Penguntit

1459 Words

“Lo benar, kita hanya teman. Seorang teman tidak akan bisa menjadi pasangan hidup.” Kanaya menatap dua wanita yang berdiri di depan kamar Max. Pria itu kembali menatap mereka membuat hati Kanaya seperti teriris. Rasa sakit itu membuatnya sulit untuk berkata. Tatapan keduanya bertemu. Max terdiam melihat Kanaya menangis. Gadis itu lalu tersenyum walau air matanya terus mengalir. “Mulai hari ini gue nggak akan ganggu lo lagi.” Kanaya mengusap kasar air matanya lalu pergi dari hadapan Max. Gadis itu masuk ke dalam lift membuat Max memejamkan matanya. Ingin sekali ia mengusap air mata Kanaya dan merengkuh tubuh itu ke dalam pelukannya. Namun, Max hanya diam membiarkan Kanaya merasakan sakit. “Sayang, kenapa kamu diam saja. Ayo kita masuk,” kata gadis yang memakai rok mini. Tangannya men

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD