Hello 15 - Terusik

2544 Words
Bianca memasuki kelas dengan wajah yang berseri-seri. Meski semalam dia tidur pukul dua belas, tetapi hal itu tak membuat Bianca mengantuk atau kehilangan semangat untuk menuntut ilmu. Terbukti dari matanya yang berbinar, tanpa ada kantung mata yang menghiasinya. Baru saja Bianca membuka pintu kelasnya, dia sudah dikejutkan dengan seorang gadis yang memunggunginya. Bianca kemudian melirik jam tangannya. Dia kebingungan saat mendapati hari masih terlalu pagi. "Baru jam enam lebih lima, tapi tumben udah ada yang datang," gumam Bianca setengah was-was. Bisa dibilang anak-anak kelasnya ini termasuk ke dalam golongan orang yang hobi datang siang. Biasanya jika jam setengah tujuh saja baru beberapa orang yang datang. Tapi kenapa gadis ini sudah ada di kelas? Merasa penasaran, Bianca pun berjalan mendekatinya. Dia tak berpikir buruk sama sekali meski ada sedikit rasa takut yang mengintainya. "Semoga manusia," harap Bianca. Bianca pun mulai mengangkat tangannya untuk menyapa gadis itu. Namun belum sempat dia melakukannya, gadis di depannya lebih dulu berbalik dan membuat Bianca terkejut setengah mati. "Siska? Lo ngapain?" tanya Bianca nyaris histeris. Dapat Bianca lihat wajah Siska yang kusam dan penuh beban. "Gue sekolah," jawab Siska lesu dan langsung berjalan menuju bangkunya. Dia mengabaikan Bianca yang berusaha mengajaknya berbicara. Merasa sikap Siska aneh, Bianca pun lekas mengikutinya. Dia berusaha membuat Siska membuka suaranya. "Sis, lo kenapa? Lo kayaknya enggak baik-baik aja. Lo ada masalah? Kalau ada, cerita sama gue!" tanya Bianca khawatir. Dia terlalu sibuk dengan Siska sampai Bianca lupa dengan tas yang masih ia gendong. Siska tak menjawab. Dia justru membanting sebuah buku di depan Bianca. Bianca yang mengetahui hal itu pun lekas mengambilnya. Matanya langsung memanas saat tahu buku apa yang Siska tunjukkan. "Gue ini harus gimana? Gue udah coba saran-saran lo. Gue juga udah belajar serius, gue bahkan enggak makan dan enggak tidur sama sekali cuma demi belajar. Tapi apa yang gue dapet?" tanya Siska pada dirinya sendiri. "Otak gue bener-bener bodoh! Gue bahkan enggak bisa ngerjain satu soal mudah di sana!" erang Siska sembari memukul kepalanya pelan. Kemudian, dia menundukkan wajahnya dan menyembunyikannya dengan tangan. Sungguh, Siska jauh lebih sedih daripada kemarin. Dia berniat untuk belajar agar wawasannya luas dan kelompoknya tidak akan malu nanti. Namun, Siska tak mendapatkan apa pun selain kemarahan setelahnya. Siska tidak bisa memahami apa pun yang tertulis di dalam buku ini. Kalau belajar saja dia tidak bisa, lantas bagaimana kelompoknya ke depannya nanti? "Gue ini enggak berguna!" sesal Siska pada dirinya sendiri. Dia memukul meja pelan dan kembali menangis setelahnya. Bianca menatap Siska iba. Dia lekas memeluk sahabatnya dan menenangkannya. "Jangan porsir diri lo di luar kemampuan lo, Sis! Gue tahu lo mau nunjukkin yang terbaik, tapi enggak begini caranya," ujar Bianca berusaha memberitahu Siska jika cara yang dia tempuh salah. Siska menggeleng pelan. Dia tidak ingin mendengar apa pun. Hari ini dia pasti akan dituntut untuk mulai mengambil langkah, tetapi dia sendiri sama sekali tak mengerti harus bagaimana. Bayangkan saja, dalam waktu semalam Siska harus bisa mempelajari semuanya karena kelompok-kelompok lain sudah memulai tugas mereka. Sedangkan kelompoknya? Dia sendiri bahkan sibuk menangis saat ini! "Lo ngomong gitu mudah. Gue yang jalani? Susah!" bentak Siska pada Bianca. Dia kemudian kembali melanjutkan ucapannya. "Gue harus bisa kasih mereka arahan dan mulai ngerjain tugas, tapi kalau gue sendiri enggak tahu apa-apa, gimana gue bisa? Itu sebabnya gue belajar semaleman, tapi hasilnya zonk! Gue memang enggak guna!" maki Siska pada dirinya sendiri. Dia memang tidak berguna. Dia hanya bisa membuat keributan. Dia hanya bisa berteriak tanpa sebab. Dan lebih dari itu, dia tak bisa menjadi apa pun. "Saat mereka ketemu gue hari ini, mereka pasti akan mikir kenapa kelompoknya beda? Kelompok lain udah ngerjain, tapi kelompok mereka masih aja diem di tempat!" ungkap Siska membuka kekhawatirannya. Dia menarik napasnya dalam karena terasa sesak. Sudah berjam-jam dia menangis. Bianca menatapnya sedih dan lekas meminta Siska untuk menatap ke arahnya. Dia mulai tahu penyebab Siska bersikap seperti ini. Sepertinya dia pun turut andil mendorong Siska seperti ini. "Jangan berpikir kalau ini persaingan karena persaingan yang sebenarnya dilihat dari sejauh mana setiap kelompok bisa bekerja sama," ucap Bianca pelan. Dia mengalihkan pandangannya saat sudut hatinya terasa nyeri. Jujur, ada sesuatu yang terusik di dalam dirinya. "Gue tahu lo mau kasih yang terbaik, tapi kalau batas kemampuan lo sampai di sini, lo cukup sampai di sini. Jangan melebihi batas itu yang kalau lo pilih nekat, lo sendiri yang akan hancur dan semuanya jadi berantakan!" nasihat Bianca sembari meneteskan air mata. Isi hati Siska pernah Bianca rasakan dulu dan masih terngiang di benaknya. Semua yang Siska ucapkan tidak lain dan tidak bukan karena penilaian manusia semata. Penilaian yang sama sekali tak menguntungkan, tetapi jelas membuat seorang insan kelelahan. "Kalau lo sibuk nyesel kayak gini, kapan lo akan mulai? Kalau lo enggak mau kelompok lo hancur, lo harus gerak dari sekarang. Enggak perlu gerakan yang kuat, pelan aja tapi pasti. Setidaknya lo harus memastikan bahwa ke depannya lo bisa menjaga keutuhan kelompok sampai akhir." Bianca tersenyum kecil saat mendengar tangisan Siska yang mulia mereda. Dia menatap Siska hangat. Meski seringkali kesal dan marah pada Siska, Bianca akui Siskalah yang paling dekat di hatinya. Gadis itu membuat Bianca menyadari arti pertemanan yang sesungguhnya. "Lagipula lo harus ingat kalau gue ada di sisi lo. Gue siap bantu lo 24 jam. Gue udah janji, kan?" tanya Bianca pada Siska yang langsung bergumam pelan. Membenarkan ucapan Bianca. Bianca memang berjanji padanya, tetapi dia sendiri merasa sungkan. Sahabatnya itu telah banyak membantunya. "Kapan pun lo butuh, lo tanya gue. Kalau perlu ajak gue pas lo mau kerja kelompok, gue enggak masalah asal anggota lo juga enggak terganggu!" ujar Bianca memberi pesan. Siska langsung menggeleng mendengarnya. Dia tidak suka Bianca yang benar-benar baik kepadanya. Dan entah kenapa ucapan Bianca baru saja membuat lidahnya gatal. Siska jadi ingin mengumpat. "g****k! Lo bukan kelompok gue!" maki Siska kesal disambut kekehan Bianca. Mendengar Bianca terkekeh, Siska pun ikut terkekeh. Dia tertawa pelan karena kebesaran hati sahabatnya. "Loh, beneran. Gue serius padahal. Lumayan, kan, hitung-hitung refreshing," ujar Bianca pura-pura heran. Siska kembali menghujat Bianca. Ucapan Bianca benar-benar menggambarkan dirinya gila pada ilmu pengetahuan. "Orang pinter refreshing aja beda. Orang piknik, ini belajar. g****k!" maki Siska lagi dan kini tertawa sedikit kencang. Bianca ikut tertawa, bahkan lebih kencang dari Siska. Namun, tawanya seketika terhenti saat Siska kembali serius padanya. "Lo serius? Gue enggak akan ngerepotin lo?" tanya Siska memastikan. Dia menatap Bianca serius karena penasaran dengan jawabannya. Bianca pun tersenyum lebar mengetahui keraguan sahabatnya. Sejak kapan Bianca berbohong? "Gue pernah bohong sama lo?" tanya Bianca penasaran. Siska refleks menggeleng karena memang itulah Bianca. "Nah, berarti gue serius. Udah, pokoknya kalau lo butuh, ada gue, ingat?" desak Bianca membuat Siska mengangguk spontan. Kemudian Bianca pun pamit pergi. "Gue harus ke depan, mau jaga!" pamit Bianca. Siska mengangguk sebentar, tetapi berteriak pada Bianca setelahnya. "Lo jangan terlalu baik, Bianca! Nanti lo dimanfaatin orang!" teriak Siska memperingatkan. Siska khawatir ada orang jahat yang memanfaatkan kebaikan hati Bianca. Dia tak akan tega melihat sahabatnya tersakiti. Mendengar hal itu, Bianca berbalik dan tersenyum hambar. "Gue jauh dari kata baik, Siska." Setelah mengucapkan itu, Bianca pun pergi dengan senyum misteriusnya. Ucapan Siska membuat gejolak di sudut hatinya. "Siska, lo harus tahu bahwa orang yang baik di luar belum tentu baik di dalam." *** Bianca datang dengan wajah yang cerah. Dia menyapa teman-temannya yang tengah berjaga. "Maaf aku terlambat, ya. Tadi ada urusan dulu di kelas!" ucap Bianca meminta maaf. Bianca tahu jam bertugas sudah terlewat cukup lama, tetapi Bianca pun tak bisa meninggalkan Siska begitu saja. Siska hanya sendirian, sementara tugasnya bisa digantikan oleh yang lain. Teman-teman Bianca yang berada di sana pun menanggapinya dengan santai. Terlambat sesekali bagi Bianca rasanya tak masalah karena dia telah datang tepat waktu selama bertahun-tahun. "Enggak apa-apa, santai aja. Telat itu wajar, kok! Apalagi untuk seorang Bianca!" ucap Nada teman seangkatan Bianca. Sementara yang lainnya ada kakak dan adik kelas. Bianca pun hanya tersenyum dan langsung berjaga. Dia sedikit malas berhadapan dengan Nada. Namun hal itu tidak berhasil. Karena nyatanya, Nada justru mendekati Bianca. "Lo udah menyelesaikan tugas, Bianca?" tanya Nada sembari mendekat. Dia berdiri di sebelah Bianca yang masih menunggu orang untuk diperiksa. Bianca menengok sekilas. "Udah, semalam sudah siap. Tinggal tunggu diisi video dulu untuk power point. Setelah itu, video siap upload!" jawab Bianca dengan hati yang tenang. Sebelumnya dia sempat gelisah karena takut tugasnya tak bisa selesai dengan cepat. Bianca ingat akan janjinya pada Siska. Jadi, dia ingin membantu Siska seawal mungkin. Bersyukur karena Tuhan menghendakinya. Dia bisa membantu Siska tanpa diributkan dengan kelompoknya lagi. "Wah, cepet banget. Gue baru aja mau cari objeknya!" kagum Nada dengan suara yang ia buat-buat. Rupanya Bianca bukan hanya pandai dalam tugas mandiri, tetapi dalam tugas kelompok juga. Tidak masalah, dia pun bisa menanganinya. Tugas kelompok mudah baginya. Hanya orang-orangnya saja yang susah. "Lo ketuanya?" tanya Nada lagi. Bianca mengangguk mantap. Matanya melirik Nada yang berbeda. Tumben sekali Nada tidak mengetahui hal itu. Biasanya Nada selalu bisa mendapat berita hangat mengenai dirinya. "Nah, pas! Gue punya anggota kelompok yang susah diatur. Gue minta bantuan dari lo, dong. Jangan sampe gara-gara mereka, gue jadi enggak dapat nilai!" pinta Nada setengah memohon. Dia menatap Bianca dengan matanya yang memohon. Bianca yang ditatap seperti itu pun tersenyum kecut. Nada bisa dibilang saingannya. Mereka selalu saja berada di posisi lima besar secara paralel. Kabar mengenai Nada yang ingin menyainginya pun santer terdengar. Tidak seperti juara paralel lainnya, Nada adalah yang paling mencolok. Dia selalu saja menganggap dirinya setara dengan Bianca. Padahal menurut Bianca, juara dua dan tiga saja tidak seperti Nada. Mereka tampak biasa saja dan tidak pernah berkoar-koar. "Bantuan apa?" tanya Bianca mulai tidak enak. Dia tahu ada maksud terselubung dari ucapan Nada. Nada memelankan suaranya. Dia mendekatkan wajahnya pada Bianca. "Bantu gue dengan cara kasih bocoran konsep yang lo gunakan. Gimana?" tanya Nada dengan santai. Dia tersenyum manis pada Bianca yang menaikkan sebelah alisnya. Bianca ingin membuka mulutnya, tetapi Nada kembali berbicara. Dia berbicara dengan suara yang sangat manis, tetapi berhasil membuat Bianca muak mendengarnya. "Gue yakin konsep yang lo gunakan beda dari yang lain. Nah, untuk mengatasi hal itu, lo enggak boleh sendirian. Lo ajak gue untuk punya konsep yang sama. Jangan berbeda sendiri, Bianca, karena lo akan merasa kesepian!" bisiknya lagi dan langsung langsung menepuk pundak Bianca. Nada tertawa kecil saat melihat wajah Bianca yang terlihat sangat serius. "Jangan dibawa serius gitu, lah. Gue cuma bercanda, kok!" ucap Nada dengan suara jenaka dan langsung berjalan meninggalkan Bianca. Bianca tak membalas apa pun. Dia hanya menatap Nada dengan sebelah matanya, bermaksud merendahkan. Demi apa pun, pagi ini Bianca dihadapkan pada ratu ular yang menyamar menjadi temannya. Meski diakhiri dengan pengakuan bahwa perbincangan mereka sebelumnya hanyalah gurauan, Bianca tidak akan pernah percaya. Nada memang selalu bertingkah manis dan baik di depannya. "Apa pun itu, gue enggak peduli. Akan gue tunjukkan siapa gue yang sebenarnya saat waktunya tiba nanti. Nikmati dulu Bianca yang sekarang dan lo akan tahu akibatnya, Nada!" ucap Bianca dengan datar. Dia melirik Nada sekali lagi dan tersenyum misterius. Setelah itu, pandangan Bianca pun teralihkan pada Jerry. Dia datang dengan membawa tas laptop di tangan kanan dan tas yang digendongnya di pundak. "Mau gue bantu?" tawar Bianca saat melihat Jerry yang kesusahan. Selain kesusahan, Jerry juga terlihat berkeringat. Bajunya sedikit basah. Anehnya, Jerry tampak berjalan memasuki sekolah, tidak menggunakan motor seperti biasanya. Jerry menengok sebentar dan lekas mengangguk. Dia memberikan laptopnya pada Bianca. "Pegang ini dan suruh bawahan lo itu periksa gue secepat mungkin!" ujar Jerry angkuh. Bianca langsung menurutinya. Dia meminta seorang petugas untuk memeriksa Jerry dengan dirinya di sampingnya. Merasa penasaran, Bianca pun menanyakan keberadaan motor Jerry. "Motor lo ke mana? Tumben lo enggak bawa motor," tanya Bianca heran. Jerry mendengus kesal mendengarnya. Keadaannya saat ini terjadi karena motor tidak bergunanya. "Mogok! Makanya gue ke sini jalan! Sial!" jawab Jerry sekaligus memaki. Bianca sedikit terkejut mendengarnya, tetapi dia berhasil menguasai dirinya. Merasa masih penasaran, Bianca pun kembali bertanya. Dia tidak trauma meski Jerry telah berkata kasar padanya. "Kenapa jalan? Lo bisa pesan taksi," tanya Bianca lagi. Jerry ini bodoh atau tidak? Dia kaya raya dan memesan taksi tak akan membuatnya bangkrut begitu saja. Jerry berdehem singkat. Dia membenarkan pakaiannya. "Gue bukan banci! Jalan sedikit ke sekolah enggak masalah!" ketus Jerry dan langsung merebut laptopnya dari Bianca. Kemudian, Jerry pun berjalan cepat meninggalkan Bianca yang sedikit terkejut dengan gerakan tiba-tibanya. "Kalau bukan banci, kenapa ngeluh? Ya, setidaknya gue tahu dia berkorban untuk tugas bersama." Bianca berbicara sendiri pada dirinya. Kemudian, dia memejamkan matanya dan tersenyum dengan terpaksa. "Gue hargai itu." Saat Jerry menghilang dari pandangannya, Bianca tiba-tiba saja teringat sesuatu. "Yah, dia udah hilang lagi!" *** "Ayunda, jangan lupa, ya!" pesan Bianca setengah berteriak pada Ayunda yang berjalan masuk ke sekolah. Ayunda berhenti dan menengok sebentar. Dia mengacungkan jempolnya pertanda tak akan melupakan pesan yang Bianca titipkan padanya. Kemudian, Ayunda pun berlari kecil untuk segera sampai di kelas. Pesan yang Bianca berikan bisa dibilang cukup penting. Ini tidak hanya menyangkut Bianca seorang, tetapi juga dirinya, Karin, dan Jerry sendiri. Yaa, anggap saja sekarang Ayunda memiliki misi yang harus dia tuntaskan. Meski misi itu terbilang mudah, tetapi target dari misi itulah yang susah. Ayunda kemudian menghentikan langkahnya setelah dia sampai di kelas. Langsung saja Ayunda masuk dan menaruh tasnya. Lalu, pandangannya diedarkan untuk mencari Jerry yang menjadi target utamanya. Helaan napas lega terdengar saat Jerry memenuhi pandangannya. Tak ingin membuang waktu, Ayunda berjalan cepat menghampirinya. "Jerr, kata Bianca lo tadi buru-buru pergi aja. Padahal dia mau ngomong sesuatu sama lo," ujar Ayunda saat melihat Jerry yang tengah fokus menatap laptop. Jerry hanya bergumam pelan. Dia malas berbicara pagi ini. Namun, Ayunda tak memahami hal itu. Dia justru mendekati Jerry dan kembali membuka mulutnya. "Jerr, kata Bianca videonya udah jadi belum?" tanya Ayunda menuntut. Jerry menggeram pelan dan langsung menatap tajam gadis di depannya. Sudah Jerry bilang bukan bila Ayunda memiliki jenis yang sama dengan Siska? Ya! Dan inilah salah satu contohnya. Sama-sama suka menuntut jawaban untuk menuntaskan rasa penasaran. "Lo lihat enggak gue lagi apa?" tanya Jerry balik. Dia tampak menahan emosinya pada Ayunda yang selalu saja tak mengerti keadaan. Gadis itu selalu mengatakan apa pun tanpa peduli bahwa Jerry sendiri tengah sangat sibuk saat ini. "Gue cuma tahu lo sedang sibuk dengan laptop, tapi enggak tahu lo lagi ngapain," jawab Ayunda polos. Jerry langsung memukul mejanya pelan. Dia kemudian memberi kode pada Ayunda untuk mendekat dan melihat apa yang sedang ia kerjakan. Jerry terlalu malas menggunakan mulutnya. Toh, ujung-ujungnya Ayunda juga pasti ingin melihat pekerjaannya. Jadi, untuk apa dia membuka suara? "Ouh, lo lagi nyelesein ini? Gue kira lagi ngapain," tanya Ayunda pelan. Dia melirik ke arah Jerry yang tampak sangat enggan menjawab. Merasa tak berguna, Ayunda pun buru-buru memberikan pesan yang Bianca titipkan padanya. Dia tidak ingin berada di dekat laki-laki aneh yang suka berubah-ubah. "Bianca bilang kalau udah jadi, langsung upload aja. Enggak usah nunggu yang lain lagi. Yang penting konsepnya sesuai yang direncanakan," ucap Ayunda tenang. Dia menatap ke arah Jerry yang tampak masa bodoh dengan ucapannya. Namun, Ayunda tahu jika Jerry mendengarnya dengan jelas. Tangan Jerry tergerak ingin mengusir Ayunda, tetapi gadis itu kembali mengeluarkan suaranya. "Nah, lo udah bikin akun untuk post videonya?" tanya Ayunda lagi. Seingatnya semalam mereka belum membicarakan hal ini. Waktu sudah larut malam. Mereka bahkan pulang jam delapan malam dan lanjut mengerjakannya secara jarak jauh. Tentu saja mereka saling melakukan panggilan video. "Udah, enggak usah khawatir."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD