Hello 05 - Merebut Tempat?

2228 Words
"Bianca udah masuk!" pekik Siska senang saat melihat Bianca yang tengah berdiri di depan pintu masuk. Dia melambaikan tangan dengan heboh pada Bianca. Bianca yang mendengar suara Siska pun menengok dan langsung membalas lambaian tangan Siska. Dia tersenyum senang karena kehadirannya disambut antusias oleh Siska. Mobil yang Siska tumpangi kemudian berhenti. Siska dengan cepat turun dari mobil tanpa mempedulikan Fenia dan Tania yang mendengus bingung melihatnya. "Si enggak tahu diri itu, enak aja turun tanpa bilang makasih," dengus Fenia sembari melirik Tania yang mengedikkan bahunya. Tania tidak terlalu mempermasalahkan hal itu karena memang sudah menjadi kebiasaan Siska. Selagi Siska tidak mengganggu ketenangan hidupnya dan tidak membuat masalah, dia tidak akan memprotes Siska. Siska berjalan cepat menghampiri Bianca. "Gue kangen banget sama lo!" ujar Siska sembari memeluk Bianca erat. Bianca yang diperlakukan seperti itu pun tertawa lucu. Siska memang tidak pernah segan atau malu bertingkah aneh jika bersamanya. Padahal di sini ada anggota OSIS yang lain, tetapi Siska biasa saja. "Gue cuma izin sebentar dan lo udah sekangen ini?" tanya Bianca tak percaya. Siska mengangguk dengan polos. Dia dan Bianca seperti saudara yang lengket ke mana saja. "Iya. Soalnya kalau enggak ada lo itu gue selalu aja makan hati sama Fenia," adu Siska sedih membuat Bianca kembali tertawa. Bianca tahu di sini yang salah adalah Siska. Namun, Siska tak ingin disalahkan. Fenia yang berada di belakang Siska pun bergegas menjitak kepala temannya. Dia menatap garang Siska yang mengarang cerita. "Kalau lo enggak buat ulah, enggak akan gue marah-marah. Gila," maki Fenia pedas membuat Siska mengaduh dan bersembunyi di belakang Bianca. Dari kejauhan, Tania menghela napasnya. Dia bergegas mendekati sahabatnya. Kemudian, dia menarik Fenia dan Siska agar segera masuk ke kelas. Kalau dibiarkan, tidak akan pernah selesai dan kasihan Bianca. "Udah, jangan ribut terus. Sekarang kita baris, cek kelengkapan dan masuk ke kelas. Bianca lagi jaga di sini, jangan diganggu!" tegur Tania sembari berbaris di belakang Fenia. Mendengar teguran temannya, Siska pun memilih menurut. Dia tidak ingin menghambat pekerjaan Bianca. OSIS biasanya akan berjaga setiap hari di depan pintu masuk. Mereka mengecek kelengkapan siswa. Bianca memberi acungan jempol kepada Tania yang menengok sekilas dan tersenyum padanya. Dia merasa terbantu. "Terima kasih," ujar seorang petugas sembari tersenyum ramah pada Siska. Siska tak menanggapi hal itu. Dia justru memincingkan mata saat melihat gadis di depannya. Gadis itu adalah gadis yang menantangnya. Dalam hati Siska mencibir. Orang-orang mulai mencari muka lagi pada Bianca. Mereka benar-benar busuk sehingga berani berakting di depannya. Wajahnya terlihat tak bersalah kendati dia pernah bertengkar dengan sahabat Bianca. "Pencitraan," bisik Siska sebelum berlalu. Fenia yang berada di belakang pun tersenyum sinis. Dia mendengar bisikan Siska dan merasa senang atas perubahan wajah gadis itu. Gadis itu langsung melirik Bianca yang tengah berbincang dengan temannya. Sementara itu, Tania memilih untuk diam. Dia hanya melirik sinis dan ketus pada orang yang berani mencari masalah dengan mereka. Setelah ketiga sahabatnya masuk ke dalam, Bianca pun fokus pada pekerjaannya. Dia menghentikan satu persatu orang yang masuk dan memeriksanya. Jika mereka aman, baru diberi izin untuk masuk. Namun bagi yang melanggar, namanya akan dicatat dan diberi hukuman. Siska masuk ke kelas dengan hati riang gembira. Dia membuka pintu dengan semangat dan langsung berlari kecil menuju bangkunya. "Ah, akhirnya Bianca masuk juga!" pekiknya senang sembari merentangkan tangan. Tania tertawa kecil, tetapi Fenia memutar matanya malas. "Biasa aja kali," tukas Fenia sinis. Siska mengedipkan bahunya sembari berkata, "Suka-suka gue. Lo enggak tahu sebahagia apa gue hari ini!" Dua puluh menit sebelum pelajaran dimulai. Bianca memerintahkan anggotanya untuk kembali ke kelas masing-masing, sementara dia akan mengurus sisanya. Dia berbicara dengan satpam agar tak mengizinkan orang yang terlambat masuk kelas begitu saja sebelum mendapat surat keterangan masuk bagi yang terlambat. Saat Bianca ingin pergi, sebuah motor tiba-tiba saja berhenti di depan pagar sekolah yang telah ditutup. Bianca menghela napasnya pelan karena dia mungkin akan sedikit terlambat masuk ke kelas dan melewatkan jam literasinya. Satpam itu pun membuka pintunya dan memanggil Bianca. Bianca langsung berjalan mendekat. Dia menatap seorang lelaki yang tampak asing di matanya. "Bisa turun sebentar?" tanya Bianca sopan. Dia berusaha menatap wajah lelaki itu, tetapi tertutup dengan helm. Lelaki itu tak menjawab. Dia justru menjalankan motornya begitu saja melewati Bianca. Bianca tentu saja refleks berlari. Dia mencegah motor itu untuk masuk ke dalam area sekolah. "Tunggu, orang yang terlambat tidak boleh masuk sebelum dapat surat keterangan terlambat! Kamu harus meminta suratnya terlebih dahulu!" cegah Bianca sembari menyentuh tangan pemuda itu yang tertutup jaket. Mau tidak mau, pemuda itu pun berhenti dan langsung membuka kaca helm yang dia pakai. "Gue mau masuk!" ujarnya memaksa dengan mata yang datar. Bianca menggeleng pelan. "Harus ada surat dulu, baru bisa masuk. Lagipula kamu belum diperiksa untuk memasuki area sekolah!" jelas Bianca tenang. Dia kemudian mengajukan negosiasi agar pemuda itu mau turun dari motornya. Setelah pemuda itu turun, Bianca pun lekas memeriksanya. Dia kemudian menjelaskan beberapa hal saat dirasa ada yang salah dengan pemuda itu. "Lain kali dasi dipakai, ya. Jangan disimpan di tas. Baju juga harus terkancing, jangan dibuka lebih dari satu kancing. Besok-besok jangan diulangi lagi, ya!" nasihat Bianca sembari mencatat beberapa kekurangan pemuda itu. Dia berbicara sembari menulis tanpa menyadari tatapan jengah dari pemuda di depannya. "Jangan terlambat juga. Kamu lupa kalau waktu minimal untuk masuk adalah setengah jam sebelum jam pelajaran dimulai?" tanya Bianca heran. Dia menutup pulpen dan bukunya. Kemudian, Bianca menatap wajah pemuda di depannya yang mengernyitkan matanya. Dia menanti jawaban dari pemuda itu yang terlihat sangat malas meladeninya. "Gue enggak tahu, bukan lupa!" jawabnya singkat membuat Bianca kebingungan. Jawaban pemuda ini seakan menunjukkan jika dia tidak tahu apa pun mengenai peraturan sekolah mereka. Tiba-tiba saja, Bianca teringat dengan ucapan Siska. Apa pemuda ini yang Siska maksud? Tetapi pemuda ini tampak lebih menyebalkan dari yang Siska gambarkan. Dia membuat waktu Bianca terbuang begitu saja. Untuk memastikan hal tersebut, Bianca pun mengajukan pertanyaan lagi. "Kamu murid baru?" tanya Bianca sedikit ragu, tetapi anggukan langsung dia dapati. Yah, ternyata memang benar ini orangnya. "Lo tahu?" tanyanya sedikit angkuh. Dia bersedekap d**a dan menatap Bianca yang kini menatapnya dengan sebelah alis yang terangkat. "Ya, semua orang membicarakanmu!" jawab Bianca singkat, tetapi berhasil membuat pemuda itu menampilkan senyuman mautnya di balik helm. "Termasuk lo?" tanyanya dengan santai membuat Bianca langsung kebingungan. Belum sempat Bianca membalas, pemuda itu tiba-tiba saja menaiki motornya dan menjalankannya tanpa mempedulikan Bianca yang berteriak padanya. "Hei! Suratnya jangan lupa!" teriak Bianca kencang. Pemuda itu sama sekali tak menjawab meski motornya telah berhenti. Dia justru mengacungkan jari tengahnya pada Bianca yang terkejut melihatnya. Bianca refleks membulatkan matanya. Dia merasa kaget saat ada orang yang berani berbuat hal sekasar seperti itu pada dirinya. Mengacungkan jari tengah sama saja memulai peperangan. Tak lama dari itu, Bianca pun memilih untuk berbalik. Dia tidak mau menatap pemuda itu terlalu lama. "Kalau aku enggak salah ingat, murid baru itu di kelasku, bukan? Jadi, dia—" "Ya ampun, pantas Siska bersikap seperti itu!" gumam Bianca pada dirinya sendiri. Kepalanya menggeleng tak percaya saat menemukan jawaban. pemuda itu satu kelas dengannya karena hanya dia saja yang terlihat asing di matanya. Kemudian, Bianca pun berjalan cepat menuju kelasnya. Dia tidak ingin terlambat pada jam pertama. Sudah cukup siang nanti dia mengikuti ujian susulan. Saat berada di ambang kelas, Bianca tak menemui kehadiran pemuda itu. Kelasnya terisi dengan orang-orang yang dia kenal. Mereka tengah sibuk bercengkrama sekarang karena jam literasi baru berakhir. Hal itu tentu saja membuat Bianca keheranan. Pemuda itu lebih dulu pergi dibanding dirinya. Namun, dia belum ada di sini. Lantas ke mana pemuda itu sekarang? Apa murid baru itu tersesat karena belum hafal jalan menuju kelas? Atau dia yang salah dalam menafsirkan jika pemuda itulah yang Siska maksud. "Dia ke mana? Kok, enggak ada? Seharusnya dia udah duduk di kelas. Kalau dia enggak ada di sini, dia ke mana? Masa iya dia hantu," ucap Bianca dengan bulu kuduk yang mulai berdiri. "Atau aku salah dengar penjelasan Siska kemarin, ya? Ah, kayaknya enggak mungkin. Aku dengar jelas, kok!" elak Bianca bingung dengan kaki yang melangkah pelan memasuki kelas. Dia yakin pendengarannya normal Dia berjalan sembari melihat seisi kelas. Mungkin saja matanya yang bekerja tidak maksimal. Namun, tetap saja. Dia sama sekali tak mendapati batang hidung pemuda itu. "Kamu harus berpikir positif. Mungkin dia bukan di kelas ini. Bisa aja dia murid baru di kelas lain, kan?" ujar Bianca berusaha menghentikan rasa penasarannya. "Ya, bisa jadi." Bianca menjawab pertanyaannya sendiri guna menghentikan rasa penasarannya. Namun, tak berhasil sama sekali. Dia tidak ingin terlalu peduli pada orang yang jelas-jelas mengacungkan jari tengah padanya. Menurut Bianca, itu bukanlah urusannya. Namun, dia juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri jika dia penasaran. Cerita Siska yang terdengar berapi-api membuat Bianca terbawa suasana. Dia jadi ingin tahu hingga ke akar penyebab Siska begitu marah. Siska yang tengah menyanyi kecil pun langsung menengok saat mendengar suara pintu dibuka. "Bianca! Kok, lo lama, sih? Ngapain aja?" tanya Siska dengan heboh. Tangannya menunjuk Bianca dengan pulpen dan matanya menyipit penasaran. Bianca memajukan sedikit bibirnya dan lekas mempercepat langkahnya. "Tadi ada yang terlambat, jadi gue harus urus dia dulu, deh!" jawab Bianca sambil melirik si kembar yang sibuk dengan dunianya. "Lo enggak usah heran, mereka emang begitu. Makanya gue kesepian banget kalau lo enggak ada, Bianca!" ujar Siska saat menyadari tatapan Bianca. Siska menatap malas pada Fenia dan Tania yang asik dengan ponsel mereka. Mereka bahkan tak menyadari kehadiran Bianca sepertinya. Namun, suara Siska seharusnya sudah cukup memberi sinyal pada mereka. "Lagi apa?" tanya Bianca penasaran. Siska merasakan tak suka karena Bianca mengabaikannya. "Gue yang nungguin lo, tapi mereka yang ditanyain. Aneh," sindir Siska tajam membuat Bianca menghela napasnya lelah. "Yang pegang ponsel mereka, jadi gue tanya mereka. Bisa aja mereka lagi belanja barang yang mau kita beli waktu itu, kan? Inget enggak kalau kita pengen pakai sepatu yang sama buat ke sekolah?" tanya Bianca balik. Siska berpikir sebentar dan langsung tersenyum lebar setelahnya. Ah, iya! Dia ingat jika mereka berjanji akan membeli sepatu yang sama. "Lo emang selalu buruk pikirannya kalau sama gue," sarkas Fenia sambil menaruh ponselnya. "Udah kayak musuh aja," tambah Fenia yang menatap Bianca dengan datar. Siska yang mendengarkan hal itu pun menggeleng tidak terima. Dia tidak bermaksud seperti itu! "Jangan nuduh, lo! Gini-gini gue temen yang setia. Lo minta gue jaga di depan toilet juga gue turuti. Seharusnya gue yang ngomong gitu ke lo. Lo ini yang selalu sinis sama gue. Salah gue apa, sih?" tanya Siska dengan marah. Dia merasa Fenia selalu menghilangkan kebaikannya. Fenia yang mendengar hal itu pun langsung membuang wajah dan membalas ucapan Siska. "Lo juga enggak tahu diri. Sering gue bantu, tapi musuhin gue," ucap Fenia santai dengan alis yang terangkat sebelah. Siska yang mendengar hal itu semakin marah dan ingin menarik rambut Fenia, tetapi sebuah suara menginterupsi mereka. "Kayaknya dari awal gue enggak usah masuk. Mending gue di atap sekolah aja. Sayang banget pilihan gue salah. Gue justru turun dan sekarang dikasih tanggung jawab untuk ngawasin seisi kelas!" ucap seseorang yang sedang bersandar di pintu. Bianca yang tengah sibuk dengan temannya pun langsung membalikkan badannya. Matanya terpusat pada seorang pemuda yang saat ini menjadi pintu sebagai sandarannya. Wajahnya tampak ditekuk dengan aura yang sedikit menyeramkan. "Gue berharap lo enggak masuk, hama!" desis Siska sinis sambil menatap geram pada murid baru tak tahu diri itu. Pemuda itu hanya mengedikkan bahunya dan berjalan ke tengah kelas. Dia duduk di kursi guru dan memutarnya. Sontak saja hal itu membuat semua orang kaget dan tak percaya dengan perbuatannya. Bianca adalah orang yang pertama kali menegurnya. "Jangan duduk di situ, nanti bu Nindy datang. Kita bisa dihukum satu kelas," ujar Bianca memperingatkan. Bianca melirik ke arah luar, takut bu Nindy sudah sampai di luar kelasnya. Namun, masih terlihat sepi. Bianca bisa sedikit bernapas lega. Pemuda itu menaikkan sebelah alisnya. "Lo denger enggak apa yang gue ucapin tadi? Kalau lo denger, gue yakin lo enggak akan melarang gue untuk duduk di sini," tanyanya dengan cuek. Wajah Bianca langsung bertanya-tanya. Dia menengok ke arah teman-temannya untuk meminta jawaban. Namun, mereka pun tidak mengetahuinya. Sepertinya mereka tidak sadar karena terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. "Aduh, apa, ya?" tanya Siska grogi saat melihat Bianca yang dipojokkan oleh musuh barunya. Melihat kebingungan Bianca dan teman-temannya, pemuda itu pun menghela napas panjang. "Gue kira kalian denger, tapi rupanya enggak. "Karena gue baik, gue akan ulangi lagi. Tapi setelah itu enggak ada pengulangan sama sekali!" putusnya saat melihat wajah bingung teman sekelasnya. Semua orang mengangguk setuju. Begitu pula dengan Siska yang mengangguk pelan. Meski kesal, Siska tetap tak ingin mengganggu proses belajarnya. "Bu Nindy enggak masuk hari ini dan tanggung jawab untuk menjaga kelas selama pelajarannya berlangsung ada pada gue. Jadi, gue yang akan mengawasi kalian sampai jam pelajaran berakhir!" tukasnya santai membuat Siska naik pitam. Siska lekas berdiri dan mendekati pemuda itu. "Berani-beraninya lo rebut tempat Bianca! Bianca itu ketua kelasnya dan seharusnya dia yang—" "Gue enggak bermaksud merebut tempat teman lo itu. Kalau bukan gue yang ditemui bu Nindy tadi, pasti temen lo itu yang dapat perintahnya!" potongnya tajam. Dia melirik ke arah Bianca yang terpaku mendengar ucapannya. Mata tajamnya sama sekali tak menghiraukan Siska yang berada di depannya dalam emosi meledak-ledak. Perlahan kaki panjangnya berjalan dan mendekati Bianca. Dia terus saja menatap wajah Bianca yang terlihat berbeda. Tidak seperti awal dia masuk kelas. Wajah gadis itu sedikit keras? Entahlah, dia sendiri tidak pandai mendeskripsikan wajah seseorang. Namun, dia tahu jika gadis di depannya dalam emosi yang tidak stabil. "Gue dikasih perintah dan gue patuhi. Gue harap lo mau mengerti, Bianca."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD