Bab 5-Terasa Sesak

1766 Words
Keesokan harinya. Elarys terbangun sebelum alarm berbunyi. Cahaya pagi menembus tirai kamarnya, namun tidak membawa rasa segar seperti yang seharusnya. Dadanya terasa berat, seolah ada sesuatu yang menekan sejak ia membuka mata. Ia duduk di tepi ranjang, memijat pelipisnya pelan. Hari ini seharusnya menjadi awal yang baru—hari pertama masuk kelas tiga SMA setelah libur panjang. Namun yang ia rasakan justru seperti akan melangkah ke dalam sangkar yang lebih besar. Pintu kamarnya diketuk dua kali. “Bangun, sayang,” suara Elenora terdengar lembut dari balik pintu. “Kau harus bersiap.” Elarys menjawab pelan, lalu bangkit berdiri. Saat pintu terbuka, dua pengawal sudah menunggu di ujung lorong. Kehadiran mereka menjadi pengingat paling nyata bahwa aturan baru benar-benar mulai berlaku hari ini. Ia menatap seragam sekolahnya yang sudah rapi di atas ranjang. Mengambilnya, lalu bergumam lirih, hampir seperti meyakinkan diri sendiri, “Hanya sekolah, hanya satu hari.” Namun saat ia mengenakan seragam itu, Elarys tahu rasa sesak di dadanya bukan karena sekolah, melainkan karena kebebasan yang perlahan diambil, satu pagi pada satu waktu. Setelah selesai bersiap, Elarys melangkah keluar kamar dengan tas di pundaknya. Langkahnya terhenti sesaat ketika melihat Caelum berdiri di ujung lorong, mengenakan setelan gelap rapi, seolah hendak pergi ke kantor—atau memastikan satu hal terakhir. “Jangan membuat masalah,” ucap Caelum tanpa basa-basi. Elarys menatapnya. “Aku hanya pergi sekolah.” “Justru karena itu,” balas Caelum dingin. “Ingat aturannya.” Ia mengangguk pelan, lalu melangkah melewatinya. Tidak ada pelukan. Tidak ada kata semangat. Hanya peringatan. Di lantai bawah, Alaric sudah menunggu di ruang makan . “Mobil sudah siap,” katanya singkat. “Pengawalan akan ikut.” Ezra tidak terlihat. Entah disengaja atau tidak, ketidakhadirannya justru terasa paling menusuk. Elarys melangkah keluar mansion. Dua mobil hitam terparkir rapi di depan. Saat pintu mobil dibukakan untuknya, ia berhenti sejenak dan menoleh ke belakang, menatap bangunan besar yang selama ini ia sebut rumah. “Ini hanya sekolah,” gumamnya lagi, lebih pelan. Namun ketika pintu mobil tertutup dan dunia luar terpisah oleh kaca tebal, Elarys menyadari bahkan sebelum sampai di sekolah, ia sudah merasa kehilangan sesuatu yang tak bisa ia sebutkan namanya. ** Mobil akhirnya berhenti di depan gerbang Sekolah Elite Arcanum, bangunan megah dengan pilar tinggi dan halaman luas yang dipenuhi siswa berseragam rapi. Beberapa kepala langsung menoleh saat iring-iringan mobil hitam itu datang—terlalu mencolok untuk diabaikan. Pintu mobil terbuka. Elarys turun perlahan, tasnya disampirkan di bahu. Dua pengawal ikut turun dan berdiri tak jauh darinya, membuat beberapa siswa berbisik pelan. “Seperti biasa… berlebihan,” gumam Elarys nyaris tak terdengar. Belum sempat ia melangkah jauh, sebuah suara ceria memanggil namanya. “Elarys!” Ia menoleh. Tiga orang berlari kecil ke arahnya—wajah-wajah yang sudah sangat ia kenal. Senyum Elarys akhirnya mengembang, tulus untuk pertama kalinya pagi itu. “Kau kembali juga akhirnya!” seru salah satu dari mereka sambil langsung meraih tangan Elarys. “Kami kira kau pindah sekolah,” timpal yang lain. “Libur panjangmu terlalu misterius,” tambah yang ketiga sambil terkekeh. Elarys tertawa kecil. “Aku masih di sini. Hanya… sedikit sibuk.” Ketiganya saling berpandangan, lalu menatap ke arah dua pengawal di belakang Elarys. Salah satu dari mereka mengangkat alis. “Sibuk… atau diawasi?” Elarys tersenyum tipis. “Nanti aku cerita.” Untuk sesaat, di tengah hiruk-pikuk sekolah elit itu, Elarys merasa dadanya sedikit lebih ringan. Namun ia tahu bahkan di antara teman-temannya, bayang-bayang aturan baru tetap berdiri tepat di belakangnya. Elarys melangkah bersama ketiga temannya menuju taman kecil di sisi gedung utama, tempat yang biasa mereka gunakan untuk berbincang sebelum bel masuk berbunyi. Begitu mereka duduk, Elarys menghela napas panjang, seolah akhirnya mengizinkan dirinya jujur. “Kenalin lagi,” katanya setengah bercanda. “Korban aturan baru.” “Mulai serius,” ujar gadis berambut sebahu di sampingnya. “Aku Aurelia, dan wajahmu itu jelas menyimpan drama.” Yang duduk di depannya menyandarkan punggung ke bangku. “Aku Nadine. Dan aku punya firasat ini bukan drama kecil.” Satu lagi, seorang gadis berkacamata yang sejak tadi mengamati dengan tenang, menyahut, “Marsha. Sekarang ceritakan semuanya.” Elarys tersenyum lemah, lalu mulai bercerita. “Ponselku ditahan. Aksesku dibatasi. Bahkan mau keluar kamar saja ada jadwalnya.” Ia tertawa kecil tanpa humor. “Daddy bilang itu perlindungan.” Ketiganya terdiam. “Dan kakak-kakakku” Elarys melanjutkan, suaranya merendah. “Caelum makin posesif. Semua diatur. Semua diawasi.” Ia berhenti sejenak. “Ezra diam. Tapi diamnya justru paling menyakitkan.” Aurelia mengerutkan kening. “Itu bukan proteksi. Itu penjara mewah.” Nadine mengepalkan tangan. “Kau bahkan tidak boleh memegang ponselmu sendiri?” Elarys menggeleng. “Tidak. Bahkan pesan ke kalian pun diawasi.” Marsha menatap Elarys lama. “Dan kau menuruti semuanya?” “Aku harus,” jawab Elarys pelan. “Kalau tidak, semuanya akan jadi lebih buruk.” Ketiganya saling berpandangan. Lalu Aurelia meraih tangan Elarys erat. “Kalau begitu, kau tidak sendirian.” Di antara suara siswa dan lonceng yang hampir berbunyi, Elarys merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan dukungan. Di tengah cerita Elarys yang belum selesai, langkah kaki terdengar mendekat. Bayangan seseorang jatuh ke atas bangku taman, membuat keempat gadis itu spontan menoleh. Seorang laki-laki berdiri di sana—posturnya tinggi, seragamnya rapi, dengan sorot mata tenang namun tajam. Senyum tipis terukir di wajahnya, senyum yang sudah sangat Elarys kenal. “Elarys,” sapanya lembut. “Kau akhirnya kembali.” Jantung Elarys berdegup sedikit lebih cepat. Ia mengenalnya. Terlalu baik. “Ravian,” ucap Elarys pelan. Aurelia langsung menyipitkan mata. “Oh. Ini dia.” Ravian adalah keturunan keluarga mafia ternama, tak kalah berpengaruh. Di sekolah elit ini, namanya dikenal bukan hanya karena latar belakangnya, tetapi juga karena caranya selalu berada satu langkah di belakang Elarys—menjaga jarak, namun tak pernah benar-benar pergi. “Aku dengar kau libur panjang,” lanjut Ravian. “Aku khawatir.” Elarys tersenyum tipis. “Aku baik-baik saja.” Nadine berdehem pelan. “Dia selalu bilang begitu.” Ravian melirik sekilas ke arah dua pengawal yang berdiri agak jauh. Sorot matanya mengeras sejenak, lalu kembali lembut saat menatap Elarys. “Sepertinya itu tidak sepenuhnya benar.” Elarys terdiam. “Aku hanya ingin memastikan kau aman,” kata Ravian pelan. “Kalau kau butuh apa pun—” “Aku tidak bisa,” potong Elarys cepat, nyaris refleks. “Maksudku, aku tidak bebas.” Ravian mengangguk pelan, seolah sudah menduga jawabannya. “Aku mengerti.” Namun tatapannya tidak bergeser. Dan Elarys tahu kedatangan Ravian bukan sekadar kebetulan, melainkan awal dari masalah baru yang jauh lebih rumit. Bel sekolah berbunyi nyaring, memecah suasana taman yang sempat menghangat. Suara itu membuat semua siswa bergerak serempak menuju gedung masing-masing. “Astaga, sudah jam pertama,” ujar Aurelia sambil berdiri cepat. “Kalau telat di hari pertama, habis kita,” tambah Nadine. Marsha merapikan kacamatanya, lalu menatap Elarys dengan penuh arti. “Kita lanjutkan nanti.” Elarys mengangguk. “Terima kasih, sudah mau dengar.” Ravian melangkah mundur selangkah, memberi ruang. “Kelasmu di gedung timur, kan?” tanyanya. Elarys terkejut kecil. “Kau masih ingat.” Ravian tersenyum tipis. “Aku selalu ingat.” Sebelum Elarys sempat menanggapi, salah satu pengawal mendekat dan berkata singkat , “Nona, waktunya masuk kelas.” Nada itu cukup untuk membuat Ravian menegang. Ia melirik pengawal itu sebentar, lalu kembali menatap Elarys. “Hati-hati,” ucapnya pelan. Elarys berbalik mengikuti ketiga temannya menuju gedung kelas. Di langkah pertamanya hari itu, ia kembali merasakan rasa sesak di dadanya. Bel telah berbunyi. Pelajaran dimulai. Dan bersamaan dengan itu hari yang panjang bagi Elarys pun resmi dimulai. Bel istirahat pertama akhirnya berbunyi, suaranya menggema panjang di seluruh gedung sekolah. Elarys mengangkat wajahnya dari buku pelajaran, menghembuskan napas lega seolah baru saja dilepaskan dari tekanan yang menumpuk sejak pagi. “Akhirnya,” gumam Aurelia sambil meregangkan tangan. “Kau kelihatan tegang dari tadi,” ujar Nadine, menoleh ke arahnya. Marsha hanya menatap Elarys penuh perhatian, seakan membaca sesuatu di balik wajah tenangnya. Elarys mengangguk pelan. “Sulit fokus.” Mereka bangkit dari kursi dan melangkah keluar kelas bersama. Di koridor, siswa-siswi mulai memenuhi lorong, suara tawa dan obrolan bercampur menjadi satu. Namun di tengah keramaian itu, Elarys tetap merasa terpisah—seperti ada jarak tak kasatmata antara dirinya dan dunia di sekeliling. Belum sempat mereka mencapai kantin, Elarys merasakan getaran halus di saku rok seragamnya. Ia terhenti seketika. Jantungnya berdegup. Itu bukan ponselnya—karena ponselnya tidak ia pegang. Dan justru karena itu, satu pertanyaan berbahaya muncul di benaknya: jika bukan kebebasan yang ia rasakan sekarang lalu apa yang sedang mendekat padanya? Langkah Elarys bersama Aurelia, Nadine, dan Marsha terhenti tepat di depan koridor menuju kantin. Suasana yang semula riuh mendadak terasa berubah, seolah udara di sekitar mereka menegang. Di hadapan mereka berdiri tiga gadis dengan seragam yang sama, namun sikapnya jauh berbeda. Tatapan mereka tajam, senyum di bibirnya sinis—jenis senyum yang tidak pernah membawa kabar baik. “Elarys,” sapa gadis di tengah dengan nada mengejek. Ia adalah Virella, pemimpin geng kecil yang sudah lama dirumorkan suka mencari masalah. Rambutnya tergerai rapi, wajahnya cantik, namun matanya selalu menyimpan niat buruk. Di sisi kanan dan kirinya berdiri dua pengikut setia yang hanya tersenyum meremehkan. Aurelia langsung melangkah setengah maju. “Kami sedang lewat. Minggir.” Virella terkekeh pelan. “Santai saja. Aku hanya ingin bicara sebentar.” Tatapannya beralih ke Elarys, penuh penilaian. “Terutama dengan dia.” Elarys berdiri tegak, meski jantungnya berdetak lebih cepat. Ia tahu alasan di balik gangguan itu. Semua siswa tahu. Virella tergila-gila pada Ravian. Dan karena Ravian selalu menaruh perhatian pada Elarys, maka Elarys menjadi sasaran empuk—tempat Virella melampiaskan rasa cemburu dan obsesinya. “Kau kembali dari liburan panjang,” lanjut Virella. “Dan langsung dikelilingi lagi. Tidak capek jadi pusat perhatian?” “Aku tidak pernah memintanya,” jawab Elarys dingin. Virella mendekat selangkah. “Tapi kau menikmatinya.” Nadine mengepalkan tangan. “Jangan mulai.” Virella tersenyum lebih lebar. “Aku hanya mengingatkan.” Ia melirik ke arah taman, tempat Ravian biasa berdiri saat istirahat. “Beberapa hal bukan untuk dimiliki oleh orang sepertimu.” Koridor itu menjadi sunyi. Para siswa lain memilih menjauh, tak ingin terseret masalah. Elarys menatap Virella tanpa gentar. “Kalau itu semua, minggir.” Virella tertawa kecil, lalu memberi jalan setengah hati. “Kita belum selesai.” Saat Elarys melangkah melewatinya, bisikan Virella terdengar jelas di telinganya, “Hati-hati. Tidak semua perlindungan akan selalu datang tepat waktu.” Elarys tidak menoleh. Namun ia tahu masalah di sekolah baru saja dimulai. Dan di bawah aturan ketat keluarganya, ia tidak tahu apakah kali ini ia mampu melindungi dirinya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD