Nafas semua orang tercekat bersamaan. Mereka menatap khawatir ke arah Nada yang dengan berani mengucapkankan hal itu.
Bisa-bisanya seorang Nada merendahkan Bianca. Dia bahkan menyuruh Bianca untuk melengserkan kedudukannya secara tidak langsung. Nada benar-benar tidak waras!
"Nada, sadar lo!" tegur seorang gadis sembari menarik Nada menjauh dari Bianca.
Dia menatap Nada tak percaya karena selama ini Nada berteman dengan Bianca. Apakah ada seorang teman yang memperlakukan temannya sendiri seperti ini?
Nada menghempaskan tangannya. Dia tidak ingin bergeser walau seinci pun dari Bianca.
Menurut Nada, ini adalah waktu yang tepat untuk menghina Bianca sehina-hinanya. Dia akan membuat Bianca kehilangan wajah hingga tak lagi sanggup untuk hidup.
"Kenapa diem? Gue bener, iya?" tanya Nada saat tak mendapat apa pun selain diamnya Bianca. Dia menatap Bianca dengan sengit karena gadis itu sangat pandai mengendalikan emosinya.
Bagaimana bisa Bianca tetap santai seolah tak terjadi apa pun kendati semua orang menyudutkannya saat ini?
Nada ingin kembali berbicara, tetapi gadis yang bernama Wike lekas menariknya dan mendorongnya hingga terjatuh.
"Gue kasih lo izin untuk bicara dari tadi, tapi bukan berarti gue akan kasih lo izin untuk menghina Bianca!" ancamnya dengan jari telunjuk yang diarahkan ke wajah Nada.
Perlu diketahui, Wike adalah anggota OSIS. Dia memihak pada Bianca dan tahu jika Bianca adalah orang yang baik. Di kalangan OSIS sendiri tak heran jika Wike tampak dekat dengan Bianca.
Siska yang berada di belakang Nada pun tersenyum miring. Mau sebanyak apa pun orang yang mendukung Nada dan meninggalkan Bianca, tetap saja kemenangan berada di pihak sahabatnya.
Dibanding Nada yang suka menyakiti orang lain dengan mulutnya, Bianca jauh lebih baik tentunya. Dia lebih banyak menolong orang dibanding menjatuhkannya. Tidak seperti Nada yang sibuk mencari aib orang lain untuk dijadikan berita terkini.
Kemudian, Siska berjalan mendekati Nada. Dia berjongkok karena Nada masih terduduk di lantai. Sama sekali tak ada yang berani menolongnya kendati ada banyak orang yang mendukungnya tadi.
"Mana orang yang mendukung lo? Mana mereka yang setuju dengan semua omong kosong lo?" tanya Siska menantang. Dia mengangkat dagu Nada yang langsung menepisnya dengan tangan.
Nada menatap berani ke arah Siska yang selalu mengandalkan kekuatan sahabatnya. Nada sudah bertekad sehingga akan sulit untuk menggagalkannya. Dia tidak peduli kerugian apa yang ia tanggung. Karena hanya tumbangnya Biancalah yang mampu membayar ganti ruginya.
"Gue cuma mau kasih tahu lo satu hal. Lo boleh bersaing dengan Bianca, tapi gunakan cara yang bersih. Kalau lo pakai cara kotor kayak gini, lo enggak akan dapat apa pun selain malu!" ujar Siska memberi nasihat.
Siska menatap Nada yang sama sekali tak menggubris ucapannya. Terbukti dari Nada yang bangkit dan ingin menyingkirkan Siska dari hadapannya. Namun, tangannya lebih dulu dicegah dengan beberapa orang siswa.
Mereka adalah pendukung Bianca. Orang yang selalu membela Bianca, terlebih lagi saat berhadapan dengan Nada yang berstatus musuh dalam selimut.
Sekarang perhatian Siska teralihkan. Dia menatap semua orang yang berada di ruangan itu dan segera mengangkat ke atas tangan kanannya.
"Siapa yang tadi ada di pihak Nada? Ayo, jujur! Bianca enggak akan ngapa-ngapain kalian!" tanya Siska sembari mengacungkan tangannya. Dia ingin melihat siapa saja yang ikut melakukan hal serupa dengannya.
Orang-orang yang sejak tadi berbisik pun mulai mundur. Mereka tidak ingin berada di dekat Siska yang kini terlihat sangat berani.
Mereka akui bahwa pendapat Nada sempat mereka setujui, tetapi jika mengaku jujur seperti ini, sama dengan saja dengan bunuh diri.
Kubu Bianca jauh lebih kuat dari Nada. Meski Bianca memang tak bermain kubu-kubuan seperti itu, tetapi mereka tetap harus menjaga jarak aman.
"Lemah! Giliran ditanya kalian diam!" dengus Siska kesal. Dia menurunkan tangannya dan langsung mendekati salah seorang siswa. Siswa itu tampak mencurigakan di mata Siska.
Baru saja Siska ingin membuka mulutnya, Bianca sudah bersuara. Sejak tadi dia tidak nyaman dengan situasi seperti ini.
Dia adalah ketua OSIS, bukan? Seharusnya dia bisa mendamaikan, bukan menjadi penyebab keributan. Biarlah mereka menyelesaikannya di luar sekolah nanti. Itu pun jika Bianca memiliki waktu.
"Cukup, Siska. Enggak perlu ada keributan lagi di sini. Ini bukan hal yang perlu diributkan dan bukan juga hal yang penting. Gue enggak mau kalau ada salah seorang murid yang merasa enggak mendapat keadilan di sini!" ujar Bianca sembari berjalan mendekati Siska. Dia menepuk bahu sahabatnya itu dan lekas memintanya untuk mundur.
"Bagaimana penilaian mereka untuk gue, itu urusan mereka. Walau penilaian itu jelek sekalipun, enggak akan membuat gue jatuh atau berpengaruh untuk gue. Lo enggak perlu buang tenaga lo untuk hal yang percuma ini. Kita enggak tahu kapan manusia bisa berubah dan semoga pikiran kita terus terisi dengan hal-hal baik dan positif."
Bianca tersenyum menenangkan kepada semua orang. Dia berusaha membuat teman-temannya tersihir dengan ucapannya agar melupakan kejadian barusan.
Keributan ini memanglah tidak penting bagi Bianca karena mau bagaimana pun, tetap dialah ketuanya. Namun, keributan ini akan berdampak pada statusnya di sekolah ini.
Bianca kemudian mengajak Siska untuk keluar, tetapi menyempatkan diri untuk berhenti sebelum melewati pintu.
"Jangan ada keributan lagi, ya. Kalian bisa bubar dan masuk ke kelas masing-masing. Gue rasa waktu kita banyak yang terbuang di sini!"
"Dan satu lagi, kedudukan ketua ini bukan kemauan gue. Gue ditunjuk dan gue mengemban tanggung jawab besar itu. Gue beruntung karena punya anggota yang bisa bekerja sama, kreatif, dan inovatif."
"Jadi, gua harap ke depannya kalian enggak akan mempermasalahkan hal ini lagi walau terjadi pada siapa pun itu!" ucap Bianca menutup pembicaraanya. Dia lekas menarik Siska untuk pergi ke kelas.
Suasana kembali riuh setelah Bianca keluar. Masing-masing dari mereka menatap rendah ke arah Nada yang kembali kalah.
"Lebih baik lo berhenti sebelum lo hancur di tengah jalan. Lo memusuhi orang yang baik, padahal lo sendiri tahu kalau lo yang jahat di sini!" ujar Wike penuh peringatan. Dia menatap Nada tajam dan langsung berjalan pergi sembari mengibaskan rambutnya hingga mengenai wajah Nada.
Nada menggeram kesal dibuatnya. Rasanya dia ingin mencabik wajah Wike saat ini ini. Wike benar-benar berani padanya yang memiliki status lebih tinggi di dalam kepengurusan OSIS.
***
Bianca memasuki kelas dengan bahagia. Dia berusaha menyembunyikan gundukan emosi dan kemarahannya dengan senyum mautnya.
Meski dia sendiri tidak dianggap karena Jerry yang menjadi bintang tadi, tetapi dia tetap harus profesional. Dia harus menyembunyikan hal itu dari semua orang, terutama kelompoknya sendiri.
Karin dan Ayunda rupanya sudah menunggu. Mereka tampak antusias saat melihat mimik Bianca yang bahagia. Namun meredup seketika saat melihat wajah Siska yang masam.
Mereka tahu jika wajah Siska masam, berarti ada yang terjadi pada Bianca. Siska adalah pembela dan pelindung Bianca nomor satu, bukan?
"Sis, kok, muka lo asem banget. Ada kabar buruk, ya?" tanya Karin pelan. Dia menatap Siska takut karena jujur saja, dia jarang berbicara dengan Siska. Mereka berbicara hanya seperlunya dan itu pun berisi teguran Siska untuknya yang sibuk sendiri.
Siska langsung melirik ke arah Karin dan menarik napasnya panjang. Dia berusaha membuat Karin tidak takut padanya. Bagaimana pun Karin tidak salah sama sekali.
"Enggak ada, aman. Cuma ada sedikit masalah aja," jawab Siska pelan dan langsung duduk di kursinya. Saat Siska duduk, Fenia dan Tania pun langsung mengajaknya berbincang.
"Eh, siapa yang menang?" tanya Fenia antusias.
Siska langsung menunjuk Bianca dengan bangga. "Jelas Bianca, dong!" jawab Siska bangga dan langsung tertawa bersama teman-temannya.
Siska tidak ingin menceritakan kejadian tersebut saat ini. Karena menurut Siska, itu hanyalah akal-akalan Nada yang ingin menjatuhkan Bianca. Siska yakin jika Bianca merasa bangga karena memiliki anggota seperti Jerry.
Beralih pada Karin dan Ayunda.
Mereka menatap Bianca dengan penasaran saat wajah ketua mereka itu tampak bahagia. Dalam hati sudah menebak jika merekalah yang menang. Namun, mereka ingin mendengarnya sendiri dari Bianca.
"Kita menang?" tanya Karin penasaran.
Bianca tak langsung menjawab, tetapi dia memilih untuk membuat kedua temannya berpikir terlebih dahulu. Otak kedua temannya ini harus kembali diasah dengan baik.
"Video kita akan dipajang di akun gurunya!" ucap Bianca pelan.
Ayunda dan Karin terdiam bingung. Otak mereka lama untuk mencerna sesuatu. Ditambah jawaban yang Bianca berikan sedikit sulit dipahami. Mereka jadi semakin berat berpikir.
Karena teman-temannya terlalu lama, Bianca pun tertawa pelan. Dia tertawa karena melihat wajah polos dan lugu Karin saat berpikir. Sementara Ayunda terus-menerus menggaruk kepalanya.
"Iya, kita menang!" ujar Bianca antusias. Dia memeluk kedua temannya yang kini memekik senang.
"Ya ampun! Kita menang, Rin! Menang!" pekik Ayunda bahagia. Ini kemenangan pertamanya setelah bertahun-tahun menempuh pendidikan.
Ayunda menatap ke arah Bianca dengan senang dan penuh syukur. "Gue enggak nyangka bisa jadi kelompok terbaik!" ucap Ayunda terharu. Dia lekas memeluk Bianca.
Akhirnya, mereka bertiga pun berpelukan. Di saat seperti ini, Bianca merasakan sedikit ketenangan. Dia punya teman yang mau memeluknya tanpa menusuknya dari belakang.
Tiba-tiba saja Karin melepaskan pelukannya. Dia mengedarkan pandangannya ke penjuru kelas.
"Loh, Jerry mana?" tanya Karin kebingungan. Seingatnya Jerry berada di kelas tadi dan tengah duduk di bangkunya. Namun, ke mana perginya lelaki itu saat ini? Kenapa dia sampai tidak mengetahuinya?
Ah, Jerry benar-benar gesit. Melihat kesempatan untuk keluar kelas sedikit saja, dia tidak akan menyia-nyiakannya.
Ayunda langsung mengikuti arah pandang Karin dan memejamkan matanya lelah. "Jerry kebiasaan! Selalu kabur kalau ada kesempatan!" ujar Ayunda setengah kesal.
Di saat berbahagia seperti ini, lelaki itu justru pergi entah ke mana. Seharusnya Jerry ada di sini untuk merayakan keberhasilan mereka. Namun, laki-laki itu memang tidak bisa diam. Dia sepertinya tidak suka berada di dalam kelas.
Sementara itu, Bianca yang mendengar nama Jerry disebut pun langsung mengingat kejadian tadi. Hatinya tiba-tiba saja diselibungi rasa tidak nyaman dalam waktu singkat.
Masih segar di ingatannya bagaimana dia dihina karena dianggap lebih rendah dari Jerry.
Karena merasa tak nyaman, Bianca pun pamit pada Karin dan Ayunda. "Gue duduk dulu, ya. Kalian kalau mau ngobrol, ngobrol aja. Jangan lupa kasih tahu gue kalau Jerry udah datang!" ucap Bianca sembari berjalan ke bangkunya.
Tak lupa dia menitip pesan untuk Jerry. Dia masih ingat jika guru mereka menjadikannya jembatan untuk bertemu dengan Jerry. Meski Bianca tak menginginkan hal itu, dia tetap tak bisa menolak.
Ayunda dan Karin sempat bingung, tetapi memilih mengabaikannya. Ini akan menjadi berita besar untuk mereka. Dan hal ini tidak akan mereka biarkan berlalu begitu saja, mereka harus mengumumkannya di depan seluruh keluarga.
Saat duduk di bangkunya, Bianca disambut ucapan selamat dari sahabat-sahabatnya. Mereka bahkan memeluk Bianca secara brutal.
"Selamat! Gila, keren banget lo ini!" ucap Tania setengah heboh. Dia memeluk Bianca tak henti-henti meski Bianca sendiri baru saja duduk.
Bianca yang dipeluk seperti itu pun hanya tersenyum kecil. Hatinya seperti diganjal batu untuk mengakui keberhasilannya sendiri. Karena perkataan teman-teman dan gurunya tadi, Bianca jadi kehilangan semangatnya.
Bianca merasa jika kelompoknya menang bukan karena dirinya, tetapi karena Jerry. Kalau begitu, apakah pencapaian Bianca akan sempurna?
Tentu tidak! Dan karena itulah Bianca hanya menanggapi seadanya.
Tingkah Bianca yang sedikit berubah rupanya membuat Tania dan Fenia curiga. Mereka menatap Bianca penuh selidik karena terlihat lesu dan terlalu apa adanya.
"Loh, kenapa? Kok, kelihatannya lesu gitu," tanya Fenia khawatir.
Bianca hanya menggeleng sebagai jawabannya. Dia terlalu malas menjawab.
Merasa tak puas, Fenia pun member kode pada Siska untuk menjawab. Hanya Siska yang ada bersama Bianca tadi. Namun, Siska pun masih diam.
Dia tidak ingin membahasnya sekarang karena bisa membuat suasana kelas yang tenang menjadi ribut. Ketenangan saat ini sangat dibutuhkan oleh Bianca.
"Sis, jangan main sembunyi-sembunyian!" ujar Fenia mengingatkan Siska. Dia tidak suka jika ada sesuatu yang disembunyikan di antara mereka.
Mendengar hal itu, Siska pun mau tidak mau menurutinya. Namun, dia meminta syarat agar jangan membicarakan hal itu di sini.
"Jangan di sini, nanti ni kelas bisa kayak pasar. Nanti aja pas istirahat kita ngobrol di perpus!" ujar Siska mendapat pukulan di kepalanya dari Tania.
Tania menatap Siska dengan galak saat seenak jidatnya mengajak mereka bergosip di perpustakaan. "Bodoh! Perpus itu bukan tempat buat gosip, tapi buat baca buku!" ucapnya tak suka.
Siska langsung memandang malas dan jengah ke arah Tania. Dia pun mengeluarkan jurus mautnya agar Tania tak banyak berkutik.
"Lo kalau mau, ya, ikut. Kalau enggak, ya, enggak usah! Biar tahu rasa lo enggak tahu apa yang terjadi di sana tadi! Kalau lo tahu, gue jamin lo enggak akan menyesal!" ujar Siska kejam.
Tania terdiam sebentar dan langsung memajukan bibirnya. Siska terlihat sangat menyebalkan saat ini. Dia, kan, jadi tidak bisa menolak.
"Jangan sok, lo! Gue tahu kalau lo juga kepo!" tambah Fenia setuju dengan Siska. Dia menatap kembarannya dengan malas.
Jika Tania tidak ikut nanti, pasti gadis itu akan selalu mengikutinya di rumah. Dia akan meminta Fenia untuk bercerita padanya dan hal itu sangatlah menyebalkan.
***
"Eh, ayo!" ajak Fenia semangat. Dia sudah benar-benar penasaran.
Rasanya menunggu jam istirahat sangatlah lama dan inilah saatnya. Dia sudah tidak sabar untuk mendengarkan cerita dari Siska. Pasti ada sesuatu yang besar hingga membuat Bianca berubah.
Siska yang tengah memasukkan buku ke dalam tas pun mendengus kesal. Dia menatap Fenia dengan malas saat antusiasme gadis itu tidak seperti biasanya. Terlebih lagi saat Fenia berperilaku baik padanya sejak tadi. Itu tampak sangat menyebalkan di mata Siska.
Perlu diketahui, Fenia tidak akan melakukan hal itu, kecuali dia memiliki maksud tertentu.
"Sabar! Gue tahu lo ada maunya!" ujar Siska setengah kesal. Dia melirik ke arah Tania yang tengah tersenyum menunggunya.
Saat ini Siska ingin berteriak karena melihat kebaikan dua gadis di depannya. Kebaikan yang palsu! Menyebalkan sekali melihatnya, tetapi Siska pun menganggapnya sebagai hal yang biasa. Dia tidak memasukkan ke dalam hati perbuatan sahabatnya.
Dibilang seperti itu, Tania dan Fenia pun tersenyum bersama-sama. Mereka tak peduli apa yang Siska katakan. Yang jelas rasa penasaran mereka terbayar nanti.
"Mau ikut enggak?" tanya Siska pada Bianca yang sibuk menulis catatan.
Bianca mendongak sekilas dan menggeleng setelahnya. Dia sedang menunggu Jerry yang tak kunjung masuk kelas. Entah ke mana anak itu, tetapi yang jelas sekarang dia merepotkan Bianca!
"Enggak, gue lagi nunggu Jerry!" tolak Bianca lembut. Dia tersenyum kecil pada sahabatnya.
Siska yang mendengar hal itu hanya terdiam dan mengangguk paham, tetapi tidak dengan Fenia dan Tania yang kebingungan.
"Nunggu Jerry? Emangnya kenapa?" tanya Fenia dan Tania bersamaan. Mereka saling menengok dan langsung membuang wajah.
Satu hal yang jarang mereka lakukan, tetapi selalu berhasil membuat keduanya merasa kesal. Fenia dan Tania selalu kesal jika disamakan atau melakukan hal yang sama secara bersamaan.
Bianca hanya terkekeh pelan, sementara Siska mencibir keduanya tanpa suara. "Gue sama Jerry harus ke ruang guru pulang sekolah nanti. Tapi sampai sekarang gue enggak ngeliat Jerry. Dia juga enggak masuk kelas dan kalau gue keluar, gue takut Jerry dateng dan langsung pergi lagi," jawab Bianca lesu.
Fenia dan Tania mengerutkan dahinya tak suka. Ya ampun, Jerry itu tidak bisa ditunggu. Dia bersikap sesuka hatinya. Masuk kelas jika ingin, tidak peduli penting atau tidaknya pelajaran tersebut.
"Mending lo ikut kita aja daripada nungguin itu anak satu. Lo, kan, tahu sendiri dia emang suka ngilang. Kadang-kadang dia dateng pas jam pelajaran mau selesai. Untung dia pinter, kalau kagak udah habis dia di sini!" ujar Fenia tak setuju, tetapi dia tanpa sadar memuji kepintaran Jerry.
Bianca kembali merasa kesal. Dia mendengar dengan jelas kalimat terakhir Fenia. Ya, harus dia akui jika Jerry memang pintar, tetapi apa bisa melebihi dirinya?
Andai saja teman-temannya tahu isi hatinya, mereka mungkin tidak akan membahas Jerry lagi. Mereka tidak akan membicarakan orang yang jelas-jelas mengganggu kenyamanan Bianca.
Karena merasa kesal, Bianca pun tanpa sadar merobek kertasnya. Hal itu pun menjadi sorotan teman-temannya karena Bianca telah menulis banyak materi di sana.
"Aduh, kertas lo robek, Bianca!" pekik Siska panik.
Siska lekas mencari lem di laci kelasnya agar tulisan Bianca tak terbuang sia-sia. Namun, Bianca justru menolak hal itu dan membuang kertasnya. Dia tidak suka ada tambalan atau robekan di bukunya.
"Enggak usah. Gue akan nulis ulang," ujar Bianca memberi keputusan. Siska yang sudah mendapatkan lem tersebut pun membeku. Dia merasa keputusan Bianca sangat disayangkan dan merugikan.
"Tapi lo udah nulis sebanyak ini," ujar Tania tak percaya. Tangan Bianca pasti terasa sakit karena terus menulis tanpa jeda.
Bianca menggeleng santai dan tersenyum. "Enggak, gue baik-baik aja. Nulis adalah kesukaan gue. Jadi, nikmati waktu kalian!" ujar Bianca bermaksud mengusir sahabatnya.
Fenia dan Tania merasa kaku dan langsung menatap ke arah Siska yang masih memegang lem. Ditatap seperti itu, Siska pun segera mengambil tindakan.
Siska lekas menaruh lemnya dan berjalan mendekat pada teman-temannya. Dia merangkul Fenia dan Tania sembari menatap Bianca.
"Oke, kalau gitu kita ke perpus dulu, ya. Kalau lo butuh sesuatu, kasih tahu kita aja. Perpus deket sama kantin, kok!"