Pagi belum sepenuhnya hangat ketika langkah Elarys terhenti di ujung lorong lantai atas. Cahaya matahari yang masuk dari jendela besar terasa pucat, tidak mampu mengusir dingin di dadanya. Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah, tetap tanpa suara. Ia menyandarkan punggung ke dinding, tubuhnya perlahan meluncur turun hingga duduk di lantai. Dadanya sesak. Bukan karena luka di tubuhnya. Melainkan karena takut. Bentakan Caelum terus terngiang di kepalanya. Nada dingin itu menggema, bercampur dengan ingatan akan malam ledakan dan rasa tidak berdaya yang belum sepenuhnya hilang. Ia memeluk lututnya erat, jari-jarinya gemetar. Untuk pertama kalinya, ia takut pada seseorang yang selama ini selalu berdiri di depan untuk melindunginya. Langkah kaki pelan terdengar di lorong. Ezra

