Kadang Bella bertanya-tanya dalam hatinya, apa kelebihan Emily dibanding dirinya sehingga Pangeran Hector lebih memilih Emily daripada memilihnya? Bella bisa dibilang lebih cantik dari Emily, buktinya dia bisa jadi super model. Bella juga wanita yang mandiri karena bisa berkarir dan menghasilkan uang sendiri. Tapi Bella harus menerima kenyataan bahwa Pangeran Hector sejak dahulu kala sudah menjatuhkan hatinya pada Emily dan hingga sekarang pun tak berubah. Perjodohan ini sudah pasti membuat Pangeran Hector sangat marah padanya.
***
Hector terdiam setelah terjadi perdebatan panjang antara dirinya dengan Ratu Tyara. Namun, diamnya Hector bukan berarti menerima keputusan Sang Ratu. Hector hanya ingin meredakan suasana.
“Bolehkah aku bicara berdua dengan Bella?” tanya Hector.
“Aku akan meninggalkan kalian berdua,” jawab Ratu sambil melangkah keluar dari ruangan.
Hector menunggu hingga Ratu benar-benar keluar dari ruangan, setelah yakin hanya berdua dengan Bella, Hector berniat untuk menyelesaikan masalah ini.
Hector menatap Bella. Hector menyadari kalau wanita yang ada di depannya itu memang sangat cantik. Entah kenapa Hector tidak tertarik pada Bella. Hector menghela napasnya sebelum mulai berbicara dengan Bella. Bella tersenyum, sangat cantik.
“Apa sebenarnya yang kau mau?” tanya Hector sambil menatap mata Bella.
“Maaf, Pangeran. Ini bukan tentang apa yang kumau, ini tentang apa yang keluargamu mau,” jawab Bella.
“Kamu bisa menolaknya, Belle!”
“Lalu? Keluargamu akan tetap mencarikan wanita lain untukmu. Sebelum mereka mencarikan wanita lain untukmu, aku rasa aku akan mencoba memenangkan hatimu,” jawab Bella dengan percaya diri.
Hector terkekeh, “Percaya diri yang cukup tinggi, Nona.”
Bella berdiri lalu berpindah duduk di samping Hector.
Hector terkejut, wanita ini cukup berani dan tidak malu-malu. Benar-benar santai dan apa adanya.
“Pangeran, jangan marah padaku. Aku tidak ingin berniat jahat padamu, aku hanya ingin memenangkan hatimu,” ucap Bella.
Bella menyandarkan punggungnya di sofa, kini dia duduk tidak terlalu formal di samping Hector. Hector meliriknya.
“Dengan menerima perjodohan ini, kamu sudah berbuat jahat padaku!” ucap Hector sinis.
“Oh ya? Kenapa?” tanya Bella dengan polosnya.
“Aku mencintainya,” jawab Hector.
“Ya… aku tahu, keluargamu tahu, dan aku rasa seluruh dunia juga sudah tahu.”
“Kalau sudah tahu kenapa kamu tidak akan membatalkan keputusanmu?” desak Hector.
“Apa kelebihannya hingga selama itu kamu bertahan mencintainya?” tanya Bella.
Hector menghela napasnya, “Aku tidak tahu. Aku menyukainya karena dia sangat percaya diri.”
“Aku juga percaya diri. Kamu sendiri yang mengatakannya.”
Bella mengerjapkan matanya sambil tersenyum.
Bella meletakkan kepalanya di sandaran sofa, lalu memiringkan kepalanya untuk memandang wajah tampan Hector. Hector memandang Bella, harus Hector akui bahwa wanita di hadapannya ini memang sangat percaya diri.
Hector tersenyum, “Tapi aku tidak mencintaimu.”
“Aku akan membuatmu mencintaiku,” jawab Bella sambil menunjuk d**a bidang Hector dengan jari telunjuknya yang lentik.
Hector tertegun memandang Bella, sepertinya Hector mulai menyadari kalau Bella memang sangat menarik. Cantik, bersinar, dan penuh asa. Tapi, Hector membuang jauh-jauh pemikiran liarnya itu, dia masih mencintai Emily.
“Belle, pikirkanlah lagi keputusanmu. Aku mengatakan ini karena kamu adik Luigi, tentu saja aku tidak mau menyakiti hati adik sahabatku sendiri,” Hector berusaha meyakinkan Bella.
“Kalau cuma sakit hati tidak apa-apa asal kamu akhirnya bersamaku,” jawab Bella sambil tersenyum dan memejamkan matanya.
Hector memandang Bella, Bella sangat cantik. Berbeda sekali dengan Emily-nya, yang sekarang ini jarang memperhatikan penampilannya.
Setelah lulus sekolah menengah, Emily menikah dengan Petter karena Emily mengandung anak Petter. Hector memilih melanjutkan kuliah daripada memikirkan Emily. Setelah empat tahun menikah dengan Petter ternyata terjadi keretakan dalam rumah tangga Emily karena Petter dituduh berselingkuh. Emily didukung oleh ayahnya untuk memanfaatkan perasaan cinta Hector padanya, akhirnya Hector menjalin hubungan dengan Emily, ibu dari dua anak.
Hector mengikuti posisi tubuh Bella yang menyandarkan punggungnya di sofa dan meletakkan kepalanya di sandaran sofa.
Mereka berdua menyelonjorkan kaki mereka sambil memandang langit-langit ruangan yang berhiaskan lukisan bergaya Renaissance mahakarya pelukis istana dari abad 13. Hector tidak menyangka pembicaraannya dengan Bella bisa sesantai ini.
“Kalau setelah perjodohan ini aku tetap bersamanya, bagaimana perasaanmu?” tanya Hector berusaha mengguncang hati Bella.
“Aku tahu, kamu tidak akan langsung meninggalkannya. Itu butuh waktu. Aku tidak apa-apa kalau untuk sementara kamu masih bersamanya. Tapi aku pastikan itu cuma sementara, Pangeran!” jawab Bella sambil kembali memiringkan kepalanya memandang wajah tampan Hector.
“Dia akan melabrakmu,” jawab Hector sambil tersenyum membayangkan Emily melabrak Bella.
“Wanita simpanan melabrak calon istri Putra Mahkota?? Aku takut dia akan ditertawakan dan dihujat seisi dunia, Pangeran,” jawab Bella santai.
Hector kembali menghela napasnya, suasana di ruangan sunyi senyap hingga suara kicau burung terdengar jelas.
“Terimalah aku! Cobalah dulu siapa tahu kamu bisa jatuh cinta padaku, Pangeran ... ”
Hector terkekeh, “Aku kira kamu wanita yang menyebalkan.”
“Oh, tentu tidak. Aku seorang super model, pekerjaanku menghibur orang bukan membuat mereka sebal,” jawab Bella sambil tertawa.
“Kamu super model?? Aku baru sadar mereka menjodohkanku dengan super model,” jawab Hector meledek Bella.
Bella melotot, “Apakah aku tidak terkenal di sini?”
“Aku tidak terlalu mengikuti dunia hiburan,” jawab Hector.
“Kamu harus mengubah sudut pandangmu, Pangeran. Kamu adalah Putra Mahkota, kamu harus mengetahui dan mengikuti banyak hal di sekitarmu. Kamu mengambil kuliah jurusan apa?”
“Aku? Aku kuliah jurusan arsitektur.”
“Oh..”
“Kenapa, oh?” tanya Hector.
Bella terkekeh, “Aku baru sadar, sudah lama sekali aku tidak mengikuti kabar berita tentangmu. Padahal kamu Pangeran idolaku. Sejak kapan aku mulai melupakanmu, ya?”
Bella memejamkan matanya.
“Memangnya sejak kapan kamu menyukaiku?” tanya Hector, “aku tidak pernah menyadari keberadaanmu.”
“Sebenarnya sejak kecil aku menyukaimu.” Bella mengenang masa kecilnya, “tapi aku tidak bisa mendekatimu. Kata Mamaku, Pangeran dan Putri tak bisa tersentuh. Ada pengawalan ketat katanya. Saat kalian dikawal dengan ketat, aku sedang bermain-main di selokan istana! Mana mungkin kamu menyadari keberadaanku.”
“Selokan istana??” Hector memicingkan matanya.
Bella tertawa, tawanya sangat memesona.
“Aku lebih berpengalaman dari pada kamu, Pangeran! Kalau kamu memilihku, aku pastikan aku bisa menghadapi semua tantangan bersamamu.”
Hector menggeleng-gelengkan kepalanya, “Kamu terlalu percaya diri!”
“Kalau aku terlalu percaya diri seharusnya kamu menyukaiku! Bukankah kamu menyukai wanita yang percaya diri?”
“Jangan memaksakan diri …” hibur Hector dengan nada sinis.
“Aku sebenarnya tidak memaksakan diri, Pangeran. Aku sudah lama melupakanmu karena kesibukanku.”
Bella menghela napasnya.
“Ya … Mungkin kamu sibuk dengan pekerjaanmu,” jawab Hector
Hector mencari nama Bella di mesin pencari ponselnya dan keluarlah semua foto-foto cantik Bella di sana. Hector terbelalak melihat betapa cantiknya foto-foto Bella itu.
***
“Baiklah! Saatnya memutuskan!”
Tiba-tiba Bella duduk tegak di sofa sambil merapikan rambut pirangnya yang terurai dengan indah.
“Memutuskan apa?” Hector ikut duduk tegak seperti Bella.
“Kapan pengumuman pertunangan kita?” tanya Bella.
“Apa?!” Hector berteriak karena terkejut.
“Kalau kamu ingin memberi tahu Emily, aku bisa menunggu. Tapi cepat atau lambat pertunangan kita tetap akan terjadi, Pangeran. Kecuali aku menolaknya! Hmm... tapi aku rasa aku tidak akan menolaknya,” Bella tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Aku rasa tidak mungkin kamu menolak dijodohkan dengan seorang Putra Mahkota calon pewaris tahta. Kamu ingin menjadi ratu, bukan?” ucap Hector dengan sinis.
“Siapa di dunia ini yang tidak ingin menjadi ratu? Itu cita-citaku sejak kecil! Aku tidak malu mengakuinya!” jawab Bella dengan sangat tegas.
“Kamu akan melukai perasaan wanita yang kucintai,” jelas Hector.
“Aku tidak peduli dengan perasaannya. Seandainya dia wanita yang baik, aku tidak akan merebutmu darinya!” jawab Bella.
“Dia wanita yang baik! Jangan sembarangan bicara!” bela Hector.
“Kalau dia wanita yang baik, seperti aku, tidak mungkin keluargamu menentang hubunganmu dengannya!” balas Bella.
Hector mengepalkan tangannya. Melihat Hector marah, Bella dengan santai berdiri dari tempat duduknya. Tanpa berpamitan pada Hector, Bella meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan Hector sendirian dalam kemarahannya.
Hector sempat melihat Bella melenggang begitu saja meninggalkannya.
***
Awalnya berbicara dengan Bella sangat menyenangkan, namun tetap saja Bella adalah wanita yang akan menghancurkan hubungannya dengan Emily, sehingga pembicaraan Hector dan Bella berakhir dengan tidak menyenangkan.
Hector merasa bersalah pada Emily, pesona Bella sangat kuat hingga hampir saja Hector terbuai dengan kecantikan dan sikapnya. Untuk menebus rasa bersalahnya, Hector berniat pergi mengunjungi kekasih hatinya.
Mobil Hector hendak memasuki halaman rumah Emily, tapi niat itu dibatalkannya saat melihat mobil Petter terparkir di halaman. Hector menunggu di luar pagar, siapa tahu Petter akan segera pulang. Namun, setelah menunggu hingga dini hari Petter tidak meninggalkan rumah itu bahkan sampai lampu-lampu di dalam rumah dipadamkan.
Hector akhirnya pulang ke istana dengan penuh kemarahan. Kemarahan Hector masih berlanjut hingga keesokan harinya saat keluarga Josh Michael makan bersama.
“Hector ada apa dengan wajahmu itu?!” tanya Pangeran David, sang adik.
“Diamlah, David!” jawab Hector.
“Hector!” Ibu Suri Anne menegur Hector.
“Jawablah David dengan baik, Hector! Sebagai adik, dia mengkhawatirkanmu! Kenapa kamu seperti itu?” tegur Ratu Tyara.
“Sudahlah, Ma … bisakah kalian tidak mengkhawatirkan aku?? Aku baik-baik saja!” jawab Hector kesal.
“Kamu pasti bertemu dengannya semalam!” tebak Sang Ratu.
“Tidak, Ma!”
“Hector, sadarlah! Mama bahkan sudah tidak mengenalimu lagi!”
Ratu Tyara berkaca-kaca melihat betapa Hector sudah jauh berubah. Ratu sangat kecewa karena Hector begitu lemah, hingga bisa dipengaruhi oleh seorang wanita.
“Tyara …”
Raja Henry menggenggam tangan istrinya untuk memberikan kekuatan dan dukungan.
“Aku tidak lapar, Henry. Aku mau beristirahat di kamar.”
Ratu Tyara meninggalkan ruang makan diikuti oleh Raja Henry yang bangkit berdiri menyusul Ratu Tyara ke kamar. Suasana di ruang makan menjadi hening dan dingin. Semua menyalahkan Hector yang telah membuat Ratu Tyara bersedih.
***
Di dalam kamar Raja dan Ratu
Ratu Tyara sedang berada di balkon kamarnya, Sang Ratu memandang taman yang maha luas terbentang di hadapannya. Tak terasa air matanya menetes.
“Jangan menangis …”
Henry memeluk Tyara dari belakang. Walaupun putra-putri mereka sudah dewasa, namun kemesraan antara Raja dan Ratu tidak pernah pudar. Mereka berdua tetap saling mencintai.
“Sudah terlalu banyak air mata yang kamu tumpahkan untuk putramu,” tambah Henry lagi.
“Bagaimana aku tidak marah? Dia mencintai wanita yang masih bersuami!” teriak Tyara.
“Ssstt… tenanglah, Sayang. Kita harus memikirkan jalan keluarnya dengan pikiran jernih,” ucap Henry.
“Kamu tidak pernah menegur putramu walaupun dia masih berhubungan dengan wanita itu!” protes Tyara.
“Aku hanya tinggal menggeser haknya sebagai Putra Mahkota kepada David …” jawab Henry santai.
“Lalu kamu akan membiarkan Hector terus berhubungan dengannya?? Kita mendidiknya dengan sepenuh hati, Henry! Kenapa jadi seperti ini??”
“Ini adalah ujian dalam hidup kita, Tyara. Setelah mengahadapi masalah Claire, ternyata kita masih harus menghadapi masalah Hector juga. Bersabarlah …”
Henry memeluk Tyara lebih erat.
“Aku sungguh tak rela Hector bersamanya! Apa yang Hector lihat dari wanita itu, Henry??”
Tyara terisak di pelukan Henry.
“Kamu harus tetap berpengharapan, Tyara. Bukankah kamu sudah mengatur perjodohan Hector dengan Bella?” tanya Henry.
“Aku sebenarnya merasa bersalah kalau harus menjodohkan putra-putriku, Henry! Kita bisa seperti ini tanpa perjodohan, sebenarnya aku ingin sekali anak-anak kita menemukan pasangan hidup mereka tanpa campur tangan kita …” jelas Tyara.
“Kita harus tetap campur tangan kalau keadaanya seperti ini, Sayang. Kamu harus yakin perjodohan ini akan berhasil. Aku melihat Bella sangat berkualitas untuk mendampingi Hector. Semoga Bella bisa membuka mata Hector …” hibur Henry.
“Apakah akan berhasil?” tanya Tyara putus asa.
“Aku yakin akan berhasil. Bella seribu kali lebih baik dari pada Emily.”
“Jangan sebut namanya dihadapanku, Henry!” protes Tyara.
Henry tersenyum, “Kita akan mengembalikan Hector kembali ke pelukan kita, Sayang. Percayalah!”
“Aku sangat berharap pada Bella … aku tahu Bella sudah lama memendam cinta pada putra kita, Henry!”
“Dia punya karir yang sedang bersinar. Apakah dia mau meninggalkan karirnya untuk berjuang memenangkan cinta Hector?”
“Aku akan memohon padanya. Aku belum membicarakan hingga sejauh itu, Henry. Semoga Bella mau meninggalkan karirnya untuk Bersama Hector.”
“Sebaiknya segera dibicarakan dengan Bella. Akan sulit sekali menemukan wanita seperti Bella untuk Hector,” jelas Henry.
“Iya, akan segera aku bicarakan dengan Bella,” jawab Tyara.
***
Saat Raja dan Ratu berada di dalam kamar, suasana di ruang makan menjadi sangat mencekam. Ibu Suri bahkan tidak berani meninggalkan meja makan karena takut kalau-kalau Pangeran Hector dan Pangeran David bertengkar hebat. Pangeran Edgar juga bersiap siaga apabila kakak-kakaknya sampai baku hantam.
“David! Edgar! Tolong tinggalkan Oma berdua saja dengan kakakmu!”
“Baik, Oma!” jawab Edgar.
David langsung beranjak dari tempat duduknya dan berpamitan pada Ibu Suri Anne.
Setelah David dan Edgar meninggalkan ruang makan barulah Ibu Suri berbicara pada Hector.
“Hector ... Oma memintamu untuk merenungkan dalam hati, tidak perlu dijawab langsung. Coba hitung berapa orang yang sudah kamu sakiti hatinya pagi ini? Itu saja pertanyaan Oma.”
Ibu Suri Anne meninggalkan Hector dalam hening. Hector sungguh kacau pagi ini. Dia sangat tertekan dengan semua yang dilakukannya akibat ulah Emily tadi malam.
tbc