Hector sangat panik melihat darah yang terus mengalir di leher Bella akibat goresan pisau yang dilakukan oleh Emily. Hector merasa sangat bersalah pada Bella karena tidak bisa menjaganya dengan baik. Hector juga sangat terpukul karena Emily tega berbuat hal yang sangat membahayakan keselamatan orang lain. Pikiran Hector saat ini sedang bercabang dua, antara mendampingi Bella yang terluka dan memikirkan Emily yang ditangkap polisi.
“Belle, kumohon tetaplah bersamaku. Bertahanlah kita akan segera sampai di rumah sakit,” Hector menggenggam tangan Bella.
Iring-iringan mobil ambulans, mobil polisi, dan mobil pengawal kerajaan membelah kemacetan ibukota siang itu. Berita tentang penyerangan yang dilakukan oleh putri mantan Perdana Menteri terhadap teman wanita Pangeran Hector menjadi pemberitaan utama di berbagai media. Kantor sekretariat istana mendapat telepon dari banyak pihak, baik itu kerabat kerajaan maupun anggota parlemen untuk menanyakan kebenaran kabar tersebut.
Bella sampai di Rumah Sakit Saint Marry dan langsung mendapat penanganan khusus oleh pihak rumah sakit. Setelah Bella masuk ke ruang perawatan, Hector berencana untuk mengunjungi Emily di kantor polisi.
“Lui, tolong jaga Bella. Aku harus menyelesaikan sedikit masalah!” Hector menepuk pundak Luigi.
“Kamu akan menemui Emily??” tanya Luigi kesal.
“Iya, Lui. Setelah urusan dengan Emily selesai aku berjanji akan segera kemari,” jawab Hector.
“Tidak perlu repot-repot memikirkan kondisi Bella, Hector! Uruslah kekasihmu yang sudah tidak waras itu!” Luigi menunjuk wajah Hector.
“Jaga ucapanmu, Luigi! Kamu tidak sadar sedang berbicara dengan siapa, hah?!”
Hector terbakar emosi saat melihat Luigi menunjuk wajahnya dengan penuh kemarahan.
“Kalau kamu tetap meninggalkan Bella sekarang, aku anggap kamu bukan siapa-siapa! Aku peringatkan kamu, jangan bawa Bella dalam skandal hubunganmu dengan Emily!”
“Maafkan aku, Luigi! Tapi aku harus pergi!”
Luigi melihat Hector berlalu meninggalkannya. Luigi menghantam tembok di depannya. Saat Bella tak sadarkan diri karena ulah brutal kekasih gelap Hector, Hector malah masih berniat menemui kekasihnya itu dan meninggalkan Bella dalam keadaan tak berdaya.
Hector meninggalkan rumah sakit Saint Marry menuju ke kantor polisi. Selama Hector menemani Bella di dalam mobil ambulans, Antony, ayah Emily menelepon Hector berulang kali. Antony meminta Hector segera menemuinya di kantor polisi.
Luigi menunggu hingga dokter keluar dari ruang perawatan. Agatha datang ke rumah sakit bersama dengan Ratu Tyara dan Ibu Suri Anne. Agatha menangis dan tampak sangat cemas.
“Lui! Bagaimana keadaan Bella?” tanya Agatha berurai air mata.
Luigi memeluk Ibunya, “Bella baik-baik saja, Mama! Jangan khawatir, tim dokter sedang menanganinya.”
“Di mana Hector, Luigi?” tanya Ratu Tyara.
“Pangeran Hector pergi ke kantor polisi, Yang Mulia!”
Ratu Tyara meremas gaun yang dipakainya, “Dia lebih memilih menemui wanita itu?!”
Luigi menyampaikan penyesalannya, “Maafkan saya tidak bisa mencegahnya, Yang Mulia.”
“Itu bukan salahmu, Luigi! Hector bukan anak-anak yang bisa diatur keinginannya,” jawab Ibu Suri Anne
“Aku harus membuat perhitungan dengan putraku, Ibunda!” Ratu Tyara geram.
“Bersabarlah, Ratu. Kita pasti akan bicara dengan Hector,” jawab Ibu Suri menenangkan Sang Ratu.
“Bagaimana bisa aku bersabar, Ibunda! Baru beberapa jam yang lalu Hector mengatakan akan menerima Bella menjadi calon istrinya! Tapi sekarang dia malah pergi menemui wanita itu!” kesabaran Tyara sudah benar-benar habis menghadapi Hector.
Agatha dan Luigi saling berpandangan saat mendengar ucapan sang Ratu yang mengatakan bahwa Hector akan menerima Bella menjadi calon istrinya. Luigi semakin marah karena setelah memutuskan akan menerima Bella menjadi calon istrinya pun, Hector tetap pergi untuk menemui Emily.
***
Di kantor polisi
“Pangeran Hector!” Antony berteriak memanggil Hector saat Hector muncul dari pintu masuk.
Hector berjalan menuju ke arah Antony dan Elisa, kedua orang tua Emily.
“Di mana Emily?” tanya Hector.
“Masih di dalam ruang interogasi. Apa yang terjadi Pangeran?!” tanya Antony.
“Emily menyerang temanku menggunakan pisau,” jawab Hector.
“Aku dengar model cantik itu calon istri Anda, Pangeran?” tanya Elisa sinis.
“Maaf Nyonya Elisa, masalah ini hanya akan saya bicarakan dengan Emily!”
“Emily mengatakan padaku kalau dia akan bercerai untuk bersama Anda, Pangeran. Tapi dia malah mendapatkan kejutan yang tidak menyenangkan! Dia melihat Anda bersama wanita lain dan akhirnya harus berakhir di kantor polisi. Kami bahkan tidak tahu apakah dia akan dipenjara?!” teriak Elisa.
Hector memijit pelipisnya saat Elisa mulai banyak bicara.
“Elisa diamlah!” bentak Antony saat melihat Hector sudah jengah dengan ocehan istrinya.
Proses interogasi berlangsung cukup lama. Hector masih berada di kantor polisi untuk menunggu Emily selesai diinterogasi. Dengan nama besar dan kekuasaan yang pernah dimilikinya, Antony mulai menghubungi para petinggi untuk membantunya membebaskan Emily dari jerat hukum yang mungkin akan menimpa Emily.
Emily bebas dengan jaminan. Antony dan Elisa membawa Emily pulang ke kediaman mereka sedangkan Hector mengikuti mobil mereka dari belakang. Kejadian ini menarik perhatian wartawan yang memang berkumpul di dua titik saat ini, yaitu di kantor polisi dan di Rumah Sakit Saint Marry.
Di rumah keluarga Emily
“Bisakah aku bicara berdua saja dengan Emily?” pinta Hector.
“Elisa, ayo kita tinggalkan mereka berdua!”
Elisa dan Antony akhirnya membiarkan Hector berbicara dengan Emily walaupun Elisa ingin sekali berada di ruangan itu untuk mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
“Em, aku sungguh menyayangkan kamu melakukan hal yang sangat gegabah! Sekarang seisi dunia tahu kalau kita menjalin hubungan!” sesal Hector.
“Biarkan seisi dunia tahu! Dengan begitu kamu akan mengakuiku sebagai kekasihmu!” Emily kesal.
“Apakah dengan melakukan tindakan kriminal seperti ini, keluargaku akan menerimamu? Kamu salah! Tidak begini caranya, Em!” Hector sangat marah.
“Apakah maksudmu aku harus menerima Bella sebagai calon menantu idaman keluargamu?!!” teriak Emily.
“Aku tidak pernah protes setiap kali Petter datang mengunjungimu! Entah dia yang datang atau kamu yang mengundangnya aku juga tidak tahu, yang jelas aku tidak pernah mempermasalahkannya asal kamu jujur padaku! Aku tahu Petter bermalam di rumahmu sehari sebelum aku berangkat ke Paris! Aku tidak mau memaksamu untuk memilih antara aku atau Petter, Em!”
“Tapi aku mencintaimu, Hector!” Emily mengguncang lengan Hector dan menangis untuk meyakinkan Hector.
“Kamu mencintaiku saat Petter meninggalkanmu, Em! Saat Petter kembali, dia adalah satu-satunya yang kamu cintai!” teriak Hector, “katakan padaku, kapan kamu akan bercerai dengan Petter?!”
“Petter tidak mau bercerai demi anak-anak,” jawab Emily sambil menerawang keluar jendela.
Dari balik jendela Emily bisa melihat wartawan bersiap mengambil gambarnya, Emily bergeser sedikit menjauh dari jendela supaya tidak tertangkap kamera.
“Kamu juga tidak mau? Walaupun berkali-kali dia berselingkuh?” tanya Hector.
“Aku tidak mengatakan kalau aku tidak mau bercerai! Apakah setelah aku bercerai dengan Petter, kamu bisa menjamin aku akan menjadi calon istrimu? Apakah kamu menjamin aku bisa diterima oleh keluarga besarmu?” tanya Emily.
Hector terdiam, Hector tahu keluarganya tidak akan merestui hubungannya dengan Emily. Kecuali? Kecuali Hector menyerahkan posisi Putra Mahkota kepada David Josh Michael, adik Hector yang saat ini sedang menjalani sekolah militer angkatan udara di Querencia.
Akhirnya, Hector meminta Antony dan Elisa ikut bergabung dengan mereka berdua setelah mereka berdua berbicara.
“Tuan Antony dan Nyonya Elisa, kami berdua sudah membicarakan kelanjutan hubungan kami. Kami tidak bisa melanjutkan hubungan ini,” jelas Hector.
“Apa?? Apa katamu, Pangeran?!! Setelah sekian lama anakku berkorban, inikah balasanmu?!” tangis Elisa meledak.
“Kami sama-sama berkorban, Nyonya! Tapi kami tidak menemukan jalan keluar, maafkan aku!”
Hector meninggalkan rumah kediaman keluarga Emily setelah secara resmi mengakhiri hubungan di antara mereka berdua. Emily memandang Hector dari balik jendela dengan mendongakkan kepalanya. Emily yakin Hector akan kembali padanya.
***
Keesokan harinya di Rumah Sakit
Agatha sedang duduk di samping Bella dan menyuapinya. Kondisi Bella sudah membaik. Agatha dan Luigi bermalam di rumah sakit untuk menjaga Bella.
“Sudah, Ma... aku sudah kenyang.” Bella menolak suapan dari Agatha.
“Sedikit lagi, Belle.”
“Sudah, Ma... leherku masih sakit.”
“Hmhh ... baiklah!” jawab Agatha menyerah.
Tok! Tok! Tok!
Agatha berjalan menuju ke pintu.
“Pangeran Hector?” Agatha terbelalak seperti melihat hantu.
“Selamat pagi, Nyonya Agatha. Bolehkah saya masuk?” tanya Hector.
“Oh, iya! Mari silakan masuk, Pangeran!” jawab Agatha.
Luigi yang juga sedang berada di ruangan itu langsung berdiri menjadi pagar betis yang menghadangi Hector untuk mendekati Bella.
“Mau apa kemari, Pangeran?” tanya Luigi ketus.
“Aku mau menemui Bella.”
Hector menatap Luigi dengan tajam.
“Aku melarangmu menemui adikku!” ucap Luigi dengan tegas.
“Aku juga melarangmu berada di sini! Kenapa kamu tidak bekerja? Kamu pengawal pribadiku bukan??” balas Hector.
“Hari ini aku keluar dari pekerjaanku!” tantang Luigi.
“Lui…”
Bella mencoba melerai dua lelaki yang sedang berdebat itu.
“Lui! Apa yang kamu lakukan!” Agatha melotot ke arah Luigi.
Agatha menarik lengan Luigi karena Luigi sudah bersikap tidak sopan pada Hector.
Hector mengabaikan kemarahan Luigi lalu berjalan mendekati Bella, Hector membawa sebuket bunga mawar merah untuk Bella.
“Selamat pagi, Belle!” Hector menyerahkan rangkaian bunga mawar merah nan cantik itu kepada Bella.
“Selamat pagi, Pangeran!” jawab Bella sambil tersenyum ceria menerima rangkaian bunga mawar segar dari Hector.
“Bella, kami akan meninggalkanmu berdua dengan Pangeran Hector. Kami mau ke kafetaria dulu, ya!” Agatha menarik dengan kuat lengan Luigi agar mau meninggalkan ruangan itu, “Pangeran Hector, saya titip Bella sebentar.”
“Silakan Nyonya Agatha. Saya akan menjaganya di sini,” jawab Hector sopan.
Setelah Agatha dan Luigi meninggalkan kamar...
“Maafkan ketidaksopanan Luigi, Pangeran…” ucap Bella penuh penyesalan.
Hector tersenyum, "Tidak apa-apa, dia pantas marah padaku. Dia sangat menyayangimu."
"Ya, itu benar..." jawab Bella.
“Bagaimana keadaanmu, Belle?” tanya Hector khawatir melihat perban di leher Bella.
“Baik, Pangeran. Hanya mungkin luka ini untuk sementara waktu akan meninggalkan bekas, tapi kata dokter semua baik-baik saja dan dalam waktu dekat akan kembali seperti semula,” jawab Bella.
“Syukurlah, aku sangat menyesal atas perbuatan yang dilakukan Emily padamu ...”
“Bagaimana kabarnya?” tanya Bella.
Hector terkejut, “Siapa??”
“Emily. Bukankah kamu sudah menemuinya?” tanya Bella.
“Maafkan aku, Belle. Aku tidak ada di sini saat kamu siuman.” Hector memandang Bella.
“Ah, tidak apa. Kalau kamu memang harus menemuinya ya temui saja,” jawab Bella santai.
“Maafkan aku karena aku harus menemui Emily dan meninggalkanmu bersama Luigi.”
Hector menatap bola mata Bella yang bulat dan sangat jernih. Ada sedikit kekecewaan di dalam sorot matanya. Namun, Bella selalu pandai menutupinya.
“Tidak apa-apa. Aku… sudah biasa sendiri, Pangeran!”
Bella berusaha tersenyum ceria. Wajahnya sangat cantik… begitu mudahnya Hector mengakui kalau Bella memang sangat cantik.
Hector POV
Dia cantik sekali… ke mana saja aku selama ini? Sampai aku tidak menyadari keberadaannya dan tidak tahu kalau dia menyukaiku sejak kecil!
“Aku kembali ke tempat kita makan siang. Aku mencari giwangmu tapi karena sudah gelap aku tidak berhasil menemukannya. Aku datang lagi ke sana pagi ini dan...”
Hector mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
“Aku membawakanmu ini.” Hector membuka telapak tangannya.
Bella berbinar-binar, ada air mata menggenang di pelupuk matanya.
“Terima kasih, Hector. Kamu tidak tahu betapa berharganya benda kecil ini...” Bella menyentuh giwang yang ada di telapak tangan Hector dengan jari telunjuknya.
“Berbaliklah, akan aku pasangkan giwangmu.”
Hector duduk di samping Bella yang masih memeluk erat buket bunga mawar pemberian Hector. Bella sedikit memalingkan kepalanya supaya Hector dapat memasang giwangnya. Hector menyibakkan rambut Bella. Betapa prihatinnya Hector saat melihat leher Bella ditempeli perban. Perlahan Hector memasang giwang itu di telinga Bella.
“Ini adalah benda terakhir pemberian dari mendiang Papaku saat aku berumur 4 tahun. Kadang orang-orang bertanya, mengapa seorang super model sekelas Bella memakai giwang kecil ukuran anak-anak?” ucap Bella sambil tersenyum memegang giwangnya.
Hector tertegun mendengar penjelasan Bella. Bella memakai giwang pemberian ayahnya sejak berumur 4 tahun dan tidak menggantinya dengan giwang yang lain! Kini Hector tahu, betapa berartinya giwang itu. Bahkan saat kemarin siang Bella hampir kehilangan nyawanya, dia memikirkan giwangnya yang hilang.
“Kalau aku mencintai seseorang, aku akan tetap menempatkannya di tempat yang istimewa dan tidak akan menggantikannya dengan yang lain,” ucap Bella sambil memandang bunga mawar pemberian Hector.
Tbc