebentar dan lekas menjawabnya dengan pasti.
"Udah, tapi belum disebar karena nunggu kalian semua lihat kuisionernya dulu. Mungkin aja ada pertanyaan yang enggak bagus, kan? Nah, gue niatnya mau kasih tahu nanti pas kerja kelompok," jawab Jerry sembari mengeluarkan isi pikirannya.
Bianca mengangguk dengan pemikiran Jerry. Benar juga, jika kuisioner disebar tanpa persetujuan seluruh anggota, akan terjadi salah paham nantinya.
"Oke, gue suka pemikiran lo. Dan sekarang gue mau tanya lo keberatan atau enggak kalau kita kerja kelompoknya di kafe? Di sekolah ini bisa aja bikin ide kita didengar sama kelompok lain," tanya Bianca dengan pelan. Dia setengah berbisik ke arah Jerry yang langsung terdiam.
Jerry tak langsung memberi jawaban. Dia justru meminta waktu untuk berpikir. Jerry butuh alasan yang jauh lebih kuat selain itu.
"Kalau masalah keamanan, gue jamin aman. Jadi, apa ada alasan lain?" tanya Jerry balik.
Bianca merengut tak suka mendengarnya. Jerry bersikap seolah dia tahu segalanya. Jaminan? Hey, Bianca yang berstatus ketua OSIS saja tak bisa menjamin hal itu. Karena bagaimana pun, kita tidak bisa mengontrol manusia lain sesuai keinginan kita.
"Lo bisa jamin seolah lo memiliki kuasa di sini," ujar Bianca malas. Dia menatap tajam Jerry yang kini berhenti mengunyah.
Kemudian, Jerry pun menelan nasi yang masih kasar di mulutnya. Dia harus sesegera mungkin membalas ucapan gadis di depannya.
"Dan lo bersikap seolah satu-satunya penguasa," balas Jerry santai sembari berlalu pergi.
Bianca hampir berteriak memanggil Jerry. Dia merasa Jerry belum memberikan jawaban apa pun untuk pertanyaannya. Namun, Jerry rupanya membalikkan tubuhnya dan berteriak, "Gue setuju!"
Setelah mendengar hal itu, Bianca pun bisa bernapas lega. Dia langsung kembali ke kedai dan mengambil pesanannya. Akibat berbicara dengan Jerry, minuman yang dia pesan pun menjadi lebih cair dari yang seharusnya.
"Gue tambah pesenan aja, deh!" putus Bianca saat melihat pesanan minumannya yang mulai mencair. Dia kemudian memilih beberapa cemilan dan lekas membayarnya.
Setelah itu, Bianca pun membawa pesanannya dan menghampiri teman-temannya.
"Lama banget, Bianca!" ujar Siska kesal. Tadi Bianca yang mengajaknya ke sini, tetapi sekarang Bianca juga yang membuatnya menunggu.
Bianca merasa bersalah mendengarnya hingga langsung memberikan minuman dan cemilan itu pada teman-temannya.
"Maaf, tadi gue ngobrol sama Ayunda dan Jerry dulu. Ngobrol masalah tugas. Ini gue beliin cemilan juga karena telat ngambil pesenan," ucap Bianca sembari duduk di bangkunya.
Bianca menatap ketiga sahabatnya dengan tidak enak. Apalagi Siska yang berwajah masam. Bianca mengakui kesalahannya. Dia membawa Siska ke sini agar sahabatnya itu bisa melupakan kejadian di kelas, tetapi dia justru membuat Siska jauh lebih kesal lagi saat ini.
"Ouh, ngobrolin itu. Udah sampe mana, deh?" tanya Tania penasaran.
Perasaan kelompoknya jarang sekali berkumpul atau berbicara satu sama lain. Mereka lebih sering diam meskipun berada di grup yang sama.
"Tinggal ngumpulin bahan dan kalau bahannya udah terkumpul, tinggal disusun sesuai konsep yang udah dipilih!" jawab Bianca santai. Dia tidak takut jika rahasianya akan bocor karena sahabatnya adalah orang yang bisa dipercaya.
"Cepet banget, perasaan gue belum apa-apa!" timpal Fenia kagum.
Kelompoknya dengan Bianca sangat jauh berbeda. Entah karena kelompoknya yang terlalu malas atau karena kelompok Bianca yang terlalu rajin. Ouh, selain rajin, mereka pun pintar.
"Ya, lo gerakin aja teman-teman lo. Obrolin aja dari dasarnya dulu," saran Bianca miris pada Fenia. Bisa-bisanya dia belum melakukan apa pun padahal waktu pengumpulan tidak mencapai satu minggu.
"Males!" ucap Fenia cuek. Biarlah akan seperti apa nanti. Dia, kan, bukan ketua. Jadi, bukan dirinya yang harus bertanggung jawab.
Jam istirahat telah berlalu.
Semua murid mulai memasuki kelas, tak terkecuali dengan Bianca dan sahabatnya. Mereka memasuki kelas dengan santai.
Sebelum duduk di bangkunya, Bianca lebih dulu menghampiri Karin. Dia ingin bertanya apakah Karin sudah tahu rencana baru mereka atau belum.
"Karin!" panggil Bianca sembari tersenyum kecil.
Karin hanya menyahut seadanya tanpa tahu siapa yang memanggilnya. Matanya fokus menatap ke arah kaca yang ada di depannya.
"Eh, tadi siapa yang manggil, ya?" tanya Karin setelah dia menaruh kacanya.
Kepalanya celingak-celinguk mencari keberadaan orang yang memanggilnya. Namun, Karin tak dapat menemukannya. Ada banyak orang di sini.
Bianca yang melihat hal itu pun merasa heran dengan Karin yang selalu saja membawa alat make up-nya ke mana pun. Di atas mejanya saat ini bahkan dipenuhi beberapa alat kecantikan.
Bianca memilih untuk kembali memanggil Karin. Dia kemudian melambaikan tangannya heboh agar Karin melihat ke arahnya. "Karin! Gue manggil lo, nih!"
Karin yang tengah menyisir alisnya langsung menghentikannya. Dia menatap ke arah Bianca dan langsung terdiam kebingungan.
"Kenapa?" tanya Karin. Dia takut ada sebuah kesalahan yang dia buat hingga Bianca menghampirinya.
Jujur saja, Karin dan Bianca tidak terlalu dekat. Mereka jarang bertegur sapa meski berada dalam satu kelas yang sama. Namun, mereka juga tak bertengkar.
Karin sibuk dengan kecantikan dan teman-temannya, sementara Bianca sibuk dengan kewajibannya sebagai pemimpin organisasi di sekolah mereka.
"Ayunda udah ngomong belum sama lo?" tanya Bianca memastikan.
Mendengar pertanyaan Bianca, Karin pun semakin bingung. Apa yang ingin Ayunda bicarakan dengannya? Dan kenapa juga Bianca yang harus turun tangan? Apa ini berkaitan dengan tugas mereka?
"Ngomong apa?" tanya Karin balik.
Bianca menghela napasnya dan langsung duduk di depan Karin. Kebetulan Selvia yang seharusnya duduk di depan Karin itu pergi entah ke mana.
"Udah gue duga, kayaknya Ayunda lupa mau ngasih tahu lo. Oke, biar gue aja yang kasih tahu!" ucap Bianca mengalah.
Setelah di kantin, dia memang belum bertemu lagi dengan Ayunda. Dan saat memasuki kelas tadi, Ayunda tampak tertidur dengan tangan yang terlipat. Dia terlihat sangat nyenyak hingga Bianca pun tidak tega mengganggunya.
"Tadi gue ngobrol sama Ayunda di kantin dan dia nyaranin kita untuk ngerjain tugas di kafe dengan alasan lebih aman. Biar enggak bocor ke kelompok lain gitu," cerita Bianca singkat. Dia menatap ke arah Karin yang langsung menaruh sisir alisnya.
Karin tampak bersemangat dan wajahnya berubah ceria dalam sekejap. Bianca yang melihat hal itu pun dibuat heran. Baru kali ini dia melihat Karin seperti itu.
Entah ini memang pertama kalinya atau pada dasarnya Bianca saja yang tak pernah memperhatikan Karin sebelumnya?
"Gue setuju! Banget malah! Harusnya lo enggak usah nanya lagi. Gue malah seneng banget, gue jadi bisa bergaya!" ucap Karin penuh semangat. Dia menunjuk-nunjuk Bianca sebagai tanda antusiasnya.
Seketika Bianca shock melihat tingkah Karin. Sikap Karin bahkan bisa lebih liar dari Siska. Dan hal itu membuatnya tak percaya! Dia tidak pernah percaya dengan rumor tentang Karin yang tersebar. Namun, sekarang dia meyakininya.
Pantas saja Siska dan Karin tidak boleh disatukan, rupanya karena ini. Mereka memiliki sikap yang hampir sama! Sama-sama brutal dan suka lepas kendali.
Saat Bianca masih terkena shock-nya, sebuah keributan kembali terdengar. Kali ini berasal dari Selvia dan Siska. Tunggu, Siska? Lagi?
Langsung saja Bianca berdiri dan berjalan cepat ke tempat duduknya. Telinga dan matanya menangkap dengan jelas keributan yang ada.
"Lo harusnya adil, dong! Gue ini anggota lo, tapi kenapa lo enggak ngasih tahu gue sama sekali tentang ini!" teriak Siska pada Selvia yang berdiri angkuh dan bersidekap d**a.
Selvia menatap ke arah Siska yang tengah mengamuk hanya karena dia mengambil keputusan secara sepihak.
"Lo kalau enggak suka sama gue, jangan sensi! Lo seharusnya bisa bedain mana kehidupan nyata, mana kewajiban! Bocil banget otak lo!" ujar Siska penuh kemarahan. Dia menatap frustasi dan tajam ke arah Selvia yang masih tak bergeming.
Siska tahu, sangat tahu arti diamnya seorang Selvia. Dia bukan takut, tetapi sedang memandang rendah ke arahnya. Maka dari itu, Siska pun melangkah maju dan merebut kertas yang Selvia pegang. Tanpa aba-aba, Siska pun langsung merobeknya hingga tak dapat disatukan lagi.
Hal itu rupanya membuat Selvia merasa sangat terkejut. Dia bahkan menutup mulutnya karena tak percaya dengan keberanian Siska yang begitu beringas.
Setelah kertas tersebut hancur, Siska pun menarik rambut Selvia kencang. "Lo bukan cuma kegatelan, tapi lo itu enggak punya otak! Lo ambil hasil tugas orang lain supaya lo enggak perlu repot ngerjain tugas itu lagi, iya!" tebak Siska tepat sasaran.
Selvia menahan teriakannya. Wajahnya telah merah padam sekarang. Siska benar-benar mempermalukan dirinya.
"Gue lakuin ini semua biar kita gampang ngerjainnya! Tapi lo robek sia-sia hasil kerja keras gue!" teriak Selvia mendorong Siska.
Siska nyaris terjatuh jika tidak ditolong Fenia dan Tania. Kemudian, si kembar itu pun menatap tajam ke arah Selvia.
Selvia membuat kesalahan besar dengan semua keputusannya.
"Lagipula mereka aja enggak protes. Kenapa lo protes!" sungut Selvia menunjuk dua anggotanya yang kini tertunduk takut pada dirinya.
Siska lekas menggeleng. Jelas sekali ada raut wajah ketakutan di sana. "Bohong! Lo pasti maksa mereka. Lihat muka mereka yang ketakutan karena lo!" tolak Siska.
Siska menatap kedua temannya yang kini mengangkat kepala mereka. Dia tidak akan membiarkan orang-orang lemah tertindas, apalagi dengan gadis seperti Selvia. Selvia terkenal culas dan tidak kenal kasihan.
"Sok tahu, lo!" geram Selvia sembari menyerang Siska.
Fenia dan Tania refleks melindungi Siska, begitu juga dengan teman kelompok Siska. Mereka membuat Siska terlindungi dari serangan Selvia.
Karena kalah jumlah, Selvia pun terjatuh. Dia bahkan terjatuh tepat di bawah Bianca.
Bianca lekas berjongkok dan memberikan uluran tangan. Namun, ditepis oleh Selvia. Mendapat penolakan itu, Bianca pun mengangguk paham. Dia kemudian berbicara di depan kelas dengan lantang.
"Terlepas dari siapa seksi keamanan di kelas ini, gue putuskan untuk bawa mereka berdua ke BK. Di sana kalian bisa selesaikan masalah yang kalian buat, sekaligus tanggung jawab atas kesalahan yang kalian buat!" putus Bianca dan langsung membawa Selvia ke BK.
Siska yang mendengar hal itu pun pasrah. Dia lekas berjalan di belakang Bianca didampingi dengan dua temannya yang sama-sama menjadi korban dari Selvia.
***
"Ada apa, Bianca?" tanya guru BK yang tengah mengerjakan laporannya.
Bianca yang ditanya seperti itu pun lekas menyalami gurunya dan meminta empat orang di belakangnya untuk duduk. Bianca kemudian menjelaskan maksud kedatangannya.
"Begini, Bu. Di kelas saya ada keributan yang terjadi antara Siska dan Selvia. Mereka ribut seputar tugas kelompok yang diberikan. Saya tidak ingin hal ini terjadi berlarut-larut sehingga saya memutuskan untuk membawa mereka ke sini."
"Saya harap dengan dibawanya mereka ke sini, dapat menyelesaikan perkara yang ada. Sekaligus memberikan pelajaran setimpal bagi orang yang terbukti salah!" ucap Bianca sembari melirik ke arah Selvia.
Dapat Bianca tangkap jika Selvia melakukan kecurangan dalam mengerjakan tugas. Hal seperti ini tidak bisa ditolerir.
Kemudian, guru pelajaran mereka pun datang dan langsung melakukan interogasi. Dia bertanya banyak hal, termasuk isi dari kertas yang Siska sobek.
Setelah satu jam berlalu, interogasi pun selesai.
Wajah Selvia yang semula angkuh langsung berubah. Termasuk Siska yang terlihat lega bersama teman-temannya.
"Karena Selvia melakukan kecurangan, dia tidak perlu mengemban tugas sebagai ketua lagi. Sekarang ketua kelompok kalian adalah Siska!"