Aelin kembali ke sungai usai melakukan kesepakatan dengan para Orc. Mereka akan melakukan perlawanan dengan Werewolf pada esok malam sesuai perintah pemimpin mereka yang menyuruh mereka pergi sebelum malam tiba. Belum dibahas bagaimana cara Aelin melawan mereka, tetapi para Orc tampak tidak begitu peduli karena telah sepenuhnya percaya padanya. Itu cukup memberi beban pada pundak Aelin. Mendapatkan kepercayaan besar sangatlah membebani, bukan?
Setidaknya, Aelin mempercayai sihir kuno dalam dirinya. Dia tidak akan berani menerima permintaan Desa Orc jika ia tidak tiba-tiba saja bangkit tertanam di kepalanya. Walaupun dia belum sepenuhnya mengenali sihir tersebut, dia cukup yakin bahwa ia sangat kuat. Mendengar bahwa ia diciptakan oleh anggota generasi pertama keluarga Sinclair, diturunkan secara turun-temurun hanya kepada anggota berkualifikasi, dan sempat mendampingi Savvina, itu saja sudah cukup untuk membuat Aelin menyimpulkan sekaligus mempercayai ia bukanlah sekedar kekuatan biasa. Oleh karena itu, keberanian juga kepercayaan dirinya meningkat untuk membantu menengahi Orc dan Werewolf.
Aelin belum memikirkan langkah selanjutnya selain melarikan diri dari kejaran kekaisaran. Dan seharusnya itulah yang dia lakukan, fokus pada dirinya sendiri yang telah menanggung masalah sangat besar. Meskipun The Eternity Forest tidak bisa dimasuki oleh manusia, cepat atau lambat kekaisaran pasti akan mengejarnya usai bekerja sama dengan Raja Faelyn, pelindung zona. Saga pasti akan memarahinya habis-habisan. Mengatakan beberapa hal seperti omong kosong macam apa yang sedang Aelin lakukan bersama monster rendahan seperti Orc dan Werewolf. Aelin tidak akan membiarkan itu terjadi. Dia sadar bahwa keputusannya terkesan sembarangan, tetapi dia dapat melihat setitik jalan tengah.
Hei, dahulu apa nama yang diberikan padamu oleh Permaisuri Savvina? tanya Aelin, berkomunikasi dengan sihir kuno di kepalanya.
“Maya. Beliau berkata, artinya adalah ilusi dan kebenaran.”
Aelin manggut-manggut kecil, cukup menduga nama-nama seperti itulah yang pasti diberikan oleh Savvina, tampak sederhana namun sesungguhnya penuh makna. Bukankah beliau sangat cemerlang dan mengagumkan? Aku sungguh mengidolakannya sejak mengenal kisahnya pada pandangan pertama. Aku tidak menyangka beliau mewarisi sihir kuno Sinclair. Ah, kau bahkan tidak pernah disebutkan di buku mana pun. Apakah memang sengaja dirahasiakan?
“Benar, Master. Master William adalah seorang Magic Caster terpandang di zamannya. Beliau memiliki banyak rekan sekaligus musuh. Sejak awal pun keluarga Sinclair telah diincar oleh banyak oknum untuk melengserkannya dari gelar terpandangnya sebagai tangan kanan Kaisar, alasan lainnya adalah karena iri dengki terhadap pencapaian para Sinclair yang memukau. Master William menyadari bahwa takdir keluarga Sinclair akan selalu terjerat oleh rantai kedengkian sehingga menciptakan saya untuk melindungi Sinclair. Tentu saja, hal itu tidak boleh diketahui oleh siapa pun termasuk anggota Sinclair sendiri. Itulah yang menjadi alasan mengapa saya tidak pernah disebutkan di buku biografi mau pun diceritakan secara turun-temurun.”
Sesaat, Aelin mensyukuri keputusannya yang tidak memberi tahu Saga mengenai eksistensi sihir tersebut usai sadar dari pingsannya beberapa hari lalu. Itu dilandaskan oleh rasa belum menemukan waktu yang tepat untuk membeberkannya. Namun, kini itu menjadi suatu hal yang harus dilakukan sebagai aturan pewaris. Keberadaan ‘Maya’ tidak boleh diketahui siapa pun termasuk anggota Sinclair lainnya.
Aelin mengembuskan napas panjang seraya merenggangkan kedua lengannya ke atas. Kepalanya mendongak pada langit jingga dalam langkahnya kembali menuju sungai. Di penghujung jalan dia akan berhadapan dengan wajah kesal Saga dan Kuro akibat pergi terlalu lama. Mungkin saja tindak tanduknya di Desa Orc telah terendus oleh Saga, dan Aelin sungguh menakuti kondisi lelaki itu dalam balutan amarah. Akan tetapi, salah tetap salah, sebagai rekan pelarian dia harus menerima kemurkaan lelaki itu.
Aku masih tidak mempercayai ini semua. Aku tidak percaya bahwa diriku berkualifikasi untuk menjadi pewarismu. Ada banyak hal yang harus kau ketahui tentangku, ujar Aelin diselimuti keraguan nyata.
“Jangan khawatir, Master. Saya telah mengenal segala hal tentang Anda tanpa terkecuali. Pewarisan tidak pernah meleset.”
Mata Aelin sedikit membulat, langkahnya terhenti. Sungguh? Semuanya?
“Ya, Master. Apakah saya perlu menyebutkannya?”
Aelin mengangguk kaku, jantungnya berdebar.
“Anda bukanlah Aelinna Eunice von Sinclair, melainkan Claire Ohara dari dimensi lain.”
Kau… tahu sampai sedetail itu?
“Tentu. Anda adalah Master yang akan saya layani selama sepanjang hidup Anda. Saya tidak boleh teledor sekecil apa pun.”
Aelin menunduk, bibirnya menipis. Kesedihan mencuat dalam dirinya. Lantas, bukankah ini salah? Kau tidak benar-benar melayani Aelinna anggota Sinclair, tapi orang lain yang menggunakan tubuhnya. Aku penipu.
“Secara aturan yang saya ketahui, segala hal terjadi atas takdir semesta. Master William menanamkan kemampuan berpikir dan menganalisis secara menyeluruh pada diri saya, jadi saya dapat mengatakan bahwa Anda tidak sepenuhnya salah. Dari awal, Aelinna Eunice von Sinclair memang ditakdirkan untuk menjadi pewaris saya. Mengapa ia pergi lalu digantikan oleh Anda, saya tidak memiliki komentar atas hal tersebut. Selama Anda bersemayam di tubuh Aelinna, maka Anda jugalah yang mengendalikan serta menjalani kehidupannya. Anda adalah Aelinna Eunice von Sinclair, Master saya.”
Tapi, apa kau juga tahu bahwa dunia ini, dimensi ini, adalah sebuah latar yang diciptakan sebagai novel fiksi di duniaku? Aku mengetahui seluruh jalan cerita Aelinna hingga akhir tetapi tidak pernah disebutkan dia mampu menggunakan sihir, terlebih lagi mewarisi dirimu.
“Saya tahu, Master. Semesta memiliki dunia paralel yang saling berkaitan satu sama lain. Apa yang terjadi di dunia Anda dan dunia ini berkaitan dalam bentuk sebuah kisah fiksi. Hal yang sama bisa saja terjadi ratusan bahkan ribuan kali di dunia paralel lainnya. Mungkin Anda bingung mengapa banyak hal telah berubah dari jalan novel fiksi tersebut, jawabannya adalah karena ini juga dunia asli yang segalanya tidak akan mengikuti alur lagi. Akan tetapi, novel di dunia Anda tidak akan terpengaruh sama sekali.”
Tapi, bagaimana bisa semirip itu…?
“Ada banyak misteri semesta yang tidak akan bisa dipecahkan oleh nalar manusia, Master. Bahkan saya sekalipun tak dapat memahaminya. Mohon maaf jika jawaban saya tidak memenuhi ekspektasi Anda maupun menuntaskan rasa penasaran Anda.”
Tidak, aku baik-baik saja. Hanya… sedikit kebingungan dan cemas.
Namun, bukankah ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan hal tersebut? Dia telah memutuskan sedari awal bahwa dirinya adalah Aelinna Eunice von Sinclair hingga bertekat menyelamatkan gadis itu dari nasib buruk di akhir hidupnya yang terlalu cepat terjadi. Dia telah memutuskan untuk menerima segalanya meski harus menanggung hidup dalam bayang-bayang ketakutan akan ancaman Ares dan Sighard. Kini, segalanya telah berubah, Aelin tidak perlu mencemaskannya lagi. Dia telah bebas dari kekaisaran bersama Saga dan Kuro yang kuat, dia hanya perlu fokus memikirkan jalan keluar untuk lari dari kekaisaran.
“Jangan khawatir, Master. Saya akan mendampingi Anda sampai akhir. Saya masih dalam bentuk seperti ini, tetapi itu tidak akan berlangsung selamanya. Saya akan menjadi lebih kuat untuk Anda.”
Aelin menegakkan leher, lalu tersenyum. Terima kasih, Hestia.
Nama itu muncul begitu saja dalam kepalanya, entah mengapa. Dia ingat itu adalah nama dari salah satu Dewi Yunani, Dewi Rumah. Bisa juga berarti tulus. Sikap tulus ‘Maya’ membuatnya spontan menyematkan nama Hestia padanya. Dan, sepertinya ia tidak keberatan sama sekali.
“Sama-sama, Master Aelinna.”
“Nah, sekarang aku harus kembali sebelum malam tiba—”
“Tidak perlu. Pergilah bersenang-senang dengan para Orc tua itu.”
Dalam sekejap, Aelin membatu di tempat oleh kengerian serta ketakutan nyata akibat suara Saga tiba-tiba mengalir dari belakang. Hawa-hawa tidak menyenangkan segera bergumul mendekat seakan hendak mencekiknya hidup-hidup. Aelin terlalu takut untuk bergerak barang seinci. Menelan ludah pun dia merasa tak mampu. Ketakutan ini terasa lebih besar dibandingkan saat dirinya terkepung oleh Kesatria Kekaisaran, demi Tuhan!
“Ah, maaf, sepertinya aku salah orang. Kau mirip sekali dengan temanku, Lord Orc.”
Hestia, apakah seseorang di belakangku sungguh Saga? Saga yang kukenal itu? rutuk Aelin panik.
“Ya, tidak salah lagi, Master.”
Dia marah?
“Sangat.”
Apa yang harus kulakukan?
“Apakah Anda ingin saya melumpuhkan—”
“Aelinna Eunice von Sinclair.”
Aelin spontan berbalik ke belakang dengan mata tertutup rapat-rapat. “Ya! Maafkan aku! Kumohon! Aku hanya sedang berjalan-jalan hingga sampai ke Desa Orc dan menyaksikan mereka berselisih dengan Werewolf! Ketika aku ingin pergi, aku dipergoki oleh para Orc dan entah bagaimana akhirnya mereka meminta bantuanku! Aku bersumpah, aku tidak sengaja menjeratkan diri dengan mereka!”
Saga menatap wajah menciut Aelin dengan delikan lebih tajam dari mata pisau apa pun. Mata emasnya menghakimi gadis itu habis-habisan dari atas ke bawah dan kembali ke atas. Dia tidak bisa memahami bagaimana jalan pikiran gadis berambut merah tersebut. Ia berkata bahwa ia ingin hidup bebas dan tenang di luar kekaisaran, lantas mengapa ia tiba-tiba saja merepotkan diri terlibat dengan Orc dan Werewolf? Seharusnya ia hidup tenang sampai mereka tiba di Kerajaan Tempest seperti rencana sebelumnya, Saga sungguh tidak mengerti.
Padahal Saga telah berkata bahwa dia berharap tidak perlu terlibat dalam urusan merepotkan, Aelin tahu itu, ia jelas mendengarnya. Apa yang gadis itu rencanakan untuk mengalahkan Werewolf? Ia belum mahir menggunakan sihir, bukan? Astaga, kepala Saga mulai pening.
Ctak!
“Aw!”
Kelopak mata Aelin otomatis terbuka saat keningnya disentil oleh Saga. Meski begitu, dia kembali menutup kedua matanya sembari mengusap bekas sentilan di keningnya. Begitu takut membalas tatapan manik emas penyihir tersebut.
“Apa yang akan kau lakukan saat melawan Werewolf, huh? Asal kau tahu saja, aku tidak akan membantumu. Aku butuh jeda untuk memulihkan sebagian kekuatanku,” tukas Saga lugas, tak menerima argumen.
Aelin mengangguk keras. “T—Tentu saja aku akan memikirkannya, akan kulakukan sendiri, jangan khawatir! Aku tidak selemah yang kau kira!”
Mata Saga memicing, cukup tercubit untuk kian murka. “Omong kosong. Kau masih tidak konsisten. Kepercayaan diri dari mana itu, huh?”
Memberanikan diri, Aelin membuka kelopak matanya untuk menatap iris emas Saga. Gadis bermata perak itu kian ciut dalam tatapan Saga, tetapi dia tidak memiliki pilihan selain berani. Saga perlu bukti bahwa Aelin memang berani juga tidak sekedar membual. Dan sorot mata adalah bukti paling valid serta jujur. Tak elak, ketika mata mereka saling bertemu, ekspresi Saga makin keruh oleh sangsi.
“Aku telah jauh lebih baik dari yang kau kira, aku tidak selemah itu,” tandas Aelin setegas mungkin.
“Kau sedang delusional.”
“Tidak! Coba pikirkan baik-baik, aku adalah manusia penakut, kau kenal aku selama bertahun-tahun. Jadi, apa kau pikir aku dapat berani melibatkan diri dengan para monster tanpa pemikiran matang?”
Saga mengangguk begitu saja dengan raut datarnya. “Lagi pula kau juga orang bodoh.”
“Hei, tidak sopan! Tidakkah kau memiliki sedikit saja rasa percaya padaku, huh?!”
Rasa percaya? Saga memilikinya, sangat banyak, terlampau banyak. Dia percaya gadis itu akan mampu bertahan saat dirinya pergi mencari informasi ke kota. Namun, apa yang didapat adalah dia hampir kehilangan gadis itu dalam sekejap mata. Walau terkesan baik-baik saja, Saga belum pulih dari luka atas insiden tersebut. Dia berubah menjadi mudah was-was jika meninggalkan Aelin lebih lama dari satu jam meski gadis itu bersama Kuro. Kini, dia dipaksa untuk kembali percaya dan membiarkan Aelin pergi melawan Werewolf? Jangan bercanda.
Tanpa aba-aba, Saga meraih pergelangan kanan Aelin, mencengkeramnya, lalu menyeretnya kembali ke sungai dengan cukup kasar. Membuat gadis itu tersentak oleh perilakunya. “Kau tidak akan melakukan omong kosong itu. Lupakan, lebih peduli pada dirimu sendiri.”
Tidak terima dengan ucapan Saga, Aelin memberontak. Berusaha melepaskan diri dari cengkeramannya. “Apa yang kau bicarakan? Aku tidak bisa melakukan itu, aku tidak bisa membiarkan mereka tertindas begitu saja!”
Saga tidak bergeming, kian mengeratkan cengkeramannya. Itu membuat emosi Aelin naik. Ia tidak setuju dengan penolakan apatis Saga. Dia paham betapa egoisnya Saga, betapa lelaki itu sangat pilih kasih dalam memperlakukan setiap orang tanpa alasan jelas—sampai detik ini Aelin masih tidak mengerti alasan atau faktor apa yang menjadi indikasinya. Dia juga paham Saga hanya ingin keselamatan dan keamanannya semata, tetapi dia sungguh tidak bisa memalingkan mata dari penderitaan para Orc.
“Saga, dengarkan aku dulu—”
Sekonyong-konyong, Saga berbalik badan dan menarik lengan kanan Aelin ke atas, membuat gadis itu tertarik ke depan hingga berjarak cukup tipis dengannya. Detik itulah ia bungkam seribu bahasa, terlalu syok atas tindakan Saga.
“Aku tidak mengerti apakah kau bodoh, sombong atau naif. Apa yang kau tahu dari dunia luar? Kau hanyalah seorang Putri yang tinggal dengan nyaman di dalam istana, dilayani oleh orang lain. Lantas, apa yang kau ketahui tentang dunia luar, huh? Kau pikir dunia akan berbaik hati padamu hanya karena kau berbuat baik pada sesama?” seloroh Saga tajam, nadanya sesuai ketika dia marah saat Aelin melanggar janji mereka untuk tidak berlatih sihir sendirian.
Sesaat, Aelin gemetar di bawah mata tajam Saga. Dia tidak pernah merasa cukup berani untuk melawan lelaki itu secara serius meski mereka selalu bersitegang setiap hari sejak dulu. Sebab, tanpa perlu Saga buktikan, ia memang seorang penyihir handal yang memiliki tingkat kekuatan jauh di atas rata-rata, Aelin akui itu. Dia tidak bisa membayangkan apa yang bisa saja terjadi jika Saga sungguh tersinggung hingga memutuskan menyihirnya dengan mantra aneh.
Dan Aelin tidak merasa itu adalah sesuatu yang aneh. Terlepas dari status Saga sebagai penyihir, dia yakin lelaki itu sesungguhnya juga jauh lebih tua darinya. Secara mental, dirinya telah berusia tiga puluhan. Lalu, bisa jadi Saga jauh di atas itu meski ia tidak pernah mau menyebutkan usianya secara terbuka.
Aelin tidak bisa diam begitu saja. Dia harus menunjukkan tekadnya agar Saga juga dapat yakin padanya. Jika hanya sebatas teguran saja mampu membuat Aelin goyah, bagaimana dengan rintangan-rintangan selanjutnya, bukan?
“Pikirkan ini, Saga,” ungkap Aelin memulai penjelasan, “terlepas dari keputusanku yang terkesan sembarangan, pikirkan dampak panjangnya. Jika aku berhasil mengalahkan Werewolf, Desa Orc akan terselamatkan. Berhubung mereka menjanjikan kesetiaan, maka sudah pasti akulah yang akan menjadi pemimpin mereka sehingga aku dapat tinggal di desa itu. Sedangkan, kita telah memiliki dugaan Kekaisaran akan meminta kerja sama para perwakilan zona agar diizinkan memasuki wilayah untuk menangkap kita. Alhasil, kita tidak bisa pergi ke Kerajaan Tempest. Dengan kata lain, aku bisa bersembunyi di Hutan Leigami menggunakan identitas baru sebagai Aena Voldigoad si pemimpin Orc. Bukankah itu jalan yang lebih mudah dari pada harus pergi menjelajahi area lain?”
Mata emas Saga menyipit. “Mengapa kau sangat yakin identitas Aena Voldigoad itu tidak akan dicurigai oleh Kekaisaran maupun semua orang?”
“Karena yang mereka tahu adalah Aelinna si Putri Terlantar yang tidak berbakat dalam sihir. Tidak mungkin orang semacam itu dapat menjadi pemimpin Orc dan bertahan hidup di Hutan Leigami, bukan?”
“Keberadaanku membuat segalanya mudah bagi Aelinna si Putri Terlantar itu, kau lupa? Semua orang akan dengan cepat menyimpulkan aku membantu penyamaranmu dalam identitas baru.”
Aelin menggeleng tegas. “Itu tidak akan menjadi masalah jika aku menggunakan kekuatanku sendiri. Energi mana-mu tidak akan terdeteksi padaku.”
Saga langsung mendecak kasar. “Itu juga yang kupertanyakan, Bodoh. Kenapa kau seyakin itu pada dirimu sendiri yang jelas-jelas masih tidak konsisten dalam menggunakan sihir?! Tidakkah kau mengerti mengapa aku melarangmu habis-habisan?!”
Tanpa aba-aba, tangan kiri Aelin mencengkeram pakaian Saga lalu menariknya, membuat jarak mereka kian tipis satu sama lain. Kini, hanya keberanian yang menyelimuti sorot mata serta wajahnya. Tak ada pilihan lain, dia harus bersungguh-sungguh dalam membuktikan tekadnya dan itu butuh keras kepala yang jauh lebih besar dibandingkan siapa pun.
“Bagaimana kalau begini saja, Saga?” tukas Aelin pelan, merasakan hembusan napasnya berbenturan dengan milik Saga. “Aku akan tetap maju menengahi Orc dan Werewolf, saksikan saja bagaimana skenario yang akan terjadi nantinya. Jika aku sanggup, kau akan menyetujui ide gilaku. Jika tidak, aku akan mengikuti pilihanmu tanpa protes. Adil, bukan?”
Tanpa berpikir panjang, Saga menghela napas seraya kembali menipiskan jarak. Sontak, membuat Aelin gugup hingga bergerak mundur namun tertahan oleh cengkeraman Saga di pergelangan kanannya yang masih teracung tinggi.
“Sepakat.”
Bisikan berat itu menjadi tembakan telak atas kegugupan Aelin. Gadis itu mensyukuri kedua kakinya masih sanggup menopang tubuhnya. Dia tidak ingin membayangkan bagaimana jadinya jika dia oleng begitu saja di hadapan Saga hanya karena perlakuan gila lelaki itu.
TO BE CONTINUED