Chapter 8

2082 Words
“Satu Phantasiae tipe negatif, enam meter muncul. Aku akan membereskannya.” “P-Phantasiae? Tipe negatif? Enam meter?” ulang Takeru yang tak mengerti dengan apa yang sedang dilakukan gadis itu. Sampai ia melihat sesuatu melesat di udara dengan sangat cepat. Takeru yang sedang mempersiapkan s*****a untuk melawan gadis di hadapannya dengan sepatu dan pakaiannya yang sudah susah payah ia buka—ia berencana mengulang strategi di lorong sekolah, pada akhirnya hanya bisa terdiam lalu detik selanjutnya ia terperangah, melihat gadis berambut pendek yang ia kira chunibyo, kali ini sudah melesat di angkasa dengan amat sangat cepat dan lincah seperti burung di angkasa. Takeru terperangah menatap gadis itu yang bisa terbang di angkasa. Pupilnya bergerak ke sana ke mari mengikuti gerakan gadis itu. “Gadis itu, terbang?!” pekik Takeru kaget. “Bagaimana gadis itu melakukannya?” Takeru menggumam pelan, ia membawa tangannya pada bibir, lalu ia mengingat semua runtutan kejadian yang terjadi antara dirinya dan gadis itu. Takeru mengingat saat gadis itu tidak segan melawan para siswa siswi, ia bergerak dengan lincah, berbeda jauh dengan Takeru yang hanya bisa celingukan. Awalnya Takeru hanya mengira mungkin gadis itu kemampuan fisik yang di atas rata-rata. Tapi terbang? Itu sudah jelas aneh dan mengejutkan. Takeru berdecak pelan, mengingat saat ia dan gadis itu berhasil melewati portal, meskipun Takeru tidka bisa melihat dengan jelas karena cahaya silau itu, tapi Takeru bisa melihat siluet gadis itu yang juga melewati portal bersama Takeru. Saat melewati portal, gadis itu terlihat muncul dnegan posisi yang elegan, di mana ia seperti gadis yang sedang meloncat dengan ceria seperti poster sebuah film anime tentang gadis yang bisa melompati waktu—Takeru sedang membahas anime movie ‘The Girl Who Leapt Through the Time’ . Persis gayanya seperti itu! Sementara Takeru seperti orang yang menaiki wahana ekstrim roller coaster di taman hiburan. Sangat jelek dan memalukan. Dan terakhir, saat mereka terjun di atas langit—anggap saja seperti itu meskipun pada kenyataannya Takeru tidka melihat langit. Ia hanya melihat tempat yang berwarna putih seluruhnya. Gadis itu bisa terbang seperti superman, berbeda dengannya yang jatuh mengerikan seperti orang yang loncat dari pesawat. Takeru berdesis, tempat ini jelas aneh, gadis itu pun aneh. Dan anehnya kenapa ia bisa ke sini? Takeru kembali mendongakkan kepala, ia melihat gadis itu bergerak lincah seolah ia tengah menebas sesuatu di atas sana, tapi lagi-lagi Takeru tidak bis amelihat apa pun. Ia hanya bisa melihat gadis itu bertarung sendirian melawan angin. Takeru terkesiap melempar tongkat hockey memutar seperti boomerang. Saat Takeru perhatikan lagi, boomerang itu seperti membentur sesuatu sebelum kembali pada sang pemilik—gadis chunibyo. “Kau tetaplah pergi ke Oculus, ikuti Path Oculusnya. Kau tidak akan kesulitan karena ia akan menemukanmu.” Gadis itu berteriak seraya terbang memutar cukup dekat dengannya. “Memangnya kau sedang apa sampai tidka bisa mengantarku ke Oculus? Kau bilang kau akan bertanggung jawab untuk membantuku mendapat berkah Reverie? Kenapa sekarang kau malah memintaku untuk pergi sendiri? Kau sungguh tidak konsisten.” Gerutu Takeru yang sebenarnya juga sudah jengah karena ia merasa sedari tadi ia diperlakukan seperti orang bodoh. Melihat gadis itu berbicara dan membentaknya untuk jangan berisik padahal Takeru tidak mengatakan apa-apa, lalu sekarang mempertontonkan dirinya terbang dan menebas-nebas angin? “Kau buta atau bodoh? Aku sedang melawan monster-akh!” Takeru berdecak dengan alis berkedut, “Monster? Ah, setelah Zombie sekarang kau melawan monster? Monster apa? Monster angin? Kau sangat pandai mengarang dna berkhayal cerita, kau tahu? Berhenti mengatakan hal konyol. Apakah kau sedang memamerkan aksi akrobatmu agar kau mendapat pujian? Bukannya kau sendiri yang mengatakan kita harus cepat-cepat pergi ke Oculus-Oculus atau samulus atau apalah itu. Kenapa malah bermain-main di sana?” gerutu Takeru membuat gadis dengan tongkat hockey itu menatap Takeru bingung. Monster angin? Apa maksudnya? Apakah ia tidak melihat bahwa sekarang ia sednag menghadapi monster sejenis reptil, dilihat dari bentuk kepala dan juga sisik kulitnya yang keras hingga tidak bisa ditembus dengan pedangnya, monster ini juga memiliki netra kuning dengan bentuk pupil khas reptil. Lalu melihat dari warna d**a monster yang memiliki sedikit kemiripan dengan naga di beberapa bagian tertentu itu, ia bisa melihat bahwa monster ini memiliki kemampuan menyembur, tapi mungkin bukan api, karena di balik kulit dadanya yang berwarna lebih gelap dari warna bagian tubuh lain lain bahkan cenderung kehitaman, mungkinkah itu adalah sejenis racun? Ia membawa tatapannya ke arah mulut monster itu dan ia melihat ada sesuatu dibalik lidahnya seperti Gadis itu mendengus, ia belum bisa mengidentifikasi. Tapi justru ia harus menghindari Ia kemudian menatap ke arah bawah, ia melihat ada banyak orang yang melihat pertarungannya melawan Phantasiae tipe enam meter ini. Dari atas sini ia bisa melihat anak-anak memeluk ibu mereka dengan ketakutan, beberapa orang terlihat berlarian. Tempat ini terlalu berbahaya jika dijadikan tempat pertempuran, banyak masyarakat yang sedang melaksanakan aktivitas. Dan tempat ini—pasar yang merupakan pusat aktivitas banyak orang, akan ada banyak korban jiwa ia harus mengalihkan monster ini ke tempat lain. Gadis itu mengedarkan tatapannya menatap ke kanan dan kiri, ada danau yang berada cukup jauh dari posisinya sekarang, meskipun karena musuh bersayap, pasti musuh akan bis amnegejarnya dengan mudah jika ia memancingnya ke sana. Tapi danau termasuk tempat terbuka, itu akan menguntungkan musuh. Gadis itu mengedarkan tatapannya ke siis lain dan ia melihat ada lapangan, namun lagi-lagi ia tidka menggunakannya, igtu adalah tempat terbuka. hingga ia melihat ada bukit yang cukup jauh dengan pemukiman warga. Pupil gadis itu membola, sepertinya bukit itu bisa menjadi tempat bertarung yang pas. Melihat tipe monster yang memiliki sayap seperti sayap naga, maka ia harus menjauhi tempat terbuka karena itu akan membuat musuh aatau si monster reptil dengan sayap itu mudah melancarkan serangan karena tak ada penghalang yang bisa menyembunyikan tubuhnya dari monster itu. Jika di bukit dnegan hutan, ia bisa bersembunyi dan membuat serangan kejutan untuk mengalahkan mosnter itu. “Kozumi, awas!” Gadis berambut pendek yang rupanya bernama Kozumi itu tersadar dari lamunannya saat ia mendengar suara seseorang memanggilnya. Untungnya berkat panggilan itu, Kozumi bisa tersadar dan bisa menghindar. Dengan gesit, Kozumi membawa tubuhnya untuk terbang menukik menghindari monster reptil itu. Dengan sayap kecil yang ia buat dengan waktu cukup lama itu, memenuhi kebetuhannya dalam bertarung, enteng dan mudah dikendalikan. Lalu dengan berkah Reverie, kekuatan sayap itu tingkat efisiensinya meningkat seratus persen. Kozumi bisa bergerak gesit untuk melewati celah sempit di antara tangan dan pinggang monster itu. Ia dan bocah asing bernama Takeru itu sedang melewati pasar untuk menuju kerajaan Silver Eyes, menemui Oculus yang dapat memberi berkah Reverie agar Kozumi tidak perlu diikuti bocah ini lagi. Tapi bocah ini terus bersikap bodoh dan menyebalkan membuatnya kesal. Dan belum sampai mereka di tujuan, malah muncul phantasiae tipe negatif ukuran enam meter. Benar-benar momen yang tidak pas. “Berubah menjadi pedang!” ucap Kozumi merubah tongkat hockey yang belakangan ini sudah menemaninya sekian lama menghadapi monster, dengan tongkat hockey-nya menjadi pedang itu ia bergerak ke belakang monster reptil enam meter itu seraya menusukkan pedang katana. Pedang yang memang terlihat tipis namun karena tipis pedang itu menjadi sangat tajam. Dengan visi Reverie, ia menambahkan kekuatan ekstra pada pedang itu, membuat pedang itu lebih kuat dari pedang katana asli yang pernah ia lihat di museum sewaktu ia masih di bumi. Kini harusnya pedang itu bisa merobek kulit bahkan benda keras apa pun. Kozumi hendak menusukkan pedangnya, namun sat ia melihat sisik di kulit monster itu terangkat Kozumi membelalakkan matanya terkejut. Di bawah sisik itu, terdapat sesuatu seperti meriam namun terbuat dari daging. Kozumi menyipitkan netranya lalu membolakan matanya menyadari bahwa itu adalah hal yang sama seperti ia lihat di bawah lidah monster ini. kalau begitu, di bawah sisiknya, monster ini terdapat banyak kelenjar racun? Kozumi segera mementalkan tubuhnya dengan meloncat di atas kulit pinggang monster itu, sayangnya ia sebelum ia meloncat lebih jauh, kelenjar racun di bawah sisik monster itu sudah bergerak lebih cepat untuk menyemburkan racunnya. “Akh!” Kozumi meringis kesakitan saat menyadari bahwa cairan itu mengenai bagian kanan pipinya, juga bagian kanan betisnya. Kozumi membawa tatapannya ke arah bawah, ia menyadaro bahwa ia masih bertarung di daerah di mana termasuk padat penduduk. “Gawat! Orang-orang di bawah?!” Kozumi melirik ke arah bawah, dan orang-orang masih berlarian. Mereka belum sempat menyelamatkan diri. Menyadari itu, Kozumi kembali mengulurkan satu tangan di udara, sayap burung yang menjadi roket terbangnya, menghilang di gantikan dengan sebuah tameng yang amat sangat besar, sangat besar hingga bisa memayungi daerah itu. Kozumi tersenyum tipis menyadari bahwa setidaknya ia berhasil menahan racun itu agar tidka menghujani kota. Namun senyumnya berganti dengan ringisan tatkala ia merasakan sakit luar biasa menyerang area kanan wajahnya. Kozumi meringis dan menyentuh wajahnya hati-hati, ia mendapati bahwa kulit wajahnya mengelepuh. “Akh! C-cairan asam?” pekik Kozumi. “Uh aku tidak bisa melihat,” “C-Chunibyo?!” pekik Takeru saat melihat bahwa Kozumi, terjatuh dengan kecepatan yang luar biasa di atas sana. Takeru dengan cepat membawa langkahnya ke titik di mana Kozumi—si gadis chunibyo yang belum ia ketahui namanya akan terjatuh. Seraya berlari, Takeru yang di pandangannya tetap tidka bisa melihat, menyentuh, atau merasakan apa pun selain melihat dunia ini sebagai ruangan sangat besar dengan nuansa putih di mana-mana, mengomel. Bukankah tadi gadis itu bisa terbang? Kenapa sekarang ia justru menjatuhkan dirinya sendiri dari langit-langit? Takeru mempercepat larinya, sudah satu tahun dari semenjak ia tidak melatih tubuhnya, rasanya ia merasa otot-otot dan tubuhnya begitu kaku. Ia belum berlari jauh, namun ia merasakan paru-parunya akan meledak. Takeru kini jadi merasa menyesal karena sudah meninggalkan latihan fisik yang dulu rutin ia lakukan. Takeru merasakan napasnya mulai pendek-pendek, perut sebelah kanannya juga terasa sakit tanpa sebab. Takeru mengusap wajahnya kasar. Tubuhnya pasti syok karena sudha lama tidak ia latih. Namun ini bukan saat yang tepat untuk mengomel atau menyesali hal yang sudah terjadi, sekarang nyawa seseorang dipertaruhkan, jika Takeru terlambat maka gadis chunibyo akut itu bis akehilangan nyawa. Takeru menarik napas dalam, lalu berusaha mempercepat langkah larinya. Jarak Kozumi yang terjatuh di atas pasir putih yang dipijak Takeru kurang dari dua meter dan usaha maksimal Takeru dalam berlari tidak cukup cepat untuk sampai di tempat. Takeru menyadari sepenunya bahwa ia tidka mungkin sampai dengan tepat waktu. Namun ia tidka menyerah, akhirnya ia memutuskan untuk menjatuhkan tubuhnya dengan posisi satu kaki menukik di depan seperti orang yang terjatuh karena lantai licin. Kakinya yang t*******g, bergesekan dengan pasir putih, dan untungnya karena pasir di sini cukup kering dan berbentuk butiran halus, sehingga Takeru bisa terpeleset dengan sangat cepat. Mengabaikan posisinya yang kini seperti orang sedang melakukan gerakan split, Takeru membuka kedua tangannya dan memajukan tubuhnya ke depan untuk menangkap Kozumi. Takeru dengan napas yang masih terengah-engah menunggu turunnya Kozumi, namun tepat sekitar setengah meter saat di atas kepalanya, Kozumi gravitasi yang menarik Kozumi untuk jatuh terhenti. Takeru terperangah dengan posisi yang split dnegan dua tangan terbuka hendak menunggu Kozumi jatuh pada pangkuannya. “E-eh? Tidak jatuh?” pekik Takeru menyadari Kozumi melayang dengan rambut yang melawan hukum gravitasi—tidak terjatuh ke arah bawah, begitu pun rok dan pakaiannya, seolah ada kaca transparan yang menahannya. Takeru hendak berdiri untuk memeriksa apakah tebakannya benar, namun kemudian Kozumi terjatuh dengan begitu lembut dan pelan tepat di pangkuannya. “K-kau baik-baik saja? Astaga wajahmu!” pekik Takeru sebelah wajah Kozumi sebagian membengkak dan mengelepuh. “M-monsternya, c-cairan asam?” pekik Takeru tak mengerti lalu mengikuti arah tunjuk Kozumi yang menunjuk ke atas. Namun saat Takeru mendongak ia tidak melihat apa pun bahkan suara burung pun, selain warna putih yang membuat kepalanya sakit. Napas Kozumi mulai naik turun tak karuan, kedipan matanya melemah, kesadarannya mulai berada di awang-awang, “Ah, berat sekali. Ngantuk sekali—” ujar Kozumi sedikit tidak jelas. “Chunibyo? Hei! Hei!” Takeru memanggil-manggil gadis itu namun gadis itu sepertinya kehilangan kesadaran. Takeru membelalakkan netranya terkejut. Gadis ini membutuhkan pertolongan medis! Takeru segera mengedarkan tatapannya ke kanan dan ke kiri, namun ia tidak melihat apa pun selain warna putih. Takeru mulai merasakan kepanikan menyerang, “Kita butuh dokter! Kita membutuhkan dokter!” Dan tepat saat kepanikan itu menyerang, Takeru mendengar suatu suara aneh, suara yang sangat menggelegar dan nyaring, seperti suara geraman makhluk buas. Pupil Takeru membola. “S-suara geraman?” Ia mengedarkan tatapannya sekali lagi untuk mencari asal sumber suara itu. Namun ia tetap tidak melihat atau menyadari apa pun di dekatnya, sampai tiba-tiba entah bisikan dari mana, Takeru merasa bahwa ia harus mendongakkan kepalanya dan saat ia mendongakkan kepala, ia melihat ada suatu makhluk dengan penampilan yang sangat aneh dan asing tengah terbang di atasnya dengan lamban. sosok itu benar-benar terlihat sangat tidka nyata dan menakutkan, seolah makhluk yang biasa Takeru lihat di televisi kini muncul di hadapannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD