Suasana dalam mobil seperti kuburan. Hening dan menyeramkan. Max sesekali melirik ke samping, tapi Kanaya terlihat cuek dan tidak peduli. Max menghembuskan napas panjang membuat Kanaya menoleh. “Bagaimana dengan wanita itu?” tanya Kanaya tiba-tiba membuat Max menatapnya. “Siapa yang kamu maksud?” “Wanita yang mengaku sebagai calon istri kamu,” jawab Kanaya. Ia tidak ingin dikatakan sebagai perebut pacar orang. “Dia hanya teman. Abaikan saja,” sahutnya santai. Max menghentikan mobil di depan rumah Kanaya. Sejujurnya ia masih ingin bersama Kanaya lebih lama lagi, tapi ia tidak bisa memaksa. Max ingin keluar membuka pintu untuk Kanaya, tapi gadis itu menahan lengannya. Max mengurungkan niat dan kembali menarik kakinya ke dalam mobil. “Kamu nggak bohong, ‘kan?” tanya Kanaya. Max mengh

