Malam turun dengan sunyi yang menipu. Di balik tembok tinggi dan penjagaan berlapis Valenor, Alaric berdiri di ruang kerjanya, jas hitam masih melekat di tubuhnya. Tatapannya tajam menembus layar besar di hadapannya—peta wilayah, titik-titik merah, dan nama-nama yang telah diberi tanda. “Lokasi terakhir terkonfirmasi,” ucap seorang pria melalui panggilan terenkripsi. Alaric memutus sambungan tanpa sepatah kata. Pintu terbuka. Caelum masuk lebih dulu, diikuti Ezra. Keduanya membawa aura dingin yang sama tenang, terkontrol, mematikan. “Bagaimana kondisi Elarys?” tanya Ezra, meski jawabannya sudah ia duga. “Tidur,” jawab Alaric singkat. “Obat penenangnya bekerja.” Caelum mengepalkan rahang. “Lebih baik begitu. Dia tidak perlu melihat apa yang akan kita lakukan.” Ezra meletakkan pi

