Kanaya memoles bibirnya dengan lipstick soft pink. Entah kenapa ia merasa sudah terbiasa dengan alat make-up yang ada di atas mejanya. Walau terasa aneh, tapi Kanaya tetap berdandan tipis. Rambut yang biasa terkuncir kini digerai indah. Rambut hitam lurus itu hanya dihiasi satu jepit rambut. Kanaya harus bersyukur memiliki wajah yang awet muda walau dua tahun lagi memasuki kepala tiga. Wangi parfum menguar memenuhi udara kamar. Kanaya tersenyum melihat pantulan dirinya di depan cermin. Cantik. Itulah yang ia lihat di depan cermin. Namun, senyumnya seketika menghilang. “Kenapa gue dandan cantik begini?” gumamnya lalu menghapus lipstick dengan tissue. Ia bergegas keluar sebelum terlambat datang menemui Max. “Sayang, kamu mau ke mana? Istirahat dulu jangan pergi ke luar,” teriak Shita d

