"Selamat pagi," sapa Bianca saat melihat lelaki di depannya. Wajahnya tidak menyiratkan kemarahan, tetapi juga tidak menyiratkan kelembutan.
Lelaki yang disapa oleh Bianca itu pun berdecak pelan. Dia kira dengan datang pagi seperti ini tak akan membuatnya bertemu dengan gadis terlalu sempurna itu. Namun, kenyataan yang dia dapatkan memang aneh.
"Ada apa?" tanya Bianca saat mendengar decakan dari Jerry. Dia menatap Jerry dengan bingung.
Wajah Jerry yang semula datar tiba-tiba saja menjadi asam. Hal itu tentu saja membuat Bianca keheranan, apakah sapaannya adalah hal yang salah? Atau Jerry masih mengingat permasalahan mereka kemarin?
"Enggak. Cuma heran aja kenapa dari sekian banyak orang, lo adalah orang pertama yang gue lihat di sekolah," jawab Jerry cuek.
Dia terlihat seperti laki-laki yang tenggelam dalam penyesalan. Membuat Bianca yang mendengar hal itu pun menjadi tak enak.
Apa dia ini pemandangan yang buruk? Atau memang Jerry saja yang suka menjelek-jelekkan dirinya?
"Memangnya kenapa kalau gue? Gue salah lagi?" tanya Bianca penasaran.
Meski dia tidak ingin terlalu peduli dengan Jery, Bianca tetap saja gagal. Status Jerry yang merupakan aset penting sekolahnya tak bisa membuat Bianca abai. Bianca tidak bisa membiarkan Jerry menjatuhkan sekolahnya.
"Sebenarnya lo antara salah dan enggak. Sebab kalau gue ketemu sama lo, pasti gue akan tertimpa masalah. Kalau aja ada temen lo yang berisik itu, dia akan bilang kalau gue menyaingi Bianca dengan datang pagi," jawab Jerry malas.
Dia kembali mengingat mulut berisik dan pedas dari teman Bianca yang tak tahu etika itu. Semua yang Jerry lakukan seolah menjadi ancaman untuk sahabat dekatnya, yaitu Bianca.
"Siska?" tanya Bianca tak sadar.
Jerry mendengus malas mendengarnya. Dia mengedikkan bahunya karena malas menyebut nama Siska. "Terserah siapa dia, gue enggak peduli sama namanya. Yang gue inget dia selalu mengganggu gue."
Jerry mengalihkan pandangannya dan meminta Bianca untuk cepat-cepat memeriksanya. "Udah, cepet periksa gue sekarang. Males gue berdiri lama-lama di sini," pinta Jerry memaksa.
Bianca yang semula ingin mengeluarkan suaranya pun langsung menutup mulutnya kembali. Dia menuruti keinginan Jerry dengan baik.
Setelah selesai, Jerry pun ingin beranjak pergi. Namun, dia kembali mendekati Bianca dan menatap Bianca dengan serius.
Bianca yang ditatap seperti itu pun menahan napasnya. Jerry berjarak sangat dekat dengannya.
"Gue merasa enggak beruntung pagi ini karena Tuhan enggak mengabulkan doa gue!" ucap Jerry datar di depan wajah Bianca. Dia menatap Bianca tajam sebelum benar-benar meninggalkan Bianca.
Setelah Jerry pergi, Bianca pun bisa bernapas lega. Dia tidak suka dengan sikap Jerry yang menganggapnya seperti kuman. Bianca merasa dirinya tidak seburuk itu sampai-sampai orang enggan bertemu dengannya.
"Bagaimana pun gue harus tahan!" ucap Bianca menyemangati dirinya sendiri. Jika Siska tak bisa berubah maka dirinyalah yang harus berjuang.
Sepertinya hidupnya tak akan berjalan seperti sebelumnya lagi. Kini dia harus mengawasi Siska dengan ekstra. Meski sudah diperingatkan, tak dapat menjamin Siska akan patuh.
***
"Gue ke kelas duluan, ya!" ucap Siska dan langsung berjalan meninggalkan Bianca.
Bianca ingin mencegahnya, tetapi Siska sudah menghilang lebih dulu. Sahabatnya itu berjalan sangat cepat.
Pagi ini Siska terlihat bersemangat dan Bianca tidak ingin membuat hal itu hilang. Bagaimana pun juga, Siska pasti masih menaruh dendam pada Jerry. Jadi, Bianca tak ingin mengingatkannya akan kejadian kemarin.
Jujur saja, Bianca merasa sedikit terkejut dengan Siska yang datang pagi. Dia bahkan membawa mobilnya sendiri.
Hal yang cukup aneh dan jarang Siska lakukan. Namun, Bianca tak ingin bertanya lebih jauh. Mungkin alasan Siska begitu bahagia hari ini karena dia bisa membawa mobil.
Tak lama kemudian, Bianca pun melihat Fenia dan Tania. Kedatangan gadis kembar tersebut benar-benar membuat Bianca lega. Itu artinya, dia bisa meminta bantuan keduanya untuk mengawasi Siska.
Setelah Fenia dan Tania siap diperiksa, Bianca pun berbicara dengan keduanya.
"Siska udah sampai?" tanya Fenia penasaran dengan wajah yang sedikit asam.
Bianca mengangguk pelan dan tersenyum. Sepertinya dia tahu apa yang sedang Fenia dan Siska lakukan.
"Iya, dia udah datang dari tadi. Dia bawa mobil dan kelihatannya seneng banget. Lo taruhan sama dia?" jawab Bianca sekaligus bertanya. Dia menanti jawaban dari Fenia yang terkesan enggan mengatakannya.
Tania yang melihat hal itu pun mengambil alih. Dia tersenyum mengejek saat kembarannya kalah dari Siska.
"Iya, dia kalah taruhan sama Siska. Awalnya mau berangkat bareng, tapi tiba-tiba aja Siska dapat izin bawa mobil sama ortunya! Masalahnya itu, ya, kita udah di depan rumah Siska!" cerita Tania dengan singkat.
Wajahnya berubah jenaka dengan tawa kecil yang tersemat di akhir kalimatnya. Wajah Siska sangat lucu saat orang tuanya mengizinkannya membawa mobil.
"Dia cuma beruntung, juaranya tetep gue!" elak Fenia kesal setelah Bianca selesai memeriksanya.
"Ya udah, dibawa santai aja, Fen. Gue tahu lo itu hebat, kok!" puji Bianca menenangkan.
Fenia adalah tipe orang yang mudah tersulut emosinya, apalagi jika berhubungan dengan Siska. Namun, Bianca tahu jika Fenia adalah orang yang baik.
"Kalau kalian udah sampe di kelas, pastiin Siska enggak buat masalah apa pun sama Jerry, ya. Gue masih harus jaga di sini," pesan Bianca pada Fenia dan Tania yang kebingungan. Namun, mereka tetap mengangguk.
Beberapa saat kemudian, Fenia dan Tania bertemu Siska yang tengah duduk dengan lesu di depan kelas. Segera saja mereka menghampirinya.
"Kenapa lo duduk di luar?" tanya Fenia setengah khawatir. Seharusnya Siska mengejeknya saat ini, bukan meratap dengan lesu seperti ini. Siska mendongak sejenak dan menunduk setelahnya.
"Ada cowok tengil yang hobi cari masalah sama Bianca," ucap Siska setengah jengkel.
Mendengar hal itu, Fenia dan Tania pun ikut duduk bersama Siska. "Memangnya apa yang membuat lo sampai harus keluar? Lo, kan, bisa tetep duduk di dalem sambil main HP," tanya Tania heran.
Siska menggeleng pelan. "Ya gue bisa, tapi yang enggak gue bisa itu berhenti cari masalah sama, tuh, cowok. Kalau bukan Bianca yang ngelarang gue, enggak akan gue begini!" jawab Siska pasrah. Mau tidak mau, cara ini yang dia pilih agar bisa mematuhi Bianca.
Fenia dan Tania saling menatap. Mereka paham sekarang.
"Ya udah, sekarang, kan, udah ada kita. Kita masuk aja, jangan di luar gini!" ajak Fenia cepat. Dia membantu Siska untuk bangun dan merangkulnya untuk berjalan bersama.
Meninggalkan Tania yang tersenyum lucu melihatnya. Mau segala atau sesadis apa pun perlakuan Fenia pada Siska, tetap saja mereka sepasang sahabat.
***
"Bu, hari ini hasil ujian akan diberitahukan?" tanya seorang murid dengan wajah percaya dirinya.
Guru yang tengah membuka laptop itu pun langsung mengangguk sejenak. Matanya melirik ke seisi kelas. Tak lama kemudian, senyum terukir di bibirnya.
"Nilai akan Ibu bagikan sebentar lagi. Dan hari ini, kita mendapat dua kabar gembira," ucapnya bahagia.
Murid-murid pun langsung riuh. Tak terkecuali Siska yang kini sudah bersikap heboh. Dia benar-benar tidak sabar melihat hasil ujiannya. Walau nilainya mungkin tidak besar, tetapi Siska senang mendapatkannya.
"Nilai akan ibu sebutkan, kalian dengarkan baik-baik, ya!" ucap guru tersebut.
Seluruh murid pun langsung menanggapinya dengan baik. Mereka tak lagi berisik dan fokus mendengarkan guru tersebut.
Satu persatu nilai disebutkan beserta nama pemiliknya. Tiba bagian Bianca, satu kelas langsung bersorak gembira.
"Bianca Frischella Adrienne, sempurna." Teman-teman Bianca pun langsung memberikan selamat, tetapi dicegah oleh guru mereka.
"Jangan kasih selamat dulu karena masih ada lagi yang mendapat nilai sempurna kali ini!" cegahnya membuat seluruh penghuni kelas kebingungan.
Sejak kapan hal ini terjadi? Soal kemarin sangatlah sulit!
"Siapa orangnya, Bu?" tanya Siska penasaran.
"Jerry Keenan Ivander! Dia mendapat nilai sempurna seperti Bianca!"
"APA?"