"Gue enggak bisa jadi ketua, Bianca!" ucap Siska putus asa. Dia meremas rambutnya dengan frustrasi.
Jujur saja, Siska terkejut setengah mati saat mendengar keputusan gurunya. Dia tidak pernah ingin menjadi ketua apa pun itu keadaannya.
Siska tidak yakin dengan dirinya sendiri yang sama sekali tak memiliki pengalaman menjadi pemimpin. Dia merasa dirinya bukanlah apa-apa.
Maksud Siska bertengkar dengan Selvia bukan untuk pergantian jabatan, tetapi untuk menegakkan keadilan. Siska tidak suka dengan perilaku Selvia yang semena-mena dan mengambil keputusan secara sepihak. Apalagi keputusan itu mengarah pada hal yang salah.
Selvia tidak bisa menjadi jalan tengah bagi kelompoknya. Dia justru menjadi aib yang harus ditutup rapat-rapat. Kelompok mana yang tidak malu saat ketuanya sendiri justru mengambil tugas orang lain dengan paksa?
"Itu udah takdir lo! Tuhan mau lo jadi pemimpin karena Dia tahu kalau lo jauh lebih bisa diandalkan!" ucap Bianca berusaha meningkatkan rasa percaya diri Siska.
Bianca tahu betul apa yang Siska alami saat ini. Siska pasti merasa semua orang memaksanya untuk berjuang di luar kapasitasnya. Siska merasa dirinya tidak sanggup melakukan itu semua, padahal dia sendiri tahu bahwa dirinya memiliki peluang untuk berhasil.
"Andai aja gue enggak mergokin Selvia waktu itu," sesal Siska sembari menghentikan langkahnya. Dia menunduk dalam dan mengusap air matanya yang menetes.
Perasannya saat ini begitu campur aduk, apalagi saat mengingat tugas berat yang menantinya. Demi apa pun, pekerjaan terberat bagi Siska adalah menjadi pemimpin.
Melihat Siska seperti itu, Bianca pun tak tega. Dia lekas memeluk Siska dan memintanya untuk duduk di koridor sebentar.
Beruntung guru mereka memiliki keperluan mendadak hingga tak bisa masuk kelas. Dia jadi bisa menemani Siska dan menyemangatinya.
Diangkatnya wajah Siska dan Bianca terperanjat setelahnya. Dia tidak menyangka jika Siska yang terkenal keras dan suka membuat keributan itu menangis karena hal yang mungkin menjadi impian beberapa orang.
Dengan cepat Bianca mengeluarkan tisu yang ada di kantung roknya. Dia mengambil selembar tisu dan langsung mengusapkannya pada wajah Siska.
"Lo enggak salah, kok! Lo udah bener ngelakuin itu semua. Lo hebat," tolak Bianca tak setuju dengan ucapan Siska.
Dia tidak suka saat Siska menyalahkan dirinya sendiri, padahal dia berada di pihak yang benar dan memperjuangkan hak orang lain.
"Kalau gue enggak ngeliat hal itu, gue enggak akan nanggung beban seberat ini!" ucap Siska lagi dengan miris. Dia merasa prihatin dengan dirinya sendiri yang terlewat bodoh. Seharusnya saat itu Siska mencari aman saja.
Bianca berdecak malas mendengarnya. Dia langsung menarik Siska untuk berdiri dan menatap wajahnya.
"Kalau lo merasa nyesel setelah nangkep basah Selvia saat itu, berarti sekarang lo nyesel karena bantuin Ratih untuk bebas dari Selvia, iya?" tanya Bianca balik.
Siska jika sedang seperti ini benar-benar tidak bisa menjernihkan pikirannya. Dia selalu saja berpikir negatif untuk apa pun yang terjadi padanya.
Maka dari itu, Bianca akan membuat Siska menghentikan kekonyolan yang dia buat. Dan hal itu tidak bisa digunakan dengan cara yang lembut. Harus ada kalimat sarkas dan kasar yang membuat Siska sadar.
"Lo diem, berarti bener lo itu nyesel karena bisa bebasin orang dari penderitaannya!" simpul Bianca saat Siska masih belum membuka mulutnya. Dia ingin membuat Siska marah dan membalasnya. Jika itu sudah terjadi, maka Siskanya sudah kembali.
"Kalau lo nyesel, mending lo siksa aja si Ratih! Siksa dia karena menurut lo, dia sumber kekacauannya, kan?" titah Bianca sembari berlalu pergi. Dia sedikit lelah menangani Siska.
Menurutnya, Siska hanya perlu menerimanya dan menjalankannya dengan baik. Dia harus berusaha sesuai kadar kemampuannya. Tak perlu hasil yang bagus karena kekompakan tim sampai akhir saja sudah cukup menjadi indikator keberhasilan.
Siska menghela napasnya dalam. Ucapan Bianca baru saja mengusik sesuatu di dalam dirinya. Apa ia tega membiarkan seorang gadis lugu dan culun itu menjadi sasarannya hanya karena kelemahannya?
Tidak boleh! Siska harus menang melawan dirinya.
Siska pun berlari mengejar Bianca. Dia menepuk pundak sahabatnya sedikit keras.
"Bantu gue, ya! Kasih tahu gue cara yang benar jadi ketua!"
***
"Mau langsung ke kafe?" tanya Jerry pada Bianca yang berdiri di dekat pintu.
Para siswa mulai mengantri untuk keluar kelas. Mereka bersorak senang saat sekolah tiba-tiba saja dibubarkan lebih cepat dari yang seharusnya.
Bianca yang semula tengah membelakangi Jerry pun berbalik. Dia menatap ke arah Jerry yang bertanya padanya. Dalam hati Bianca merasa ada keanehan yang terjadi.
Kenapa Jerry mau repot-repot menanyakan hal itu pada dirinya? Tumben sekali. Biasanya dia lebih suka dihampiri dibanding menghampiri.
"Kayaknya enggak, kita pulang dulu aja. Lebih enak ke kafe pakai baju santai. Kalau pakai seragam kayak gini, terlalu mencolok!" putus Bianca setelah berpikir panjang.
Memang lebih mudah dan praktis jika mereka langsung ke kafe setelah pulang. Namun, resiko yang ditanggung adalah ketidaknyamanan.
Di sekolah mereka bercampur dengan banyak orang yang beberapa dari mereka mungkin memiliki penyakit. Jika mereka tak mengganti pakaian atau membersihkan diri terlebih dahulu di rumah, ada kemungkinan anggota kelompok mereka jatuh sakit nanti. Dan Bianca tidak mau hal itu terjadi. Dia tidak mau menanggung resiko yang besar hanya karena tergoda kemudahan yang ditawarkan.
"Menurut gue lebih enak pulang dulu daripada langsung. Kalau langsung, enggak jamin tubuh kita bersih, kan?" timpal Ayunda setelah bergabung bersama Jerry dan Bianca. Di belakangnya ada Karin yang masih setia memperhatikan kulit mulusnya sendiri.
"Lo setuju enggak, Rin?" tanya Ayunda meminta pendapat dari Karin.
Karin yang ditanya seperti itu pun menjawab dengan semangat. Tentu saja dia setuju, dia jadi bisa memoles dirinya lebih baik jika berada di rumah.
"Gue setuju banget. Gue jadi bisa dandan lebih maksimal kalau pulang dulu ke rumah," ucap Karin ringan. Selain karena riasan wajah, Karin pun takut tubuhnya menjadi bau jika tidak mandi terlebih dahulu.
"Dandan mulu, lo!" sinis Ayunda. Karin mengedikkan bahunya tidak peduli. Terserah saja, ini, kan, hal yang sangat dia suka. Kecantikan yang paripurna tak boleh dilupakan.
"Eh, emang udah nentuin kafenya?" tanya Karin setelah dia mengingat sesuatu.
Ketiga orang di depannya langsung diam dan sama-sama menghela napas panjang. Ya ampun, bagaimana bisa mereka melupakan hal ini?
Mereka bilang mau mengerjakannya di kafe, tetapi tidak menentukan kafe mana yang akan dipilih. Tidak mungkin, kan, mereka datang ke kafe yang berbeda?
"Ternyata kita sebodoh itu," ucap Ayunda pelan.
Bianca dan Jerry menatap ke arahnya secara bersamaan dan mengangguk pelan. Mereka meributkan hal kecil, tetapi lupa jika ada hal besar yang harus didahulukan.
"Jangan sedih! Gue bakal bantu!" ucap Karin menenangkan suasana. Dia akan mengambil langkah agar masalah ini segera selesai dan dia bisa pulang ke rumah. Perawatan kecantikannya sudah menunggu.
"Gimana kalau kita di kafe Pojok 05? Di kafe itu suasananya tenang, cocok banget buat ngerjain tugas. Selain itu tempat luas, ada indoor ada outdoor dan makanannya enak-enak," usul Karin dengan wajah yang senang.
Tidak sia-sia dia selalu berkunjung secara iseng ke kafe-kafe hanya untuk membeli kopi. Dia jadi bisa mengetahui mana kafe yang cocok untuk mereka belajar.
"Oke. Jam tiga kita kumpul!"
***
"Menurut gue ini udah bagus, kok. Semuanya bisa dijadikan bahan penelitian," komentar Bianca saat melihat kuisioner yang Jerry buat. Dia tengah duduk di sebelah Jerry saat ini dan terlihat sangat serius memperhatikan layar laptop.
"Coba lihat," pinta Ayunda yang duduk di seberang mereka.
Bianca lekas memberikannya.
Setelah melihatnya, Ayunda pun mengangguk setuju. Benar kata Bianca. Kuisioner ini telah sempurna dan sangat lengkap.
"Kalau gitu bisa disebar sekarang, kan?" tanya Karin tak sabar. Dia ingin melihat hasil akhir kelompoknya ini. Pasti sangat spektakuler dan Karin akan mengabadikannya di blog pribadinya. Jarang-jarang ia satu kelompok dengan orang cerdas seperti Jerry dan Bianca.
"Bisa. Kalau anak-anak udah ngisi dalam waktu satu jam, kita juga bisa buat isi laporannya sekarang juga!" jawab Jerry mengira-nira.
Mereka hanya perlu menyusun data, masukkan ke dalam rumus dan catatan. Setelah itu mereka susun urutan laporannya dan power point pun siap dibuat.
"Tapi sebelum buat power point, kita buat dulu isinya di kertas biasa!" tambah Bianca sembari mengeluarkan beberapa lembar kertas kosong.
Jerry mengangguk membenarkan. Dia kemudian mengambil kembali laptopnya dan langsung menyebar kuisioner itu di grup kelas. Tak tanggung-tanggung, Jerry bahkan mengirim pesan satu persatu kepada temannya agar lekas mengisi kuisioner.
"Selesai. Sekarang kita tunggu aja," ucap Jerry sembari menyingkirkan laptopnya. Dia kemudian membuka ponselnya dan memantau sejauh mana teman-temannya merespon pesannya.
"Eh, kita ikut ngisi?" tanya Ayunda bingung. Jerry mengangguk dan lekas menjawab kebingungan Ayunda.
"Kalian, kan, anggota kelas. Jadi, kalian juga termasuk target." Jerry menjawab dengan singkat dan langsung memainkan ponselnya lagi.
Setelah mendengar hal itu, Ayunda pun paham dan lekas mengisinya. Mereka pun akhirnya menunggu sembari menikmati hidangan yang mereka pesan.
Respon teman mereka cukup cepat. Itu berarti mereka bisa diajak bekerja sama. Hingga kurang dari satu jam, data yang mereka butuhkan pun sudah terkumpul.
"Data udah lengkap. Sekarang kita mulai ngerjain laporannya!"