6. Teror Emily

2005 Words
Perbuatan Pangeran Hector sangat membuat kecewa Sang Ratu. Sejak kecil Ratu Tyara sangat menyayangi Hector, walaupun dengan semua putra dan putrinya Ratu juga sangat sayang namun Hector mendapatkan tempat yang istimewa di hati Ratu, sebagai putra sulung penerus tahta. Walaupun telah diperingatkan untuk tidak berhubungan dengan Emily, namun tetap saja Hector kembali ke kediaman Emily hari ini, tepat saat mobil Petter meninggalkan kompleks perumahan mewah itu. Emily menemui Hector di ruang makan. Sepertinya Emily dan Petter baru saja bangun tidur, terlihat Emily sangat berantakan. Hector menahan amarahnya. Hector menemui Emily awalnya untuk memberi tahu Emily bahwa Hector akan ke Paris beberapa hari untuk mengunjungi Putri Claire, adik Hector, yang baru saja melahirkan. Namun, sepertinya arah pembicaraan akan berubah pagi ini. “Selamat pagi, Sayang!” Emily mencium Hector, Hector tidak bereaksi. “Di mana anak-anak?” pancing Hector. “Anak-anak bersama orang tuaku. Mereka menginap di rumah orang tuaku. Kenapa?” tanya Emily sedikit cemas. Emily cemas karena kedatangan Hector tak lama berselang setelah Petter pergi. “Oh! Aku kira anak-anak bersamamu,” jawab Hector. “Aku sendirian di sini. Aku menunggumu semalaman, aku pikir kamu akan datang menemuiku.” Emily mulai melancarkan aksinya untuk bermanja-manja pada Hector. Emily memeluk Hector yang duduk di kursi makan. Hector tidak bereaksi, Hector kecewa karena Emily membohonginya. Sudah pasti semalam dia tidur dengan Petter. Hector merasa hanya dijadikan kekasih cadangan saja. “Kapan rencana perceraianmu?” tanya Hector ketus. Emily melepaskan pelukannya, lalu berjalan ke arah jendela dan menyalakan rokoknya. Itulah hal yang selalu dilakukan Emily apabila dalam keadaan tertekan, Hector sangat hafal dengan hal itu. “Aku belum membicarakannya lagi dengan Petter,” jawab Emily sambil menghirup dalam-dalam rokoknya. “Kenapa? Apakah kamu akan membatalkan niatmu untuk bercerai?” desak Hector. “Hector! Kenapa aku jadi merasa dihakimi di sini?!” teriak Emily kesal. -hening- Hector memandang Emily cukup lama, Emily sengaja membuang pandangannya ke luar jendela rumahnya. Hector POV Apakah benar dia wanita yang kucintai? Apakah keluargaku bisa menerimanya? Merokok, berantakan, dan tidak memperhatikan penampilan? Apakah karena aku sudah mengenal Bella lalu semua berubah? Seistimewa itukah Bella? “Aku menerima perjodohan itu!” kata-kata itu muncul begitu saja dari bibir Hector. “APA KATAMU?!” Emily berteriak, “KAMU KE SINI HANYA UNTUK MENGATAKAN ITU?? ENYAHLAH KAU HECTOR!!” Emily melempar apa saja yang ada di hadapannya ke arah Hector. Emily marah dan kalap mendengar pengakuan Hector. Sedangkan Hector, dia bergegas keluar dari rumah Emily untuk menyelamatkan diri dari tindakan brutal yang dilakukan Emily. Tiga hari lamanya keluarga kerajaan berkunjung ke Paris untuk merayakan kelahiran cucu pertama Raja dan Ratu. Putri Claire, adik Hector melahirkan seorang Putra Mahkota untuk Kerajaan Paris. Saat berada di sana Hector banyak berbicara dari hati ke hati dengan Putri Claire, Putri Claire menikah dengan King Marco juga dalam waktu yang cukup singkat. Putri Claire banyak menasihati Hector tentang cintanya pada Emily dan juga tentang menjaga nama baik keluarga Josh Michael. (Kisah tentang Putri Claire dapat dibaca di cerita yang berjudul Claire, The King’s Desire). *** Sepulang dari Paris Raja, Ratu, Ibu Suri, dan Hector sedang berkumpul di ruang keluarga. Hector meminta kedua orang tuanya dan juga Ibu Suri untuk bertemu dengannya. “Ada apa, Hector?” tanya Ibu Suri. “Aku sudah mempertimbangkan banyak hal dan aku memutuskan menerima Bella sebagai calon istriku,” jawab Hector. Saat itu, Hector melihat Raja, Ratu, dan Ibu Suri tersenyum bahagia. Hector sempat berpikir, apakah Bella memang sesempurna itu hingga seluruh keluarganya menyambut Bella dengan suka cita? “Aku akan menyampaikan kabar gembira ini pada Bella,” ucap Ratu. “Tidak, Mama! Biar aku yang menyampaikannya sendiri,” cegah Hector. Ratu dan Ibu Suri saling berpandangan. “Baiklah, Hector! Kamu boleh menyampaikannya pada Bella,” jawab Ibu Suri. Hector mohon pamit meninggalkan ruangan untuk menemui Bella, Hector akan menyampaikan pada Bella tentang rencana pertunangan mereka. Setelah Hector keluar dari ruangan... “Sepertinya kita harus berterima kasih pada Claire,” Ratu memandang Raja dan Ibu Suri bergantian. “Ada apa dengan Claire?” tanya Raja Henry. “Setahuku Hector berbicara dengan Claire saat di Paris dan akhirnya hari ini Hector memutuskan untuk menerima Bella,” jawab Ratu. “Tapi kita harus tetap waspada dengan Emily dan keluarga mantan Perdana Menteri, mereka tidak akan tinggal diam kalau mendengar keputusan Hector ini!” pesan Ibu Suri. *** Di rumah keluarga Emily “Bagaimana kabar perceraianmu?” tanya Elisa Adams, Ibu Emily. “Aku akan segera membicarakannya dengan Petter, Ma!” jawab Emily. “Kau ini sebenarnya niat bercerai atau tidak?!” Antony Adams menggebrak meja makan karena tidak tahan lagi dengan Emily, putrinya... “Jangan atur kami, Papa!” protes Emily. “Petter baru saja mengunjungimu, bukan? Kamu selalu seperti ini, menjauh dari Hector setelah Petter tidur denganmu!” teriak Elisa kesal. “Mama!” “Katakan padaku, Em! Sebenarnya siapa yang kau cintai? Hector atau Petter?!” Elisa kembali berteriak. Emily meraih rokoknya lalu berjalan menuju ke jendela, dia kembali merokok. “Aku tidak tahu,” jawab Emily seenaknya. “Dasar gadis bodoh!” umpat Antony, “ceraikan Petter dan segera umumkan hubunganmu dengan Hector!” “Kamu tidak mau jadi ratu, hah?!” tanya Elisa sinis. “Mereka yang tidak menginginkanku menjadi ratu! Memang benar, Hector menjadi pelarianku setiap kali Petter membuat ulah dengan perempuan-perempuan di luar sana!” jawab Emily. “DASAR BODOH!” umpat Antony sambil meninggalkan ruangan. *** Siang ini, Hector sengaja mengajak Bella makan siang di luar. Bella tampak cantik dengan sabrina sweater dress warna hitam tak lupa sepatu boots hitam di atas lutut. “Kejutan sekali kita makan siang di luar! Ini pertama kalinya,” ucap Bella sambil tersenyum menawan. “Ya, aku ingin mengobrol denganmu di luar istana. Aku sudah jenuh berada di sana dengan banyak tekanan. Kamu suka tempat ini?” “Tempat makan ini indah sekali, Hector!” Bella menikmati suasana di sekitar tempat mereka makan siang. Mereka makan siang di pemukiman yang terkenal dengan wisata airnya. Para wisatawan dapat mengelilingi pemukiman yang di kepung oleh Sungai Fluss dengan menggunakan perahu dari kayu. Pemukiman yang bernama Flussdorf ini adalah pemukiman terhijau di Querencia. Sebagian besar rumah di pemukiman ini dialih fungsikan oleh pemiliknya menjadi rumah makan yang tetap mempertahankan bangunan asli dengan pemandangan Sungai Fluss di depannya. Para wisatawan bisa sekedar berkeliling pemukiman dengan perahu atau bisa juga mampir untuk makan siang. Mereka makan siang sambil mengobrol dan menikmati pemandangan sungai yang jernih di hadapan mereka. “Aku sudah membicarakannya dengan keluargaku,” kata Hector sambil memandang Bella. Rambut Bella tergerai indah tertiup angin, Bella tampak sangat cantik. Hector merasa tanpa beban saat mengajak Bella makan di tempat umum, berbeda saat bersama dengan Emily. Setiap kali pergi keluar dengan Emily, Hector harus melakukan penyamaran dan harus sembunyi-sembunyi jangan sampai ketahuan kalau putra mahkota berkencan dengan istri orang! Perasaan Hector juga selalu was-was saat berkencan dengan Emily di tempat umum. “Apa yang kalian bicarakan?” tanya Bella sambil menyantap makanannya. “Kamu...” “Aku??” “Ya, aku sudah mengatakan pada mereka kalau aku menerimamu sebagai calon istriku.” Bella tersedak. Hector tersenyum kemudian menuangkan segelas air untuk Bella. “Hmm, kamu mengatakan itu?” tanya Bella setelah meneguk air minumnya. “Iya, memangnya kenapa?” tanya Hector sambil tertawa. “Tidak apa-apa. Apakah mereka percaya? Apakah kamu sedang dalam keadaan sadar saat mengatakan hal itu?” Hector kesal, “Tentu saja!” “Lalu Emily?” tanya Bella. “Dia tidak segera memutuskan kapan akan bercerai, dia juga masih menemui suaminya!” jawab Hector sambil mengepalkan tangannya. “Kalau kamu memutuskan untuk menjadikan aku calon istrimu, kamu harus belajar mencintaiku Hector! Aku wanita yang sangat mudah dicintai,” ucap Bella sambil mengerlingkan matanya pada Hector. “Kamu harus mengajariku caranya, Belle!” jawab Hector sambil tersenyum dan menyantap makan siangnya. Bella tertawa, “Ya... ya... tenang saja, Pangeran! Aku bisa diandalkan dalam hal ini…” Mereka berdua makan siang dengan santai. Beberapa kali pengunjung atau wisatawan mengenali Bella dan Hector lalu mengambil foto mereka berdua. Bella selalu melambaikan tangannya setiap kali ada pengunjung atau wisatawan yang meneriakkan namanya. Bella juga memberikan senyum terbaiknya saat pengunjung atau wisatawan mengeluarkan ponsel untuk mengambil gambar mereka berdua. Hector memandang Bella dengan penuh kekaguman. Bagaimana bisa seorang gadis biasa memiliki kualitas sebagai seorang ratu? Bella sangat ramah dan merakyat, tiba-tiba dalam benak Hector, dia membandingkan Bella dengan Emily. “Aku ke toilet sebentar. Setelah itu kita kembali ke istana,” ucap Hector. “Jangan terlalu lama karena kamu akan merindukanku…” goda Bella sambil tersenyum dan mengibaskan rambutnya. Hector tertawa, “Tunggulah di sini, aku segera kembali!” Beberapa menit kemudian Hector hendak kembali ke mejanya. Namun, betapa terkejutnya Hector saat mendengar banyak pengunjung menjerit histeris. Semua orang berkerumun, membuat Hector sulit melewati kerumunan. Hector berjinjit untuk melihat apa yang terjadi. “Bella!” Hector berteriak panik sambil mendorong kerumunan yang menghalangi jalannya. Seorang perempuan yang sangat dikenal oleh Hector sedang menyandera Bella. Perempuan itu mencekik leher Bella dengan lengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya bersiap menusuk leher Bella dengan pisau. Luigi berada di sana, dia sedang mengancam wanita itu untuk meletakkan pisaunya. Luigi menodongkan pistol ke arah wanita itu. “Lepaskan dia, Em!” teriak Luigi. “Emily! Lepaskan dia!” Hector mencoba mendekati Bella dan Emily. “Mundur, Hector! Aku akan membunuh wanita ini kalau kamu mendekat!” ancam Emily begitu tahu kalau Hector sedang berusaha menyelamatkan Bella. “Lepaskan dia!” Luigi menarik pelatuknya. "Lui, jangan! Aku baik-baik saja!" teriak Bella. Emily yang terancam oleh Luigi menggoreskan mata pisau ke leher mulus Bella, hingga mengalirlah darah segar dari leher Bella. Bella memejamkan matanya. “Lui! Letakkan senjatamu! Kamu membahayakan Bella!” teriak Hector kesal, “letakkan Lui!!” Dengan emosi, Luigi akhirnya meletakkan pistolnya di lantai. “Suruh dia pergi, Hector!” teriak Emily. Hector melangkah sedikit mendekat, “Pergilah, Lui!” “Tapi Hector!” Luigi menolak. “Pergilah!!” teriak Hector. Luigi pergi menjauh lalu memilih untuk memanggil ambulans dan menghubungi pihak kepolisian. “Em, dengar... lepaskan dia!” ucap Hector dengan sangat hati-hati, sambil tangannya berusaha meraih pisau di tangan Emily. “Aku tidak apa-apa, Hector!” ucap Bella tenang walaupun darah segar mengalir. “Diam kamu!” Emily menekan leher Bella dengan pisaunya. “Em, jangan gegabah! Pikirkan semua akibat dari tindakanmu ini…” kata Hector dengan lembut. “Lebih baik dia mati dari pada kamu menikahinya!” ancam Emily. “Em, aku tidak menyangka kamu akan berbuat seperti ini. Tolong letakkan pisau itu, aku mencintaimu, Em!” Hector meraih tangan Emily, tapi Emily kembali menekan leher Bella dengan pisaunya. “Katakan padaku kalau kau tidak akan menikahinya, Hector!” ancam Emily. “Aku tidak akan menikahinya, Em! Kemarilah! Ayo, Sayang! Kemarilah! Aku mencintaimu!” Hector meyakinkan Emily. Perlahan Emily melepaskan Bella, lalu menjatuhkan pisaunya dan berlari ke arah Hector. Emily memeluk erat tubuh Hector sambil menangis. “Petter pergi bersama wanita lain lagi, Hector! Aku mencarimu, tapi kamu malah bersama wanita itu! Aku ditinggalkan oleh orang-orang yang kucintai!” tangis Emily pecah saat berada di pelukan Hector. Hector terdiam, kini dia tahu kenapa Emily mencarinya. Beberapa polisi yang sedang berpatroli di sekitar Flussdorf berhasil dihubungi oleh Luigi. Polisi itu segera mengamankan situasi. Mereka menangkap Emily dan membawanya ke kantor polisi untuk diinterogasi. Hector berlari ke arah Bella yang sedang dikerumuni oleh beberapa pengunjung yang berusaha menolongnya menghentikan pendarahan di lehernya. “Belle! Kamu tidak apa-apa??” tanya Hector panik saat melihat darah segar terus mengalir dari leher Bella. Bella dan Hector berpandangan, sangat dekat. Seolah ada magnet di antara mereka berdua. Hector meraih tengkuk Bella dan memeluknya. “Hector, giwangku...” ucap Bella. “Apa??” Hector bingung. “Aku rasa giwangku hilang satu,” jawab Bella kemudian memejamkan matanya tak sadarkan diri. “Belle, kau ada-ada saja... di saat seperti ini malah memikirkan giwangmu…” gumam Hector. Hector mengabaikan perkataan Bella tentang giwangnya yang hilang, Hector menganggap Bella sedang mengigau karena banyaknya darah yang keluar dari lehernya. Hector segera membopong tubuh Bella menuju ke ambulans. Bella segera dilarikan ke Rumah Sakit Saint Marry. Hector menemani Bella di dalam mobil ambulans. Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD