Sirene ambulans meraung tajam, membelah siang hari yang terik, tepat pukul sebelas. Jalanan ramai mendadak menjadi latar kekacauan, sementara di dalam ambulans Elarys terbaring pucat dengan oksigen terpasang. Dadanya naik turun tidak beraturan, monitor di sampingnya berbunyi cepat—terlalu cepat untuk disebut aman. “Tekanan darahnya turun,” ujar paramedis tegang. “Siapkan transfusi darurat.” Elenora menggenggam jemari putrinya erat. “Tolong, dia masih sadar, kan?” Elarys membuka mata sedikit. “Mommy” bisiknya lirih, suaranya nyaris tak terdengar. “Ada Mommy di sini, sayang. Jangan tidur dulu. Lihat Mommy,” ucap Elenora dengan suara bergetar, menahan tangis yang hampir pecah. Ezra berdiri di sudut ambulans, tangannya mengepal. “Nadinya?” “Masih ada, tapi lemah,” jawab paramedis cepat

