Malam telah jatuh sepenuhnya di mansion Valenor. Di kamar Elenora, lampu redup menyala hangat. Elarys terbaring di ranjang besar dengan perban melilit lengan dan bahunya, juga plester tipis di sudut wajahnya. Tubuhnya masih terasa lemah, napasnya belum sepenuhnya stabil. Elenora duduk di sisi ranjang, mengelus rambut Elarys perlahan, berusaha menenangkan sisa ketakutan yang belum sepenuhnya pergi. “Tidurlah, sayang,” bisik Elenora lembut. “Mommy di sini.” Elarys mengangguk pelan, meski matanya masih terbuka. “Daddy, Caelum, Ezra?” tanyanya lirih. “Mereka mengurus semuanya,” jawab Elenora tenang, meski sorot matanya menyimpan kekhawatiran. “Kau aman sekarang.” Di lantai bawah, jauh dari kamar Elenora, Alaric, Caelum, dan Ezra berdiri di ruang kerja utama. Suasana ruangan itu dingin,

