Kanaya menatapnya lekat tanpa mampu berbicara. Suaranya tercekat di tenggorokan. Radit meraih tangan Kanaya, tapi Kanaya menghindar. Radit tersenyum kaku karena penolakan mantan kekasihnya. Ia tahu ini tidak mudah untuk meluluhkan hati Kanaya kembali. “Gue mau bicara sama lo, tapi nggak di sini,” kata Radit. Kanaya masih diam. Rasa rindu dan kecewa bercampur aduk dalam benaknya. Kanaya ingin menangis, tapi ia tidak mau terlihat cengeng di depan Radit. Ia tidak ingin pria itu beranggapan bahwa Kanaya tidak bisa hidup tanpanya. “Gue nggak bisa pergi.” Akhirnya Kanaya bisa bersuara. Radit menelan ludahnya saat melihat tatapan Kanaya berubah dingin. Suara gadis itu pun sedikit berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi Kanaya yang manja di depannya. Ia melihat mantan kekasihnya sangat dewasa.

