"Gue denger dari kelas sebelah, katanya bakalan ada tugas kelompok!" ucap Siska membuka pembicaraan dengan tangan yang sibuk mengutak-atik ponselnya.
Bianca yang duduk di sebelah Siska pun menaikkan sebelah alisnya. Dia sedikit penasaran dengan berita yang Siska bawa. "Kerja kelompok apa?" tanya Bianca tak sabar.
Sudah lama gurunya tidak memberi tugas kelompok dan Bianca sangat menanti hal itu. Dia suka jika mendapat tugas kelompok karena menurutnya, dia bisa mendapat kesempatan lebih besar untuk menunjukkan siapa dirinya.
Jika berkelompok, Bianca selalu menjadi ketua dan dia ingin kelompoknya menjadi juara.
"Gue juga enggak tahu. Gue enggak ketemu sama orangnya langsung soalnya. Gue enggak sengaja denger di kamar mandi," jawab Siska setengah cengengesan. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal saat mendapati mata tajam sahabatnya.
"Kebiasaan lo! Kalau infonya enggak akurat gimana?" semprot Fenia kesal. Dia menatap Siska yang kini menggeleng kencang sebagai jawabannya.
"Gue yakin infonya akurat, cuma gue enggak tahu pelajaran dan tugas apa yang dikasih. Pokoknya disuruh bikin kelompok aja, lah!" jawab Siska disertai tekanan.
Dia sendiri bingung ingin menjawab apa karena yang ia tahu memang sangat terbatas. Yang terpenting mereka bisa menyiapkan diri nanti. Jadi, tidak dibutuhkan waktu yang lama untuk membentuk kelompok.
"Sekarang yang harus kita pikirin berarti bentuk kelompoknya dulu!" cetus Tania semangat. Dia melirik temannya satu persatu dan menjentikkan jarinya. Kemudian, dia mengambil kertas dan menulis di sana.
"Seperti biasa, kita satu kelompok. Enggak boleh pisah!" ujarnya sembari menulis nama mereka semua di selembar kertas.
Tak ada yang ingin mengganggu Tania karena mereka memang terbiasa berada di kelompok yang sama.
"Kita enggak kasih tahu yang lain?" tanya Bianca setelah terdiam lama.
Siska spontan menggeleng. Dia tidak ingin memberitahu teman sekelasnya. Biar saja mereka membentuknya nanti. Yang terpenting Siska tidak ingin dia pisah kelompok dengan sahabatnya.
"Enggak usah. Orang kayak mereka rempong! Biar aja mereka tahunya nanti," cegah Siska setengah ketus.
Bianca tampak tak setuju. Dia ingin mengeluarkan suaranya, tetapi dipotong oleh Fenia. "Lo di sini sebagai teman kita, bukan ketua kelas. Jadi, lo harus jaga rahasia ini. Anggap aja lo enggak tahu apa-apa!" ujar Fenia diakhiri senyum manisnya.
Siska mengacungkan jempol karena kerja hebat Fenia. Jika Fenia tidak segera mengeluarkan suaranya, pasti Bianca sudah mengambil keputusan. Dan jika sudah diputuskan, sedikit sulit untuk mengubahnya. Biarlah kali ini mereka egois.
"Ya udah, terserah kalian." Bianca pun akhirnya pasrah. Dia menatap temannya dengan tak bersemangat. Sebenarnya Bianca tidak suka hal seperti ini. Namun, dia malas mendebat temannya.
"Sis, kasih tahu anak-anak suruh masuk. Sebentar lagi jam istirahat habis," ujar Bianca memberitahu Siska yang tengah sibuk dengan ponselnya.
Siska yang mendengar hal itu pun melirik jam dan mengangguk setelahnya. Dia terlalu sibuk dengan dunianya sehingga lupa akan tugasnya. Beruntung Bianca mengingatkan dirinya.
Siska berjalan keluar dengan santai. Dia kemudian memberi tahu teman sekelasnya untuk segera masuk. Sebagian dari mereka masuk dengan mudah, tetapi tidak dengan Jerry dan teman-temannya.
"Heh, masuk!" tegur Siska kencang. Dia berkacak pinggang di dekat pintu.
Jerry dan teman-temannya itu tengah duduk santai di depan kelas. Sangat-sangat tidak enak dipandang.
"Nanti. Tunggu bel!" jawab salah seorang dari mereka singkat.
Siska menarik napasnya dan bergegas masuk ke dalam. Dia akan menggunakan Bianca untuk menaklukkan anak-anak menyebalkan itu.
"Jerry sama gengnya enggak mau masuk, tuh! Lo aja yang kasih tahu, jangan gue!" ujar Siska sembari duduk dengan kasar.
Bianca melihatnya sekilas dan langsung berjalan keluar kelas.
"Sis, itu udah tugas lo. Ya, lo harus bisa nyuruh mereka masuk, lah!" ujar Fenia menegur Siska.
Siska menggeleng pasrah sebagai balasannya. Dia tahu itu tugasnya, hanya saja emosinya yang menggebu-gebu tidak bisa dihadapkan dengan Jerry dan teman-temannya.
"Gue tahu, tapi kalau sama Jerry, gue nyerah. Lo tahu gue ini emosian," balas Siska membuat Fenia terdiam.
Siska ada benarnya juga, tetapi Jerry bisa dipandang sebagai anak yang diemaskan nanti. Ibaratnya, Jerry tak bisa disenggol walau sedikit pun.
Sementara itu, Bianca berusaha bersabar menghadapi Jerry. Dia sudah meminta Jerry untuk masuk secara halus, tetapi ditolak.
"Jerr, gue mohon masuk. Guru sebentar lagi datang dan jangan sampai dia ngeliat lo ada di sini. Suruh juga temen-temen lo ini masuk ke kelasnya masing-masing. Jangan mencemarkan nama kelas kita," ucap Bianca berusaha membuat Jerry mengerti. Belajar dari kasus Siska, dia tahu jika Jerry tak bisa diperlakukan kasar.
Jerry yang mendengar hal itu pun mendengus kasar dan langsung memerintahkan teman-temannya untuk kembali ke kelas mereka.
"Udah kalian balik ke kelas. Gue mau masuk!" ujarnya singkat sebelum berjalan meninggalkan Bianca.
Setelah semua anak kelasnya aman, Bianca pun masuk ke kelas. Belum sempat dia duduk, guru mereka telah datang. Huh, Bianca benar-benar lega karena Jerry mau menuruti ucapannya.
"Selamat siang, anak-anak!" sapa guru itu ceria.
Wajahnya terlihat berseri-seri dengan polesan yang cantik. Tidak berlebihan, tapi cukup membuat murid lelaki di kelasnya tergila-gila. Sayangnya, hal itu tidak berlaku bagi Jerry yang sibuk dengan gambarnya sendiri.
"Siang!" balas murid serempak. Mereka memperhatikan guru tersebut yang mulai membuka buku absennya.
"Hari ini kita akan membuat kelompok, ya. Berjumlah empat orang setiap kelompoknya!" ujarnya memberitahu.
Bianca langsung melirik Siska yang kini membanggakan dirinya. "Gue bilang juga apa!" tukas Siska senang. Dia sedang menanti daftar kelompok yang akan diisinya.
"Nanti kalau ngerjain tugasnya, kita sambil main, ya!" bisik Siska kepada Bianca yang menaikkan sebelah alisnya. Kemudian, terbitlah sebuah senyum kecut terlihat di wajah cantiknya.
Bianca senang satu kelompok dengan sahabatnya, tetapi inilah yang tidak dia suka. Jika mereka belajar sambil bermain, pasti akan berujung sibuk dengan obrolan mereka. Bukan pada tugas yang seharusnya diselesaikan secepat yang mereka bisa.
"Nah, kali ini kita akan acak anggota kelompoknya!" ujar guru itu penuh semangat.
Dia berdiri dari duduknya dan mulai menunjuk beberapa orang yang akan diberi tanggung jawab sebagai ketua.
"Bianca, Selvia, Maharani, Zevanya, Indra, dan Daniel silakan maju ke depan. Kalian akan menjadi ketua di masing-masing kelompok!" perintahnya pada anak-anak yang dia sebutkan.
Bianca membeku sejenak di tempatnya. Dia menatap Siska yang kini terkejut setengah mati.
Demi apa pun, kenapa jadi seperti ini? Dia kira anggota kelompok bebas seperti biasanya. Namun, nyatanya dipilih secara acak. Bodoh! Dia rugi besar jika seperti ini!
"Sumpah, gue enggak tahu kalau bakal kayak gini ujungnya!" sesal Siska saat mendapati raut horor sahabatnya.
Mereka menatap Siska tajam diiringi dendam kesumat. Kesenangan dan rahasia yang mereka susun tadi hancur sudah. Semua ini karena Siska yang ceroboh! Dia tidak mendapat informasi yang akurat!
Murid yang dipanggil namanya itu pun sudah maju ke depan kelas. Hanya Bianca yang masih berdiam diri di bangkunya. Dia masih dikuasai rasa terkejutnya.
"Bianca, ayo maju!" ujar guru tersebut mengagetkan Bianca. Tanpa membalas, Bianca pun maju dan mengambil posisi pertama.
"Nah, karena ketuanya sudah ada, sekarang kita tinggal mencari anggotanya." Guru tersebut mengambil kertas, pulpen, dan gunting.
Sahabat Bianca hanya memperhatikannya dalam diam. Hingga detik selanjutnya, mereka memiliki sedikit harapan.
"Dua orang tolong ke depan dan bantu Ibu. Kita adakan undian untuk menentukan dengan siapa kalian bergabung," ujarnya meminta pertolongan.
Fenia dan Siska dengan semangat maju ke depan. Dalam hati mereka merapalkan doa agar bisa satu kelompok bersama Bianca.
"Tulis nama ketua kelompok yang tersedia dan gunting kertasnya setelah itu. Kemudian, kalian gulung dan suruh anak-anak bergantian memilihnya."
Siska dan Fenia mendengarkan dengan baik. Mereka melakukan pekerjaan itu dengan cepat. Semangat yang semula redup pun mulai terbakar lagi.
"Sudah, Bu!" ucap mereka serempak dengan enam gulungan kertas di tangan Siska.
"Siska, kamu suruh mereka memilih. Dan Fenia, kamu mencatat dengan siapa mereka bergabung!" titahnya yang langsung dilaksanakan. Fenia bersiap dengan spidol dan Siska mulai berkeliling.
Siska meminta setiap temannya untuk mengambil satu gulungan kertas. Dalam hati Siska harap-harap cemas. Jangan sampai ada yang bergabung dengan Bianca selain dia dan sahabatnya.
Tiba di bagian Jerry, Siska memberikannya dengan ketus. "Ambil satu!" ujarnya jutek. Dia menekuk wajahnya membuat Jerry keheranan melihatnya. Apa gadis ini masih menaruh dendam dengannya?
"Gue dapet Bianca," ucap Jerry pelan setelah dia membuka gulungan yang diambilnya.
Siska membulatkan matanya dan lekas merebut kertas yang Jerry ambil. "Hah? Bianca? Kurang ajar!" desis Siska penuh permusuhan. Dia menatap tajam Jerry yang berani mengambil posisinya.
"Enggak usah ribet, lo. Gue enggak tahu bakal dapat dia. Kalau gue tahu, udah gue tuker kertasnya!" sinis Jerry tak suka.
Dari wajah Siska yang mulai asam itu, Jerry tahu ada prasangka buruk yang tersimpan untuknya.
"Tahu!" balas Siska ketus. Dia lekas berteriak pada Fenia agar mencatatnya.
"Jerry dapat Bianca!" teriak Siska kencang membuat seisi kelas terkejut mendengarnya. Apalagi dengan Bianca sendiri. Dia langsung menatap Jerry di saat laki-laki itu sendiri tengah menatapnya.
Ya ampun, cobaan apa lagi ini? Apa tidak cukup dengan pengorbanannya semalam dan kini harus berada satu tempat dengan Jerry?
Sementara itu, Tania sudah pasrah. Dia tak tahu akan bersama siapa nanti. Maka dari itu, dia hanya bisa berharap jika kelompoknya mau bekerja sama.
Semua orang akhirnya sudah mengambil bagian, termasuk Tania yang satu kelompok dengan Zefanya. Hanya tinggal Siska dan Fenia saja yang tersisa.
Raut wajah mereka sudah tak bersemangat lagi ketika sudah tak ada tempat untuk bergabung bersama Bianca. Hanya Selvia dan Daniel yang tersisa.
Siska pun memilih dengan asal dan mendapatkan Selvia. Dia dengan pasrah menulis namanya sendiri. Kemudian, Fenia juga membubuhkan namanya di dalam kelompok Daniel.
"Nah, tugas kalian adalah membuat penelitian dengan objek penelitian yang kalian pilih sendiri."
"Setelah itu, buat menjadi laporan dalam bentuk power point sekreatif mungkin dan posting tugas tersebut untuk mendapatkan like sebanyak mungkin."
"Kriteria penilaian berdasarkan kelengkapan laporan dan banyaknya like yang diberikan."
Guru tersebut menjelaskan secara panjang lebar. Dia menatap para ketua yang sudah ditunjuk dan memberikan penjelasan lebih detail kepada mereka.
***
"Jangan deket-deket gue, lo!" sinis Fenia saat Siska ingin duduk di sampingnya.
Siska membuang wajahnya dan mendengus kesal. "Terus gue duduk di mana? Di sebelah Bianca ada Tania," tanya Siska setengah emosi.
Dia melirik Tania yang bersikap tak mendengar apa-apa.
Mereka berada di kantin saat ini dan keheningan terus melanda mereka. Efek terkejut karena yang mereka rencanakan tak berjalan.
"Jangan ribut. Ini di kantin," ucap Bianca menengahi sebelum terjadi keributan.
Kepalanya sendiri pusing sejak tahu Jerry sekelompok dengannya. Jika ditambah keributan Siska dan Fenia, Bianca tak yakin dia akan baik-baik saja.
Di saat dia sendiri berusaha menjaga jarak dengan Jerry, takdir justru berkata lain. Demi apa pun, Bianca mau berkelompok dengan siapa saja, asalkan jangan Jerry yang kemungkinan memiliki pemikiran berbeda dengannya.
Siska dan Fenia pun kembali hening. Mereka saling mendiamkan satu sama lain.
"Bianca, kelompok lo gimana?" tanya Tania yang jengah dengan keheningan.
Dia penasaran dengan kelompok Bianca yang memiliki dua manusia mendominasi. Satu Jerry dan satu lagi Bianca. Keduanya berada di posisi yang sama menurut Tania. Sama-sama berotak cerdas.
"Maksud lo?" tanya Bianca tak paham. Tania diam-diam menunjuk Jerry yang tengah duduk di belakang Bianca.
Bianca langsung menengok dan terkejut saat mendapati Jerry di belakangnya.
"Lo, kan, sekelompok sama Jerry. Nah, diskusi kelompok lo udah sampai mana?" tanya Tania pelan. Dia tidak ingin Jerry mendengar pembicaraan mereka.
Bianca langsung menggeleng pelan. Dia mengurut pangkal hidungnya yang terasa sedikit nyeri.
"Gue belum berbuat apa-apa. Gue ada bahan untuk objeknya, tapi gue enggak yakin dia bakal suka. Kalau yang lain mungkin setuju-setuju aja, tapi dia?" ujar Bianca menggantung ucapannya. Lebih tepatnya, dia tidak mau mengucapkan apa yang ada di pikirannya.
"Lo enggak bisa jamin!" potong Siska cepat. Bianca mendelik pada Siska yang menyerobot ucapannya. Ya ampun, mulut Siska benar-benar tak bisa disaring
"Kayaknya lo sama dia enggak nyambung, deh!" celetuk Fenia. Dia memperhatikan wajah Bianca dan Jerry secara bergantian.
Wajah kedua orang ini sama-sama terlihat penuh ambisi. Hanya saja, Jerry memang lebih santai. Namun, gerak-gerik keduanya nyaris sama.
"Lo mungkin bakalan ribut sama dia saat kerja kelompok nanti!" sambungnya dengan mata yang menyipit.
Tania dan Siska mendengarkan dengan baik dan membenarkannya. Fenia sudah terlihat seperti ahli saat ini. Dia meramalkan Bianca dan Jerry berdasarkan wajah mereka.
Bianca terlihat semakin lesu. Dia menatap temannya bergantian. "Awalnya gue cukup semangat mau ada tugas kelompok, tapi pas tahu gue sekelompok sama dia, gue mau individu aja!" ujar Bianca mencurahkan isi hatinya.
Siska langsung mengangguk berkali-kali. Itu juga yang dia inginkan! Siska tak suka diperintah dengan orang lain, apalagi manusia bernama Selvia.
"Gue harap lo mau bersabar aja, Bianca!"