Hello 17 - Pujian untuk Jerry

2809 Words
Bianca tersenyum anggun. "Menurut saya dan kelompok saya, tugas ini adalah tugas yang mudah jika dikerjakan bersama-sama. Kami mencari cara untuk memecahkan masalah yang kami dapati di dalamnya dengan cara tercepat dan mudah. Kami juga mendapat kesempatan untuk berkreativitas dengan tugas ini. Selain itu, kami juga bisa mengidentifikasi objek dengan kehidupan nyata!" jawab Bianca dengan tenang. Dia menjelaskannya dengan sangat fasih dan penuh senyum. Setiap kata yang keluar dari bibir tipisnya berhasil membius semua orang yang berada di sana. Dari cara bicaranya, sangat terlihat jika Bianca menikmati tugasnya. Tak ada kesulitan yang berarti baginya. Guru mereka pun memandang takjub ke arah Bianca. Sampai saat ini dia kagum karena ada murid seperti Bianca. Rasa-rasanya, Bianca bahkan jauh lebih bersahaja dan pintar dari dirinya. Andai Bianca menerima kelas akselerasi, pasti Bianca sudah berada di atasnya. Namun, Bianca memilih jalannya sendiri. Dia menolak kelas akselerasi karena ingin menikmati waktunya bersama teman-temannya. Dia ingin membuat kenangan dengan teman-temannya sebanyak dan selama mungkin. "Wah, sangat menakjubkan, Bianca!" puji guru tersebut. Dia menatap bangga ke arah Bianca yang tidak pernah sekalipun mengecewakannya. Pandangannya kemudian beralih pada seluruh ketua. Dia berjalan menjauh dan kembali berdiri di depan kelas. "Sepertinya kita tidak perlu menanyakan pendapat selanjutnya karena Bianca dan Nada sudah cukup untuk dijadikan sampel. Dari pendapat dua teman kalian, dapat kita ketahui bahwa tugas ini sulit dan mudah bagi sebagian orang. Hal itu tentu saja bergantung pada cara kerja dan kekompakan kelompok itu sendiri." Guru tersebut berbicara dengan santai. Dia tidak menyadari perubahan wajah Nada. Nada menatap kesal ke arah guru tersebut dan diam-diam melirik sinis pada Bianca. Tanpa guru itu sadari, dia tengah menyudutkan Nada. Nada merasa guru itu mempermalukannya karena tidak bisa menjaga keutuhan kelompoknya. Seharusnya dia tidak berdiri di sebelah Bianca tadi! Berdiri di samping Bianca hanya membawa keburukan baginya. "Selanjutnya, Ibu akan memberi pengumuman untuk kelompok terbaik dengan kualitas serta peringkat like tertinggi," ucap guru tersebut membuat suasana menjadi riuh seketika. Masing-masing dari mereka penasaran dengan pemenangnya. Tak terkecuali Bianca. Dia pun sama penasarannya. Informasi yang Siska beri tak cukup untuk membuatnya merasa menang. Kemudian, layar proyektor tiba-tiba saja menyala sehingga semua orang fokus melihatnya. Setelah itu, sebuah video pun diputar dan menampakkan Bianca serta kelompoknya. Saat itulah, Bianca menyadari jika kelompoknya menjadi pemenang. "Sis, itu gue?" tanya Bianca pada Siska tak percaya, nada bicaranya sedikit bergetar. Siska mengangguk pelan. Dia takjub dengan tugas Bianca yang terlihat semakin indah di layar proyektor ini. Namun saat menyadari suara Bianca tak seperti biasanya, Siska pun lekas menengok. Dia langsung mendapati wajah Bianca yang terharu dengan mata berkaca-kaca. Jujur saja, ini pertama kalinya Bianca tidak satu kelompok dengan sahabatnya, tetapi berhasil menjadi yang terbaik dari seluruh kelas. "Lo kenapa? Jangan sedih, dong!" tanya Siska setengah panik. Dia lekas memeluk Bianca yang kini memekik bahagia. Rasanya Bianca ingin lari dan memberitahu teman-temannya. Dia ingin teman-temannya juga menyaksikan apa yang ia lihat saat ini. Saat ini mereka bukan hanya memiliki nilai yang tinggi, tetapi juga martabat yang tinggi. Mereka akan lebih dihormati lagi setelah ini. "Gue enggak sedih, tapi gue enggak nyangka aja. Ini pertama kalinya gue enggak satu kelompok sama sahabat gue, tapi gue bisa bersatu sama mereka. Gue bisa kerja sama dengan orang yang enggak pernah deket sama gue sebelumnya!" ujar Bianca menolak ucapan Siska. Dia tidak sedih sama sekali, justru sangat bahagia. Ini pencapaian baru baginya dan belum tentu akan terulang lagi di tahun berikutnya. Alangkah indahnya pemandangan yang berada di sekitar Bianca saat ini. Semua orang fokus memperhatikan video tanpa ada yang mengalihkannya pada hal lain. Mereka sama-sama terbawa suasana video yang terkesan santai, tetapi sangat mengedukasi. Memang Bianca sudah merencanakan hal ini dengan matang. Dia membuat kesepakatan dengan anggotanya untuk tidak mengubah konsep secara mendadak. Dia juga telah mengatur setiap tata letak penjelasan mengenai laporan yang diberikan. Pada intinya, Bianca telah melakukan banyak hal. Dan ini adalah bayaran yang pantas dia terima. "Gue bener-bener salut sama lo. Di saat lo sendiri punya beban di punggung lo, lo tetep bisa bantu gue yang seharusnya bukan urusan lo lagi," ujar Siska dengan tangan yang merangkul bahu Bianca. Dia dan Bianca sama-sama tersenyum ke depan dan menengok serempak ke arah Nada yang berdecak kencang. Siska langsung mendekatkan wajahnya dengan telinga Bianca. Dia senang melihat kekalahan Nada. "Orang sebelah lo itu kasihan. Niat mau nyaingin, eh, malah, kesaing!" ucap Siska mengejek. Bianca tersenyum ke arah Siska, memintanya untuk diam. Namun, tak dipungkiri jika hatinya pun tertawa keras. Nada terlalu menyombongkan dirinya di awal. Nada yang ternyata mendengar ucapan Siska itu pun semakin marah. Dia langsung membuang wajahnya dan tidak mau melihat ke arah depan. Hatinya benar-benar panas saat ini. Kenapa dia selalu gagal menyaingi Bianca? Video pun akhirnya selesai. Semua orang bertepuk tangan riuh. Masing-masing dari mereka langsung memberi selamat pada Bianca. Walau guru mereka tak mengatakan apa pun, tetapi mereka tahu jika kelompok Biancalah yang terbaik. Kemudian, guru itu pun mendekat pada Bianca. Dia membuat teman-teman Bianca sedikit menjauh. "Hasil kerja yang sangat bagus. Ini bahkan di luar ekspektasi Ibu. Video ini sangat lengkap karena tidak hanya cara yang terdapat di buku saja yang ada, tetapi ada cara cepat lainnya yang ditunjukkan di sini!" ucap guru tersebut dengan tenang. Dia menatap Bianca yang mulai meredupkan senyumnya. Bianca teringat sesuatu. Cara mudah yang paling banyak digunakan di sana adalah milik Jerry. Bianca merasa jika seperti itu, maka orang yang paling banyak berkontribusi adalah Jerry. Kalau begitu, kedudukannya akan dipertanyakan. Seharusnya dialah yang paling banyak berkontribusi, bukan Jerry yang berstatus sebagai anggota. Bianca baru menyadari hal itu dan menyesal sekarang karena dia tidak bisa tegar. Andai dia bisa tegas, maka cara miliknyalah yang akan digunakan. Karena memikirkan hal itu, tanpa sadar Bianca pun melamun. Dia dikejutkan dengan Siska yang menepuk bahunya. "Jangan ngelamun! Lo ditanyain sama Bu guru, tuh!" ujar Siska memperingatkan. Bianca lekas menengok pada gurunya dan memejamkan mata setelahnya. Kenapa dia bisa melamun di saat seperti ini? "Ibu bertanya pada saya?" tanya Bianca tak enak. Dia takut dikira tidak sopan karena mengabaikan gurunya. Namun, guru itu justru tersenyum. Dia mendekati menatap Bianca yang tampak tak sebahagia tadi. "Ada sesuatu yang kamu pikirkan?" tanyanya tenang. Bianca adalah tipikal orang yang selalu fokus. Jika dia melamun, berarti ada yang mengganggu pikirannya. Ditanya seperti itu, Bianca pun langsung tersenyum gugup. Dia tidak boleh menunjukkan kekhawatirannya pada orang lain. "Enggak, Bu. Saya hanya bahagia bisa menjadi kelompok terbaik," jawab Bianca tenang. Dia tersenyum hangat agar orang tak mengetahui isi hatinya. Nada yang berada di samping Bianca pun merasakan keanehan. Ada sebuah kecurigaan saat melihat tingkah aneh Bianca barusan. Karena penasaran, Nada pun mendekat pada Bianca. Dia ingin berbisik kepada musuh kesayangan sekaligus temannya itu. "Kenapa, Bianca? Lo, kok, beda mukanya. Kayaknya orang bahagia enggak gitu, deh. Kalau muka kayak gitu lebih tepatnya lagi sedih, sih!" tanya Nada iseng. Dia tersenyum sedih ke arah Bianca yang kini menengok ke arahnya. Bianca menatap Nada dengan tatapan tak percaya. Gadis ular di sampingnya benar-benar berbahaya. Bianca lengah sedikit saja, raut kepuasan sudah tergambar di wajah Nada. Tak ada lagi wajah kesal atau marah yang terlihat. Nada justru tampak bahagia karena mendapat kesenangan baru. Dia yakin ada sesuatu yang disembunyikan Bianca. Dan Nada berjanji akan mencari hal itu hingga dapat. "Gue baik-baik aja, makasih udah perhatian!" ucap Bianca dan langsung memalingkan wajahnya. Nada semakin curiga, tetapi dia tahan untuk mendekati Bianca lagi. Karena saat ini, perhatian Bianca kembali teralih pada guru mereka. "Ibu kagum dengan cara yang disuguhkan. Cara itu tampak sangat mudah dan praktis. Siapa yang mengajarkan hal itu? Ibu merasa tidak pernah mengajarkan cara tersebut sama sekali," tanya guru tersebut. Dia benar-benar penasaran dengan sosok di balik mudahnya rumus tersebut. Pasti orang itu memiliki otak yang cerdas dan kreatif. Bianca tak langsung menjawab. Dia justru terdiam karena hal yang dia pikirkan sejak tadi justru menjadi topik bahasan saat ini. Bianca bimbang sekarang. Dia tidak ingin posisinya terancam karena Jerry, tetapi dia juga tidak ingin berbohong. Mengakui milik orang lain menjadi miliknya adalah hal yang pantang Bianca lakukan. Namun jika berkata jujur, Bianca tak menjamin hidupnya akan berjalan seperti sebelumnya. Karena terlalu lama menjawab, Siska pun menyenggol Bianca menggunakan sikunya. Dia menatap Bianca yang kembali melamun dengan heran. Aneh sekali sahabatnya ini, di saat bahagia seperti ini justru banyak melamun. "Eh, fokus! Lo ditanya lagi, tuh! Katanya siapa yang ngasih tahu cara kayak gitu?" tegur Siska sekaligus mengulang pertanyaan yang diajukan pada Bianca tadi. Bianca menatap Siska bimbang sembari mengulum bibir bagian dalamnya. Dia merasa mulutnya terkunci dan tak ingin mengatakan apa pun, tetapi dia menjadi pusat perhatian saat ini. Bianca langsung melirik sekitarnya. Dia pilih untuk memantapkan hatinya dan tetap menjawab. Meski terasa sangat berat, tetapi Bianca tak ingin menjadi pengecut. "Jerry, Bu. Dia yang mengajarkan cara tersebut," jawab Bianca pelan. Nada yang berada di sebelahnya pun langsung menengok tak percaya. Apa yang baru saja dia dengar adalah kebenaran? Sungguh? Ya ampun, ini akan menjadi topik terhangat di sekolahnya. Guru tersebut tampak terkejut. Dia mendekati Bianca untuk memastikan hal tersebut, rasanya takut dia salah mendengar. "Jerry? Benar dia yang mengajarkan hal itu?" tanya guru itu lagi. Dia menatap Bianca dengan penasaran karena baru kali ini dia melihat langsung bukti kecerdasan Jerry. "Iya, Bu!" jawab Bianca setengah berat. Dia berusaha untuk terus mengusung senyumnya kendati seluruh penghuni ruangan mulai berbisik. Bianca tahu hal ini akan terjadi dan dia benci keadaannya saat ini. Dia terlihat sangat lemah dan tidak bisa melakukan apa pun selain menjawabnya dengan pasrah. "Ibu tidak menyangka jika Jerry bisa melakukannya. Selama ini Ibu hanya mendengar saja mengenai kecerdasannya, tapi sekarang Ibu bisa melihat hal itu secara langsung," ucap guru tersebut dengan wajah yang dipenuhi kekaguman. Bianca menahan napasnya saat mendengar hal tersebut. Tak dapat ditampik jika Jerry memiliki peranan yang besar hingga mendapat pujian seperti itu. Namun, Bianca adalah ketua yang mengatur segalanya. Seharusnya dia juga mendapatkan hal yang sama. Bianca melihat lantai dengan sedih. Dia tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya sehingga perasaannya begitu campur aduk. Merasa belum puas, guru itu pun kembali bertanya. "Lalu untuk objek sendiri? Siapa yang mengusulkan? Apakah kamu, Bianca?" tanyanya menebak-nembak. Dia yakin jika Jerry dan Bianca pasti saling membagi tugas. Jika Jerry rumus, maka Bianca adalah objeknya. Hal yang bagus dalam kerja sama dan sepertinya dua orang itu cocok jika disatukan. Mereka akan membuat sesuatu yang biasa saja menjadi luar biasa. Bianca kembali menahan egonya. Dia menjawab dengan cepat, tetapi datar dan tak terlihat bahagia seperti sebelumnya. Tak ada senyum yang terukir atau suara hangatnya yang terdengar. "Itu juga Jerry yang mengusulkan, Bu!" jawabnya lancar. Tepukan tangan terdengar tidak lama kemudian. Pelakunya adalah guru Bianca sendiri. Dia merasa benar-benar kagum dengan Jerry yang luar biasa di luar dugaannya. "Jerry lagi? Wah, saya harus banyak belajar pada Jerry jika seperti ini. Saya suka dengan pemikirannya karena objek serta isi laporan sangatlah masuk. Selain itu, tidak ada kelompok lain yang menggunakannya." "Jerry memberi warna baru bagi saya dalam melakukan pengamatan. Saya menjadi tidak bosan dengan hasil yang disuguhkan!" ucapnya antusias. Dia berkata dengan jujur karena dirinya sendiri sudah melihat video itu lebih dari lima kali. Penyajian yang urut dan isi yang lengkap serta teknik baru yang digunakan seperti memberikan hawa segar baginya. Dia bahkan bisa mendapatkan referensi gaya mengajar baru hanya dengan melihat video tersebut. Bianca tersenyum kecil menanggapinya. Dia hanya bisa melihat miris dirinya sendiri yang tampak bodoh saat berada di sini. Bagaimana tidak, dia adalah ketuanya, tetapi yang sejak tadi dibicarakan adalah Jerry dan Jerry. Bukan ini yang Bianca inginkan, tetapi inilah yang dia dapatkan. "Baiklah, kalau begitu kita selesai sampai di sini. Video milik Bianca akan Ibu post setelah ini dan untuk kelompok yang merasa masih memiliki banyak kekurangan, harap ke depannya kalian lebih bersemangat lagi dan jangan pernah pesimis. Belajarlah dari kesalahan kalian saat ini agar tak terulang di lagi. Dan jika kalian masih belum paham sepenuhnya, silakan bertanya pada Bianca dan kelompoknya!" pesan guru tersebut sembari membereskan peralatannya. Setelah selesai, dia pun meminta dua orang murid untuk membantunya membawa alat-alat tersebut ke ruang guru. Namun sebelum keluar, dia sempat menitip pesan pada Bianca yang masih berdiri di tempatnya. "Ah, Bianca! Kalau bisa nanti setelah pulang sekolah kita bertemu dengan Jerry. Saya ingin bertanya beberapa hal pada Jerry. Dan kamu adalah perantaranya!" ujar guru tersebut dan langsung berjalan meninggalkan ruangan. Bianca terpaku mendengarnya. Melihat guru tersebut keluar, Siska pun ingin melakukan hal yang sama. Dia ingin kembali ke kelas. "Ayo ke kelas, Bianca!" ajak Siska tak menyadari perubahan Bianca. Dia pikir karena Jerry adalah tanggungan Bianca, maka Bianca pun merasa senang. Dia tidak tahu jika pujian untuk Jerry justru memberikan efek yang sebaliknya. Mungkin saja jika dia tahu, Siska akan kembali menjadi Siska yang dulu. Dia bisa saja kembali memusuhi Jerry meski saat ini pun mereka memang tidak terlalu akur. Sejak mendengarkan kehebatan Jerry, Siska hanya bersyukur. Setidaknya anak pemalas itu tidak membawa masalah untuk Bianca. Dia justru mempermudah tugas-tugas Bianca. Jadi, Bianca tidak terlalu kerepotan dan masih bisa menjalani hidup dengan santai. Bianca yang diajak seperti itu pun mengangguk pelan dan lekas menggandeng tangan Siska. Namun, langkah mereka terhenti saat Nada berdiri tepat di depan mereka. "Aduh, si ratu ular. Mau ngapain lagi lo?" tanya Siska malas. Dia semakin mengeratkan gandengannya pada Bianca. Bianca yang bersikap kalem tak bisa menghadapi Nada yang beringas. Jadi, Siska adalah orang yang tepat untuk membantu Bianca menangani manusia setengah ular seperti Nada. Nada tampak tak peduli. Dia menunjuk Siska dengan mata yang memincing. "Gue denger lo dibantu sama Bianca, bener?" tanya Nada iseng. Siska memutar bola matanya malas, tetapi tetap menjawab pertanyaan tidak penting dari Nada. Siska tahu pasti apa yang Nada tuju meski pertanyaannya terkesan ambigu. "Iya, kenapa? Lo iri? Lo pasti iri karena Bianca enggak mau membantu manusia semacam lo," jawab Siska sombong. Dia balas menunjuk Nada dengan berani. Siska ingin melihat sejauh mana Nada mengagungkan dirinya. Gadis ini sudah kalah berkali-kali dari Bianca, tetapi dia masih saja tak menyerah. Siska heran karena ada gadis seperti masuk ke dalam hidupnya. "Ah, tentu enggak. Lo jangan ngarang, deh. Ngapain gue iri sama lo sementara lo enggak memenangkan apa pun?" jawab Nada santai sembari mengejek Siska. Siska masih diam, dia tak masalah dirinya dihina. Selagi Nada tidak membawa Bianca, Siska masih bisa menahan dirinya. Siska tertawa kecil mendengarnya. Dia merasa lucu dengan pemikiran Nada yang aneh. "Ya lo enggak sepantasnya iri sama gue. Tapi lo itu udah sepantasnya nyadar kalau lo enggak ada apa-apanya sama Bianca!" balas Siska telak dengan suara yang keras. Nada membulatkan matanya tidak percaya saat perbuatan Siska justru membuat siswa lain mengelilingi mereka. Pasti mereka penasaran dengan yang terjadi saat ini pada Nada. "Lo itu salah satu manusia yang enggak tahu diri. Lo selalu membanding diri lo dengan Bianca. Lo sibuk ngomong sana-sini, tapi lo lupa sama kedudukan Bianca yang enggak akan pernah bisa lo geser sampai kapan pun!" ujar Siska sembari menatap Nada yang tak berkutik. Siska sengaja sejak tadi terus mendesak Nada agar gadis itu berhenti mempermalukan dirinya sendiri. Apalagi mereka dikelilingi banyak orang saat ini. Siska merasa kasihan dengan harga diri Nada yang tak ada artinya. "Lo lihat, sekarang kita dikelilingi banyak orang. Kalau lo mau mempermalukan diri lo sendiri, terusin acara koar-koar lo. Tapi maaf, gue mau pergi!" titah Siska sembari tersenyum culas. Dia menatap rendah ke arah Nada dan mulai mengajak Bianca untuk pergi. Siska pikir setelah dia mengatakan itu, Nada akan sadar dan memilih untuk berhenti. Namun, dia salah besar. Nada justru semakin bersemangat karena mendapat kayu bakar baru untuk membesarkan api yang akan dia hidupkan. "Ouh, jadi lo pikir gue yang dipermalukan di sini? Bukan sahabat lo yang sok itu?" tanya Nada berani. Dia tidak peduli siapa Bianca karena baginya Bianca hanyalah musuh. Persetan dengan status Bianca sebagai ketua OSIS dan membawahinya sebagai anggota. Siska langsung berbalik dan kembali mendekati Nada. Dia membiarkan Bianca berdiri sendirian di tempatnya. "Apa maksud lo?" tanya Siska tak mengerti sekaligus geram. Nada tersenyum lebar. Dia menunjuk Bianca dengan santai, tak peduli beberapa orang menahan napas melihatnya. "Jerry punya peran dan jasa yang lebih besar dari Bianca, padahal Bianca adalah ketuanya. Kalau begitu, temen lo ini enggak ada apa-apanya, dong, ya?" ucap Nada jahil. Nada melirik sekitarnya yang mulai berisik. Sepertinya mereka tengah membenarkan ucapan Nada. Terlihat dari raut wajah mereka yang setuju dengan Nada. Siska menahan emosinya, tangannya terkepal kuat. "Bianca punya tugas yang lebih besar! Kalau Bianca enggak bisa mengayomi kelompoknya, mungkin kelompoknya enggak akan menang sekarang!" belas Siska berusaha biasa saja. Dia tidak ingin terlihat emosi di depan Nada karena hal itu akan berpengaruh untuk Bianca. Nada menggeleng tak setuju. Ucapan Siska tak bisa dibuktikan. "Yang mengayomi itu yang memiliki ide dan ilmu. Dan kalau Jerry yang punya ilmu dan idenya, kenapa bisa jadi Bianca yang mengayomi?" tanya Nada santai. Semua orang kembali berbisik. Mereka merasa semua ucapan Nada memang benar. "Nada, lo bera—" "Gue belum selesai ngomong!" potong Nada sembari menurunkan jari telunjuk Siska yang mengacung di depannya. Dia dengan berani mendekati Bianca dan melirik sinis ke arahnya. "Menurut gue, kedudukan lo salah kali ini, Bianca. Lo enggak seharusnya menjadi ketua!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD