"Jadi, apa yang terjadi di sana? Kok, Bianca kayaknya beda banget. Enggak kayak biasanya," tanya Fenia penasaran. Dia menatap ke arah Siska yang berada di depannya.
Siska melihat sekitar. Meski telah memilih tempat terpojok dan sepi, tetap saja dia harus berhati-hati.
Siska mendekatkan wajahnya dengan wajah kedua sahabatnya. Dia berbisik pelan saat menyebutkan sebuah nama. "Itu gara-gara Nada," bisiknya pelan.
Siska langsung menjauhkan wajahnya setelah Fenia dan Tania bereaksi. Sepertinya kedua sahabatnya dapat mendengar dengan jelas ucapannya.
Fenia dan Tania menyipitkan matanya. Karena Nada? Berarti Nada membuat masalah di keramaian? Sungguh? Wah, benar-benar tidak bisa dipercaya, tetapi nyata terjadi.
"Dia buat masalah di sana?" tanya Tania memastikan. Siska mengangguk hati-hati sebagai jawabannya.
Sementara Fenia mengerang kesal melihatnya. Sayang sekali dia tidak ikut ke sana sehingga tidak bisa memberi pelajaran pada ular seperti Nada. Jika dia berada di sana, dapat dipastikan jika Nada kehilangan rambut indahnya dalam waktu yang singkat.
"Masalah apa?" tanya Fenia tak sabar.
Siska semakin berhati-hati karena dia yakin berita itu dapat menyebar dengan cepat. Siska tidak bisa memastikan siapa saja yang menjadi temannya dan musuhnya.
Di sana pun banyak ular seperti Nada, hanya saja mereka lebih lemah dan suka bermain di belakang. Jadi, Siska tidak bisa sembarangan membeberkan semuanya. Jika dia sembarangan, bisa saja ular-ular itu berada di sini dan berpikir jika Bianca yang menyuruhnya.
"Kelompok Bianca kan, menang, tuh!" ucap Siska lambat. Fenia dan Tania lekas mengangguk. Mereka semakin mengikis jarak di antara ketiganya.
"Nah, sementara kelompok Nada itu bisa dibilang berantakan. Kelompoknya enggak nyatu dan enggak bisa diajak bekerja sama," tambah Siska lagi. Dia tampak santai dan mengejek saat menceritakan bagian ini pada si kembar.
Fenia dan Tania yang melihat wajah penuh penghinaan dari Siska pun memilih mengikutinya. Siska lebih tahu dari mereka saat ini.
"Mungkin karena enggak terima, Nada bilang ke semua orang bahwa seharusnya yang jadi ketua di kelompok Bianca itu Jerry, bukan Bianca!" sambung Siska membuat kedua saudari itu kebingungan.
Fenia dan Tania menatap Siska penuh tanda tanya. Mereka melewatkan banyak kejadian hingga sekarang tak mengerti apa-apa. Apa maksud Nada meminta Bianca untuk mundur? Dan atas dasar apa dia mengatakan hal itu?
Fenia memantapkan hatinya untuk bertanya. Dia harus mendapatkan jawaban yang jelas dari Siska. "Kenapa? Kenapa dia bisa ngomong kayak gitu di depan Bianca?" tanya Fenia mulai emosi. Tangannya mengepal di atas meja.
Fenia benar-benar rugi tidak menjadi ketua kelompok sehingga tidak bisa menyaksikan hal itu. Kalau tahu hal ini akan terjadi, Fenia akan mengajukan dirinya sebagai ketua dan memberi pelajaran pada Nada hingga gadis itu kapok mencari gara-gara dengan Bianca.
Siska berusaha menenangkan Fenia. Dia tahu jika Fenia merasa benar-benar geram dengan perilaku buruk Nada. Namun, Nada telah mendapat pelajaran atas perbuatannya.
Setidaknya untuk saat ini, Nada mungkin akan selalu bersembunyi di kamarnya dan menangis. Jatuh di hadapan semua orang bukanlah hal yang sepele, bukan?
"Tenang, itu cewe dibuat malu sama ulahnya sendiri!" ujar Siska menenangkan. Dia rasanya ingin mengabadikan wajah Nada saat itu juga. Sayangnya, dia tidak sempat membuka ponsel.
Fenia yang mendengar hal itu pun lekas menurunkan tangannya. Dia kembali fokus mendengarkan cerita dari Siska.
"Jadi pas kelompok Bianca menang itu, gurunya kasih dua pertanyaan ke Bianca. Dia nanya siapa yang kasih tahu rumus cepat kayak gitu, terus dia juga nanya siapa yang punya ide ambil objek jarak rumah siswa dengan sekolah. Akhirnya Bianca jawab, dong. Dia jawab kalau itu dari Jerry!" ucap Siska sembari mengingat-ngingat.
Seandainya ada Bianca di sini, mungkin Bianca sendiri yang akan menceritakannya sehingga tidak akan ada kesalahan nanti. Namun, Siska sendiri tidak bisa memaksa Bianca untuk ikut.
Kejadian tadi pasti memberikan efek cukup besar bagi Bianca karena itu pertama kalinya Nada mempermalukan Bianca di depan umum tanpa ampun.
Fenia dan Tania semakin bingung karena cerita Siska. "Kok, bisa Nada bilang Jerry yang seharusnya jadi ketua?" tanya Tania tak paham. Dia meminta Siska untuk bercerita lagi karena menurutnya cerita yang Siska ceritakan masih kurang lengkap sehingga dia kesulitan menemukan titik utamanya.
Siska menghela napasnya. Padahal dia merasa telah memberi gambaran dan kunci yang jelas. Apa masih kurang? "Kalian ini lama juga, ya, mikirnya."
"Nih, karena Jerry memberikan konstribusi yang besar di kelompok Bianca, seharusnya dia yang jadi ketua. Jadi gini, loh, cara kerja otak si ular. Dia pikir yang paling banyak dan besar pengorbanannya, harus jadi ketua!" ujar Siska menegaskan ucapannya. Dia menatap Fenia dan Tania yang masih tampak berpikir-pikir.
Setelah Siska selesai dengan ucapannya, barulah gadis kembar tersebut paham. Mereka menatap Siska dengan tak percaya sekaligus marah. Berani sekali Nada mengatakan itu, padahal jelas-jelas Bianca jauh lebih baik dari dirinya.
Fenia mendekat pada Siska. Dia menatap Siska dengan tajam dan penuh selidik. "Lo enggak diem aja, kan?" tanya Fenia memastikan.
Jika Siska hanya bisa diam dan tidak membela Bianca sama sekali hingga bersedih seperti itu, Fenia tak akan mengajak Siska berbicara selama beberapa minggu.
Ditanya seperti itu, Siska pun nyaris memukul meja. Dia merasa tidak terima karena ucapan Fenia untuknya. Dasar Fenia! Tidak tahu saja dia bagaimana Siska membela Bianca habis-habisan. Jika Bianca tak segera mengajaknya pergi, mungkin Siska sudah menghajar Nada hingga tak berbentuk
"Tahan, Sis. Tahan," cegah Tania berusaha bersabar. Dia sendiri jengkel dengan Fenia. Suatu hal yang aneh jika Siska tidak melakukan apa pun saat Bianca dihina.
Siska langsung melihat wajah Tania dan menarik tangannya. Jangan sampai tangannya tiba-tiba mengarah ke rambut Fenia dan menariknya dengan keras.
Melihat reaksi Tania dan Siska, Fenia pun menyadari kesalahannya. Dia langsung menatap tidak enak pada kedua sahabatnya.
"Eh, maaf. Gue enggak bermaksud kayak gitu, kok. Sumpah! Gue cuma khawatir sama Bianca. Kalian liat sendiri gimana muka Bianca tadi. Selama ini, Bianca enggak pernah kayak gitu. Kalau ada yang jahatin dia, dia tetep santai," ucap Fenia cepat takut membuat kedua temannya semakin marah.
Fenia lekas menjelaskan maksud ucapannya. Dia tidak berniat buruk, dia hanya khawatir pada kondisi Bianca.
Siska segera melunak setelah mendengarnya. Dia menghela napas lega setelah klarifikasi dadakan dari Fenia. Namun, matanya menatap tajam ke arah Fenia dan memberinya peringatan.
"Gue bisa menjadi singa kalau hal ini terulang lagi!" ujar Siska memperingati.
Fenia lekas mengangguk cepat karena aura Siska sedikit berbeda saat ini. Dia tidak ingin mencari masalah saat keadaan Bianca sendiri sedang tidak baik. Jika Siska dan dirinya bertengkar, tidak akan ada yang memisahkan.
Tania? Dia akan masa bodoh. Terserah saudari kembarnya bertengkar dengan siapa, toh, yang terpenting bukan dengan dirinya. Karena jika dengan dirinya, mereka pasti akan kena marah saat di rumah nanti.
Siska melirik jam dinding. Waktu istirahat tinggal dua puluh menit lagi dan itu artinya, mereka harus menyelesaikan ceritanya dengan cepat. "Udah mau masuk, gue cerita ngebut, ya!" ujar Siska memberi aba-aba.
Tania dan Fenia lekas memasang telinga mereka dengan baik. Pendengaran mereka harus ditajamkan agar tidak tertinggal satu kata pun.
"Di sana ada beberapa orang yang ngedukung Nada. Mereka setuju saat Nada pengen Bianca turun jadi ketua. Tapi pas gue tantang, mereka lemes. Pada enggak mau maju dan diem-dieman!" cerita Siska.
Meski tak bisa melihat siapa saja yang memihak Bianca, tetapi Siska dapat tahu dari wajah mereka. Orang yang berwajah masam kepadanya pasti memihak Nada. Sayang kekuatan Nada tidak ada apa-apanya untuk melakukan perlawanan.
Tania dan Fenia memperhatikan dengan seksama dan mengangkat alis mereka bersamaan. Wow, lucu juga kutu penakut itu. "Segitunya mereka? Memang sengeri apa suasananya di sana tadi?" tanya Fenia lagi. Dia jadi ingin reka ulang adegan agar dapat melihat pembalasan Nada secara langsung.
Kini gantian Siska yang menaikkan sebelah alisnya. Dia kembali menerawang, mengingat seperti apa wajah takut semua orang tadi.
"Menurut gue itu biasa aja dan lebih ke sumpek, sih, ngehadapin orang kayak gitu. Tapi mungkin bagi yang lain serem karena Wike aja sampai marah, loh!" ujar Siska mengira-ngira.
Memang benar jika baginya hal itu biasa saja. Dia sudah sering ditempatkan pada posisi seperti itu sehingga baginya tak asing lagi. Namun bagi orang lain yang berada di sana tadi, bisa jadi yang sebaliknya.
Nada juga memiliki kedudukan yang cukup berpengaruh sehingga mungkin beberapa orang terkejut saat Nada diperlakukan demikian.
Tania mengetuk jarinya di dagu. Dia tahu betul siapa Wike. Bukan masalah biasa jika Wike sudah turun tangan. Dia dikenal sebagai seorang gadis yang berani dan kasar. Wajar, dia atlet pencak silat yang sudah banyak memenangkan pertandingan.
"Wike ada di pihak Bianca, terus siapa yang ada di pihak Nada?" ucap Tania terkekeh pelan dengan niat mengejek.
Tania menertawai Nada yang dengan nekat menginjak harga dirinya sendiri. Seharusnya jika Nada paham situasi dan tidak hanya mengandalkan emosi, mungkin dia bisa selamat hari ini.
Siska dan Fenia langsung terkikik mendengarnya. Tentu saja jawabannya tidak ada karena memang tak ada yang ingin mengalami kesusahan hanya karena memihak Nada.
"Jin!" jawab Fenia asal.
Siska dan Tania lekas menertawai jawaban Fenia. Mereka membayangkan jika memang jinlah yang menjadi teman Nada. Namun tiba-tiba saja Siska menghentikan tawanya sehingga si kembar pun ikut berhenti tertawa.
"Kalian mungkin akan ketawa lebih puas lagi kalau tahu apa yang dilakukan Wike ke Nada tadi," ujar Siska memanas-manasi.
Dia menatap Tania dan Fenia puas saat kedua sahabatnya berhenti tertawa. Pasti kedua gadis itu tengah menaruh iri padanya saat ini.
Tebakan Siska rupanya memang benar. Fenia mulai menaruh rasa penasaran sekaligus iri karena Siska bisa langsung melihat pertunjukannya tadi.
"Lanjut cerita lagi! Jangan buat kita berdua iri sama lo!" tukas Fenia sembari memukul meja pelan. Jika tadi dirinya yang terkena peringatan Siska, maka sekarang Siska sendirilah yang terkena amukannya.
"Wike dorong Nada sampai jatuh dan kasih cewek ular itu peringatan. Gue yakin dorongan Wike itu dorongan dahsyat! Soalnya pas Nada jatuh, suaranya lumayan kenceng, sih!" cerita Siska lagi dengan wajah yang kagum.
Dia ingin belajar cara menaklukkan musuh dari Wike yang bisa membuat seorang Nada tumbang hanya dengan sekali dorong.
Mendengar hal itu, Tania dan Fenia pun kegirangan. "Terus Nada marah enggak? Yaa, enggak terima gitu atau apa," tanya Tania penasaran.
Tania ingin melihat apakah Nada berani marah pada Wike atau tidak. Jika Nada berani, mungkin mentalnya sudah setingkat dewa.
Siska menekuk bibirnya ke bawah dan menggelengkan kepalanya. "Memangnya siapa yang mau diajak duel sama Wike di atas arena tanding?" tanya Siska balik menjawab pertanyaan Tania dan dengan cara yang berbeda.
Mendengar jawaban Siska, Tania dan Fenia pun melakukan tos. Mereka senang mendengar jawaban Siska yang terkesan sangat keren.
"Nah, Bianca tetep diem?" tanya Fenia penasaran. Dia ingin tahu apakah sahabatnya itu kembali diam atau tidak saat dihina seperti itu.
Jujur saja, Bianca terlalu banyak pasrah dan menyuruh mereka untuk tidak meladeni ulah mengesalkan musuh-musuh Bianca.
Awalnya mereka setuju untuk melakukannya, tetapi itu justru membuat musuh Bianca semakin menjadi gila. Dan kali ini pun Fenia harap hal itu tidak terjadi.
Siska mendadak lesu saat Fenia sudah mengungkapkan separuh kebenarannya.
"Ya, seperti biasa. Bianca terlalu baik, gue jadi jengkel ngeliatnya!" jawab Siska seadanya. Namun, dia kembali membuka suaranya.
"Tapi dia buka suara, kok, tadi! Seenggaknya dia buka suara untuk ngajak gue pergi dan ngasih balasan menohok untuk manusia enggak tahu diri itu!" sambung Siska mengingat-ngingetin. Dia sedikit suka dengan Bianca yang mulai berani saat ini. Setidaknya, Bianca tidak sebaik dulu.
"Wah, keren banget Bianca!" Mata Siska kemudian tanpa sengaja melihat jam dinding. Dia nyaris memekik saat melihat waktu istirahat yang sudah habis.
"Anjir! Udah masuk, woy!" pekiknya panik.
Fenia dan Tania lekas mengikuti arah pandang Siska dan bergerak brutal setelahnya. Mereka sama-sama berlari untuk masuk ke kelas secepat mungkin. Namun, langkah mereka terhenti saat melihat Jerry berjalan melawan arah dengan mereka.
Anak itu ingin pergi ke mana lagi di jam seperti ini? Di saat yang lain masuk kelas, kenapa dia justru keluar dan tampak menjauhinya?
Siska akhirnya memutuskan untuk mencegah Jerry yang ingin kabur. Dia tidak akan membiarkan Jerry kabur lagi sekarang.
"Kalian duluan! Gue mau nangkep itu tahanan kabur," titah Siska pada Fenia dan Tania yang lekas mengangguk. Mereka membiarkan Siska menangkap Jerry.
Setelah itu, Siska pun mendekati Jerry diam-diam dan lekas memegang lengannya saat Jerry tengah berhenti di persimpangan kelas.
"Heh, lo itu mau ke mana, sih?" tanya Siska tak habis pikir. Jika Jerry tidak ada di kelas saat ini, dia dan Bianca bisa dimarahi. Guru mereka yang akan masuk sekarang adalah wali kelas mereka sendiri.
"Main," jawab Jerry asal. Siska melotot tak percaya dibuatnya. Dia langsung menarik lengan Jerry untuk masuk ke kelas.
Jerry memberontak, tetapi kuku Siska menancap di kulitnya sehingga terasa perih. Mau tidak mau, dia pun menuruti Siska atau jika tidak, kulit lengannya akan terkelupas.
"Enak aja lo jawab main. Belajar, b**o!" maki Siska kasar. Dia menarik Jerry tanpa ampun agar lelaki itu tak bisa lepas sebelum sampai di kelas.
Sebenarnya Jerry bisa melawan, tetapi dia kasihan dengan Siska. Siska terlalu lemah dan bukan tandingannya yang dipenuhi otot.
***
"Bianca, lo mau kita tungguin?" tawar Fenia saat melihat Bianca yang telah menggendong tasnya.
Saat ini jam pelajaran telah selesai dan semua siswa pun diperbolehkan untuk pulang, tetapi tidak dengan Bianca dan Jerry karena memiliki janji dengan guru.
Bianca terdiam sebentar dan menggeleng setelahnya. "Jangan, gue enggak tahu ini bakal lama atau enggak, jadi kalian enggak usah nungguin!" tolak Bianca karena kasihan dengan teman-temannya.
Bianca tidak ingin membuat mereka menunggu, sementara dia sendiri tidak tahu kapan pertemuan itu selesai. Meski Bianca mungkin hanya akan diam saja di sana, tetapi Bianca tak bisa mengorbankan temannya. Mereka pasti ingin pulang setelah hari yang melelahkan ini.
"Selama apa pun itu, enggak akan sampe malam, kan?" tanya Tania pada Bianca yang seketika tertawa kecil mendengarnya.
Tentu saja tidak, jika mereka pulang sampai malam, apa kata masyarakat? Kenapa temannya ini memiliki pikiran seunik itu?
"Enggak, lah! Kalau sampai malam, kenapa enggak nginep aja sekalian?" jawab Bianca sembari memberikan analogi yang lebih logis lagi.
Fenia dan Tania menyengir mendengarnya karena Bianca jauh lebih cerdas. Mereka kemudian melirik ke arah Siska yang masih saja tak mengeluarkan suara.
"Tumben diem, Sis!" ujar Fenia menyapa sahabatnya.
Siska mendengus kesal sembari menyapu lantai dengan kasar. Dia merasa tidak mendapat keadilan saat harus piket sendirian.
Teman piketnya rata-rata memberikan berbagai alasan agar bisa bolos membersihkan kelas. Jika saja bukan karena Bianca, Siska akan melakukan hal yang sama dengan berpura-pura sakit.
"Gue lagi piket!" ketus Siska membuat ketiga temannya tertawa di atas penderitaannya.
Siska semakin kesal hingga tak lagi fokus menyapu dan langsung menaruh sapunya ke belakang. Kemudian, Siska langsung bergabung dengan ketiga temannya. Masa bodoh jika kelas belum bersih. Yang terpenting dia sudah piket!
"Katanya mau nyapu dulu," sindir Fenia sembari tertawa pelan. Siska langsung merengut dan membuang wajahnya agar tidak menjadi bulan-bulanan Fenia lagi.
"Jadi, lo enggak masalah kalau ditinggal?" tanya Siska pada Bianca yang tak kunjung pergi.
Bianca menggelengkan kepalanya dan menunjukkan ponselnya. "Gue tinggal bilang supir kalau mau pulang," ucap Bianca berusaha membuat kekhawatiran temannya menghilang.
"Kalau ada apa-apa gima-"
"Lama banget!" ketus Jerry yang lewat di samping mereka. Dia berjalan tanpa menengok kepada Bianca sedikit pun. Alhasil, perbincangan keempat gadis itu pun terhenti.
Mereka saling melirik dan disusul dengan Bianca yang langsung melambaikan tangan. Bianca tahu jika Jerry menyindir dirinya. Maka dari itu, dia pun harus segera menyusul Jerry.
"Gue duluan, ya! Kalian pulang aja!" pamit Bianca dan langsung menutup pintu kelas. Siska dan si kembar pun langsung mengikuti Bianca. Bedanya mereka berniat untuk pulang.
Seperti biasa, Siska menumpang di mobil milik Fenia. "Gue numpang, ya!" ucapnya enteng sembari menyengir lebar.
Fenia langsung memutar bola matanya malas, tetapi tak menolak. Anggap saja ini bayaran karena Siska mau bercerita di perpustakaan tadi.
"Ke kantin dulu, ya! Gue mau beli minum," ujar Tania merasa haus. Siska dan Fenia pun tak keberatan.
Setelah mereka sampai di kantin, Tania lekas membeli minum. Dia meminta Fenia dan Siska untuk menunggu.
Saat sedang menunggu, Fenia dan Siska melihat beberapa orang gadis yang tengah membicarakan sesuatu. Mereka sibuk menunjuk-nunjuk layar ponsel.
Karena penasaran, Fenia dan Siska pun memutuskan mendekat.
"Iya, seharusnya Bianca itu mundur! Dia enggak pantes jadi ketua! Dasar ketua numpang nama! Yang kerja Jerry, yang disanjung siapa!" ujar seorang gadis dengan bersungut-sungut.
"Kurang ajar!"