Hello 08 - Pertengkaran Dua Kubu

1119 Words
"Sis, lo itu bisa enggak, sih, enggak bikin keributan satu hari aja? Lo kenapa sama Jerry, hah? Ada masalah lo sama dia? Lo kayaknya musuhin Jerry banget dari awal," sergah seorang gadis yang kini menghampiri Siska. Sejak tadi dia memperhatikan jika Siska menatap tidak suka pada Jerry. Dirinya yang mulai menjadi jajaran penggemar Jerry pun harus bertindak. Gadis seperti Siska tak bisa dibiarkan begitu saja. Kalau dibiarkan, Siska bisa semakin kurang ajar dan menjatuhkan idolanya. Siska yang sejak tadi menutup mulutnya pun langsung mendongak. Dia bingung saat melihat gadis menor di depannya. "Kenapa lo?" tanya Siska tak paham. Dia tidak mendengar ucapan gadis itu dengan jelas. Siska terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri sampai tak menyadari ada seorang gadis yang memperhatikannya. "Lo masih tanya kenapa? Harusnya gue yang tanya kenapa. Lo mau cari ribut lagi sama dia? Hah?" balas gadis itu sarkas. Dia menunjuk Jerry yang kini menatap mereka sekilas. Namun, Jerry kembali pada kesibukannya sendiri. Siska pun mengikuti arah telunjuk gadis itu dan memutar bola matanya malas. Kenapa semua orang sekarang seperti memusuhinya hanya karena pernah bermasalah dengan Jerry? "Gue dari tadi diem aja. Lo tahu sendiri gue enggak mengeluarkan sepatah kata pun, kecuali setelah lo datang." Siska menjawab dengan tenang. Siska sudah berusaha mati-matian menahan dirinya. Dia tidak ingin membuat Bianca semakin dipandang miring oleh Jerry. Apa yang Bianca rasakan juga akan dirasakannya. Jadi, Siska tidak mau tindakan gegabahnya justru mengancam posisi Bianca. "Ya lo memang diam! Tapi mata lo itu sinis banget ngeliat Jerry. Lo enggak terima karena dia punya nilai yang sama kayak Bianca, hah?" tuduh gadis itu dengan berani. Dia menunjuk-nunjuk wajah Siska yang mulai memerah. Siska berada dalam puncak emosinya. Fenia yang melihat hal itu pun memberi peringatan. "Jangan macam-macam lo! Duduk di bangku lo sendiri!" ingat Fenia tegas. Dia menatap tajam gadis yang saat ini berkacak pinggang melihatnya. Mata gadis itu terlihat sangat merendahkan teman-teman Bianca. "Ouh, lo juga mau ngikutin jejaknya Siska? Iya?" tebak gadis itu asal. Dia berbicara dengan bebas seperti ini karena tak ada Bianca atau pun guru di kelas mereka. Jadi, dia bisa sesuka hati melampiaskan emosinya. "Ngikutin jejak apa maksud lo?" tanya Fenia balik. Dia menantang gadis yang tengah mengganggu ketenangannya. Meski Siska adalah sasaran utamanya, tetapi Fenia tahu betul jika Siska tak membuat masalah apa pun sejak tadi. Siska berusaha mematuhi Bianca dengan sekuat tenaga. Dan Fenia tak akan membiarkan hal itu terbuang begitu saja. "Ya jejak teman lo yang selalu aja cari masalah sama Jerry!" jawab gadis itu tengil. Siska langsung memukul meja. Emosinya sudah tak bisa dibendung lagi. Dia tidak suka dengan sikap gadis itu yang terlampau kurang ajar pada dirinya dan Fenia. "Lo bisa diem enggak, sih? Dari tadi gue biarin lo malah makin-makin!" teriak Siska kencang. Dia menunjuk wajah gadis itu dengan berani. Masa bodoh dengan janjinya pada Bianca. Siska tak peduli lagi. Gadis ini yang memulainya lebih dulu dan dia harus menerima akibatnya! "Heh! Lo yang dibiarin malah makin jadi. Lo Dari tadi ngeliatin Jerry kayak musuh. Udah gitu lo jadi orang yang paling heboh saat tahu nilainya sama kayak Bianca. Lo masalah kalau ada orang yang mau jadi saingan bos lo itu?" balas gadis itu berani. Dia menyempitkan matanya saat menatap wajah Siska yang menurutnya tak ada apa-apanya dengan wajahnya. Siska semakin murka. Dia menarik rambut gadis itu karena dengan berani menghina Bianca. "Kurang ajar lo! Berani banget lo hina Bianca. Lo siapa berani hina dia?" geram Siska marah. Tangannya semakin kencang menarik rambut gadis tidak tahu diri di depannya. "Gue pendukung Jerry, kenapa lo?" tantangnya berani. Setelah mengucapkan itu, Siska pun mendorong gadis itu hingga nyaris tersungkur. Dia menunjuk wajah gadis itu dengan sombong. "Lo baru penggemarnya? Kasihan. Gue kira lo itu orang terdekatnya atau apa gitu, nyatanya lo cuma penggemar yang hobinya buat rusuh dan kecentilan!" tanya Siska tak percaya sekaligus miris. Matanya penuh dengan rasa kasihan dan ejekan sehingga gadis itu pun berniat membalasnya. "Berhenti! Gue mau tenang sehari aja susah! Apa yang kalian ributin, sih?" cegah Jerry yang sejak tadi diam. Dia benar-benar tidak tahan lagi. Kepalanya terasa ingin pecah. Baru saja kemarin dia memberi peringatan, sekarang hal itu terjadi. Dan kini melibatkan satu orang yang baru dia kenal. Sangat menyebalkan, sepertinya hari ini dia benar-benar sial. "Gue lagi ngebela lo, Jerry! Si tukang iri ini dari tadi ngeliat lo enggak biasa!" adu gadis itu sembari menunjuk Siska. Siska menaikkan sebelah alisnya. Iri katanya? Ya ampun, jangan mimpi. Gadis ini benar-benar tidak memiliki akal sehat. Bisa-bisanya dia mencari perhatian Jerry dengan cara yang murah seperti ini. Fenia dan Siska pun bersedekap d**a. Mereka ingin melihat bagaimana reaksi Jerry yang terkenal dingin itu. Jerry perlahan berjalan mendekat. Dia berdiri tepat di antara Siska dan penggemar barunya. Matanya menghunus tajam ke arah gadis menor yang sibuk menarik perhatiannya. "Jangan mulai keributan apa pun!" desis Jerry sinis membuat seisi kelas terkejut. Gadis itu pun sama terkejut, apalagi dia adalah orang yang Jerry tuju. Tubuhnya tiba-tiba kaku saat pria idamannya justru mempermalukannya. Terlebih lagi saat Bianca hadir di tengah-tengah mereka. "Kenapa ramai?" tanya Bianca bingung. Dia baru saja masuk kelas, tetapi kelasnya sudah tak beraturan. Mereka sibuk mengerubungi mejanya dengan Siska. "Enggak lo tegur, Sis?" tanya Bianca saat tak ada yang menjawab. Siska adalah seksi keamanan dan seharusnya dia bertindak saat melihat situasi yang kacau. Siska membuang wajahnya. Dia tahu jika dia telah mengabaikan tugasnya. Namun, bagaimana dia bisa diam saat ada seseorang yang mencari masalah dengannya? Tania melihat Siska dan langsung beralih pada Bianca. Dia menunjuk seorang gadis yang kini berusaha menahan malunya. "Siska enggak bisa mengamankan kelas kalau dia sendiri yang punya masalah!" jawab Tania jujur. Dia masih saja menunjuk gadis itu kendati sang empu telah memperingatinya. "Dia yang mulai duluan. Dia datengin Siska dan marah-marah. Katanya, sih, enggak terima idolanya dilihat sama Siska," tambah Tania dengan wajah yang dibuat jijik. Dia sudah menurunkan tangannya dan kini menunggu reaksi dari Bianca. "Siapa?" tanya Bianca tak tahu. Idola bagaimana maksudnya? "Gue penggemarnya Jerry. Kenapa, lo? Enggak suka?" jawab gadis itu menantang Bianca. Dia menatap Bianca yang kini keheranan mendengar jawabannya. "Terus hubungannya sama Siska?" tanya Bianca lagi. Otaknya tidak dapat mencerna penyebab pertengkaran Siska. "Gue enggak suka Siska yang selalu musuhin Jerry! Ini pasti lo penyebabnya, kan?" tuduh gadis itu pada Bianca. Bianca lantas mengernyitkan alisnya. Dia bingung dengan gadis yang tengah emosi ini. Dia bermasalah dengan Siska, kenapa jadi membawa dirinya? "Kenapa jadi gue?" tanya Bianca lagi. Gadis itu tertawa pelan dan mengulang ucapan Bianca, tetapi dengan maksud mengejek. "Karena lo itu bosnya Siska. Jadi, Siska pasti disuruh sama lo!" simpulnya asal. Dia memang sempat malu tadi, tetapi ia segera menepisnya. Dia tidak boleh putus asa untuk mencari perhatian Jerry. Sudah lama dia mengidamkan lelaki seperti Jerry. "Jangan sembarangan lo nuduh Bianca! Jangankan nyuruh gue, dia iri aja enggak!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD