"Gue kenapa disuruh ke sini?" tanya Jerry penasaran sembari berjalan di sebelah Bianca.
Bianca tak langsung menjawab, dia justru berhenti dan menatap Jerry dengan kesal. Andai saja tadi Jerry mau mendengarkannya dengan baik, mungkin lelaki itu tidak akan menanyakan hal ini sekarang.
"Gue udah kasih tahu lo sebelumnya, kan?" tanya Bianca balik. Dia menaikkan sebelah alisnya saat melihat Jerry memutar bola matanya malas. Seharusnya dia yang melakukan hal itu karena Jerry telah membuatnya kesal.
Jerry mengedikkan bahunya tak peduli. Dia malas menanggapi Bianca yang tidak niat memberinya jawaban. Jika tidak mau menjawab, Jerry juga tidak akan memaksa.
Melihat reaksi Jerry, Bianca pun mengalah. Dia tidak bisa bersikap keras di depan Jerry atau anak itu akan mengadu macam-macam saat di ruang guru nanti. Meski Jerry bukan orang seperti itu, tetapi dia harus tetap hati-hati.
"Cara cepat yang lo kasih itu bikin gurunya penasaran. Dia pengen tahu lo belajar dari mana. Dia juga mau tahu kenapa lo bisa kasih ide menarik untuk dijadiin bahan penelitian," jelas Bianca membuat Jerry merengut tak suka.
"Kok, bisa?" tanya Jerry tak mengerti. Dia menatap penuh selidik ke arah Bianca yang kini kebingungan dengan maksud pertanyaan Jerry.
"Apanya?" tanya Bianca balik. Dia tidak bisa memahami apa yang Jerry inginkan.
Jerry berdecak kesal. Sebagai jawabannya, dia menunjuk wajah Bianca dengan enteng.
"Kenapa bisa itu guru tahu kalau gue yang punya cara sama ide itu?" tanya Jerry lebih jelas. Dia menuntut jawaban dari Bianca yang langsung terdiam tak percaya mendengarnya.
Bianca memilih mendekat pada Jerry. Dia menatap wajah lelaki tampan di depannya, tetapi menjadi lelaki yang paling dihindarinya.
"Gurunya tanya sama gue. Ya, gue jawab jujur, lah!" jawab Bianca setengah kesal. Dia merasa menjadi pihak tertuduh yang telah melakukan kesalahan besar.
Jerry menurunkan tangannya dan membuat gerakan meremas wajah Bianca. Jawaban Bianca baru saja membuatnya kesal bukan kepalang. Kenapa gadis itu menjawab dengan jujur? Seharusnya dia berbohong saja!
Kehidupan Jerry mungkin tak akan sesantai dulu lagi mulai saat ini. Dia mungkin akan disuruh-suruh atau menjadi orang kepercayaan guru. Sungguh, bukan ini yang Jerry mau. Dia tidak suka menjadi orang kepercayaan guru.
Di sekolahnya yang dulu pun Jerry melakukan hal yang sama. Dia selalu saja membuat ulah untuk menutupi kecerdasannya. Namun di sini hal itu berakhir sia-sia.
"Lo lagi apa, sih?" tanya Bianca tak terima diperlakukan seperti itu. Dia memundurkan tubuhnya dari Jerry.
Jerry ini kenapa terlihat sangat jengkel dengannya dalam waktu singkat? Kenapa lelaki itu bahkan terlihat ingin melukai wajahnya? Apa dia terserang gila mendadak?
Bianca menghentakkan kakinya karena merasa kesal dengan tingkah kasar Jerry barusan. Dia sangat tidak suka dengan laki-laki yang berani mengangkat tangannya pada perempuan.
Meski Jerry tak benar-benar menyentuh wajahnya, tetapi sikap lelaki itu tetap saja tak pantas. Tidak seharusnya Jerry bersikap begitu meski dia tengah kesal pada Bianca.
Lagipula Bianca sendiri tidak tahu apa yang menjadi permasalahan Jerry. Laki-laki itu langsung bersikap demikian setelah mendengar jawabannya.
Memangnya ada yang salah dengan jawaban Bianca? Bianca tak menambah-nambahi apa pun di dalam ucapannya. Dia berbicara jujur dan apa adanya pada Jerry.
"Seharusnya lo jangan jawab! Gue enggak mau jadi pesuruh guru itu!" ujar Jerry kesal. Dia berjalan menjauhi ruang guru sehingga Bianca yang melihatnya pun terkejut.
Bianca lekas mencekal tangan Jerry agar lelaki itu menghentikan langkahnya. "Tunggu, lo mau ke mana, Jerry?" tanya Bianca setengah panik. Dia meminta Jerry berbalik dan menatap wajahnya.
Jerry menuruti hal itu dan lekas menatap wajah Bianca dengan ekspresi yang sangat datar. Tangannya menghentak tangan Bianca hingga terlepas.
Bianca terlihat sedikit kaget saat tangannya tersentak tiba-tiba. Namun, dia tak mengurungkan niatnya untuk berhadapan dengan Jerry.
"Gue mau pulang!" putus Jerry sepihak.
Bianca tak terima mendengarnya. Pulang katanya? Enak saja! Bianca bisa terkena masalah jika Jerry tak menemui guru mereka. Tidak, ini tidak boleh dibiarkan! Lagipula Jerry sudah menyanggupinya di awal.
"Enggak boleh sebelum urusan kita selesai!" larang Bianca tajam. Dia menatap Jerry dengan menuntut dan lekas menggandeng Jerry kuat agar tidak lepas dari pengawasannya.
Jerry menggeram kesal dan membalik tubuh Bianca kasar hingga Bianca kembali berhadapan dengannya. "Itu urusan lo, bukan gue! Lo yang menyanggupi, lo juga yang tanggung jawab!" ucap Jerry santai.
Bianca memiringkan kepalanya dan langsung tersenyum misterius. "Kalau begitu gue akan bawa lo ke urusan gue!" balasnya tajam dan langsung membawa Jerry ke ruang guru.
Jerry pun akhirnya hanya bisa pasrah. Dia sudah ditarik dengan dua gadis hari ini. Dan Jerry akui, dia selalu kalah.
Jadi, apakah kekuatan perempuan memang seperti ini? Jauh lebih kuat, bahkan dari dirinya yang dipenuhi otot?
Setelah itu, mereka pun sampai di ruang guru. Bianca dengan santai mendorong Jerry ke dalam. "Bianca!" geram Jerry menatap ke arah Bianca yang berdiri di belakangnya.
Tak ingin memberi kesempatan Jerry untuk melayangkan protes lagi, Bianca pun lekas menutupi pintu setelah dirinya masuk. "Ayo, Jerr!" ajak Bianca ramah membuat Jerry menaikkan sebelah alisnya.
Sungguh hebat gadis satu ini. Dia bisa berubah hanya dalam hitungan detik. Tadi saat berdua saja dengannya, Bianca tampak angkuh dan tak tersentuh. Namun saat ini? Wow, Bianca menjelma menjadi sosok yang sangat lembut dan penuh wibawa.
Jerry jadi penasaran dengan Bianca yang suka sekali berubah sikap. Meski jarang berbicara dengan Bianca, Jerry tak pernah luput mengawasi gadis itu.
Jerry tahu jika Bianca menyimpan sesuatu yang besar dalam hidupnya. Gadis itu mungkin saja memiliki rahasia yang selama ini dia tutup rapat-rapat.
Kalau memang pemikiran Jerry benar, dia akan sangat senang saat mengetahuinya. Dan Jerry berjanji pada dirinya sendiri jika dia akan menjadi orang pertama yang mengetahui hal tersebut.
Jerry tidak akan membiarkan orang lain mendahuluinya. Karena sungguh, Bianca berbeda dari gadis biasanya yang terbuka.
"Gue akan jadi orang pertama yang tahu rahasia besar lo, Bianca!" ucap Jerry di dalam hatinya.
Kemudian, dia pun memilih untuk mengikuti permainan Bianca. Jerry ingin melihat sampai mana gadis itu memainkan perannya dengan baik.
"Ya," balas Jerry ramah menuai kernyitan kecil di dahi Bianca, tetapi segera dikendalikannya.
Baru saja mereka masuk, guru tersebut ternyata sudah menunggu mereka. Dia menunggu di sofa yang berada di dalam ruang guru.
"Akhirnya kalian datang juga, mari duduk!" ujarnya menawarkan.
Bianca dan Jerry pun lekas duduk di sofa yang sama, tetapi saling berjauhan. Bianca rasanya ingin pindah, tetapi tidak ada tempat lagi.
Mereka harus duduk berhadapan dengan guru mereka, bukan? Jadi, tidak ada posisi yang pas selain tempat Bianca saat ini.
Satu jam kemudian.
Guru tersebut sangat antusias saat berbicara dengan Jerry. Dia bahkan mengabaikan Bianca yang jelas-jelas berada di samping Jerry.
Sepanjang pembicaraan, hanya Jerry dan Jerry yang mereka bahas. Bianca hanya ikut menimpali sesekali, itu pun jika gurunya meminta.
Jujur, Bianca sudah tidak betah terus duduk di tempat yang sama sekali tak menganggapnya ada. Telinganya terasa panas saat pujian untuk Jerry terus dilayangkan, sementara dirinya sendiri hanya bisa mendengarkan dengan pasrah.
"Terima kasih, Jerry atas waktu dan kesediaannya untuk berbagi ilmu dengan Ibu. Terima kasih juga untuk Bianca sudah mau mendampingi Jerry di sini. Ke depannya Ibu berharap kalian bisa memberikan karya yang lebih baik lagi!" ucap guru tersebut menutup perbincangan. Dia menatap Bianca yang tersenyum sembari mengangguk dua kali.
Jerry yang berada di sebelah Bianca menyadari hal tersebut pun tersenyum miring. Dia tahu Bianca nyaris mati kebosanan di sini. Hal itu tentu saja tidak luput dari rencana Jerry.
Jerry memang sengaja memilih bahasan yang panjang agar gadis di sampingnya tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Jerry juga sengaja melakukan hal itu karena ingin memancing emosi Bianca. Dia ingin melihat apa yang akan Bianca lakukan pada dirinya setelah keluar dari ruang guru nanti.
"Ah, kalau begitu kami pamit pulang dulu, Bu. Terima kasih kembali atas waktu dan ilmu yang telah Ibu bagi," balas Bianca sembari berdiri dari duduknya. Dia memberi kode pada Jerry agar melakukan hal yang sama.
Jerry menurut dan lekas membungkukkan sedikit badannya. Kemudian, mereka pun keluar bersamaan.
Jerry berjalan dengan santai di depan Bianca. Dia berusaha menghalangi langkah gadis itu yang tampak tak ingin berdekatan dengannya.
"Bisa enggak usah ngehalangin jalan?" tanya Bianca tak suka. Dia mendorong Jerry pelan agar menyingkir dari hadapannya.
Didorong seperti itu rupanya membuat Jerry tersenyum tipis karena rencananya berhasil. Dia berbalik dan melipat kedua tangannya sembari menatap Bianca yang sibuk dengan ponselnya. Gadis itu tengah menghubungi seseorang.
"Gue ganggu?" tanya Jerry iseng.
Bianca menaikkan sebelah alisnya. Dia langsung menurunkan ponselnya dan fokus menghadapi lelaki di depannya.
"Lo tahu jawabannya!" jawab Bianca ketus dan langsung berjalan menjauhi Jerry.
Bianca tampak berlari kecil untuk segera keluar dari lingkungan sekolah. Jerry memilih untuk mengikutinya meski motornya berada di parkiran sekolah.
"Gue enggak tahu kalau lo belum jawab!" balas Jerry semakin jahil. Dia ingin membuat sisi lain Bianca keluar dan menuntaskan rasa penasarannya.
Bianca yang mendengar hal itu pun tampak tertarik untuk menanggapinya. Dari nada bicaranya, Bianca tahu jika ada maksud lain yang Jerry ingin sampaikan.
Ini bukan pertanyaan biasa yang bisa dijawab dengan mudah, tetapi ada permainan emosi dan kelihaian menutupi jati diri di dalamnya.
Bianca tidak boleh lengah atau Jerry akan menemukan celah untuk menjatuhkan dirinya. "Lo ganggu hidup gue karena lo yang selalu berulah! Lo juga ganggu waktu pulang gue hari ini," ucap Bianca dengan biasa saja.
Bianca tidak menyinggung apa pun yang bersifat rahasia. Dia mengucapkan kalimat yang dirasa umum dan wajar untuk gadis seusianya.
Setelah mengucapkan itu, Bianca pun berlari kecil saat melihat mobil jemputannya sudah tiba. Dia masuk mobil dengan cepat dan tak lupa memberikan tatapan mautnya pada Jerry.
"Mau sejauh apa pun lo ngelak, lo tetap enggak bisa berkutik saat semua yang lo simpan rapat-rapat akhirnya terbongkar!"
***
"Bianca, besok kamu ikut ke sekolah?" tanya Novita sembari melirik Bianca yang kini tengah membaca buku.
Bianca lekas menaruh bukunya dan memusatkan seluruh perhatiannya pada sang ibu. Dia tidak ingin Ibunya merasa tidak dihargai hanya karena Bianca sibuk dengan dunianya sendiri.
"Aku ikut! Aku mau ketemu temen sebelum libur sekolah," jawab Bianca setengah lesu. Besok adalah hari pembagian raport tengah semester dan Bianca merasa sedih karena dia akan kesepian saat liburan nanti.
Teman-temannya pasti lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga. Sedangkan dirinya mungkin akan terus berada di dalam rumah dan berdiam diri di kamar sendirian. Hal itu sangat membosankan karena bagaimana pun, Bianca selalu terhibur dan rindu dengan tingkah laku sahabatnya.
Novita yang melihat reaksi anaknya pun hanya menghela napasnya kasar. Dia tahu jika Bianca berusaha memberinya kode untuk menghabiskan waktu bersama. Namun, dia tak bisa melakukannya. Ada banyak hal yang jauh lebih penting dibanding berada di rumah dan bermalas-malasan.
"Jangan takut bosan saat liburan nanti. Mama akan beli banyak buku untuk kamu baca selama liburan!" ujarnya tegas dan langsung berjalan meninggalkan Bianca.
Bianca lekas menyusul Ibunya. Dia menyamakan langkahnya dengan sang ibu yang kini menatap malas dan mendengus kesal akan kehadirannya.
"Ma, mau ke mana malam-malam begini? Kenapa juga pakaiannya rapi?" tanya Bianca cepat.
Bianca melirik pada ibunya yang memakai setelan kantor dan dipadukan dengan gaun pendek selutut. Sungguh, penampilan Ibunya saat ini sangat cantik, tetapi aneh di saat yang bersamaan. Ini sudah malam dan kenapa tetap berpenampilan rapi?
"Apa ada rapat?" tanya Bianca lagi saat tak mendapat jawaban.
Novita menaikkan sebelah alisnya jengah karena Bianca terlalu banyak bertanya. "Kamu enggak perlu tahu. Mama punya banyak urusan penting yang enggak bisa ditunda!" jawabnya ketus membuat Bianca sedikit terkejut. Namun, Bianca lekas menenangkan dirinya sendiri. Dia tampak mencegah Ibunya pergi.
"Mama baru pulang setelah dua minggu perjalanan bisnis dan sekarang mau berangkat lagi? Mama enggak capek? Kalau Mama capek, Mama bisa is—"
"Diam! Mama yang jauh lebih tahu diri Mama sendiri! Kamu hanya perlu menurut dan belajar dengan benar!" potong Novita sinis.
Novita langsung berjalan meninggalkan Bianca. Namun, Bianca kembali bersuara sehingga Novita menghentikan langkahnya dan berbalik menatap sang anak.
"Papa ikut?" tanya Bianca pelan, seperti mencicit.
Novita tersenyum kecil dan langsung mendekat pada anaknya. Dia mengusap kepala Bianca pelan.
"Tentu. Dia akan ikut seperti biasanya!" jawab Novita diiringi senyuman dinginnya dan langsung berjalan cepat keluar rumah.
Bianca tak lagi bisa membalas. Dia menatap kepergian Ibunya dengan lesu saat mengingat dirinya kembali ditinggal kedua orang tuanya untuk pekerjaan.
***
Bianca tengah tertawa bersama teman-temannya saat kedua orang tuanya menghampirinya dengan raut wajah tak terbaca.
Mereka mendekati Bianca dan langsung memegang lengan anak gadis mereka dengan lembut. "Bianca, ayo kita pulang!" ajak Novita sangat lembut. Dia menatap Bianca penuh peringatan saat sang anak menggeleng.
"Papa dan Mama ada rapat, Nak. Tidak mungkin kami meninggalkan kamu di sini, kan?" ujar Barra—Ayah Bianca—yang kini menimpali ucapan istrinya.
Bianca semakin tak mengerti. Biasanya orang tuanya akan dengan setia menunggu saat dirinya masih ingin berada di sekolah. Namun, kenapa kali ini berbeda?
Melihat hal itu, Siska pun lekas angkat bicara. "Mending lo pulang, Bianca! Kasihan Om Barra sama Tante Novita banyak urusan. Lo kalau kesepian, tinggal telepon kita aja, nanti juga kita main ke sana!" ujar Siska memberi pengertian.
Bianca terdiam sejenak dan mengangguk pasrah setelahnya. Dia kemudian pamit pada ketiga temannya dan lekas mengikuti langkah kedua orang tuanya.
Saat berada di mobil, suasana tiba-tiba saja berubah. Hati Bianca yang semula tenang pun diliputi kegelisahan saat melihat mata tajam dan wajah marah kedua orang tuanya.
Ketika mobil mulai keluar dari sekolah, Novita membuka mulutnya. Dia menatap Bianca yang duduk di belakang sendirian.
"Mama sudah pernah bilang untuk fokus belajar dan menjadi satu-satunya, bukan?" tanya Novita pada Bianca yang tengah melihat ke jalan.
Mendengar suara Ibunya, Bianca pun lekas menengok dan tertegun saat melihat wajah dingin dan datar yang menyeramkan. "I—iya," jawab Bianca gugup. Dia tidak pernah ditatap seperti ini sebelumnya.
Biasanya setelah pembagian raport, orang tuanya selalu memberi apa pun yang ia mau. Namun Bianca tak mendapati hal itu saat ini dan sebagai gantinya, dia justru menjadi sasaran mata tajam kedua orang tuanya.
"Lalu kenapa kamu berbohong dan mengabaikan ucapan Mama, Bianca?" tanya Novita lagi.
Bianca semakin tak paham. Dia justru tampak mengeyel dan mempertahankan dirinya di depan orang tuanya. "Aku enggak bohong, Ma. Aku juga enggak mengabaikan ucapan Mama. Bianca menuruti semua nasihat Mama," ucap Bianca membela dirinya.
Tak pernah sedetik pun dia melupakan ucapan orang tuanya. Atau bahkan tak pernah terlintas di benak Bianca untuk berpura-pura mematuhi ucapan orang tuanya.
"Lalu kenapa anak bernama Jerry bisa menyaingimu!