Hello 06 - Pertengkaran

2384 Words
"Bianca, lo enggak pulang?" tanya Siska sembari memperhatikan Bianca yang tengah membuka bukunya. Saat ini, kelas sudah mulai sepi dan hanya tersisa mereka berdua karena Fenia dan Tania pulang lebih dulu. Bianca menengok sekilas dan langsung fokus pada bukunya lagi. Namun, dia tetap menjawab pertanyaan Siska. "Gue mau susulan, Sis. Gue, kan, sempat ketinggalan ulangan dan susulannya hari ini katanya," jawab Bianca pelan. Bianca terlihat sangat fokus membaca catatan miliknya, tanpa menghiraukan Siska yang mulai khawatir akan keadaannya. "Lo enggak capek? Lo baru aja masuk dan mau langsung susulan? Saran gue lo lakuin lain hari aja. Pasti bisa, kan?" tanya Siska cemas. Karena ketidakhadirannya, Bianca pun tertinggal banyak pelajaran. Mau tidak mau, Bianca meminta catatan pada teman-temannya untuk dia tulis di bukunya. Selama waktu istirahat, Bianca sama sekali tidak pergi ke kantin. Dia sibuk mencatat materi agar tidak tertinggal dari teman-temannya. Bianca menutup bukunya sejenak. Dia langsung menatap Siska dengan tenang. "Sebenarnya bisa. Tapi gue enggak mau menunda-nunda. Lebih baik gue kerjakan sekarang biar gue bisa belajar dengan tenang untuk ke depannya. Gue enggak mau ada nilai gue yang bermasalah," jawab Bianca. Siska memutar bola matanya malas saat mendengar kalimat terakhir sahabatnya. Nilai yang bermasalah? Apakah seorang Bianca pernah mengalaminya? Siska rasa tidak. Bianca tidak pernah memiliki masalah dengan nilai. Otaknya cerdas dan daya tangkapnya kuat serta cepat. Jadi, apa yang perlu dikhawatirkan selain Bianca terlalu memaksakan dirinya? Siska yakin meski turun satu nilai, tak akan membuat posisi Bianca tergeser begitu saja. "Lo udah pinter, kenapa masih mikirin nilai, sih? Lo itu harusnya mikirin diri lo sendiri," tanya Siska setengah jengkel. Memang bagus memiliki teman yang rajin, tetapi jika seperti Bianca, Siska lelah sendiri melihatnya. Dia tahu betul bagaimana Bianca berjuang mempertahankan posisinya. Menurut Siska, Bianca bisa saja mendapat nilai sempurna meski hanya satu kali belajar. "Nilai itu sebagian dari diri gue. Kalau gue enggak dapat nilai yang sempurna, hidup gue pun enggak akan bahagia," tukas Bianca sembari melirik Siska yang kebingungan. Siska tidak mengerti kenapa Bianca bisa berbicara seperti itu mengenai nilainya. Siska pikir nilai tidak sepenting itu baginya atau bagi Bianca. Mereka bisa tetap bahagia walau nilai tak sempurna. Kebahagiaan tidak dapat diukur dengan seberapa besar nilai yang didapat. "Omongan lo serem. Gue jadi takut," celetuk Siska dengan tubuh yang mulai merinding. Bianca tersenyum misterius mendengarnya hingga membuat Siska semakin takut. Namun, hal itu tidak bertahan lama. Pintu kelas mereka tiba-tiba saja dibuka dengan kencang. Atau lebih tepatnya, ditendang oleh seseorang dari luar. Sontak saja Bianca dan Siska langsung mengalihkan pandangan mereka. Mata mereka menatap bingung pada pemuda yang kini membawa gitar di tangannya. Tanpa sepatah kata pun, pemuda itu pun langsung duduk di kursinya. Tak ada kata maaf dari mulutnya yang keluar meski sudah membuat gaduh. Karena hal itu, wajah Siska langsung berubah masam. "Dasar enggak tahu sopan santun. Masuk main nyelonong aja, berisik pula! Lo ganggu Bianca yang lagi belajar!" sindir Siska tanpa melihat pada sang pelaku. Dia malas melihat wajah orang yang telah membuat Bianca tersingkirkan sekejap. Sang pelaku rupanya mendengar ucapan Siska. Dia lekas menaruh gitarnya dengan kasar dan justru menatap Bianca yang terdiam melihat sikap Siska. "Temen lo itu yang enggak punya sopan santun. Semenjak gue di sini, enggak pernah sedetik pun gue tenang. Dan akar permasalahannya adalah lo," ujarnya sarkas pada Bianca. Bianca yang mendengar hal itu pun mengernyitkan alisnya tajam. Dia merasa tak pernah membuat masalah pada pemuda ini. Lalu kenapa dia bisa menjadi akar permasalahan? Mereka bahkan baru bertemu hari ini. Kalau yang dimaksud dengannya adalah kejadian pagi tadi, Bianca tak akan mengelak. Itu sudah tugasnya sebagai ketua OSIS. "Maaf, kenapa lo bawa-bawa gue? Gue salah apa? Kalau lo mau bahas kejadian pagi tadi, lo harus tau kalau itu adalah kewajiban gue!" ujar Bianca tak terima, tetapi dia tetap menggunakan kelembutannya. Dia berusaha mempertahankan sikap elegannya. Lelaki di depannya benar-benar bermulut pedas. Wajah dan sikapnya memang dingin, tapi mulutnya sepedas cabai rawit. Bianca tidak menyangka jika ada lelaki sejenis itu di kelasnya saat ini. "Gue enggak bahas kejadian pagi tadi. Gue sedang bahas lo yang selalu aja jadi bahan keributan di kelas ini!" tegasnya sembari berjalan mendekati Bianca. Bianca tak melepas arah pandangnya sama sekali. Dia justru mengikuti pergerakan lelaki itu. Siska pun sama, dia memasang sikap waspadanya. Takut jika Bianca menjadi sasaran kekerasan. "Karena lo, gue selalu ribut sama nih cewek. Dia selalu nyebutin nama lo atas apa pun yang gue perbuat. Dia selalu bela-bela lo di saat yang lain diam. Dia selalu menuduh gue merebut milik lo!" tudingnya sembari mengetuk meja Bianca. Matanya melirik ke arah Siska yang mulai ketakutan. Siska merasa sirkulasi udara di ruangan ini berbeda dari sebelumnya. Dia merasa sesak. Matanya dengan takut melihat pada Bianca. Tak disangka, rahang Bianca mengeras. Hal itu jelas saja membuat Siska nyaris terperanjat. Dia tidak pernah melihat hal ini sebelumnya. Ada sebuah emosi yang tak bisa digambarkan terdapat di wajah Bianca. "Sis, lebih baik lo pulang sekarang. Kondisi di sini udah enggak baik!" titah Bianca pada Siska yang kebingungan. Siska merasa ini bukanlah waktunya untuk mundur. Dia harus melawan murid baru kurang ajar seperti Jerry. Jerry telah membuat Bianca berada di puncak emosi. Siska menggeleng sebagai penolakan. Dia justru memberikan masukan pada Bianca. "Yang seharusnya pulang di sini bukan gue, tapi dia. Dia enggak ada kepentingan di sini, kenapa belum pulang?" desak Siska penuh curiga pada Jerry. Matanya memincing menunggu jawaban dari Jerry. "Salah! Gue memang seharusnya ada di sini karena gue pun akan susulan. Lo lupa kalau gue enggak ikut ulangan karena baru masuk waktu itu?" tanya Jerry telak. Siska langsung terpaku di tempatnya. Dia baru ingat jika Jerry tak ikut ulangan karena dia belum mempersiapkan dirinya. Selain itu, Jerry juga masih sibuk mengurus perpindahan sekolahnya. Bodoh! Siska mempermalukan dirinya sendiri sekarang! "Kenapa diem? Lo salah?" tanya Jerry menantang. Dia melipat tangannya di d**a dan tersenyum dingin melihat Siska yang kalah berdebat dengannya. Lama tak ada jawaban, Jerry pun beralih pada Bianca. "Lihat, sahabat lo yang biasanya banyak mulut ini sekarang diem." Jerry menunjuk Siska yang mengepalkan tangan. "Seharusnya dia bersikap seperti itu juga sama gue. Dia enggak boleh berbicara seenaknya sama gue atau dia tanpa sadar ngejatuhin lo sebagai sahabatnya," saran Jerry miris. Jerry menatap Siska dengan mencemooh sehingga membuat Bianca yang melihatnya pun tak terima. Raut wajah Siska sangat bercampur aduk sekarang. Siska tidak bisa berada di sini lebih lama! "Sis, pokoknya lo pulang sekarang!" tegas Bianca, tetapi Siska menolaknya. Dia justru memalingkan wajah. Di saat Bianca sedang dicerca habis-habisan, dia harus pulang? Tidak bisa. Siska akan membantu Bianca bagaimana pun keadaannya. "Kalau lo enggak mau pulang sendiri, gue akan ikut pulang sama lo. Lo pilih mana?" tawar Bianca memaksa. Dia sudah membawa tasnya dan tas Siska. Bianca langsung berjalan keluar kelas setelahnya. Siska yang panik melihat hal itu dan dengan cepat menarik Bianca. Dia ingat jika Bianca harus susulan hari ini. Jika Bianca pulang dengannya, itu berarti Bianca meninggalkan ulangannya begitu saja. Tidak, ini tidak boleh dibiarkan. Siska tidak boleh egois. "Jangan! Lo harus susulan, kan? Gue enggak mau jadi egois cuma karena laki-laki gila ini!" cegah Siska. Siska lekas membawa tasnya dan keluar dari kelas. Sampai di depan pintu, Siska berbalik dan menatap Bianca dengan khawatir. "Gue enggak pulang, tapi gue akan tunggu di kantin. Lo bisa cari gue kalau butuh sesuatu atau lo udah selesai susulan. Seenggaknya gue harus pastiin kalau lo selamat sampai keluar dari sekolah," pesan Siska dan langsung meninggalkan Bianca dengan langkah yang gontai. Bianca mengucapkan terima kasih di dalam hatinya. Siska memang tulus dan baik, tetapi Bianca tidak bisa membiarkan Siska menjadi sasaran Jerry. Siska yang penuh emosi tidak setara dengan Jerry yang pandai mengendalikan suasana. Setelah pintu tertutup rapat, Bianca pun berbalik menatap Jerry. "Gue enggak mau membuat masalah apa pun sama lo. Tapi tolong jangan bawa Sis—" "Tolong lo bilang? Seharusnya gue yang mengatakan hal itu. Temen lo itu selalu merusak suasana. Gue ini baru di sini, tapi gue diperlakukan buruk. Mana kualitas sekolah lo yang katanya bagus ini?" potong Jerry sarkas. Jerry mempertanyakan kualitas sekolahnya yang baru. Dia merasa dirinya dirugikan semenjak berada di sini. Dia pindah sekolah karena ingin mencari yang lebih baik, tetapi menurutnya sama saja. Bahkan lebih buruk dari sebelumnya. Jerry tak suka dituduh dengan tuduhan yang bahkan tidak pernah dia niat lakukan sebelumnya. Dia hanya ingin bersekolah dengan tenang dan tetap menjalani hal-hal yang ia suka. Apa itu salah? Bianca memejamkan matanya. Dia merasa kepalanya sakit saat Jerry mempertanyakan sekolah mereka. Sebagai ketua OSIS, Bianca memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga nama baik sekolah. Bianca menarik napasnya panjang dan menghembuskannya perlahan-lahan. "Gue minta maaf atas nama Siska dan diri gue sendiri. Maaf karena lo merasa terganggu. Gue yakin Siska enggak bermaksud buruk sama lo. Dia cuma enggak mau ka—" "Terserah. Gue udah terlanjur emosi. Gue harap untuk ke depannya, teman lo itu enggak mendatangkan masalah lagi untuk gue!" potong Jerry cepat. Kemudian, Jerry pun langsung beralih ke bangkunya. Dia kembali sibuk dengan gitarnya hingga meninggalkan Bianca yang dilanda keheningan. Bianca sebenarnya emosi dengan tingkah laku Jerry yang sesuka hati, tetapi dia juga tidak bisa membiarkan emosinya lepas begitu saja. Emosinya akan membawa masalah yang lebih besar. Bahkan bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk sekolahnya juga. Jerry tidak berasal dari keluarga biasa dan Bianca tidak ingin Jerry menilai buruk sekolahnya. Tidak ingin pikirannya terbebani, Bianca pun memilih untuk kembali belajar. Beberapa saat kemudian. Bianca mendapat kabar dari gurunya bahwa mereka akan melaksanakan susulan di ruang guru. Mengetahui hal itu, Bianca pun mengajak Jerry untuk segera ke sana. "Jerry, kita susulan di ruang guru," ujar Bianca memberitahu dengan suara yang tenang. Dia tidak menghampiri Jerry, melainkan berbicara di tempatnya. Bianca merasa tidak perlu untuk menghampiri Jerry. Sayang, Jerry tak menggubrisnya. Dia justru semakin sibuk dengan gitarnya. Bianca tentu saja keheranan melihat tingkah Jerry. Mereka sudah menunggu dari tadi dan ketika waktunya tiba, kenapa Jerry justru bersikap abai? Aneh sekali, orang ini benar-benar aneh. "Jerry, ayo!" ajak Bianca lagi. Dia mulai menggendong tasnya dan terus saja menatap ke arah Jerry. Namun, tak ada perubahan. Jerry masih setia dengan kegiatannya. Dia seolah tak mendengar ucapan apa pun dari Bianca. Karena tak sabar, Bianca pun mengalah dan menghampiri Jerry. Dia berdiri tepat di depan Jerry. "Jerr, susulannya sekarang di ruang guru. Kita harus ke sana sekarang!" ucap Bianca cepat. Jerry langsung mendongak dan mengangguk pelan. Dia lekas membereskan barang-barangnya. Setelah selesai, Jerry berjalan lebih dahulu dibanding Bianca. Bianca yang merasa ditinggalkan pun langsung menyusul. Hatinya sedikit kesal saat Jerry bersikap demikian. Karena bagaimana pun, Jerry sendiri yang membuat mereka terlambat. Namun, Jery seolah tak melihatnya sama sekali. Jika tidak menunggu Jerry, pasti Bianca sudah mengerjakan ujiannya dengan tenang. Bianca pun berjalan cepat agar dirinya sampai tepat waktu. Rasanya tak enak jika terlambat. Dia sudah mengikuti susulan dan tidak baik menyia-nyiakan waktunya. *** Waktu berlalu dengan cepat dan Bianca masih berkutat dengan soal-soal. Dia tengah mengoreksi kembali jawaban yang telah dia pilih. Meski sudah mengerjakan semua soal dengan cepat, Bianca tetap akan memeriksa jawabannya dua hingga tiga kali. Bianca tidak ingin ada kesalahan hanya karena dirinya yang ceroboh. Bianca diam-diam melirik ke arah Jerry yang terlihat sangat tenang. Bianca ingin tahu sejauh apa Jerry kesulitan. Dia sama sekali tak belajar! Namun, yang dia harapkan justru tak terjadi sama sekali. Jerry justru bersenandung pelan sembari mengerjakan soal, padahal soal itu berada di nomor awal. Dia terlihat tak peduli dengan apa yang ia kerjakan. Entah ke mana pikiran Jerry saat ini, tetapi hal itu berhasil membuat Bianca senang. Waktu yang diberikan akan habis lima belas menit lagi dan selesai tidak selesai, tetap harus dikumpulkan. Dari gosip yang beredar, Jerry memiliki otak yang cerdas. Di sekolah sebelumnya, Jerry sering menjadi juara. Namun, Bianca tentu saja tak percaya. Jerry terlihat malas dan masa bodoh dengan pelajaran. Menurut Bianca, orang seperti ini tak mungkin menjadi juara. Juara hanya ada untuk manusia yang penuh ambisi seperti dirinya. Tiba-tiba saja Jerry berdiri. Dia memasukkan ponselnya ke dalam kantung celana. "Sudah selesai, Jerry?" tanya guru mereka. Jerry mengangguk dengan mantap dan bergegas untuk pulang. "Kalau begitu kamu boleh pulang dan hati-hati." Jerry pun kembali mengangguk. Matanya melirik sekilas pada Bianca yang terlihat terkejut. Dia sempat menepuk bahu Bianca pelan sebelum pergi. "Duluan," ujarnya singkat dan padat, tetapi sarat akan ejekan yang tersirat di dalam sapaannya. Bianca yang mendengar hal itu pun langsung sadar. Pikirannya kosong saat tahu Jerry sudah selesai mengerjakan. Bagaimana ini bisa terjadi? Ouh, ya ampun! Jerry membuat waktu Bianca terbuang lagi! Di sisi lain, Siska menunggu dengan lesu. Sudah lama dia duduk di kantin, tetapi Bianca belum terlihat. Hal itu membuat Siska bosan sekaligus khawatir. Dia takut Bianca dijahati oleh Jerry. Saat sedang seriusnya menanti Bianca, Siska justru melihat Jerry yang berjalan ke arah parkiran. Matanya membulat saat sadar jika Bianca seharusnya sudah keluar bersama Jerry. Karena penasaran, Siska pun menghampiri Jerry. "Bianca mana?" tanya Siska tanpa basa-basi. Jerry tidak jadi memakai helm dan langsung berbalik pada Siska. "Di ruang guru," jawab Jerry singkat. Siska masih belum puas sehingga dia bertanya dengan sadis. "Kenapa lo bisa pulang lebih dulu?" tanya Siska. Jerry menaikkan sebelah alisnya dan balik bertanya. "Karena gue bisa. Kenapa emangnya? Lo mau nuduh gue lagi? Iya?" Mendengar pertanyaan menohok Jerry, Siska pun tertawa. Dia menggeleng dramatis. "Kalau untuk ini, maaf, ya. Gue enggak akan melakukan hal itu. Bianca terlalu sempurna untuk lo saingi, pemalas!" balas Siska mengejek Jerry. Jerry tak ingin menanggapi lagi. Dia langsung memakai helm dan menjalankan motornya begitu saja. Tidak peduli dengan Siska yang terkejut dengan suara motornya. Baru saja Siska ingin berteriak, sebuah panggilan lebih dulu terdengar. "Siska!" Siska menengok dan tersenyum lebar saat melihat Bianca. Dia langsung berlari kecil ke arah Bianca. "Yuk!" ajak Siska cepat. Dia menggandeng Bianca dan menunggu jemputan supir Bianca di halaman sekolah. "Gue yakin kalau Jerry bakal dapat nilai kecil. Dia selesai lebih dulu daripada lo, Bianca! Gue yakin dia ngisi jawabannya asal!" ucap Siska membuka pembicaraan. Bianca langsung menengok dan mengerutkan alisnya. "Sis, gue minta sama lo dari sekarang jangan cari masalah sama dia. Apa pun yang dia lakukan, urusannya sama gue langsung. Lo enggak perlu bela-bela gue lagi atau apa pun itu yang ada hubungannya sama dia!" tegur Bianca membuat Siska kebingungan. Siska merasa ada sesuatu yang terjadi. "Ada sesuatu yang terjadi saat setelah gue pergi? Lo ngomongnya aneh," tanya Siska sanksi. Bianca menghela napasnya dan menggeleng. Dia tidak bisa memberitahukan hal ini pada Siska atau sahabatnya itu akan semakin marah. "Enggak. Gue cuma enggak mau nambah masalah."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD