Lorong bawah tanah itu kembali hening setelah pemimpin musuh diamankan. Alaric melangkah ke ruang kontrol, dinding penuh layar dan peta digital menyala terang. Udara terasa tegang, seolah setiap detik bisa memicu perang yang lebih besar. “Mulai sekarang, kita tidak menunggu,” ucap Alaric tegas. “Kita yang bergerak lebih dulu.” Caelum berdiri di depan meja hologram, jarinya menekan beberapa titik koordinat. “Sinyal terakhir dari perantara Arkhon terdeteksi di tiga wilayah. Mereka sengaja membuat jejak palsu.” Ezra menyeringai tipis. “Bagus. Itu berarti dia panik. Orang seperti itu selalu meninggalkan celah saat merasa terancam.” Seorang pengawal mendekat membawa tablet. “Tuan, kami menemukan pola pengiriman senjata ilegal yang berulang setiap dua minggu. Semua jalurnya saling bersilanga

