Hello everyone!
Sudah part 5 nih! Huwaaa! Chukhahamnida!
Gak nyangka bakal nulis sepanjang ini setelah vakum? Daebak kan?
Sedih juga sih ini last chapter ff ini. Tapi lega akhirnya ff ini kelar juga!!
Okay, daripada baca bacotan saya yang gak ada habisnya, mending baca ff ini. Mianhae kalo ada virus typo dimana-mana
Check this out!!!
Setelah dari darmawisata itu Ji Ra jadi aneh. Setiap dia mendengar nama itu pasti deh hatinya berdenyut. Melihat orang yang sosoknya mirip dengan orang itu pun, Ji Ra hampir memanggilnya tapi ternyata bukan. Bahkan dalam mimpinya dia melihat orang itu lagi. Apakah Ji Ra sudah gila? Mungkin.
''Sam/guru! Ji Ra sam? SHIN JI RA SAM!!!!!!!!!!'', teriak seluruh murid dikelas Ji Ra sedang mengajar.
''Eh...? Wae? Waeyo/kenapa?'', tanya Ji Ra yang terkejut.
''Sam appo/guru sakit?'', kata Luna memegangi kepala Ji Ra.
''Ya/hey! Wajahnya gak memerah!'',kata Eunhyuk.
''Apa sam lapar?'', tanya Joy. Seluruh murid Ji Ra mengelilingi meja Ji Ra karena khawatir.
''Aniyo/gak, sam sehat kok! Kokjonghajima/jangan khawatir'',jawab Ji Ra.
''Jinjja/beneran? Apa perlu kami panggilkan Yi Fan sam?'',kata Minzy.
''Oi, kamu harusnya panggil dokter bukan Yi Fan sam'',kata Daesung.
''Tapi bukannya Ji Ra sam pacarnya Yi Fan sam?'',kata Minzy polos.
''Ya! Ji Ra sam itu pacarnya oppaku!'', seru Chani.
''Wae? Yi Fan sam lebih tampan!'',kata Hayi diiringi anggukan murid yang yeoja.
''Aniyo,uri oppaneun nomu jal sangkettago/gak kakakku sangat ganteng! Bahkan oppa lebih kaya daripada Yi Fan sam!'', protes Chani.
Keributan pun dimulai. Ji Ra berusaha menghentikan malah kebingungan karena hampir semuanya berteriak dan lari kesana kemari.
Setelah perdebatan panjang itu,akhirnya mereka berhenti karena para guru yang merasa kelas Ji Ra paling ribut membantu melerai dan menenangkan mereka.
''Chaniya! Apa-apaan kamu kok bikin oppa malu?'',seru Chanyeol kesal.
''Itu mereka duluan..''tunjuk Chani ke teman-temannya. Mereka malah saling menyalahkan.
''GEUMANHAE/berhenti! Kok kalian malah ribut?'', bentak Soyoung.
Mereka terdiam lagi. Kondisi mereka cukup dibilang babak belur/berantakan. Chani ikatan rambutnya hilang sebelah,dasi ketarik sampai kebawah,rambut awut-awutan dsb. Gak jauh beda dengan teman yang bertengkar dengannya.
''Sebenarnya ada apa kalian bertengkar?'',tanya Chaerin.
Mereka mulai saling menyalahkan lagi tapi dihentikan.
''Chani,waeyo?'',tanya Dara.
''Tadi di kelas kami lihat Ji Ra sam gak bersemangat, kami khawatir dan mau menghiburnya. Tapi mereka malah bawa nama Yi Fan sam dan mengolok oppaku!''
''Ya! Bukan kami yang memulai'',bela Luna diiringi teman-temannya. Chaerin menghentikan keributan mereka.
''Lalu?'',tanya Suzy.
''Mereka bilang, kalo Ji Ra sam sakit kenapa gak memanggil Yi Fan sam? Kan Ji Ra sam itu pacarnya oppaku tapi mereka ngotot!''
''Anio/gak! Bla,bla,bla''
Para guru itu terkejut dan saling bergantian menatap. Bahkan Yi Fan, Ji Ra dan Chanyeol jadi bahan sasaran tatapan mereka semua. Mereka gak tau kalau penyebab pertengkaran pun bengong.
''Oppa,kalian pacaran kan?'',seru Chani.
Chanyeol tak menjawab.
''Ji Ra sam?'', tanya Chani lagi.
Ji Ra pun diam. Mereka saling menatap.
Merasa gak dapat respon Chani kesal dan berlari keluar.
''Chaniya~!''
''Biar aku yang kesana'',kata Chanyeol menyusul Chani.
''Ampun deh, anak sekarang pertengkarannya rada aneh'', seru Dara.
''Mianhaeyo/maaf, karena aku mereka jadi begitu'',kata Ji Ra sedih.
''Aniyo/gak, biasalah anak kecil'', hibur Chaerin.
''Ayo,kalian rapikan baju kalian dan kembali ke kelas ya?'',kata Suzy ke Luna dkk.
Setelah semua bubar, Ji Ra duduk di tempatnya.
''Ji Raya~ apa kamu galau akut?'',goda Soyoung.
''Aniyo''
''Terus kenapa melamun saat mengajar?''
''Gak apa. Lelah''
''Hmmm........'',kata Soyoung gak percaya.
''Chanyeol? Yi Fan?''
Deg! Hati Ji Ra mulai berdenyut saat nama itu disebut.
''Ehem, jadi yang mana?''
''Yang mana apanya?''
''Nama yang kusebut tadilah, yang bikin hatimu linu''
''Ada-ada aja kamu ini''
''Hayo, gak boleh bohong ya? Tuh liat wajahmu,sudah kayak kepiting rebus kan?'', kata Soyoung memperlihatkan wajah Ji Ra di cermin. Ji Ra kelabakan.
''Uhuk,kamu salah liat''
''Appo/sakit? Gak kan?''
Ji Ra yang gak mau menjawab kabur meninggalkan Soyoung.
''Ya! Odie Ga/kemana! Dasar deh...''
Chanyeol muncul lagi mencari Ji Ra.
''Ji Ra odieyo/dimana?''
''Kabur keluar'',kata Soyoung menunjuk ke luar. Chanyeol pun berjalan mencari Ji Ra.
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
Ji Ra duduk sendiri di bangku tk. Merutuki kebodohannya.
Lalu seseorang menempElkan botol minuman dingin di pipi Ji Ra.
''Chuwo/dingin!!'',seru Ji Ra. Ji Ra memegangi pipinya yang memerah.
''Jangan melamun'', kata Yi Fan menyodorkan minuman ke Ji Ra dan duduk di sebelah Ji Ra.
''Aku merasa bukan guru yang baik''
''Wae/kenapa?''
''Bagaimana bisa mereka yang sekecil itu tau tentang cinta? Apalagi yang mereka bicarakan adalah guru mereka sendiri'',kata Ji Ra, Yi Fan memandanginya.
''Mianhae/maaf,kalo namamu bahkan nama Chanyeol muncul disini. Mungkin aku kurang tegas ke mereka?''
''Aniyo/gak, yang mereka perkirakan gak salah''
''Eung?''
Ji Ra menatap Yi Fan tak mengerti.
''Anak kecil karena masih polos selalu mengatakan dan melakukan yang mereka pikirkan. Mereka angels''
Ji Ra mendengarkan Yi Fan dengan serius.
''Apa kamu lupa mereka menyayangimu hingga hal seperti percintaanmu pun mereka pikirkan? Bukan berarti aku membenarkan mereka tapi mereka perhatian padamu''
''Geura/ya betul~ aku merasa aku kurang paham perasaan mereka. Mungkin aku harus bicara pada mereka'',kata Ji Ra diikuti anggukan Yi Fan.
Ji Ra pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke kelas.
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
From: Chanyeol
To: Ji Ra
Ji Rassi,minggu ini bisa bertemu di Myeongdong?
Di café tempat dimana kamu memberikan tempat duduk untukku
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
''Joheun achim/selamat pagi Ji Rassi~'', sapa Chanyeol tersenyum lebar.
''Joheun achim. Udah lama?''
''Aniyo, santai aja''
''Mau keliling Myeongdong?''
''Bagaimana kalo sarapan dulu di café kita pertama bertemu?''
''Ne~Katanya ada menu breakfeast terbaru''
Mereka pun berjalan ke café tersebut. Memilih tempat duduk dan memesan makanan.
''Chanyeolssi,ada apa tiba-tiba mau kemari?''
''Ingin pergi aja! Lagipula ini tempat kenangan kita''
''??? Geura/ya benar, tempat kenangan''
Setelah sarapan, mereka berjalan-jalan kesana kemari. Ke toko baju, melihat pernak pernik, melihat-lihat di toko make up,berfoto,bernyanyi dsb.
''Kayaknya kita berlebihan berbelanjanya Chanyeolssi''
''Hahaha,keunde nomu joha/tapi aku sangat suka!''
Lalu melanjutkan lagi perjalanan mereka.
''Capek?'',tanya Chanyeol memberikan minum ke Ji Ra. Mereka istirahat sebentar di bangku taman.
''Aku tak menyangka Chanyeolssi begitu semangat sampai aku gak bisa mengikuti''
''Aniyo, aku hanya SEDANG MOOD''
''Ah,kamu mau burger itu Ji Rassi?'',tawar Chanyeol diiringi anggukan Ji Ra.
Kemudian mereka melanjutkan sampai sore.
''Huwaaa,sudah jam 5:45'',kata Ji Ra sambil melihat jamnya.
''Akhirnya sudah semua kita jelajahi! Yeah!'',kata Chanyeol.
Ji Ra tertawa.
''Wae usoyo/kenapa ketaws?''
''Ani, Chanyeolssi kayak anak kecil''
Chanyeol tersenyum malu.
''Ah,apa kita mau langsung pulang?''
''Mau naik kereta gak? Itu loh pertama kali kita bertemu''
''Chanyeolssi masih ingat?''
''Mana mungkin melupakan hal berharga itu'',kata Chanyeol girang.
DEG! Seketika wajah Ji Ra memerah.
''Chanyeolssi berlebihan. Toh waktu itu kan gak sengaja duduk bersebelahan''
''Chani sering bilang kalo itu takdir''
Mereka berjalan ke station kereta dan menunggu kereta mereka datang. 5 menit kemudian kereta yang ditunggu datang. Karena weekend, penumpang kereta cukup padat. Ji Ra dan Chanyeol agak kesusahan memasuki kereta.
Ji Ra hampir terpisah dengan Chanyeol karena banyaknya penumpang saat ini.
''Ji Rassi!'',kata Chanyeol menarik Ji Ra.
Untunglah mereka tidak ketinggalan kereta. Padatnya penumpang membuat tempat duduk di kereta penuh. Ji Ra dan Chanyeol pun berdiri sambil berpegangan tangan.
Lama menunggu, akhirnya ada kursi kosong di dekat Ji Ra. Ji Ra pun duduk masih berpegangan tangan dengan Chanyeol. Kemudian ada seorang nenek yang sedang berjalan di kereta. Ji Ra pun menawarkan kursinya ke nenek itu.
''Hm? Bukankah kalian yang sama-sama menawarkan kursi padaku di kereta waktu itu? Jadi kalian pacaran? Semoga kalian berbahagia ya?'',kata nenek itu tersenyum lembut.
Ji Ra dan Chanyeol saling menatap merenungi ucapan nenek itu.
06:25 KST
Ji Ra dan Chanyeol sampai juga setelah perjalanan cukup panjang.
''Hari ini aku senang sekali Ji Rassi,gomawoyo'',kata Chanyeol.
''Aniyo,nado haembukhaeyo/gak akunjuga senang! Gomawoyo/terima kasih''
''Ji Rassi''
''Ne?''
''Bisakah kamu menemaniku sebentar lagi?''
''Wae/kenapa?''
''Ayo kita naik bus~!''
''Geura/benar!''
Mereka berjalan di halte dan menunggu di bus yang akan mereka tumpangin. Bus pun datang,mereka naik.
''Kenapa hanya kita yang naik bus?''
Chanyeol tersenyum.
''Chanyeolssi?''
''Karena bus ini bus khusus''
''???''
''Bus ini datang pada jam tertentu. Yah seperti bus yang muncul karena kurangnya bus yang ada''
''Apa Chanyeolssi sering naik?''
''Geurom/tentu saja. Kalo aku sedang bosan,ingin sendiri kadang keliling naik bus ini. Bahkan sopirnya mengenalku. Annyeonghaseyo ahjussi''
Sopir itu hanya tersenyum ke mereka.
''Aku baru pertama kali naik bus ini dan menikmati pemandangan kota''
''Joha/suka?''
''Ne/ya!''
Mereka terdiam melihat pemandangan kota dari jendela di bus.
''Ji Rassi''
''Wae/kenapa?''
Ji Ra berbalik menghadap Chanyeol yang duduk di sebelahnya.
''Ada apa kok raut wajah Chanyeol serius gitu?''
''Ji Ra,apa kamu ingat pertengkaran Chani karena apa?''
''Ne, apa Chani bilang sesuatu padamu?''
''Chani bilang,oppa cepat bertindak! Kalo gak Ji Ra sam beneran diambil Yi Fan sam''
''Jinjja/beneran? Kiyowo/lucu~''
''Karena itu aku jadi sadar mungkin ini saatnya aku bicara''
''???''
''Ji Rassi, Nan Chanyeol, Nan noreul saranghae!''
''!!!????''
''Mian,tapi aku gak bisa membiarkanmu bersama Wu Yi Fan! Kami memang berteman tetapi aku tak bisa memberikanmu padanya''
''Chanyeolssi...''
''Aku pasti akan membahagiakanmu Ji Rassi, aku senang pertama kali kita bertemu di kereta itu. Aku gak bisa melupakanmu dan berharap bertemu lagi dan takdir mempertemukan kita lagi di café itu. Aku bertambah yakin dengan perasaanku saat Chani pindah ke sekolah itu. Apalagi Chani suka padamu dan memintamu datang ke rumah menemaninya. Aku berubah bertemu denganmu. Hubunganku dengan Chani pun lebih dekat dibanding yang dulu''
Ji Ra merasa tersentuh dengan pernyataan Chanyeol tetapi seketika itu pun Ji Ra merasa sedih karena perasaannya dengan Chanyeol tak searah.
''Wae? Apa yang kamu pikirkan?''
''Chanyeolssi,sejujurnya aku sangat senang kamu dan adikmu, Chani menyukaiku. Terlebih lagi kehadiranku membuat hubungan kalian membaik. Aku juga berterima kasih karena kehadiran kalian membuat aku bahagia. Tetapi ada yang kusesalkan, aku mungkin tak seperti yang kamu pikirkan. Bahkan perasaan ini masih belum kupahami. Jadi mianhae''
''Apa ini karena Yi Fan?''
''Apakah......apakah kamu menyukainya?''
Ji Ra masih tak menjawab. Tiba-tiba Chanyeol memegangi kedua pundak Ji Ra dan berusaha menciumnya. Ji Ra yang merasa ini tak benar berusaha menolak.
''Andwae Chanyeolssi!!!!! WU YIFAN!!!'', kata Ji Ra histeris. Chanyeol terpaku dan perlahan melepaskan tangannya dari Ji Ra.
Mereka meminta sopir bus menghentikan busnya dan mereka turun. Hening.
''Mianhaeyo'', kata Chanyeol membungkuk ke Ji Ra.
''Aniyo, na...../gak aku"
''Geuman/hentikan Ji Rassi. Sekarang aku sudah tau apa isi hatimu. Itu sudah cukup untukku''
Ji Ra meneteskan airmatanya. Ji Ra merasa tak enak terhadap Chanyeol.
''Uljima/jangan nangis,aku harap Yi Fan tak menyakitimu karena jika iya aku akan merebutmu darinya. Ah, kita masih bisa berteman Shin Ji Ra?''
''Ne~''
Mereka pun berpisah di tempat itu. Ji Ra berjalan sendirian. Tak jauh dari tempatnya berdiri,matanya langsung tertuju pada sosok yang membuatnya tak keruan. Jantungnya berdetak kencang,nyeri,linu bahkan terasa mengerang.
''Ji Rassi?''
Ji Ra merasa wajah memanas serta memerah. Ji Ra merasa saat ini dirinya bukan dirinya karena sosok di depannya. Matanya pun terasa basah dan kabur karena butiran airmata yang berkumpul.
''Yi Fanssi,nan...''
''Wae? Appayo/sakit?''
Tenggorokkan Ji Ra terasa tercekat dan bertingkah seperti orang bodoh di depan Yi Fan.
''Mau kuantar pulang?''
''Ne''
Yi Fan meraih tangan Ji Ra dan menggenggamnya erat.
Sesampainya di depan rumah Ji Ra, mereka berdiri disana.
''Nah,ayo cepat masuk lalu tidur,ara?''
Ji Ra mengangguk dan Yi Fan pun berjalan meninggalkan Ji Ra. Tanpa sadar tangan Ji Ra meraih baju Yi Fan, Yi Fan menoleh lagi.
''Ji Rassi?''
Ji Ra menatap Yi Fan tanpa berkata sepatah katapun. Ji Ra menunduk malu. Yi Fan pun menatap Ji Ra seakan berusaha membaca perasaan Ji Ra padanya. Lalu Yi Fan memeluk Ji Ra,melepaskannya dan mengecup kening Ji Ra dengan lembut.
''Jal ja Ji Rassi~'',kata Yi Fan berjalan menjauh dari rumah Ji Ra.
Ji Ra memegangi keningnya sambil melihat kepergian Yi Fan dari rumahnya.
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
Hari-hari Ji Ra mulai berubah menjadi lebih bersemangat. Ji Ra merasa punya motivasi yang memompa semangatnya. Kehadiran Yi Fan membuat Ji Ra ingin percaya untuk mencintai dan dicintai.
Soyoung dan para guru lainnya menyadari perubahan Ji Ra. Mereka pikir selama itu membuat Ji Ra dan Yi Fan bahagia mereka akan selalu mendukung.
''Ji Raya~ ada apa kok bahagia banget hari ini?'',goda Soyoung.
''Aniyo/gak'', elak Ji Ra diikuti pandangan tak percaya Soyoung. Ji Ra diam lalu berbalik ke Soyoung.
''Eng,apa terlihat?'',sambung Ji Ra sambil berbisik ke Soyoung.
''Apa kalian habis kencan? Atau dia mengirimu hadiah? Dinner romantis?'', tebak Soyoung diikuti gelengan kepala Ji Ra.
''Hmm....sebenarnya kalian sudah ciuman gak sih?''
Seketika wajah Ji Ra memerah.
''Mu..museun mal riya/ngomong apa~''
''Heh,dari reaksimu sepertinya belum ya kan?'', kata Soyoung sambil menunjuk Ji Ra.
''Wae? Wae?'',tanya Dara muncul bersama Chaerin dan Suzy.
''Hmm...appo obseoyo/sakit tidak ada'',kata Suzy memeriksa suhu badannya dengan Ji Ra.
''Ji Rassi, tadi kulihat Yi Fanssi diluar''seru Chaerin sambil menaruh buku di mejanya.
''Soyoungi,apa yang kamu bicarakan ke mereka?'',bisik Ji Ra.
''Obseoyo/tidak ada..mereka sudah tau. Lagipula siapapun pasti sadar kedekatan kalian kan?''
Ji Ra yang bingung memilih menjauh mereka dan pergi ke luar.
''Ya! Odie ga/kemana?'', tegur Soyoung.
Ji Ra memilih duduk di rumput di taman tk. Hari ini langit cerah,tak terlalu panas,ada sedikit angin.
''Huwaa..johda/bagus~'',kata Ji Ra meregangkan tubuhnya.
Ji Ra melihat langit yang biru. Saat menikmati langit yang cerah, Ji Ra teringat semua kenangannya beberapa tahun ini. Baik maupun buruk. Seperti cuplikan film,kenangan itu terus membayangi Ji Ra.
Karena terlalu focus dengan fikirannya, Ji Ra tak tahu ada orang di belakangnya.
''Ji Rassi?''
DEG!
Serasa serangan jantung, Ji Ra perlahan menoleh ke asal suara yang sudah bisa ditebaknya.
''Wae yogiseo/kenapa disini?''
''Aniyo/gak, mau duduk aja. Sudah lama gak begini''
Yi Fan pun ikut duduk di samping Ji Ra,ikut memandangi langit.
''Apa..langit di China juga sama dengan di Korea?'',seru Ji Ra. Yi Fan menoleh ke Ji Ra. Ji Ra yang sadar pikiran terucap menutup mulutnya dan merasa wajahnya memanas.
Yi Fan melihat tingkah Ji Ra pun tersenyum.
''Geurom/tentu. Kadang aku minta oemma dan appaku menemaniku melihat langit. Tapi ketika malam hari. Di saat banyak bintang. Ah, kalo beruntung bisa melihat melihat bintang jatuh''
''Yi Fanssi percaya hal itu?''
''Ne~ Sebenarnya lebih untuk fun aja sih. Meminta pada bintang untuk dikabulkan permintaannya. Kalo terkabul malah lebih bagus kan?''
''Apa ada tempat yang mau Yi Fanssi datangi?''
''Galaxy''
''Eung? Galaxy?''
Yi Fan mengangguk.
''Wae?''
''Geunyang...johayo/hanya suka aja''
Ji Ra terdiam.
''Pffuh! Wkwkwkwkwkwkwkwkwkkk''
Yi Fan bingung melihat Ji Ra tertawa lebar seperti ini.
''Mianhae/maaf..pfuh..'',kata Ji Ra berusaha menghentikan tawanya.
Yi Fan yang masih bingung menatap Ji Ra seperti bertanya lewat matanya. Apakah aneh? Kira-kira begitu.
''Bukan aneh atau apa..hanya nomu kiyowo/sangat imut! Biasanya kan kalo ditanya mau kemana jawabannya ke gunung,laut dsb..tapi Yi Fanssi menjawab mau ke Galaxy. Unik! Hehehe'', jelas Ji Ra yang merasa tawanya masih tersisa.
Yi Fan menutup mulutnya,wajahnya memerah. Yi Fan tertawa,sekarang giliran Ji Ra yang bingung.
''Gomawo/makasih,ternyata bersama Ji Rassi memang gak pernah bosan'',kata Yi Fan sambil mengelus kepala Ji Ra. Ji Ra pun menunduk menyembunyikan wajah memerahnya.
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
Dimana ada Ji Ra disitu pun ada Yi Fan. Mereka seperti amplop dan perangko, gak pernah pisah. Mulanya hanya mengirim pesan biasa menjadi kebiasaan bagi mereka. Bahkan mereka sering hangout bersama. Persis pasangan atau sudah jadi pasangan? Mereka tak pernah membahas ini sekalipun.
Pagi ini Yi Fan tak pernah absen menjemput Ji Ra. Yi Fan menekan bel rumah Ji Ra. Tak lama pintu di buka, muncul mama Ji Ra.
''Joheun achim/selamat pagi'',kata Yi Fan sambil membungkuk.
''Joheun achim Yi Fanssi~ Aigu hari ini pun gak lupa jemput Ji Ra. Ayo masuk'',kata mama Ji Ra mempersilahkan masuk. Mereka masuk menuju meja makan. Yi Fan menunggu di sana.
''Ah,joheun achim Yi Fanssi! Mianhae'',kata Ji Ra berlari ke meja makan mengambil roti dan minum susunya.
''Chonchoni/pelan-pelan Ji Raya~'',kata mama Ji Ra.
''Uhuk! Uhuk!''
''Gwaenchana/gak apa-apa?'',kata Yi Fan mengelus leher Ji Ra.
''Noona/kakak payah!'',seru adik Ji Ra baru keluar dari kamarnya.
''Hush!'',seru mama Ji Ra.
''Yi Fanssi gak sarapan?''
''Sudah sarapan sebelum kesini. Jangan buru-buru makannya''
Ji Ra hanya mengangguk dan menyelesaikan sarapannya.
Ji Ra dan Yi Fan berpamitan lalu pergi ke sekolah. Keluarga Ji Ra yang tadinya sengaja mengintip pun terus mengintip mereka sampai keluar dari rumah.
''Ji Ra pintar cari pacar ya haraboji''seru nenek Ji Ra diikuti senyuman kakek Ji Ra.
''Apa iya Yi Fan hyung pacarnya noona? Terlalu tampan sih'',kata adik Ji Ra.
''Hush! Tentu saja! Mereka rukun begitu. Mama harap mereka bisa berbahagia'',kata mama Ji Ra girang diikuti cengiran nenek dan kakek Ji Ra.
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
Setiap hari Ji Ra dan Yi Fan selalu menyempatkan waktu bersama. Mereka seperti terikat satu sama lain. Tetapi saat ditanya hubungan mereka apa mereka hanya tertawa misterius. Namun orang-orang sekitar mereka yakin Ji Ra dan Yi Fan menyadari perasaan mereka tetapi tak mengaku satu sama lain.
''Apa Yi Fan sudah mengaku padamu?'',tanya Soyoung.
''Mengaku apa?''
''Cinta! Tapi aku yakin dia mencintaimu!''
''Dia belum mengatakan apapun''
''Apa kamu gak khawatir?''
''Khawatir apa?''
Soyoung menjitak Ji Ra.
''Appo! Kenapa memukulku?''
''Kalo seseorang belum mengaku perasaannya kemungkinan dia gak suka!''
''Apa harus nembak kayak anak remaja? Gak kan? Tak perlu memakai kalimat tetapi lebih banyak aksi membuktikannya itu lebih baik''
''Duh, Ji Ra naïf deh! Bagaimana kalo sebenarnya Yi Fan malah gak tau kamu mencintainya dan mian..misal dia gak mencintaimu seperti yang kamu harapkan? Banyak lho yang salah paham kebaikkan namja ke yeoja!''
''Aku hanya gak mau merusak hubungan kami sekarang. Kalo kukatakan, mungkin kalo misalnya dia hanya menganggap teman pun aku rasa dia tipe yang bakal gak enak menolak seseorang lalu masih dekat dengan orang itu. Jadi...''
''Aku gak mau tau lho kalo Yi Fan sampai direbut orang lain! Dia kan bukan orang yang bisa baca perasaan orang. Kalo kamu gak tegas,takutnya kamu malah kehilangan''
Ji Ra terdiam mendengar peringatan dari Soyoung. Ji Ra tau kalo mana mungkin Yi Fan tau begitu aja perasaannya. Tetapi Ji Ra merasa masih nyaman dengan keadaan mereka sekarang. Ji Ra merasa kalo perasaannya menyentuh hubungan baik ini akan merusaknya. Bukan gak percaya Yi Fan atau menganggap akan disakiti Yi Fan hanya Ji Ra takut salah langkah.
Ji Ra tak ingin cintanya kali ini gagal. Ji Ra merasa dia gak bakal rela jika cinta ini menghilang. Ji Ra merasa bagian dirinya sudah mulai tergantung oleh keberadaan Yi Fan. Apa jadinya jika Yi Fan menghilang begitu saja? Tak sanggup Ji Ra bayangkan.
''Mwo mogoyo/makan apa?'',kata Yi Fan.
''Eh?ah...''
''Wae/kenapa? Appo/sakit?''
''Aniyo/gak,ohya aku pesan ini dan itu''
Setelah pesan makanan,mereka mengobrol.
''Kenapa gak semangat?''
''Aniyo/gak, aku gak sakit kok. Aku senang kita bisa kesini'',kata Ji Ra yang gak mungkin ngaku dia sempat melamunkan ucapan Soyoung waktu itu.
Kriiiing
Bunyi hp Yi Fan bordering di tengah percakapan mereka.
''Yeoboseyo/halo.....Oh Ni hao/apa kabar! Wei se ma/ada apa?''
Ji Ra memperhatikan Yi Fan saat menerima telepon. Dari gaya bahasa yang digunakan Yi Fan pastinya dari China.
''Mama?! Hmm...hmm..''
Seketika raut wajah Yi Fan berubah, Ji Ra yang melihat ikut khawatir. Tak lama Yi Fan selesai menelepon tetapi raut wajahnya kalut.
''Wae? Apa terjadi sesuatu?''
''Uri oemma/mamaku sakit tak sadarkan diri. Sekarang di RS''
''Sakit apa? Apakah parah?''
''Katanya jatuh di kamar mandi. Akhir-akhir kata mama kalo dia sakit kepala. Ah, ottokhae/gimana ini",kata Yi Fan sambil memegangi kepalanya.
Setelah selesai jalan bersama, Yi Fan mengantar Ji Ra. Biasanya mereka ngobrol tapi kali ini Yi Fan diam. Bahkan Ji Ra tak berani mengusiknya.
Mereka sampai di depan rumah Ji Ra.
''Nah,sudah sampai. Ayo masuk. Jangan sampai masuk angin'',kata Yi Fan sambil mengelus kepala Ji Ra. Lalu Yi Fan berjalan menjauhi rumah Ji Ra.
Ji Ra yang merasa harus melakukan sesuatu mengejar Yi Fan yang tak jauh dari rumahnya.
''WU YI FAN!'',seru Ji Ra mengejar Yi Fan dan memeluknya dari belakang. Yi Fan terhenti di tempat.
''Ji Rassi? Wae/kenapa?''
''Jangan pura-pura kuat! Jangan tersenyum dengan paksa begitu!'',kata Ji Ra memeluk Yi Fan erat.
''Aku tau mungkin tak bisa banyak menolongmu tapi tolong katakan apa yang bisa kulakukan! Ini membuatku frustasi karena hanya bisa melihatmu! Akupun tak berani mengusik diammu itu!''
Yi Fan melepaskan tangan Ji Ra yang melingkar dipinggangnya. Yi Fan berbalik menatap Ji Ra.
''Nan gwaenchana/aku gak apa..''
Airmata menitik di pipi Ji Ra.
''Wae ouro/kenapa nangis? Ulmajimayo/jangan nangis. Aku gak bisa bohong kalo gak sedih di depanmu. Aku senang atas perhatianmu. Aku merasa tak sendiri'',kata Yi Fan menghapus airmata Ji Ra.
''Mungkin aku akan meminta izin ke sekolah untuk balik ke China. Jadi,jangan frustasi lagi. Ok?''
Ji Ra mengangguk. Yi Fan mengelus kepala Ji Ra sebelum mereka berpisah.
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
Beberapa hari sudah Yi Fan tak ada di Korea. Yi Fan balik ke China karena mendengar mamanya sakit. Ji Ra yang mengetahui itu pun tak bisa banyak melakukan apapun karena jarak mereka. Ji Ra berdoa semoga keadaan baik-baik saja.
''Apa kamu tak kesepian?'', tanya Soyoung. Ji Ra diam.
''Apa kamu tak berniat menyusulnya?''
''Kamu kan tau jauh. Dia pun pasti balik''
''Gimana kalo gak balik? Apa yang kamu lakukan?''
''Apaan Soyoungi, kok menakuti gitu?''
''Ckckck! Aku gak nakutin! Masalahnya kalo sudah pernah koma bukannya kemungkinan bakal kambuh kan? Kudengar Yi Fanssi sangat menyayangi mamanya, jadi gak mungkin dia memilih jauh dari mamanya apalagi tau mamanya sakit''
Ji Ra diam merenungi kalimat Soyoung. Benar. Apa saja bisa terjadi. Semua jadi sulit ketika jarak menjadi kendala.Tiba-tiba Ji Ra merasa jaraknya menjauh dari Yi Fan. Perasaannya mulai diliputi kecemasan.
Ji Ra mulai merasa hubungannya dengan Yi Fan serasa akan jadi kenangan. Ji Ra tak suka berprasangka bahkan berpikiran buruk tetapi melihat keadaan sekarang apapun yang tak mau dialami bisa kapanpun terjadi.
Ji Ra mencoba merasakan detak jantungnya. Ada perasaan sakit yang sudah bisa menjelaskan bagaimana perasaannya nanti jika apa yang tak dia inginkan terjadi.
Ji Ra mengambil hpnya dan mengirimi pesan ke Yi Fan.
From: Ji Ra
To: Wu Yi Fan
Yi Fanssi? Jal jinaeyo/apa kabarmu?
Gimana kabar mamamu?''
From: Wu Yi Fan
To: Ji Ra
Ne~ Jal jinaeyo/ ya kabar baik
Untunglah mamaku cepat sadar setelah aku datang
From: Ji Ra
To: Wu Yi Fan
Jinjja? Syukurlah
Semoga mamamu cepat sembuh
Belum ada balasan dari Yi Fan, Ji Ra mengirim pesan lagi
From: Ji Ra
To: Wu Yi Fan
(empty)
From: Wu Yi Fan
To: Ji Ra
Gomawoyo Ji Rassi~/terimakasih
Aku senang bersama mamaku disini. Mama bercanda kalo aku jangan balik ke Korea saja! Kkk
Kenapa mengirimi pesan kosong?
JI Ra tak membalas pesan Yi Fan, tangannya menggenggam erat hp di tangannya. Ji Ra malah memeluk kedua kakinya. Menyembunyikan perasaan kalutnya. Terlihat ada pesan yang tak jadi Ji Ra kirim di hpnya.
From: Ji Ra
From: Wu Yi Fan
Kapan balik ke Korea?
Nomu bogosipo/sangat kangen........
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
Setelah seminggu lamanya di China, Yi Fan balik ke Korea.
''Wah, kupikir gak balik!'',seru seorang guru.
''Aniyo, untung mama sudah cukup sehat! Lagipula mana mungkin meninggalkan para muridku disini'',canda Yi Fan bersama guru lainnya.
Ji Ra melihat Yi Fan dari jauh.
''Kenapa kamu gak sambut? An bogosipda?'',kata Soyoung.
''Aniyo, aku senang kok dia balik'',kata Ji Ra meninggalkan Soyoung berjalan ke kelas.
Saat istirahat Ji Ra bertemu Yi Fan.
''Ah, mianhae Ji Rassi! Waktu itu aku gak bisa banyak membalas pesanmu''
''Gwaenchana/gak apa-apa. Gimana mamamu?''
''Kata dokter butuh banyak istirahat. Mungkin kalo ada kesempatan, aku akan balik ke China lagi menengok mama''
''Semoga mamamu sehat terus. Jadi kamu tak terlalu bingung karena jauh?''
''Ne/ya~Tapi...apa aku balik aja ke China ya? Soalnya kadang kepikiran kalo sakitnya mama bakal kambuh''
Ji Ra menatap Yi Fan. Tak sadar menatap Yi Fan dengan serius.
''Wae/kenapa? Kenapa serius sekali wajahmu?'',kata Yi Fan mau menyentuh Ji Ra tapi Ji Ra seketika itu menjauh.
''Aniyo/gak,mungkin para murid bakal merindukanmu kalo kamu pulang ke China''
''Ji Rassi,otte/gimana?''
''Maksudnya?''
''Apa kamu tak apa aku pergi?''
DEG!
Ji Ra mematung mendengar pertanyaan Yi Fan. Suasana pun seketika tegang. Mereka hanya saling menatap dalam diam. Ji Ra merasa tersedot oleh tatapan Yi Fan. Tenggorokan Ji Ra terasa tercekat bahkan Ji Ra merasa tak bisa melangkahkan kakinya. Hanya bisa terpaku.
Bel sekolah berdering. Suasana diantara mereka mencair. Ji Ra tersadar dari pikirannya berjalan ke kelas meninggalkan Yi Fan yang masih menatapnya.
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
Benar saja perasaan Ji Ra. Mama Yi Fan kabarnya masih belum terlalu membaik. Entah kenapa jarak Ji Ra semakin jauh setelah pertanyaan yang dilontarkan Yi Fan untuknya. Ji Ra malah menjadi canggung dan berusaha menjauhi Yi Fan. Padahal di hatinya Ji Ra ingin dekat tetapi keadaan sekarang tak memungkinkan.
''Kalian putus?'', tanya Soyoung membuyarkan lamunan Ji Ra.
''Soyoungi! Bisa gak jangan ngagetin?''
''Kamu...belum mengaku ke Yi Fan?''
Ji Ra diam dan hanya mendengarkan Soyoung.
''Kurasa kamu harus cepat bergerak. Tau kan mamanya Yi Fan sakit lagi? Kulihat kamu pun menjauhinya. Apa kamu sudah menyerah?''
''Aniyo,geuko aniya/gak,gak begitu~''
''So? Atau kamu naksir orang lain?''
Ji Ra hanya menatap Soyoung dengan wajah serius. Soyoung pun menghela napasnya.
''Ji Raya~apa aku harus jelaskan...''
''GEUMAN/hentikan Soyoungi! Jebal/tolong,plis..''
Soyoung terdiam melihat Ji Ra membentaknya. Ji Ra pun berjalan keluar meninggalkan Soyoung.
Setelah banyak berpikir, Wu Yi Fan memutuskan untuk kembali ke China. Tak hanya seminggu atau sebulan dsb. Yi Fan sangat khawatir dengan kondisi mamanya sekarang. Yi Fan sadar mamanya tak muda lagi seperti dulu. Dia hanya tak ingin kehilangan mamanya.
Tetapi tak semudah itu hatinya memutuskan pulang kampung halamannya di China. Sudah ada seseorang yang menyita perhatiannya. Bahkan mencuri hatinya saat dia tak sadari itu.
Yi Fan merasa sedih disaat dia bakal pergi orang yang dicintainya malah dirasa mulai menjaga jarak dengannya. Kadang kebiasaannya bersama yeoja itu masih dia lakukan. Bukannya tak mau menyapa yeoja itu, tapi Yi Fan ragu mau berbuat apa.
Yi Fan merasa dia bakal menyakiti yeoja itu kalo dia berbuat sesuatu dan mengatakan sesuatu di saat kepergiannya semakin dekat. Yi Fan hanya bisa memperhatikan dari jauh. Mengikutinya seperti stalker bahkan hanya berdiri di depan rumah yeoja itu tanpa menekan bel rumahnya. Kontak hp yeoja itu hanya dilihat tanpa dikirimi pesan atau telepon.
Kebiasaan Yi Fan itu terus dilakukannya sampai hari keberangkatannya tiba.
INCHEON AIRPORT
08: 12 AM KST
Hari ini Wu Yi Fan balik ke China diantar oleh para guru.
''Huwaaa...kenapa pulang ke China Yi Fanssi?'',kata Dara nangis seperti anak kecil.
''Hati-hati disana Yi Fanssi. Kami senang bisa kenal denganmu'',kata Suzy.
''Hati-hati Yi Fan sonsaengnim! Salam buat mamamu. BTW...Dimana Ji Rassi?'',kata Chaerin celingak celinguk mencari Ji Ra.
Soyoung pun muncul. Tetapi dia hanya sendiri.
''Soyoungi!!!!! Dimana Ji Rassi?'',teriak Dara.
Soyoungi hanya menggeleng. Dia teringat sehari sebelum mengantar Yi Fan, Soyoung ke rumah Ji Ra.
FLASHBACK
''Ji Raya~'',kata Soyoung masuk ke kamar Ji Ra. Ji Ra hanya tiduran sambil melihat hpnya.
''Wae/kenapa? Tumben''
Soyoung pun duduk di samping ranjang Ji Ra.
''Besok, Wu Yi Fan pulang ke China''
Ji Ra terdiam mendengar ucapan Soyoung. Soyoung pun diam menunggu reaksi Ji Ra.
''Hmm..ara..'',kata Ji Ra memainkan hpnya lagi. Soyoung berdiri dan beranjak dari tempatnya merebut hp Ji Ra.
''Soyoungi! Wae/kenapa...''
''Sudah cukup pura-puranya! Kenapa sih kamu masih keras kepala?''
Ji Ra diam tanpa menatap Soyoung.
Soyoung duduk dekat Ji Ra dan menepuk pundak Ji Ra.
''Ji Ra,belum terlambat kalo kamu mengaku pada Yi Fan sekarang. Besok kalo dia pergi kalian takkan bertemu lagi. Apa taka pa bagimu?''
Ji Ra masih diam dan merubah posisinya jadi duduk tetapi menundukkan wajahnya.
Soyoung yang tak tahan dengan sikap Ji Ra mulai mengguncang Ji Ra. Berusaha menyadarkannya.
''SHIN JI RA! Tolong lihat mataku!'',paksa Soyoung. Mau tak mau Ji Ra menatap Soyoung.
''Kenapa sih kamu masih keras kepala! Kamu sudah tau kamu mencintainya,kenapa kamu biarkan dia pergi? Apa kamu tak apa dia gak ada? Apa kamu masih trauma dengan yang dulu? Bukankah kamu sendiri sadar semenjak ada dia kamu berubah jadi ceria lagi, membuka hatimu lagi...''
''Aku gak bisa...''
Soyoung terdiam menunggu kelanjutan kalimat Ji Ra.
''Mana bisa aku memisahkan dia dengan mamanya! Dia sangat mencintai mamanya! Apa kau tau saat dia dapat telpon dari China? Raut wajahnya belum pernah kulihat bahkan saat dia khawatir padaku tak pernah sekalipun dia tunjukkan!''
''Arasso/aku paham,tapi kan ini soal perasaanmu ke dia bukan mamanya!''
''Ada hubungannyalah! Kalo aku bersamanya kemungkinan dia gak bakal balik China,sedangkan mamanya membutuhkannya! Lagipula tak pernah sekalipun dia mengatakan cinta seperti yang kamu bilang! Mungkin memang benar dia tak mencintaiku. Hanya menganggapku temannya! Jadi aku tak mau menyusahkan dia di saat terakhir dengan perasaanku ini!''
Soyoung menghela napas. Berdiri dan melihat Ji Ra. Lalu membuka pintu kamar Ji Ra dan berbalik ke JI Ra lagi.
''Aku harap besok kamu datang ke airport. Aku yakin Wu Yi Fan sebenarnya mencintaimu. Aku tak pernah lihat namja yang begitu lembut memandang seorang yeoja dan memperlakukannya bak princess''
Soyoung pergi meninggalkan Ji Ra yang mulai menangis di kamarnya.
FLASHBACK END
''Mungkin Ji Ra akan datang....'',kata Soyoung yang bahkan tak benar tau sahabatnya itu akan benar datang atau tidak.
Kemudian ada pengumuman jadwal keberangkatan yang akan berangkat sekarang.
''Sepertinya aku harus pergi sekarang. Choisonghaeyo/minta maaf semua kalo selama ini merepotkan dan nomu jongmal gomawossoyo/sangat berterima kasih atas kebaikkan dan perhatian kalian selama ini'',kata Yi Fan pamit.
''Apa tak apa tak bertemu Ji Ra?'',kata Dara yang tumben gak disumpel mulutnya oleh Suzy atau Chaerin. Yang ada mereka malah seperti menyetujui Dara.
Yi Fan hanya tersenyum,lebih tepatnya seperti senyuman yang ingin mengikhlaskan segalanya. Lalu Yi Fan berbalik berjalan ke dalam airport.
''WU YI FAN! WO AI NI/aku mencintaimu!!!!!''
Yi Fan terdiam di tempatnya dan langsung menoleh ke asal suara itu. Terlihat sosok Ji Ra yang ngos-ngosan berlari ke arahnya.
Yi Fan merasa sedang bermimpi Ji Ra berada di depannya. Yi Fan hanya menatap Ji Ra yang sekarang menatapnya juga.
''Mianhae/maaf! Aku terlalu pabo/bodoh menyadari perasaanku! Wu Yi Fan, wo ai ni/aku mencintaimu. Aniyo, jinjja saranghanta/gak aku benar-benar mencintaimu! Mian,kalo aku terlalu gengsi mengakuinya hanya karena tak ingin terluka, hanya karena tak ingin kamu pergi dariku! Aku sedih saat tau kamu memutuskan pergi ke China waktu itu. Aku merasa kamu takkan kembali. Aku egois tak ingin kamu pergi kemana pun. Begitu juga hari ini. Aku berharap kamu selalu bersamaku tapi mamamu juga penting. Tapi aku tak ingin menjadi penghalangmu untuk makanya aku diam dan menjauhimu'',jelas Ji Ra dengan airmata menetes dipipinya.
Yi Fan mengusap airmata Ji Ra.
''Akulah yang minta maaf. Aku tak menyangka hatiku akan terpaut begitu dalam disini. Aku merasa termakan oleh omongan Chanyeol waktu itu, katanya kalo kamu benar ke Korea,mungkin saja dari banyaknya yeoja/cewek salah satunya adalah orang yang kamu cintai. Aku hanya tertawa dan tak terlalu menanggapi omongan Chanyeol. Tapi sekarang, di hadapanku sudah ada angel yang selama ini aku tunggu. Angel yang aku mimpikan di dalam tidurku''
Yi Fan memeluk erat Ji Ra.
''Wo ai ni/aku mencintaimu, Shin Ji Ra. Saranghae. Mianhae/maaf. Aku hanya diam dan seenaknya menikmati kebersamaan kita tanpa menegaskan apapun padamu. Awalnya aku merasa tersentuh dan senang karena jarang ada orang yang mau menolong orang yang baru dikenal tetapi tak kusangka perasaan itu berubah menjadi perasaan indah ini. Aku harap selalu bisa bersamamu, walaupun kamu tak sesempurna angel yang sesungguhnya tapi bagiku kamu adalah angel yang membawa kebahagiaan di hidupku'',kata Yi Fan sambil mengecup pipi Ji Ra.
Para guru yang mengantar Yi Fan melihat mereka langsung histeris bahagia (?).
''Pergilah. Mamamu menunggumu. Aku percaya kalo kita berjodoh takdir akan mempertemukan kita''
''Tunggu aku. Aku pasti kembali. Aku pasti akan langsung mencarimu. Entah itu memakan waktu berapa. Jadi tolong bersabarlah demi aku'',kata Yi Fan sambil mengenggam tangan Ji Ra.
Mereka berpelukan untuk terakhir kalinya. Lebih erat dan lebih lama dari yang tadi. Perlahan mereka saling melepaskan pelukan. Saling tersenyum dan Yi Fan mulai berbalik berjalan ke dalam airport.
Mungkin ini kebiasaan Ji Ra. Tiba-tiba tangannya menarik baju Yi Fan yang belum jauh berjalan darinya. Yi Fan terhenti sesaat,tersenyum dan berbalik ke Ji Ra.
Yi Fan mendaratkan bibirnya ke bibir Ji Ra. Ciuman hangat sekaligus ciuman pertama yang Ji Ra terima dari Yi Fan. Begitu lembut dan hangat bahkan menyesakkan.
Yi Fan melepaskan tautan bibir mereka dan Yi Fan mengelus kepala Ji Ra. Mereka saling melambaikan tangan. Ji Ra melepaskan Yi Fan pergi ke China dengan perasaan lega. Ji Ra merasa inilah awal dimana perjalanan cintanya dimulai.
5 YEARS LATER
''Angel, palli iroena/cepat bangun atau aku akan menghujanimu dengan ciuman'',seru sebuah suara yang sangat familiar di telinga Ji Ra.
Ji Ra membuka matanya dan terlihat sosok yang dia rindukan selama ini. Sosok yang membuat hatinya gak karuan. Sosok yang membuatnya merasakan perasaan ajaib ini. Sedih bahkan senang selalu bercampur karena orang ini.
''Tidurmu nyenyak?''
''Ne/ya~Bahkan aku merasa kamu mengikutiku sampai ke mimpi. Hehehe'',kata Ji Ra malu.
''Aku harap juga begitu. Aku harap terus menemanimu,berada di sampingmu. Tak pernah akan pergi meninggalkanmu''
Ji Ra tersenyum dan butiran airmata menetes di pipinya. Yi Fan mengusap airmata Ji Ra dan memeluknya erat.
''Ne~ Wo ai ni Wu Yi Fan. Uri haembokhaedo katji yeongwonhi (aku cinta kamu Wu Yi Fan. Kita bahagia dan bersama selamanya).
END