Pagi itu terasa berbeda. Bukan karena langit lebih cerah atau udara lebih sejuk, melainkan karena langkah Elarys tidak lagi terasa seberat biasanya. Ia berjalan di antara Elenora dan Alaric, sementara Caelum dan Ezra mengawal dari jarak dekat tatapan mereka waspada, gerak mereka terukur. “Mommy…” Elarys menoleh pelan, seolah masih tidak percaya. “Kita benar-benar keluar, ya?” Elenora tersenyum lembut. “Iya, sayang. Tapi ingat, satu jam.” Elarys mengangguk berulang kali. “Aku ingat. Aku janji.” Alaric membuka pintu mobil terlebih dahulu. “Masuk,” katanya singkat, namun nadanya tak setajam biasanya. Saat pintu mobil tertutup dan kendaraan mulai melaju, Elarys menatap keluar jendela. Gedung-gedung, pepohonan, dan lalu lintas terasa asing sekaligus menenangkan. Ia menghela napas panja

