Kanaya yang mengintip dari jendela lagsung bernapas lega, karena Max sudah pergi. Entah mengapa ia ingin menghindar dari pria itu saat ini. Kanaya sendiri tidak tahu perasaannya pada Max. “Kamu lihat apa, Sayang?” tanya Shita membuat Kanaya kaget. Ia tidak tahu kenapa ibunya bisa sampai terlebih dahulu di rumah. Padahal mereka pulang dari rumah sakit bersamaan. “Nggak, Ma, aku cuma mau lihat tukang bakso lewat.” Kanaya tersenyum kaku. “Aku ke kamar dulu, ya.” Kanaya bergegas ke kamarnya di lantai dua. Saat ia membuka pintu gadis itu cukup kaget melihat kamarnya berbeda dari terakhir kali yang ia ingat. Kamarnya rapi dan bersih dari sebelumnya. Terlebih tata letak beberapa barang berubah. Ia merasa tidak pernah mengubah posisi mejanya. Kanaya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.

