Hello 09 - Pertama Kali

2758 Words
"Gue minta maaf sama kalian semua kalau gue atau temen-temen gue punya salah. Maaf kalau mungkin beberapa dari kalian enggak nyaman dengan kehadiran kita. Ke depannya, kita akan lebih menjaga sikap lagi." Bianca berbicara lantang di depan kelas. Dia menatap temannya satu persatu. Keributan tadi akhirnya bisa diselesaikan dengan Jerry yang menarik mundur gadis itu. Walau caranya terlihat sedikit kasar dan tidak manusiawi, tetapi Bianca bersyukur akan hal itu. Setidaknya tidak ada keributan yang jauh lebih besar lagi. Kemudian, mata Bianca terhenti pada Jerry. Dia memutuskan untuk mendekatinya. "Dan untuk lo, gue mohon maaf yang sebesar-besarnya. Maaf kalau Siska udah buat lo enggak nyaman. Dan maaf karena gue enggak bisa menjaga Siska dengan baik. Lo hebat dan enggak seharusnya mendapat perlakuan seperti itu!" mohon Bianca sekaligus memuji Jerry. Jerry yang mendengar pujian tersemat untuknya pun terdiam sejenak. Dia tidak tahu harus merespon bagaimana karena baru kali ini ada gadis yang memujinya tanpa tatapan kagum. Wajah Bianca terlihat biasa saja, seolah dia sama sekali tak mengagumi lelaki di depannya. "Ya, lo pun sama hebatnya!" ucap Jerry pada akhirnya setelah terdiam lama. Mendengar balasan dari Jerry, Bianca pun bernapas lega. Dengan hal ini, berarti mereka sudah berdamai. "Makasih!" ucap Bianca dan langsung kembali ke bangkunya. Siska yang masih emosi pun ingin mengajukan protes, tetapi Bianca menginjak kakinya dengan pelan. Akhirnya, dia pun hanya bisa terdiam dan menerimanya dengan pasrah. Jam istirahat pun tiba. Semua murid sudah keluar dari kelas, tetapi Bianca memilih untuk menyendiri. Teman-temannya bahkan sudah lelah membujuknya. Namun, Bianca tak mengubah keputusannya. Dia ingin belajar dan keributan tadi pun membuat nafsu makannya hilang. Saat sedang fokus, tiba-tiba saja Jerry berjalan memasuki kelas dengan sebotol minuman. Pandangannya terhenti saat melihat Bianca yang masih duduk di bangkunya. "Lo enggak istirahat?" tanyanya tanpa sadar. Kakinya pun perlahan bergerak mendekati Bianca. Bianca hanya menggeleng. Menurutnya pertanyaan Jerry tidaklah penting. "Kenapa?" tanya Jerry lagi. Entah kenapa dia melunak pada Bianca setelah gadis itu meminta maaf padanya tadi. Bianca yang ditanya seperti itu pun merasa risih. Dia menatap tidak suka pada Jerry yang terlampau penasaran. "Gue lagi belajar!" jawab Bianca setengah jutek. Dia semakin menatap heran pada Jerry yang kini melihat bukunya. Merasa tak suka, Bianca pun mendekap bukunya. "Maaf, ya. Lebih baik lo duduk di bangku lo aja," usir Bianca halus dengan senyum yang hambar. Meski sudah meminta maaf, Jerry tak ada hak mencampuri urusannya. Mereka bukanlah teman yang dekat dan tidak seharusnya Jerry bersikap seperti itu. Jerry yang paham dirinya diusir pun lekas mengangguk. Namun sebelum pergi, dia mengeluarkan kata-kata yang cukup membuat Bianca terdiam. "Belajar mulu, apa enggak capek? Gue aja capek, masa lo enggak!" tukasnya pelan. Jerry tak ada maksud untuk membuat Bianca kehilangan semangatnya, tetapi setelah itu Bianca justru keluar dari kelas. Dia pergi meninggalkan Jerry yang setengah terkejut melihatnya. "Aneh," gumam Jerry heran. Dia membuka ponselnya dan bermain game. Bosan sekali karena berada di kelas sendirian. Namun, dia juga sedang tidak ingin berkumpul bersama teman-temannya. Di jalan, Bianca bertemu dengan ketiga temannya. "Mau ke mana?" tanya Fenia cepat. Dia menarik lengan Bianca yang sepertinya tidak menyadari jika mereka berpapasan. Bianca menengok dan segera menjawab, "Mau beli minum! Gue haus," jawab Bianca dan langsung berjalan pergi. Membuat teman-temannya heran karena keputusan Bianca yang berubah. "Tumben banget, biasanya enggak bakal berubah walau dia kehausan, tuh!" ceplos Siska bingung. Jam masuk sebentar lagi dan Bianca menyempatkan diri ke kantin? Keajaiban apa ini! Lain halnya dengan Siska, Fenia dan Tania menanggapi dengan santai. "Bagus, dong. Dia jadi mikirin dirinya sendiri. Kan, itu yang kita semua mau!" balas Tania senang. Bukankah hal ini yang mereka harapkan? Bianca sudah tidak menyiksa dirinya seperti dulu lagi. Dan sekarang itu semua terjadi. "Dadakan kayak gini?" tanya Siska masih tak percaya. Perubahan Bianca cukup drastis menurutnya. Meski hanya membeli sebuah minuman, ketahuilah bahwa Bianca tak pernah berbuat hal ini sebelumnya. "Orang berubah bisa kapan aja, Sis!" jawab Fenia setengah malas. Kenapa Siska ini selalu saja berpikiran negatif? Berhenti dengan Jerry, sekarang Bianca yang menjadi sasarannya. Ada-ada saja. "Jangan sampe lo berpikir negatif lagi. Enggak pantes lo kayak gitu sama Bianca," tegur Fenia saat melihat raut wajah Siska yang berbeda. Kalau wajah Siska sudah seperti ini maka tidak lama lagi akan ada perbincangan sensitif di antara mereka. Maka dari itu, Fenia ingin mencegahnya. "Gue enggak gitu!" elak Siska, tetapi di sudut hatinya dia meragukan ucapannya sendiri. Siska menyadari betapa beracunnya mulutnya ini. Hanya saja, dia enggan mengakuinya. "Udah, ke kelas aja, yuk!" ajak Tania mengalihkan pembicaraan. Dia berjalan mendahului saudari dan temannya. Saat sampai di kelas, mereka pun langsung duduk dan menunggu Bianca untuk datang. Tanpa sengaja Tania melihat buku belajar Bianca. Ada gambar abstrak di sana yang tidak pernah Bianca buat sebelumnya. "Kayaknya dia bosen, deh!" celetuk Tania polos sembari menunjuk buku Bianca. Fenia dan Siska lekas melihatnya. Kemudian, mereka mengangguk setuju. Mereka bersyukur karena Bianca akhirnya memiliki rasa bosan belajar. "Akhirnya, Bianca normal!" pekik Siska senang. Suaranya terdengar cukup besar hingga membuat Jerry yang berada di sudut kelas pun mendengarnya. "Memangnya dia homo?" tanya Jerry asal. Siska dan si kembar lekas menengok. Mereka menatap horor ke arah Jerry yang dengan kurang ajarnya bertanya hal seperti itu. "Kurang ajar! Enggak, lah! Gila lo!" maki Fenia kencang. Siska melongo dibuatnya. Dia kalah dari Fenia yang bergerak lebih dulu. Bersamaan dengan itu, Bianca pun memasuki kelas. Wajahnya terlihat lebih santai dari sebelumnya. Dengan jahil Siska mengadukan ulah Jerry pada Bianca. "Bianca! Lo dituduh homo sama, tuh, anak!" adunya sembari menunjuk Jerry. Bianca menengok sejenak dan langsung mengedikkan bahunya. Terserah Jerry mau mengatakan apa mengenai orientasi seksualnya. Bianca tak peduli karena hal itu tidak akan mempengaruhi hidupnya sama sekali. Hanya belajar dan nilai yang bisa mempengaruhinya. "Terserah dia mau ngomong apa tentang gue. Enggak ngaruh juga buat gue," jawab Bianca cuek. Dia langsung menarik wajah Siska menghadapnya. "Jangan cari masalah sama dia lagi, ya. Lo udah janji sama gue!" ingat Bianca pada Siska yang merasa lesu seketika. Namun, dia pun tak berani mengeluarkan suaranya. Bianca sudah dipermalukan hari ini dan itu karena dirinya. Melihat Siska tak berkutik, Fenia dan Tania pun menertawakannya diam-diam. "Kena lo!" ejek Fenia tanpa suara. *** "Duh, Bianca mana, sih?" gumam Siska setengah kesal. Sejak pulang sekolah tadi, Bianca tak terlihat batang hidungnya, padahal mereka sudah berencana pulang bersama. Namun, karena ada rapat OSIS yang menurut Siska serba dadakan itu, Bianca pun harus mengikutinya. Entah apa yang OSIS bicarakan hingga menghabiskan waktu berjam-jam. Yang jelas Siska semakin tidak sabar menunggu Bianca. Siska pun mengeluarkan ponselnya. Dia berniat menghubungi Bianca, tetapi matanya justru tanpa sengaja menangkap siluet sahabatnya yang tengah kebingungan mencari dirinya. Tanpa menunggu lama, Siska pun melambaikan tangan hingga Bianca berjalan mendekat. "Lama banget," ucap Siska setelah Bianca sampai. Bianca mengangguk sejenak dan meminta maaf setelahnya. Dia tidak tahu jika rapat yang pembinanya adakan akan selama ini. Biasanya dalam satu jam saja akan selesai. "Maaf, gue juga enggak tahu rapatnya lama banget kayak gini. Enggak kayak biasanya!" ucap Bianca tak enak hati. "Ya udah, mau pulang sekarang?" tanya Siska meminta pendapat Bianca. Bianca mengangguk pelan, tetapi menggeleng setelahnya. "Jalan-jalan dulu, yuk!" ajak Bianca semangat. Dia akan membayar waktu yang telah Siska luangkan untuk menunggunya. Siska yang mendengar ajakan itu pun merasa senang, tetapi dia ingin memastikan satu hal terlebih dahulu. "Lo yang bayarin, kan?" tanyanya sembari cengengesan. Bianca memutar bola matanya malas, tetapi mengiyakan keinginan sahabatnya. Saat akan berjalan, Bianca teringat sesuatu. "Eh, si kembar mana? Balik duluan?" tanya Bianca bingung. Siska menggeleng dan menunjuk ke arah parkiran. "Enggak, mereka nunggu di mobil. Katanya kalau nunggu di sini takut hitam!" jawab Siska setengah heran. Entah kenapa Fenia dan Tania sangat takut kulit mereka menjadi hitam. Mereka sering menghindari tempat yang sekiranya panas. Termasuk tempat Siska berada sekarang. Siska menunggu di lapangan basket sekolahnya karena wilayahnya yang luas dan tidak banyak orang di sini. Selain itu, lapangan ini pun memiliki tempat berteduh. Namun, bagi Fenia dan Tania tetap saja tak cukup. Bianca hanya membenarkan dan langsung berjalan bersama Siska. *** Mereka telah sampai di mal saat ini. "Ah, akhirnya bisa ke sini lagi!" pekik Siska senang dia melebarkan tangannya untuk merasakan udara sejuk yang keluar dari pendingin ruangan. Fenia melihat Siska dengan jijik. Dia lekas menurunkan tangan sahabatnya yang terlihat sangat kampungan. "Gue ragu kalau lo itu orang kaya. Tingkah lo enggak banget!" celetuk Fenia seperti biasanya. Dia menatap Siska yang kini cemberut karena ulahnya. "Kita ini udah lama enggak ke mal, dan sekarang bisa ke mal bareng lagi. Ya, gue seneng, lah!" balas Siska memenangkan pendapatnya sendiri. Dia kemudian meninggalkan Fenia dan berjalan di samping Bianca. "Eh, kita mau ke sini mau ngapain, deh?" tanya Tania bingung. Mereka mulai berjalan, tetapi tak ada satu tempat pun yang mereka ingin kunjungi. Jangankan barang, makanan saja mereka belum berniat membelinya. Bianca menengok sekilas dan menggeleng tak tahu. "Gue juga enggak tahu. Gue mau ngajak kalian aja ke sini, hitung-hitung hilangin penat. Kalian ada saran?" jawab Bianca sekaligus bertanya pada teman-temannya. Fenia menggeleng pelan, dia sendiri tidak tahu harus melakukan apa. Melihat temannya diam, Siska pun mengambil alih. Dia menghentikan langkahnya dan menunjuk kepada lantai dua. "Nonton aja, yuk! Gue denger banyak film baru yang seru baru dirilis!" ajaknya yang langsung diangguki oleh ketiga temannya. Apalagi Fenia yang mengangguk semangat. Sangat kontras dengan keadaannya beberapa saat yang lalu. "Ayo, kayaknya seru. Tapi sebelum ke bioskop, kita makan dulu!" usul Fenia yang tidak disetujui oleh Tania. Tania merasa hal itu membuang waktu. "Kenapa kita enggak beli tiket dulu, baru makan. Kan, filmnya enggak akan langsung mulai," usul Tania yang diangguki oleh Bianca. Bianca merasa usul yang Tania berikan lebih efisien. Mereka tidak menghabiskan banyak waktu untuk menonton film. Film tentu saja memiliki jam putarnya sendiri, bukan? Jadi, akan lebih baik mereka membeli tiket dan pergi makan setelahnya. Hitung-hitung mengisi waktu kosong sebelum film dimulai. "Kita pesen dulu tiketnya. Kalau sudah pesan, kita baru makan!" putus Bianca berjalan mendahului temannya. Mereka pun mengikuti Bianca dalam diam. Setelah sampai di bioskop, mereka pun memilih film yang akan ditonton. "Mau film yang mana?" tanya Bianca sembari melihat-lihat. Terdapat banyak film di sini dan hampir semuanya menarik. Bianca jadi bingung harus memilih yang mana. "Film romansa aja. Yang romansa remaja, tuh. Bagus kayaknya!" tunjuk Tania pada sebuah iklan film yang tengah diputar. Mata mereka kompak beralih dan seketika jatuh cinta pada film tersebut. "Kita nonton yang itu!" putus Bianca dan langsung menuju kasir. Dia memilih tempat duduk yang paling nyaman untuk dirinya dan teman-temannya. Tempat duduk yang berada di tengah pun menjadi pilihan Bianca. Bianca kembali pada teman-temannya. "Film dimulai satu jam setengah lagi. Sekarang kita makan dulu!" ujar Bianca memberitahu. Dia memberikan tiket pada teman-temannya. Setelah menemukan tempat makan yang cocok, mereka pun langsung memesan makanan di sana. Sembari menunggu makanan datang, mereka berbincang-bincang. "Kenapa lo mau minta maaf saja Jerry, sih, Bianca?" tanya Siska tak paham. Dia menatap Bianca yang duduk di depannya. Bianca yang sedang bermain ponsel pun langsung menghentikannya. "Enggak masalah selagi itu bisa jadi penghalang lo ribut sama dia!" jawab Bianca santai. Siska nyaris tersedak mendengarnya, tetapi ditenangkan oleh Tania. "Biasa aja, Sis!" ucap Tania menenangkan. Dari raut wajahnya, Siska tampak tak suka. Tania perkirakan bahwa Siska akan mengajukan protes pada Bianca. "Tapi yang salah, kan, cewek gatel itu! Bukan gue!" tolak Siska keras. Nada bicaranya sedikit meninggi, tetapi tak membuat Bianca merubah raut wajahnya. "Mau siapa pun itu yang salah. Yang jelas masalahnya selesai sekarang. Dengan selesainya masalah, Jerry enggak akan berbuat macam-macam!" tukas Bianca tenang tanpa tahu reaksi terkejut teman-temannya. "Jerry?" teriak mereka bersamaan. Tunggu, ada apa dengan Jerry memangnya? Apa lelaki itu memiliki rencana jahat terhadap mereka? Jika iya, berarti benar dugaan Siska. Jerry bukanlah lelaki baik yang suka ketenangan. Dia pasti lelaki busuk berparas tampan! "Tunggu. Maksud lo Jerry punya rencana buruk gitu buat kita?" tanya Fenia memastikan. Raut wajahnya menjadi gelisah. Dia tidak menyangka jika lelaki seperti Jerry memiliki niat buruk terhadap mereka. Mereka tidak salah apa-apa dan lagi pula jika hanya karena Siska, rasanya itu bukan masalah besar. Wajar bukan bertengkar dengan teman sekelas? "Serem juga, tuh, cowok. Baru masuk udah ada niat jahat," timpal Tania setengah ketakutan. Meski mulutnya sama pedasnya dengan Jerry, tetapi dia tidak pernah memiliki niat buruk kepada siapa pun. Apalagi sampai berbuat hal aneh pada orang yang tidak dia sukai. Tania lebih suka beradu mulut dengan musuhnya. "Tuh, kan, gue bilang juga apa. Ini cowok emang enggak bener!" tandas Siska kesal. Dia memukul meja dengan pelan sehingga membuat Bianca mendesis malas. "Pikiran kalian itu terlalu buruk. Jerry enggak ada niat buruk sama kalian, kok!" ujar Bianca setengah lelah. Kenapa semua temannya bisa berpikir seperti ini, sih? Belum menonton film saja otak mereka sudah teracuni. "Terus? Kayak gimana maksud lo?" tanya Siska penasaran. Bianca menghela napasnya dan menatap temannya satu persatu. Ada-ada saja tingkah mereka ini. "Dia merasa kualitas sekolah kita ini enggak seperti yang publik tahu. Dia merasa sekolah kita ini bukan tempat yang pas untuk dia. Dan ini semua karena Siska yang selalu ribut sama Jerry!" ungkap Bianca lega. Setidaknya setelah ini, Siska bisa lebih menjaga sikapnya. Mendengar ungkapan sahabatnya, Siska pun membuang wajahnya. Gila! Jerry lebih berbahaya dari yang dia pikirkan. Bisa-bisanya dia membawa sekolah mereka. "Dia bukan orang biasa!" komentar Tania setelah mendengar yang sebenarnya. Sepertinya dia juga harus jaga jarak dengan Jerry. Jangan sampai sekolah menanggung malu karena dirinya. "Ya, seperti itulah." Bianca menunduk. Makanan mereka telah sampai dan waktunya mereka makan. Di sekolah tadi mereka makan tidak benar, apalagi Bianca. Karena itulah, mereka memesan banyak makanan yang dihabiskan dalam waktu singkat. Meski wajah mereka cantik, mereka tak sungkan makan dalam porsi yang besar. Toh, tubuh mereka pun tetap terjaga. Setelah selesai makan, mereka pun bergegas menuju bioskop. *** "Gila! Muka gue bengep semua, nih, gara-gara nangis!" ucap Siska heboh sembari mengelap wajahnya kasar. Di tangannya ada sebungkus tisu yang isinya tersisa setengah. Wajahnya terlihat basah dan sedikit bengkak. Apalagi matanya. Benar-benar merah dan sedikit sulit dibuka. Di sampingnya, Tania dan Fenia pun mengalami hal yang sama. Mereka bahkan tidak bisa berkata-kata sejak tadi. Tangisan mereka masih saja terdengar kendati film sudah selesai diputar. "Sedih banget. Kenapa akhirnya kayak gini, sih?" rengek Tania kesal. Dia meremas bangku bioskop dengan dramatis. Film tadi benar-benar menguras emosinya. Ketenangan yang biasa terpancar dari dirinya pun lenyap seketika. "Nyesel gue pilih film ini. Kalau tahu bakal begini, mending film setan sekalian!" sesal Fenia sembari membereskan rambutnya. Akibat terbawa suasana film, dia tanpa sadar menjambak rambutnya sendiri. Sementara itu, Bianca yang berada di paling ujung pun hanya terdiam. Dia tidak meneteskan satu air mata pun. Wajahnya justru terlihat datar. "Menurut lo gimana, Bianca?" tanya Siska saat Bianca tidak mengeluarkan suaranya. Bianca menggeleng pelan, pertanda bahwa dia merasa biasa saja. "Gue merasa biasa aja." Setelah jawaban singkat itu Bianca keluarkan, ketiga temannya pun langsung heboh. Mereka serentak melihat wajah Bianca yang tak basah sedikitpun. "Gila! Definisi cewek tangguh sesungguhnya!" ucap Siska kagum setengah tak percaya. Sebagai balasannya, Bianca pun hanya mengedikkan bahunya. Dia langsung berjalan keluar dan disusul teman-temannya. "Habis ini ngapain?" tanya Siska dengan suara yang serak. Bianca menjawab tanpa menengok, "Pulang!" Mendengar jawaban itu, mereka pun menurutinya. Setelah sampai di parkiran, semua langsung masuk ke mobil. Namun, tidak dengan Bianca yang fokus menatap sebuah mobil di samping mereka. Saking fokusnya, Bianca bahkan tak sadar jika mobil itu sudah pergi. "Bianca, kenapa? Lo kenal mobil itu?" tanya Siska menghampiri Bianca. Wajah Bianca yang terlihat sedikit redup membuatnya khawatir. Bianca lekas menggeleng dan masuk ke mobil tanpa sepatah kata pun. Setelah itu, Siska dan Fenia pun menjalankan mobil mereka dan pulang ke rumah masing-masing. *** "Hati-hati, ya!" ucap Bianca sebelum masuk ke rumah. Siska yang berada di dalam mobil pun mengangguk senang dan lekas meninggalkan pelataran rumah Bianca. Bianca melangkah masuk dengan tergesa-gesa saat mobil Siska telah menghilang dari pandangannya. "Bi, mama sudah pulang?" tanya Bianca cepat saat melihat kepala pelayan di rumahnya. Kepala pelayan yang dipanggil "Bibi" itu pun mengangguk sebagai jawabannya. Tak perlu menunggu lama, Bianca segera mencari sang ibu di ruang kerja. "Mama," panggil Bianca saat membuka pintu ruang kerja ibunya. Dapat dia lihat seorang wanita dewasa yang tengah berkutat dengan berkasnya. Merasa tak didengar, Bianca pun memilih untuk mendekat. "Ma—" "Bagaimana ulangannya? Nilai sempurna?" tanya sang Mama dengan santai. Dia fokus menatap berkas yang ada di tangannya meski ada Bianca di depannya. Bianca lekas menunjukkan ponselnya dan membuat segaris senyum ibunya mengembang. "Bagus. Kembangkan terus. Pertahankan dirimu untuk terus menjadi satu-satunya." Setelah mengatakan itu, sang ibu pun memintanya pergi. Mau tidak mau, Bianca pun terpaksa keluar meski kakinya terasa sangat berat. Dia masih ingin di dalam. Sebelum beranjak ke kamarnya, Bianca melihat sekali lagi isi ponselnya. Wajahnya meredup diiringi hati yang terasa campur aduk. "Seumur hidup baru pertama kali gue ngelakuin ini."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD