Hello 04 - Biang Masalah

2079 Words
"Gue merasa dipermalukan sama cowok itu! Dengan seenaknya dia nginjek harga diri gue!" tukas Siska tak suka. Siska duduk dengan kasar sembari memukul meja sehingga membuat Tania dan Fenia yang mendengar hal itu pun mendesah malas. Sejak perlawanan dan kata-kata menohok yang murid baru itu keluarkan, Siska masih saja mengungkitnya. Siska merasa tidak terima dengan sikap lelaki itu yang meremehkannya. Jelas saja, satu kelas langsung membicarakannya kendati saat itu ada guru di depan kelas. Mereka membicarakan Siska yang lagi-lagi tak ada harganya kendati dia membela sosok paling berpengaruh di sekolah mereka. Siska yang mendengar bisik-bisik itu pun tentu saja merasa marah dan sedih secara bersamaan. Ada banyak orang yang tidak menyukai kehadirannya. Banyak dari mereka menganggapnya rendah karena selalu berlindung di bawah Bianca. Di saat seperti ini, Siska butuh Bianca. Hanya Biancalah yang bisa menenangkannya. Bianca selalu bisa membesarkan hatinya. Jika dengan Tania dan Fenia, dia hanya akan mendapatkan sikap ketus dan dingin dari kedua gadis kembar itu. Bukannya sembuh, Siska justru akan semakin sakit hati. "Lo aja yang enggak ngotak. Udah gue kasih kode untuk enggak usah ngurusin hal itu. Terserah dia mau duduk di mana. Toh, dia akan pindah lagi nanti kalau Bianca masuk!" balas Fenia ketus. Siska langsung menghela napasnya panjang. Dia menaruh tangannya di dagu. Merasa sumpek dan kesal dengan sikap Fenia. Sudah berapa kali Fenia bersikap seperti ini pada dirinya? Minimalnya, Fenia mendukung Siska. Siska tidak berharap Fenia mengeluarkan kata-kata yang panjang, tetapi berujung menyakitkan. "Mending lo diem aja, deh, kalau enggak mau dukung gue. Sakit hati gue," tukas Siska malas dengan wajah yang masam. Fenia yang mendengar hal itu pun langsung menurutinya meski kesal setengah mati karena Siska menutup haknya untuk berbicara. Dia langsung memanggil pelayan dan memesan makanan untuk mereka. Mereka telah merencanakan menu yang akan mereka nikmati di kantin. Saat sedang menunggu pesanan mereka tiba, Tania tanpa sengaja melihat ke arah parkiran. Di sana terdapat segerombol murid laki-laki yang tengah duduk di atas motor mereka. Tania menyipitkan matanya. Dia berusaha melihat seorang lelaki yang saat ini tengah membuka beberapa kancing bajunya. Tubuh lelaki itu memang masih dilapisi kaos, tetapi membuka seragam sekolah adalah hal yang dilarang. Andai saja Bianca ada di sini, pasti lelaki itu akan habis. "Itu siapa, ya, yang buka seragam?" tanya Tania tanpa sadar. Siska dan Fenia yang saling mendiamkan pun langsung memusatkan perhatiannya pada arah pandang Tania. Mereka nyaris terperanjat dan membulatkan mulut bersamaan karena terkejut. "Gila! Baru satu hari Bianca enggak masuk, tapi udah ada yang melanggar peraturan. Wah, enggak bisa dibiarin, nih!" ucap Siska heboh. Dia berdiri untuk melihat dengan jelas siapa lelaki itu. Namun, tiba-tiba saja pandangannya ditutupi oleh orang lain yang tengah menatap ke arah parkiran. Siska pun langsung berdecak kesal dan memberi gestur agar orang itu menyingkir. "Apa, lo?" tantang orang itu berani. Dia berkacak pinggang karena sejak tadi Siska mengganggu perbincangannya bersama teman-temannya. Siska yang mendapat tantangan seperti itu pun balas berkacak pinggang. Matanya menatap sengit dan tajam pada gadis menor di depannya. "Gue minta lo nyingkir dengan cara baik-baik, tapi lo malah nantangin gue. Gue enggak terima, ya!" balas Siska angkuh. Siska berjalan pelan menuju gadis itu, berniat untuk beradu mulut dengannya. Namun, gadis itu jauh lebih dulu mengeluarkan suaranya. "Lo pikir gue peduli? Gue lagi mantau pangeran hidup gue. Jadi, lo jangan ganggu! Parasit!" umpat gadis itu santai. Dia langsung membalikkan tubuhnya dan menatap heboh pada parkiran. Tempat di mana duduk masalah Siska terjadi. Siska merasa panas mendengar ejekan gadis itu. Dia berniat untuk menarik rambutnya yang terlihat seperti sapu ijuk. Namun, Tania dan Fenia lebih dulu menahannya. Mereka menarik tangan Siska bersamaan sehingga mau tidak mau, Siska pun langsung terduduk di kursi lagi. "Jangan cari masalah lagi, Sis. Enggak ada Bianca saat ini, lo bisa dikeroyok!" ingat Fenia tajam. Siska yang semula ingin protes pun langsung menutup mulutnya. "Tapi gue penasaran sama cowok itu. Berani-beraninya dia ngeremehin aturan Bianca. Gue sebagai sahabatnya ngerasa enggak terima!" dengus Siska kesal. Tania mengangguk paham. "Gue tahu perasaan lo, tapi kita enggak bisa gegabah. Lagian kita bukan OSIS. Enggak ada gunanya kalau kita tegur cowok itu," balas Tania santai membuat Siska membuang wajahnya. Secara tidak langsung, mereka tidak memiliki hak apa pun. Mereka tidak memiliki kekuasaan seperti anggota OSIS. "Ini OSIS enggak ada yang lihat apa, ya? Kayaknya mereka santai banget enggak ada Bianca!" dumel Siska lagi dengan jengkel. Fenia lekas menengok kanan dan kiri. Memastikan kebenaran ucapan Siska. Dapat dia lihat banyak anggota OSIS yang asik berkeliaran. Mereka bahkan menonton aksi pelanggaran lelaki itu. Dari wajahnya, Fenia tahu jika pengurus OSIS di sekolahnya rata-rata bermuka dua. Saat ada Bianca mereka akan menjalankan tugas lebih dari yang seharusnya. Namun saat Bianca tak ada, mereka cuek seakan tak terjadi apa-apa. "Mereka muka dua. Susah ngomong sama muka dua," ujar Fenia sembari menatap tajam anak buah Bianca. Matanya terus memperhatikan tingkah tak beradab rekan Bianca. Andai saja dirinya orang yang anti mencari keributan, mungkin Fenia akan mengajukan protes dengan memberikan bukti-buktinya kepada Bianca. Namun, Fenia merasa dirinya tak bisa bersikap seperti itu. Bagaimana pun OSIS memiliki wewenang tinggi di sekolah mereka. "Nah itu, heran gue kenapa mereka bisa lulus seleksi, sih?" timpal Siska bingung sekaligus kesal. Biasanya sebelum dilantik sebagai anggota OSIS resmi, calon anggota OSIS akan diseleksi terlebih dahulu. Mulai dari minat dan bakat, hingga tujuan dan kesiapan mereka untuk bertanggung jawab. "Kayak enggak biasa aja lo. Mereka pasti pencitraan. Kasihan Bianca, banyak yang khianati dia, tapi dia masih aja baik. Heran gue," tukas Tania sedikit keras hingga membuat beberapa orang menoleh ke arah mereka. Tania memilih untuk tidak peduli. Dia justru menatap cuek pada orang-orang tersebut. Yang dia katakan memang benar, bukan? "Untung Bianca punya temen kayak kita," ucap Siska sendu. Namun, Fenia dan Tania justru menanggapi lain. Mereka menatap Siska seperti kuman. "Bianca punya temen kayak lo itu enggak untung kali. Untung enggak, rugi iya!" sarkas Fenia membuat Siska langsung mengunci mulutnya serapat yang ia bisa. Kalau dia punya buku catatan khusus untuk mencatat kesalahan teman-temannya pada dirinya, pasti nama Fenia paling banyak memenuhi bukunya. *** "Aduh, ini kenapa jadi kelas yang ramai kayak pasar? Tadi kantin, sekarang kelas. Makin aneh aja anak-anak sekolah ini," ucap Siska terkejut saat melihat kelasnya yang sudah dipenuhi orang. Dari luar saja sudah terlihat jika di dalamnya sangat sesak sehingga membuat tiga gadis yang melihat hal itu pun bergidik ngeri. Tidak terbayang jika mereka berada di dalam sana. Pasti tidak bisa bernapas dengan baik. Mau tidak mau, mereka pun harus menunggu di luar hingga bel masuk berbunyi. Hanya dengan bel kerumunan tak tahu sebab itu akan hilang. "Lama-lama gue mual lihatnya. Enggak kayak biasanya," ujar Tania sembari menyentuh hidungnya. Perutnya terasa diaduk-aduk dan sangat tidak enak. Melihatnya saja Tania sudah ingin muntah, apalagi orang yang berada di dalam sana? "Enggak biasanya mereka begini. Biasanya tetep elegan dan terhormat. Kok, sekarang kayak ibu-ibu yang pura-pura miskin lagi serbu sembako, ya?" timpal Fenia sembari melirik saudari kembarnya. Tania mengangguk dengan cepat. Dia setuju dengan pendapat Fenia. Bahkan menurutnya, antrian sembako tidak akan sememuakkan ini. "Derajat mereka turun saat ada di deket cowok itu!" tukas Tania tajam. Dia menatap tidak suka pada kerumunan perempuan centil di kelasnya. "Gue ngerasa jijik sendiri. Enggak banget rasanya ngeliat cewek ngejer cowok," sambung Fenia sembari mendesis tajam. Di kalangan teman-temannya, tak ada yang pernah mengejar pria. Semua pasti dikejar dan tidak mengejar. Mau setampan atau sepintar apa pun laki-laki itu, mereka pantang melakukannya. Mereka perempuan yang enggan mengemis cinta pada laki-laki yang bahkan mungkin hanya ada satu di dunia ini. Harga diri mereka jauh lebih penting dari sekedar menjadi pendamping pria itu. "Gue berharap Bianca cepet masuk. Enggak tahan gue kalau kayak gini terus. Seenggaknya kalau Bianca ada, yang mereka kejer itu jelas manfaatnya. Bianca itu sosok panutan, enggak kayak yang sekarang!" ujar Siska penuh harap. Meski sering merasa kesal dengan Bianca yang selalu membuatnya repot, Siska tetap saja merindukannya. Mereka sangat sering menghabiskan waktu bersama. Menurut Siska, tak ada yang bisa mengalahkan Bianca. Mau sebanyak apa pun murid cantik atau tampan di sekolah ini, tak ada yang bisa menandingi Bianca. Selain dikenal karena kepintarannya, Bianca pun dikenal sebagai sosok yang baik dan menginspirasi. Ada banyak murid yang hidupnya menjadi lebih baik setelah mengenal Bianca. Mereka mengatakan jika Biancalah yang membantu mereka berubah dan keluar dari masalah. "Gue yakin cowok itu enggak akan bisa bertahan lama menggeser posisi Bianca!" ujar Tania yakin. Tak lama setelah itu, bel masuk pun berbunyi dan membuat semua murid bergegas kembali ke kelasnya. Tak terkecuali dengan tiga orang gadis yang berstatus sahabat Bianca itu. Mereka memasuki kelas dengan helaan napas yang lega. Walau bau di kelas sedikit bercampur aduk, tetapi tak masalah. Yang terpenting mereka sudah tidak terkena panas matahari lagi. Saat akan duduk, Siska menatap pada murid baru yang tengah membelakanginya. Matanya menatap tajam karena merasa tidak ada yang patut dibanggakan dari lelaki. Namun, matanya tiba-tiba saja melotot saat murid itu membalikkan badannya. Bagaimana tidak, murid itu melepas seragamnya! "Ouh, Ya Tuhan! Ternyata kamu biang keroknya!" teriak Siska terkejut membuat Fenia dan Tania lekas membalikkan badannya. Mata mereka pun sama seperti Siska, membesar karena merasa tak percaya. Bisa-bisanya murid baru itu melanggar aturan di hari pertama dia bersekolah. "Berani banget, lo! Dasar enggak punya otak! Lo tahu aturan enggak? Dilarang membuka seragam sekolah saat di sekolah!" tekan Siska tajam sekaligus menghina. Siska menatap sengit pada laki-laki di depannya. Perilaku seperti itu sama dengan menghina Bianca terang-terangan di depannya. Laki-laki itu menaikkan sebelah alisnya. Dia menatap wajah gadis di depannya dengan datar dan bosan. "Lo lagi," ujarnya lelah sekaligus malas. Nada bicaranya terkesan santai, tetapi meremehkan. Siska yang mendengar hal itu pun semakin meradang. Dia akan menjadi pembela Bianca nomor satu! "Iya. Gue lagi, kenapa? Masalah, lo?" tantang Siska berani. Dia menegakkan tubuhnya agar terlihat gagah dan pantang menyerah di hadapan murid menyebalkan itu. "Iya, gue masalah. Baru satu hari gue di sini, udah bosen melihat muka lo. Selain itu, lo juga selalu mempermasalahkan hal yang sama. Lo selalu bawa nama Bianca. Nama yang sama sekali enggak ada hubungannya dengan lo," jawabnya heran dengan alis yang berkerut. Tangannya terasa sangat gatal ingin memukul gadis tidak tahu sopan santun di depannya. Namun, dia sadar lawannya tidaklah sebanding. Siska berkacak pinggang. Tidak ada hubungannya? Hei! Penunggu kelas ini pun tahu jika dia sahabat sejati Bianca! "Gue sahabat Bianca. Jadi, apa pun yang menyangkut Bianca juga akan jadi urusan gue. Termasuk lo yang dengan seenaknya melanggar aturan yang Bianca pertahankan susah payah!" jelas Siska angkuh. Tangannya menunjuk wajah lelaki itu dengan sangar. Seolah dirinya adalah penguasa. Laki-laki itu pun hanya menghela napas. Dia menggaruk kepalanya yang terasa gatal. "Gue enggak peduli. Ini hidup gue dan bukan urusan lo. Lagian kenapa lo yang ngurusin? Lo bahkan bukan anggota OSIS!" ejek lelaki itu membut wajah Siska memerah. Siska mengepalkan tangannya kuat. Lagi dan lagi dia mendapat penghinaan. Jauh lebih memalukan dari sebelumnya. Mata Siska kemudian melirik sekeliling, di mana semua orang memandangnya rendah. Siska segera menunduk merasa malu. Namun, rangkulan Fenia dan Tania berhasil membuatnya mengangkat kepalanya lagi. "Orang bijak enggak perlu jabatan untuk membela kebenaran. Nah, kalau manusia bermuka dua, pasti perlu jabatan untuk membela hal yang salah!" balas Fenia telak dan langsung mengajak Siska untuk berbalik. Siska menurut dengan wajah yang sedikit muram. Meski dia sakit hati karena dihina, tetapi Siska senang atas pembelaan Fenia untuk dirinya. *** "Bianca, lo harus cepat masuk! Keadaan sekolah sekarang berantakan! Banyak dari anggota OSIS lo yang mukanya lebih dari dua!" adu Siska dengan nada yang kesal. Dia melirik Bianca yang tertawa di dalam layar. Saat ini, mereka tengah melakukan panggilan video dengan Bianca. "Gue tahu dan gue akan menegur mereka dengan cara gue sendiri!" balas Bianca di seberang sana. Wajahnya masih terlihat santai tanpa ada api kemarahan sedikit pun. "Dan biang dari itu semua adalah murid baru yang—" "Sok kegantengan itu. Sok pinter, sok tahu, dan sok seleb lebih dari pada lo, Bianca!" potong Siska emosi dengan suara yang menggebu-gebu membuat Tania mengernyit tidak suka. Sementara Bianca mengerutkan alisnya. Dia fokus pada ucapan Tania yang terpotong. "Tunggu, murid baru? Maksud kalian ada murid baru di sekolah kita?" tanya Bianca bingung. Wajahnya yang semula ceria mendadak berubah. Fenia menjawab dengan lancar. "Iya, ada. Di kelas kita lagi. Makanya tadi Siska bertengkar sama cowok itu karena berani ngeremehin lo." Mendengar jawaban temannya, Bianca pun langsung terpaku. Kenapa dia tidak mengetahui hal ini? Hei, grup OSIS-nya bahkan sepi. Padahal biasanya grupnya akan ramai dengan obrolan, tetapi sekarang tidak. Mereka bahkan tidak memberitahu Bianca mengenai apa pun. "Pokoknya lo harus masuk dan lo lihat sendiri kesombongan cowok itu. Cuma lo yang enggak bisa dia tanding!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD